4 Istri

4 Istri
Ch 22 Bim Grup


__ADS_3

Ana masih saja ragu untuk menyetujui hal tersebut. "Apa yang spesial dari ku?.. apa aku harus mengiyakan perintah Bang Bima." pikir Ana dalam hati.


"Bang Ajis.. kayaknya aku harus bicara dulu sama bang Bima." ucap Ana karena ingin menanyakan secara langsung pada Bima.


"Tidak usah.. bersiap lah sekarang.. karena pertemuannya hanya tersisa 30 menit lagi." cegah bang Ajis demi menenggang waktu.


"Baik lah." jawab Ana akhirnya menyetujui. "Kenapa ini seperti paksaan lagi?" gumam Ana dalam hati.


Ana kembali ke kamarnya. Ia masih saja bingung serta penasaran. "Kenapa harus aku? Bukan kah aku istrinya yang terakhir.. kenapa bukan kak Nisa.. bukan kah kak Nisa juga keturunan pengusaha." pertanyaan demi pertanyaan terus terlintas di pikirannya. "Apakah bang Bima menyembunyikan sesuatu."


Setelah berganti pakaian dan berdandan Ana berlari menuju kamarnya Bima berharap tak di lihat bang Ajis. Ia sedikit membuka pintu kamar suaminya. Ketika hendak masuk, Ia melihat suaminya sedang tidur yang membuatnya membatalkan niatnya.


Dengan pelan ia tutup pintu itu kembali dan melangkah ke dapur. "Kak Nisa.. aku ada urusan sama bang Ajis.. aku pergi dulu ya." ucap Ana meminta izin pada Nisa.


"Kamu udah bilang pada bang Bima?" tanya Nisa sebelum memberinya izin.


"Bang Bima lagi tidur kak.. lagian ini juga perintahnya." Ana kemudian berpaling lalu pergi.


"Hati-hati Na.. jangan sampai ada kejadian kayak kemarin." sahut Nisa mengingatkan Ana.


"Baik kak!!" balas Ana sambil melambaikan tangan.


Ana naik kedalam mobil yang dikendarai oleh bang Ajis. Di ikuti oleh tiga mobil jip penjaganya. Jalan yang di tempuh ialah jalan menuju sebuah gedung yang sering disebut-sebut masyarakat sebagai gedung Gashar. Gedung pencakar langit itu memiliki 60 lantai dengan tinggi mencapai 280 meter. Pantas lah gedung ini menjadi yang tertinggi di kota ini.

__ADS_1


Dari bawah Ana mendongak melihat ke atas. "Jika ia mampu membangun gedung setinggi ini pastilah hartanya sangat banyak.. dan pasti juga banyak yang iri padanya."


Ana mengikuti langkah bang Ajis masuk ke dalam gedung. Ia tak pernah menyangka ia akan berada langsung didalam gedung. Karena sebelumnya ia hanya mampu melihat gedung ini dari luar halaman gedung yang memiliki luas 1,4 hektar.


Tepat ada 21 lift di gedung ini yang terbagi dengan tiga zona yaitu zona low, zona mid dan zona high. Tapi Ana dan bang Ajis menaiki lift khusus yang hanya di pakai oleh Bima sendiri atau tamu spesialnya. Kecepatan lift ini pun tak Biasa. Ana sendiri bisa merasakan kecepatan lift ini ketika naik.


"Bang Ajis.. kelantai di lantai berapa kita sekarang?" tanya Ana penasaran dan karena juga takut akan ketinggian.


"Kita berada di lantai ke 30.. dimana tak ada satu lift pun yang bisa kesini kecuali lift barusan.. jadi jika ingin keluar masuk hanya akan ada satu jalan." jelas bang Ajis.


"Bukan kan ini berbahaya jika terjadi kecelakaan di gedung ini?" Kata Ana menjadi semakin takut berada didalam gedung tersebut.


"Nyonya tak perlu takut.. gedung ini dibangun oleh arsitektur ternama, jadi kokohnya gedung ini tak usah diragukan." balas bang Ajis mencoba menenangkan.


"Masuk la!" bang Ajis membuka pintu suatu ruangan dimana sudah ada 10 orang yang menunggu. Dari cara penampilannya mereka terlihat seperti para pengusaha besar.


"Mana Gashar?.. ia sudah telat lima menit." tanya seorang pria pengusaha berbadan gendut dan berkepala botak kepada bang Ajis yang berjalan bersama Ana.


"Bos besar tidak bisa hadir karena sakit.. jadi akan digantikan oleh istrinya sendiri.. yaitu nyonya Ana." jawab Bima sambil menunjuk Ana.


"Lelucon macam apa ini?.. bagaimana seseorang yang berniat membangun suatu grup perusahaan malah tidak hadir disini dan justru mengutus istrinya yang bahkan tidak kami kenali... sungguh Gashar adalah orang yang bodoh." ucap pria itu menghina Bima.


Mendengar ada yang mengatai suaminya, Ana mendadak menjadi emosi. "Aku disini bukan hanya penggantinya sebagai pembawa pesannya.. tapi aku memegang penuh atas kekuasaan suamiku.. apapun keputusanku sama dengan keputusannya."

__ADS_1


"Kalau begitu jelaskan kepada kami hal yang akan membuat kami tertarik bergabung dengan grup yang kalian buat?" tanya seorang pria kacamata yang sudah agak berumur.


"Hahaha." Ana tertawa. "Gashar tak pernah membuat orang tertarik bergabung dengannya.. tapi Gashar memaksa orang untuk bergabung dengannya." ucap Ana menjawab pertanyaan pria kacamata walau sebenarnya ia cukup grogi berkata demikian.


"Apa maksud mu? jangan bertele-tele dengan kami!!" balas pria itu sedikit marah.


"Maksudku.. kalian tidak bisa menolak keputusan yang akan aku buat." ucap Ana menatap mata pria itu dengan tajam. Dan ketahuilah bahwa tak ada yang mampu melawan tatapan matanya.


"Jelaskan apa mau kalian?" tanya pria berkacamata itu sedikit merendahkan nadanya.


Ana melihat semua orang sudah termakan ucapannya dan mulai merasa takut. "Baik lah.. Jika kalian bergabung dengan Bim Grup maka kalian tetap akan dapat 60% dari keuntungan perusahaan yang kalian pegang.. dan kalian juga akan dapat jaminan kerugian sebanyak 10% pemasukan Grup pertahunnya."


"Hahaha.. lucu sekali anda.. bagaimana kami mungkin kami akan menyerahkan saham perusahaan kami jika hanya dapat keuntungan 60%.. kamu pikir kami bodoh.. sudah lah aku akan cabut dulu.. ada banyak hal penting yang lebih baik aku kerjakan." ucap seorang dari mereka diikuti dengan yang lainnya.


"Silahkan pergi jika kalian ingin pergi.. itupun jika kalian bisa.. baik kalian ataupun perusahaan kalian akan segera berada pada zona merah." balas Ana dengan sedikit Ancaman.


"Dia persis seperti Gashar yang sesungguhnya." gumam bang Ajis dalam hati.


Para pimpinan perusahaan yang mengerti dengan ucapan Ana segera kembali ke kursinya. Total ada 3 orang yang meninggalkan pertemuan.


Ana berdiri tegap dan berkata. "Perusahaan yang menanda tangani kontrak maka akan dilindungu oleh Bim Group sendiri.. Dan mereka yang keluar maka perusahaanya akan segera mengalami keruntuhan."


7 orang yang tersisa segera menandatangi kontrak. Mereka lebih memilih bermain aman dari pada harus melawan Gashar. Pendapatan 60% dari keuntungan perusahaan lebih baik dari pada harus bangkrut. Lagian jika bergabung dengan Bim Grup maka tak perlu lagi memikirkan tentang bagaimana mendistribusikan produk mereka.

__ADS_1


__ADS_2