
Nisa menengadah keatas menatap langit-langit rumah. "Jika waktu itu Bang Bima balas dendam pada ayahku, maka aku tak akan pernah ada disini" Kata Nisa sambil tersenyum bahagia.
"Hah...benarkah dia gak membalas kak?" Ana terkejut karena tebakannya salah.
Tiba-tiba raut wajah Ana berubah dan terlihat agak sedih. "Iya benar, tapi suatu hal buruk menimpa ayahku. Ia tewas mengenaskan dengan luka tembakan tepat di bagian kepala belakangnya ketika dia hendak pulang dari kantornya. Salah seorang anak buahnya ternyata penghianat dan kami semua berfikir dia adalah orang suruhannya Bang Bima.
Aku dan ibuku sangat merasa terpukul atas kejadian itu. Waktu itu aku sangat yakin memang Bang Bima lah pelakunya. Dengan sangat berani aku datang untuk menemui Bang Bima membawa senjata api milik ayahku. Dia sedang dirawat dirumah sakit tempat aku bekerja.
Ketika aku menuju ruangannya, terlihat hanya ada dua orang yang menjaganya tanpa memegang senjata. Tanpa pikir panjang aku menembak kedua anak buahnya tersebut hingga tewas. Kemudian aku masuk ke ruang rawatnya dan membidik senjataku tepat pada bagian jantungnya. Dalam keadaan yang sangat lemah aku mendengar dia memanggil namaku 'Nisa...' dengan nada yang sangat ramah dan lembut."
Nisa tak sanggup menahan tangisnya. Tetesan air matanya mulai membasahi pipinya.
"Dengan teganya aku melepas tembakan sebanyak dua kali di bagian dadanya." kata Nisa seraya tertunduk dan menangis.
Ana cukup terharu mendengar cerita Nisa. Ternyata bukan hanya dia yang mengalami hal buruk ketika awal bertemu dengan Gashar ataupun Bima.
__ADS_1
"Kak... itukan cuman masa lalu, jadi gak usah lah menangis." bujuk Ana mencoba menenangkan.
"Walaupun masa lalu tapi tetap sampai sekarang aku sangat merasa bersalah. Kau tau? meskipun aku sudah menembaknya dua kali, tapi waktu itu aku masih belum puas dan terus menyimpan rasa kebencian ku padanya.
Padahal waktu itu dia sudah sangat sekarat. sangat tipis peluangnya untuk hidup." balas Nisa sambil melihat ke arah Ana.
Ana yang tak kuat melihat tangisan Nisa langsung memeluknya. Dia mulai membayangkan betapa kelam masa lalunya Nisa jauh dibandingkan dengannya ketika bertemu Bima.
"Kak...kalau masa lalu kak Nisa sangat membuat kakak sedih maka tak usah diceritakan." kata Ana yang masih memeluk Nisa dengan erat.
Nisa kemudian melepas pelukan Ana dan menghapus air matanya dan berkata. " Na... tak apa-apa juga kok. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, tak ada salahnya aku menceritakan kisah ku ini seperti aku juga menceritakannya pada Rahma dan Indah." balas Nisa seraya menenangkan diri.
Tapi dia tetap menolak dan berkata. 'Nisa.. aku mau bicara dengan Mu.' meskipun dia memohon aku tetap tidak memperdulikannya. Aku memerintahkan anak buah ayahku untuk mengusirnya dengan paksa bahkan juga dengan kekerasan. Agus terus berteriak dengan memaki-maki aku. Aku melihat wajahnya yang sangat marah atas apa yang kulakukan pada sahabatnya." Nisa kembali tertunduk meskipun tak lagi menangis.
"Kak...sudah lah kalau kakak tak kuat menceritakannya." sekali lagi Ana mencoba membujuk Nisa untuk menghentikan ceritanya.
__ADS_1
Tapi Nisa tetap melanjutkan ceritanya. "Hingga tiga bulan setelahnya aku baru tau ternyata yang membunuh ayahku bukanlah Bang Bima melainkan pamanku yang merupakan adik tiri ayahku. Bukan hanya dendam masa lalu tapi juga karena ingin mengambil alih perusahaan ayahku. Perusahaan yang dulu milik kakekku sepenuhnya diwariskan pada ayahku, itulah yang membuat pamanku tidak menerima hal tersebut.
Disaat itu lah masa terburuk semasa hidupku. Aku sudah kehilangan segalanya. Bahkan ibu yang satu-satunya kumiliki juga dibunuh pamanku ketika dia mencoba melawannya. Aku waktu itu mencoba kabur dari kejaran pamanku dan anak buahnya. Ketika kondisi yang sangat terdesak aku tak lagi memiliki jalan kabur. Tiba-tiba Bang Bima dan seluruh pasukannya datang menghampiriku. Dia menjulurkan tangannya membantuku. 'Gashar... aku tak mempunyai urusan denganmu...silahkan kembalikan wanita itu padaku' begitulah kata pamanku pada Bang Bimah. Tapi dengan sangat mengejutkan Bang Bima berkata padanya 'Dia adalah wanitaku...aku adalah pelindungnya, jika engkau mencoba menyakitinya maka nyawamu bukanlah satu hal yang bisa kau lindungi.'
Pamanku langsung marah dan melepas tembakan kearah Bang Bima, tapi dengan cekatan Bang Bima menghindari tembakan tersebut. Baku tembak benar-benar terjadi. Bang Bima sangat unggul karena dia dan pasukannya sangat terlatih dalam hal menembak. Pamanku dan pasukannya kian terdesak karena satu persatu pasukannya berhasil dilumpuhkan. Disanalah akhirnya pamanku menyerah. Bukan benar-benar menyerah tapi itu tipu muslihatnya untuk membunuhku karena dia memang menyimpan dendam besar pada keluargaku. Ketika baru saja aku menampakkan diriku padanya dia langsung menembakku.
Sekali lagi Bang Bima menerima tembakan karena aku. Dia mengorbankan tubuhnya demi melindungi ku dari peluru panas tersebut. Agus yang masih memegang senjata langsung kembali membalas tembakan kearah pamanku dan berhasil membunuhnya." Nisa mulai kembali tersenyum.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Ana kembali penasaran.
"Tadinya bilang... kak gak usah cerita...aku gak mau lihat kakak sedih.. eh tau-taunya pas lagi cerita romantisnya langsung deh penasaran." ledek Rahma dengan wajah jutek.
Nisa sedikit tertawa dan lanjut bercerita. "Waktu itu aku langsung menangis ketika Bang Bima terkapar tepat di depanku. 'Bang maafin aku...aku berjanji mulai detik ini akan setia melayanimu.' Aku menangis sejadi-jadinya ketika melihatnya tak sadarkan diri. Tiba-tiba Agus berkata. 'Mudah ya minta maaf...hingga detik ini sudah lima peluru bersarang ditubuhnya karena ulah mu, pertama pas kami datang menemui ayahmu... Bima hanya bicara baik-baik dengannya tapi dengan tega ayahmu menembaknya dua kali tanpa kami balas sedikitpun demi mengikuti perintahnya... keesokan harinya engkau datang juga menembakinya dua kali hanya karena ke salah pahaman... dan sekarang dia melindungi mu dari tembakan pamanmu... wanita macam apakah dirimu yang masih berani muncul dihadapannya.'
Aku terus memeluk Bang Bima dengan sangat erat dan menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba Bang Bima membuka matanya dan berkata. 'Sungguh aku belum pernah merasa senyaman ini... maukah engkau menjadi teman hidupku.' Aku sedikit malu saat itu, bahkan dia yang sedang sekarat bisa-bisanya berkata begitu. Aku dengan sedikit gemeteran membalas. 'Bukannya aku sudah banyak melakukan hal buruk terhadap mu... kenapa engkau masih baik padaku.' Kemudian dia hanya menjawab dengan perkataan yang membuat jantungku berdetak kencang. 'Karena aku sangat mencintaimu.' Dan ketika dia sudah sembuh kami langsung menikah."
__ADS_1
Di Akhir ceritanya Nisa tersenyum sangat bahagia.
\*\*\*