
"Apa yang sebenarnya terjadi.. siapakah mereka sesungguhnya?" Tanya Ana dalam hati merasa khawatir dengan suaminya.
15 menit lamanya Ana tertahan di dalam ruang bawah tanah. Dua penjaga terlihat sangat fokus dalam mengawasi gerak geriknya. Sedangkan beberapa anak buah Bima yang disana membelot menjadi penghianat.
"Hai kalian.. berapa kalian dibayar oleh pria itu.. aku bisa beri kalian dua kali lipat jika kalian mau menjadi anak buahku." Ucap Ana mencoba mempengaruhi mereka.
Sayangnya dua penjaga itu terus bersikap seperti batu yang tidak memperdulikan omongannya. Ana mencoba mencari cara lain. Ia mengeluarkan dua buah kartu kredit dari dalam tasnya dan melemparkan kehadapan dua orang penjaga itu.
Dua orang penjaga saling menatap satu sama lain dan akhirnya mereka pun bisa terbuai. "Baik lah nyonya saya siap melayani mu." Ucap mereka pada Ana.
"Terima kasih.. saya ingin kembali ke rumah sakit saya perlu bantuan kalian." Perintah Ana pada dua orang penjaga itu.
Dengan perlahan Ana dan Agus beserta dua orang penjaga itu keluar dari ruang bawah tanah. Melihat kondisi luar yang aman Ana segera masuk ke rumah mengambil kunci mobil sport yang ada di dalam kamar Bima.
"Berikan senjata kalian pada ku." Pinta Ana pada dua orang penjaga itu. "Di situ ada sebuah mobil jip.. kuncinya ada di dalam mobil.. kalian gunakan mobil itu dan tunggu saya di belakang rumah sakit." Perintah Ana pada dua orang penjaga itu.
Setelah memberikan senjata mereka, dua orang itu bergegas melaksanakan perintah Ana. Sedangkan Ana sendiri bersama Agus langsung mengendarai mobil sport Bima menuju rumah sakit.
Dalam perjalan rasa penasaran Ana semakin membesar itu membuatnya bertanya langsung oada Agus. "Agus.. sekarang ceritakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi? siapa mereka dan apa urusannya sama bang Bima?" Tanya Ana pada Agus yang duduk di sampingnya.
Agus sedikit memandang Ana dan menghirup nafas panjang "Laki-laki tadi adalah Rehan adik tirinya Bima.. urusannya sama Bima jelas karena ingin menguasai harta Bima.. ada sebuah tradisi dalam keluarga Bima secara turun temurun yang belum sempat di ketahui oleh Bima." jawab Agus pada Ana.
"Tradisi?.. tradisi apakah itu?" Tanya ana lagi yang sangat penasaran.
"Harta kekayaan Bima yang sekarang adalah harta warisan dari 6 generasi sebelumnya.. Leluhur Bima yang bernama Gashar adalah pendiri kota ini.. hartanya sangat banyak dan sangat terkenal.. ia juga memiliki banyak istri dan anak.. karena terjadi perselisihan dan pertengkaran dalam kelurganya, Gashar sendiri langsung menulis suatu surat wasiat pusaka yang berbunyi bahwa seorang bayi pertama yang lahir dari ahli waris adalah pemilik mutlak atas harta dan kekayaannya.. jika sang pewaris tak memiliki keturunan maka harta ini adalah milik semua orang kota.. jadi jika bayi pertama Bima yang lahir ini adalah seorang laki-laki maka harta ini semua mutlak untuk anaknya itu dan Bima tak punya hak lagi atas harta ini.. dan jelas sekarang tujuan adik tirinya Bima itu adalah untuk mendapatkan bayi itu dan menyingkirkan Bima agar bisa menguasai harta ini." Jelas Agus pada Ana.
"Lalu kenapa engkau dan juga bang Ajis selama ini terus menyembunyikannya pada Bima." Tanya Ana yang tampak semakin Khawatir
"Aku sendiri juga baru mengetahui hal tersebut dari mulut adik tirinya Bima itu sendiri ketika aku sedang di sekap di markasnya.. dan aku yakin bang Ajis pun juga tidak mengetahuinya.. karena yang tau tentang surat pusaka itu hanya orang tertentu saja.. sedangkan aku dan bang Ajis hanya diberitahu oleh ayahnya Bima bahwa Bima tidak boleh punya keturunan sebelum menyingkirkan semua musuhnya." jawab Agus menjelaskan lagi pada Ana.
"Hufh... Kenapa setiap orang kaya memiliki hidup yang begitu ribet.. aku benci jadi orang kaya." gumam Ana merasa miris dan langsung mempercepat laju mobilnya.
Masih berjarak 100 meter dari rumah sakit Ana sudah mendengar begitu banyak suara letusan tembakan. Terlihat adik tiri Bima sudah mengepung di depan pintu rumah sakit. Ambisinya menguasai harta Bima sangat besar hingga membuatnya tak akan pernah menyerah.
__ADS_1
Bima di dalam rumah sakit semakin terdesak. Ia tak punya persiapan dalam menghadapi serangan ini. Dari luar adik tirinya Bima terus berteriak agar Bima memberikan putranya yang baru lahir itu.
Adik tiri Bima itu juga mengancam akan membunuh Ana karena berfikir bahwa Ana masih terkurung di ruang bawah tanah. Ia juga terus mengeluarkan tembakan peringatan agar Bima segera menyerah.
Untungnya Ana tidak panik. Ia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan segera menelfon Bima. Melihat ponselnya berdering Bima segera mengangkatnya.
"Halo Ana.. kamu dimana sekarang? apa kamu baik-baik saja?" Tanya Bima khawatir dengan keadaan Ana.
"Bang Bima gak usah khawatir.. aku dan Agus sekarang berada di luar rumah sakit dalam kondisi aman.. kamu jangan panik.. cobalah untuk keluar lewat pintu belakang rumah sakit.. di dekat belakang gang kecil itu sebuah mobil jip sudah menunggumu." Jelas Ana pada Bima.
"Baiklah sekarang kamu segera pergi dari sini.. jangan sampai kamu tertangkap oleh mereka." Perintah Bima agar Ana segera menjauh dari kondisi mencekam itu.
Setelah itu Bima langsung mengikuti instruksi yang diberikan Ana padanya. Langkah demi langkah ia melakukan semua hal yang diinstruksikan Ana. Nisa yang baru saja melahirkan juga harus terpaksa di bawa menggunakan kursi roda. Sang bayi yang baru lahir tersebut di gendong Rahma dengan sangat hati-hati.
Bima memerintahkan semua anak buahnya agar tetap berjaga di pintu depan rumah sakit supaya bisa mengelabui Rehan yang masih memantaunya dari luar rumah sakit.
Akhirnya Bima berhasil keluar dari rumah sakit dan menemukan mobil jip yang di maksud Ana. Dua orang yang tak di kenal Bima juga sudah stand by di dalam mobil. Bima berhenti di depan pintu mobil.
"Apa kalian dapat saya percaya." tanya Bima pada dua orang itu.
"Baik lah." Balas Bima dan segera menaikkan ketiga istri dan anaknya ke dalam mobil. "Cepat bawa kami jauh dari sini." perintah Bima pada kedua orang itu.
Bukan hari yang baik untuk Bima dan istri-istrinya. Mereka masuk dalam jebakan Rehan. Rehan sangat cerdik dalam menyusun rencana. Mobil jip yang ditumpangi Bima bukan membawanya menjauh tapi malah mendekat ke arah Rehan.
Dua orang penjaga itu adalah orang kepercayaannya Rehan. Mereka sengaja ditinggalkan di ruang bawah tanah bersama Ana karena ia tau bahwa Ana akan mencoba mempengaruhi mereka.
Rehan juga sadar bahwa tidak akan mudah baginya jika melakukan pertempuran dengan Bima. Apalagi setelah kekalahan ibunya di pertempuran empat tahun yang lalu.
Ana dan Agus yang berada di luar pekarangan rumah sakit juga tertangkap. Karena ketika dari rumah mereka sudah diikuti oleh anak buahnya Rehan.
"Hahaha.. aku tak menyangka semua akan berjalan semudah ini." Ucap Rehan melihat Bima dan keempat istrinya berlutut tak berdaya dihadapannya.
"Apa mau mu? urusan mu adalah dengan ku.. lepaskan semua istri dan anakku." Balas Bima dengan marah.
__ADS_1
"Hahaha dengar Bima.. urusanku dengan mu akan segera berakhir dan semua istrimu ini akan jadi pelayan ku.. hahaha.. oh ya aku dengar ketiga istrimu yang lain masih perawan.. sungguh hal yang istimewa untukku." Ucap Rehan tertawa sangat bahagia.
"Dasar biadab.. dengar aku punya pasukan yang lebih banyak darimu.. aku bisa saja menghancurkan mu." balas Bima semakin marah.
"Silahkan saja kalau kamu bisa.. apa kamu tau.. sekarang kamu tak punya apa-apa lagi.. karena sesuai dengan surat wasiat leluhur kita, semua harta mu telah jatuh ke tangan putra mu ini.. dan setelah aku membunuhmu aku akan menjadi wali dari ahli waris ini dan aku yang akan mengontrol seluruh hartanya sampai ia dewasa." Jelas Rehan yang sedang menggendong putra Bima.
Nisa yang masih lemah mencoba turun dari kursi roda untuk mengambil kembali putranya. "Kembalikan putra ku.. aku mohon." Pinta Nisa dengan menangis.
"Maaf sayang.. sekarang putramu yang ini adalah milikku.. jika kamu mau aku bisa saja membuatkan seorang anak lagi untuk mu.. hahaha." Balas Rehan seperti manusia yang tak berperasaan.
Melihat itu Amarah Ana mencapai puncaknya. Dengan sangat cepat ia menyerang Rehan. Namun dengan cekatan di tangkis oleh anak buah rehan dan balik memukul Ana hingga terjatuh.
Bima yang melihat istrinya terjatuh ikut hilang kendali. Ia langsung berdiri dan melayangkan sebuah pukulan telak kepada anak buah Rehan yang memukul Ana. Dengan sigap Rehan menarik pelatuk senjatanya dan menembak tepat pada bahu bagian kanan Bima.
Bima terkapar tak sadarkan diri lagi. Keempat istri Bima langsung memeluk Bima yang terkapar di tanah. Tangisan dan jeritan mereka keluarkan melihat suami mereka yang berada dalam keadaan sekarat.
"Bang Bima.. bangun bang.. jangan tinggalkan kami." Begitulah rintihan yang keluar dari mulut keempat istri Bima.
Pertolongan Tuhan bukan suatu hal yang diragukan lagi. Seorang yang mengendarai truk mini melaju cepat kearah mereka. Beberapa tembakan dilepaskan dan berhasil tepat mengenai para pasukan Rehan.
Pasukan Rehan menjadi kocar-kacir. Dari dalam truk keluar beberapa orang bersenjata ikut menembaki Rehan dan pasukannya.
"Ana.. cepat bawa suami mu masuk kedalam mobil dan segera tinggalkan tempat ini!!" Ucap seseorang yang ternyata adalah bang Ajis.
Memamfaatkan kelengahan Rehan dan pasukannya, Ana bersama Rahma langsung menggendong tubuh Bima untuk masuk kedalam mobil sedangkan Indah mencoba memapah Nisa yang kondisi tubuhnya masih belum stabil.
Ana mulai menyalakan lagi mesin mobil yang mati dengan tembakan yang tiada henti masih mengincarnya. Bang Ajis terus mencoba melindungi dengan memberikan tembakan balasan.
"Bang Ajis.. ayo cepat naik." Teriak Ana yang sudah siap siaga tancap gas.
"Kalian pergi duluan.. saya akan tahan mereka disini." Balas bang Ajis meminta Ana untuk segera pergi.
Dengan sangat berat hati Ana terpaksa meninggalkan bang Ajis yang harus menghadapi gempuran pasukan Rehan yang tiada hentinya.
__ADS_1
INTERMISSION