4 Istri

4 Istri
Ch 29 Bang Ajis


__ADS_3

Ana sedikit terkejut dan juga bingung. Siapa juga yang mau menculik sekertaris Bima itu. Tapi apakah yang sebenarnya terjadi.


"Maksud bang Ajis gimana?" tanya Ana ingin tau.


"Kamu ingat dengan laki-laki yang bertemu kamu di BIM GRUP?.. setelah aku meminta Agus untuk mencari info tentang dia semenjak itu lah dia tidak pernah menampakkan diri lagi." jawab bang Ajis menjelaskan.


"Jadi, apakah orang itu yang menyebabkan bang Ajis menghilang?" tanya Ana lagi mencoba menebak.


"Belum bisa dipastikan.. Agus sendiri memiliki ilmu bela diri yang baik.. tidak sembarangan orang bisa mengalahkannya.. jadi yang terpenting sekarang aku harus memberitahu Bima tentang hal ini." jawab bang Ajis lagi sambil kembali menaiki anak tangga.


"Jangan!!! Biar aku saja yang menyampaikannya.. bang Bima sekarang sedang berduaan dengan kak Nisa di kamar." ucap Ana mencoba menahan bang Ajis.


"Apa!!! seharusnya kalian tidak biarkan itu terjadi." tiba-tiba bang Ajis terkejut dan menjadi sangat marah. Dia langsung berlari menuju kamar Bima dan mendobrak pintu kamar dengan sangat keras.


Sontak hal ini membuat Bima dan Nisa kaget. Bang Ajis pun langsung mendekati mereka dan langsung menarik Bima dari atas ranjang. Bima yang masih dalam keadaan telanjang langsung terkapar dilantai dan Nisa langsung menarik selimut menutupi tubuhnya yang juga masih telanjang.

__ADS_1


Rahma, Indah dan Ana juga langsung berdatangan. Ketika mereka datang terlihat bang Ajis sedang mencekik leher Bima dengan kedua tangannya.


Dengan segera Ana mendorong bang Ajis untuk menyelamatkan suaminya. "Ada apa ini?" tanya Ana memegangi tubuh suaminya yang sesak nafas. Rahma dan Indah juga ikut membantu. Hanya Nisa yang masih di ranjang karena belum berpakaian.


"Kalian tau!! setelah suami kalian melakukan ini dan istri pertama suami kalian ini hamil.. maka kalian semua akan ada dalam bahaya!! dan juga rencana yang aku bangun bersama ayahnya akan hancur begitu saja!! Bos kecil.. bukan kah kau sudah berjanji padaku untuk bisa menahan hasrat mu itu!!" ucap bang Ajis dengan wajah merah padam.


"Tapi kenapa??.. kenapa kau meminta ku untuk menahan hasrat ku pada istri-istri ku tanpa ada penjelasan yang jelas.. kau selalu menyembunyikan banyak rahasia.. tentang ayahku dan tentang kenapa ibu ku meninggal.. kau tau bagaimana perasaan ku saat istri-istriku bertanya kenapa aku masih belum menyentuh mereka?.. kadang aku menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang tak masuk akal." balas Bima bertanya.


"Kau tau.. satu hal yang membuatmu mirip dengan ayahmu.. kalian sama-sama bodoh karena wanita." ledek bang Ajis dengan sangat tajam.


"Dengarkan aku bos kecil.. sekarang kau harus pilih.. campakkan istri pertama mu ini.. atau aku yang akan pergi." ucap bang Ajis memberi pilihan.


Bima hanya terdiam dan tertunduk. Bagaimana bisa dia memilih salah satu dari hal tersebut.


"Baiklah biar aku yang pergi." sambung bang Ajis melangkahkan kaki keluar kamar.

__ADS_1


"Tunggu!!" ucap Ana dan langsung menghadang bang Ajis. "Ada apa ini semua.. kenapa kau melarangnya menyentuh istri-istrinya tapi tak melarangnya menikah.. dan rahasia apa yang sedang kau sembunyikan." tanya Ana yang bingung akan situasi ini.


"Nyonya Ana.. dari awal kita bertemu di pasar kau sungguh membuatku kagum.. dan sampai detik ini aku masih sangat kagum padamu.. kau lah yang seharusnya mewarisi gelar Gashar dari keluarga ini bukan suami mu yang sangat lemah dan lembut itu.. dan jika bisa memilih antara kalian berdua yang menjadi bos ku pastinya aku akan memilih mu dari pada suami mu yang bodoh itu." balas bang Ajis melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar Bima.


Ana melihat wajah suaminya begitu murung. "Ternyata hidup mu memiliki banyak tekanan.. pantas saja kau ingin punya banyak istri karena harta yang kau miliki tak pernah bisa membuatmu bahagia."


Nisa segera mengenakan pakaiannya kembali dan berlutut dihadapan Bima. "Bang Bima.. maafin aku.. aku salah karena telah menggoda mu.. biar aku saja yang pergi dari rumah ini."


Melihat Bima yang hanya terdiam dan masih termenung Nisa langsung berdiri dan melangkah keluar rumah.


Dengan cepat Ana menarik tangan Nisa. "Tidak ada yang akan keluar dari rumah ini." ucap Ana dengan lantang. "Bang Bima.. apa yang kau takutkan? masyarakat sudah mengenalmu sebagai Gashar orang yang paling di takuti di kota.. kenapa kamu takut dengan kata-kata yang di lontarkan bang Ajis barusan.. apa benar suamiku ini orang yang selemah ini."


"Benar.. tidak ada yang akan meninggalkan rumah ini.. karena aku akan melindungi kalian." ucap Bima sambil berdiri. "Na.. dengar.. aku tidaklah lemah."


"Aku tau itu." balas Ana tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2