4 Istri

4 Istri
Ch 39 Kejaran Polisi


__ADS_3

Dengan begitu cepat akhirnya Ana dan Indah bertukar posisi. Kendali kemudi sekarang di pegang oleh Ana. Mobil patroli polisi kian mendesak membuat Ana cukup kesulitan dalam mengendalikan mobil. Apa boleh buat? Ana terpaksa menghantam benda apapun yang menghalangi laju mobil nya.


“Ana ada apa? Kamu nabrak apa?” Tanya Rahma yang terbangun dari tidurnya ketika mobil mereka sedikit menyenggol tiang listrik.


“Bukan apa-apa kak.. Ada polisi yang sedang mengejar kita.. aku takut jika nanti mereka ternyata adalah anak buah si manusia biadab itu.. makanya sekarang kita harus bisa lolos dari para polisi ini.” Jelas Ana sambil terus mempercepat laju mobilnya.


Para polisi yang mengejar tentu tak tinggal diam. Salah seorang dari mereka mulai melepaskan sebuah tembakan peringatan. Namun itu tidak membuat Ana gentar dan menyerah begitu saja. Dengan sangat brutal Ana mempercepat laju kendaraannya.


Kejaran para polisi membuat Ana menjadi tak tentu arah. Kali ini mobilnya menyasar ke jalanan pasar yang begitu ramai. Suatu mobil sedan tampak sedang mencoba memutar arah dan hampir menutupi seluruh badan jalan. Tidak ada waktu untuk mengerem mobilnya, Ana mencoba membanting stir yang akhirnya menabrak beberapa barang pedagang kaki lima dan membuat mereka sangat marah.


“Woi.. berhenti lo.” Begitulah teriakan amarah pedagang itu kepada Ana.


Sebuah persimpangan dengan empat jalan akan segera di hadapi Ana. Kejaran mobil patroli polisi membuat Ana tak punya waktu untuk memikirkan jalan yang akan ia pilih. Dengan menggunakan insting akhirnya Ana memilih jalan ke sebelah kiri. Sungguh sial karena jalan yang ia pilih ternyata adalah jalan buntu.


“Na.. kenapa berhenti? Apa polisinya sudah tak mengejar kita lagi?” Tanya Rahma yang mengintip dari jendela countainer.


“Bukan kak.. jalan ini sudah tertutup oleh pedagang kaki lima yang berjualan.. kita harus putar balik.” Jelas Ana yang dengan sangat cepat memutar mobilnya.


Sialnya lagi mobil patroli polisi tersebut ternyata sudah menghadang jalan mereka. “Na kita harus apa?” Tanya Indah menjadi sangat panik.


“Indah tenang.. biarkan aku berpikir.” Ucap Ana sambil menatap fokus pada jalan yang dihadang mobil patroli polisi tersebut.


Dengan sangat perlahan mobil patroli itu semakin mendekat. Tersisa jarak yang hanya dua puluh meter saja antara mobil Ana dan mobil patroli itu.


“Indah bersiaplah.. pejamkan matamu karena mungkin kamu tak akan sanggup melihat momen ini.” Ucap Ana dengan penuh rasa percaya diri langsung tancap gas ke arah mobil patroli polisi tersebut.


Jantung Indah menjadi sangat berdebar-debar. Ia pegang erat-erat pegangan yang ada disisi atas jendelanya. Kemudian ia sembunyikan wajah disisi kiri bahunya dan langsung memejamkan matanya. Jarak antara kedua mobil itu semakin mendekat. Demi menghindari tabrakan akhirnya mobil patroli tersebut langsung memilih untuk menghindar.

__ADS_1


“Ana.. udah gila kamu ya? Itu tadi kalau nabrak gimana?” Ucap Indah yang sangat merasa ketakutan.


“Gak ada pilihan lain.. yang penting apa yang kulakukan cukup berhasil kan?” Balas Ana sambil mengintip mobil patroli polisi tersebut dari kaca spion.


Jelas para polisi itu masih belum membiarkan mereka lepas. Dengan desain mobil patroli yang hampir mirip dengan mobil balap, dengan sangat cepat mereka bisa memutar arah dan kembali mengejar Ana.


“Ana lihat.. mereka masih mengejar.” Ucap Indah melihat mobil patroli polisi tersebut dari kaca spion mobil.


“Aku tau itu.”


Ana kemudian memilih masuk kembali ke jalan raya yang ramai akan kendaraan, dengan ide untuk bisa mengelabui polisi yang akan terhalang pandangannya oleh banyaknya kendaraan. Usaha Ana cukup mulus ketika ia menyalip sebuah mobil bus besar yang ada dihadapannya. Para polisi cukup kesulitan untuk melihat mobil Ana karena terhalang mobil bus besar tersebut.


Laju kendaraan Ana akhirnya terhenti ketika mereka terjebak macet yang disebabkan oleh beberapa mobil truk besar yang membelok di Persimpangan. Beruntung mobil patroli polisi tersebut berada agak jauh dari mereka. Ini cukup memberi Ana waktu untuk melakukan sesuatu.


Tanpa pikir panjang Ana langsung turun dari mobil dan menuju pintu countainer truk dan langsung membukanya. “Kak Rahma.. kak Nisa ayo buruan keluar.. cepat bawa bang Bima sembunyi.”


Dengan segera Nisa dan Rahma mengikuti perintah Ana. Mereka memapah tubuh suami mereka untuk turun dari countainer truk.


“Terus kamu dan Indah bagaimana?” Tanya Rahma merasa khawatir.


“Tak usah pikirkan kami.. ini demi suami kita.. cepat kak Rahma pergi sebelum terlihat oleh para polisi itu.” Tegas Ana pada Rahma.


Dengan berat hati Rahma beserta Nisa memapah Bima berjalan menjauhi jalanan menuju pertokoan di pinggiran jalan. Ana kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan memegang erat tangan Indah demi mengurangi rasa cemasnya.


Sungguh beruntung Ana bertindak sangat cepat. Para polisi ternyata sudah turun dari mobil dan berlari ke arah mereka karena merasa macet ini akan lama.


“Cepat turun!!!” Ucap tiga orang polisi sambil menodongkan senjata. Dengan perlahan Ana dan Indah turun dari mobil.

__ADS_1


“Kamu duduk disini!!!” Bentak salah satu polisi tersebut menyuruh Indah untuk tak bergerak atau melawan.


“Hei kamu cepat buka pintu countainer mobil ini!!!” Perintah seorang polisi lainnya yang tak memegang senjata kepada Ana.


“Pak ada apa ini pak? Salah kami apa?” Tanya Ana pada polisi itu.


“Ada laporan dari seorang warga yang mencurigai mobil truk yang kalian kendarai berisikan barang-barang rampokan.. maka kami harus segera memeriksa mobil kalian ini.” Ucap polisi itu.


“Astaga.. kami bukan pencuri pak.” Balas Ana pada polisi itu.


“Kalau benar begitu cepat buka countainer ini!!!” Bentak polisi tersebut.


Puluhan pasang mata sedang menyaksikan kejadian itu. Ada yang penasaran dan ada juga yang langsung berburuk sangka mengira Ana dan Indah adalah gembong perampok atau narkoba. Rasa penasaran para pengendara akhirnya membuat mereka berkumpul ingin menyaksikan Ana membuka pintu countainer tersebut. Hanya ada satu orang pengendara yang tau akan isi dalam countainer itu, yaitu seorang bapak yang mengendarai mobil truk di belakang mereka. Karena itu indah langsung menatap tajam mata sang bapak dan memberi kode untuk tetap diam.


Ana kemudian membuka pintu countainer truk dan memperlihatkan isi countainer yang kosong. Sungguh membuat penonton kecewa.


“Heh apa benar ini mobil truk yang di maksud?” Tanya polisi tersebut pada rekan kerjanya.


“Dari laporan yang telah saya catat benar ini mobilnya.”


“Ya sudah.. untuk penyelidikan lebih lanjut kalian bawa dua tersangka ini terlebih dahulu.. biar aku yang mengamankan truk ini.” Ucap seorang polisi sambil naik ke dalam truk.


Ana sedikit tak terima ketika polisi memutuskan untuk membawanya dan juga Indah ke kantor. “Gak bisa gitu dong pak .. bapak kan sudah lihat tidak ada apapun di dalam countainer ini seperti yang telah di curigakan.” Ucap Ana mencoba mencoba menentang.


“Lalu kenapa tadi kalian lari dari kejaran kami? Bahkan kalian hampir menabrak kami.” Tanya polisi itu.


“Eee saya cuma takut karena saya tak bawa SIM pak.” Jawab Ana mencari alasan.

__ADS_1


“Ya sekarang itu yang harus kalian jelaskan di kantor.” Balas polisi tersebut.


Tak punya cara membantah lagi, akhirnya Ana dan Indah terpaksa ikut bersama para polisi tersebut.


__ADS_2