4 Istri

4 Istri
Ch 7 Cerita Nisa


__ADS_3

Nisa mendekat dan menggenggam tangan Ana lalu mulai bercerita.


"Dulu ayah dan ibuku adalah lawan bisnis Bang Bima..."


Tiba-tiba Ana menyela. "Tunggu nama asli Gashar adalah Bima?" tanya Ana.


"Ishh Na... jangan pernah panggil Bang Bima dengan nama itu... durhaka kamu!" balas Rahma menegur dengan marah.


"Udah Rahma ga apa apa juga kok... dulu kita sebelum kenal dia juga manggilnya gitu kan?" kata Indah menenangkan Rahma.


"Maaf kak" Ana menundukkan kepalanya.


Nisa sedikit menggelengkan kepalanya. "Ok... aku lanjutin cerita gak nih?" tanya Nisa ke Ana.


"Iya kak... Aku mau dengar!" balas Ana sedikit memohon.


Nisa kemudian kembali bercerita. "Dulu ayah dan ibuku merupakan salah satu saingan Bang Bima...ayahku sangat tidak menyukainya...

__ADS_1


Ketika aku baru saja menyelesaikan kuliah ku. Aku bekerja disebuah rumah sakit swasta dikota ini. Itu hari pertamaku bertemu dengannya. Dia datang dengan luka tembakan dibagian bahu kirinya. Pada saat itu aku tak tau kalau yang sedang aku rawat adalah orang yang dikenal dengan nama Gashar tersebut. Aku rawat dia seperti merawat pasien biasa."


Nisa sedikit tertunduk dan tersenyum kecil "Andaikan waktu itu aku mengenalnya, kemungkinan aku tak akan menikah dengannya."


"Kenapa?" tanya Ana mulai penasaran.


Nisa tersenyum malu dan wajahnya memerah. "Aku berfikir dia sedang tak sadarkan diri...entah apa yang aku pikirkan yang jelas aku terus memandangi wajah tampannya...kemudian aku berkata tanpa sadar. 'Andaikan dia suamiku, pasti ku rawat dia sepenuh hati.' Sungguh mengagetkan ku ketika dia membuka matanya dan membalas perkataanku. 'Apakah engkau benar-benar mau menjadi istriku?' Aku sangat malu dan langsung lari dari ruang rawatnya.


Ketika aku baru saja keluar para anak buahnya langsung menghampiriku. 'Apakah bos baik-baik saja?.' tanya mereka. Karena hati ini masih deg-degan aku hanya mengangguk lalu dengan segera beranjak pergi"


"Jadi kak Nisa memang sudah jatuh cinta padanya?" tanya Ana semakin penasaran.


"Lalu kelanjutannya gimana kak?" Ana semakin penasaran.


"Jelas dia dengar semua perkataanku. Baru saja aku keluar dari rumah sakit, seseorang terus mengikutiku. Ketika aku sudah merasa sangat yakin sedang diikuti, aku langsung menelfon ayahku meminta agar dia mengirim orangnya untuk menjagaku.


Hanya beberapa menit saja anak buah ayahku sudah berdatangan. Dengan segera aku memberitahu mereka bahwa ada orang yang sedang mengikutiku. Aku memberitahu mereka tentang orang yang mengikuti ku tersebut dan mereka langsung menghampirinya.

__ADS_1


Aku tak bisa mendengar perbincangan mereka tapi yang jelas aku lihat terjadi adu mulut yang amat panjang. Ketika mereka kembali salah seorang dari mereka berkata. 'Nyonya sekarang harus lebih berhati-hati...dia tadi merupakan orang suruhannya Gashar...tampaknya Gashar pasti ingin berbuat buruk pada Nyonya...saya akan segera memberitahu kepada Ayah Nyonya.'


Ayahku benar-benar marah ketika anak buahnya menceritakan semuanya. Hari itu juga Ayahku membawa seluruh pasukannya menemui Bang Bima. Aku takut akan terjadi pertempuran, jadi aku coba untuk menghentikannya. Tapi sia-sia ayahku sudah larut dalam kemarahannya." Nisa mulai serius dengan ceritanya.


"Apakah benar-benar terjadi pertempuran kak?" tanya Ana yang sangat fokus mendengar cerita Nisa.


Nisa mengangguk dan lanjut bercerita. "Aku tak tau persis bagaimana pertempuran itu terjadi...yang jelas ayahku kembali dengan selamat tanpa luka sedikitpun begitu pula dengan anak buahnya. Aku juga mendengar dari anak buah ayahku bahwa Bang Bima yang baru saja mendapat luka tembakan kembali mendapat luka tembakan lagi dari ayahku.


Entah kenapa aku mulai merasa bersalah pada Bang Bima. Aku merasa ini terjadi karena ulahku sendiri dan aku berniat untuk pergi meminta maaf. Tapi niatku kandas ketika aku mulai berfikir bagaimana kalau waktu itu Bang Bima akan memamfaatkanku untuk balas dendam pada ayahku atas kekalahannya. Jadi ku urungankan kembali niat ku, karena kata orang-orang dia sangatlah berbahaya."


Ana mulai mencoba menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Apakah Ga... ee Bang Bima benar-benar balas dendam?" tanya Ana mencoba memastikan bahwa tebakannya benar.


Nisa tersenyum manis dan menatap mata Ana.


 

__ADS_1


\*


 


__ADS_2