
Bima terkapar sekarat di dalam mobil. Ia telah menghabiskan banyak darah. Rahma mencoba memberikan pertolongan pertama dengan membalut luka tembakan di tubuh Bima dengan pakaiannya.
"Na... kita akan kemana? bang Bima harus segera di rawat.. dia sangat sekarat." Tanya Rahma lewat jendela container mini yang di desain terhubung pada bangku supir.
"Tenanglah sebentar.. aku tau suatu tempat aman untuk merawat bang Bima." Jawab Ana yang sebenarnya juga sangat takut dan gelisah
Didalam mobil Nisa juga tiada hentinya menangis melihat suaminya yang sekarat dan memikirkan putra pertamanya yang sekarang berada di genggaman Rehan.
"Kak Nisa.. tenang lah.. bayi kak Nisa akan tetap baik-baik saja.. karena manusia biadab itu harus bisa menjaga bayi itu tetap hidup jika ingin menikmati harta bang Bima." Bujuk Ana yang melihat Nisa tiada henti menangis dari kaca spion supir.
Sunyi dan sepi jalanan pada malam ini membuat Ana dapat melajukan kendaraannya dengan sangat cepat. Hingga tak lama berselang Ana sampai di sebuah puskesmas kecil di kediaman rumah lamanya.
Ana menggedor-gedor pintu puskesmas dan berteriak memanggil sang bidan karena sang Bidan juga tinggal di dalam puskesmas tersebut. Beberapa detik kemudian terdengar langkah dari dalam menuju pintu depan.
"Ana?" Sang Bidan kaget melihat Ana yang berdiri di hadapannya. "Gashar?" Ia semakin kaget dan tak percaya melihat Bima yang berdiri dengan di papah Ana dan Rahma.
"Suami saya harus segera dirawat.. izinkan kami masuk." Ucap Ana tak ingin berlama-lama.
Dengan sangat gemetaran sang Bidan mempersilahkan Ana untuk masuk. Dengan perlahan mereka membaringkan Bima di atas ranjang pasien.
"Kalian tunggu sebentar.. aku akan sembunyikan mobil kita terlebih dahulu.. takut ada yang mengawasi kita." Ucap Ana segera keluar dari puskesmas.
Sang bidan cukup panik dalam melakukan perawatan pada Bima dikarenakan ia belum pernah sekalipun menangani kasus pasien luka tembak. Nisa coba mengendalikan dirinya dan memberi instruksi atas apa yang akan dilakukan sang bidan.
Bisa dilihat dengan jelas luar biasa gemetarnya tangan sang Bidan ketika mencoba mengeluarkan peluru panas tersebut pada tubuh Bima.
"Buk.. jangan panik.. usahakan tetap tenang." Rahma mencoba meredakan kepanikan sang bidan.
Sungguh bukan suatu hal yang mudah. Apalagi dengan peralatan yang sangat tidak mempuni. Butuh waktu cukup lama untuk mengeluarkan peluru tersebut.
__ADS_1
"Bang Bima telah kehabisan banyak darah.. ia butuh darah tambahan.. apakah ada darah disini?" Tanya Nisa pada sang bidan.
"Eee mohon maaf tidak ada stok kantong darah yang diberikan ke puskesmas." Jawab sang Bidan.
"Apa golongan darah bang Bima?" Tanya Ana kepada Nisa.
"Kalua tidak salah golongan darahnya O." Jawab Nisa kepada Ana.
"Apa disini ada alat untuk transfer darah.. kita tidak mungkin mencari darah kemana-mana.. gunakan darahku saja.. golongan darahku juga O" Ucap Ana menawarkan diri.
"Apa kamu yakin Na?" Tanya Nisa pada Ana.
"Aku sangat yakin kak.. apapun akan ku lakukan untuk menyelamatkan bang Bima." Jelas Ana pada Nisa.
"Baiklah kita harus melakukan pengecekan pada kesehatan mu terlebih dahulu." Nisa memastikan bahwa Ana memenuhi syarat untuk melakukan donor darah.
Setelah melakukan pengujian pada Ana, beruntung Ana berhasil memenuhi syarat sebagai pendonor sehingga donor darah bisa segera di lakukan.
Ketika ia berumur dua belas tahun. Kesepian hidup tanpa teman atau sahabat. Hanya ada Agus yang itupun selalu sibuk dan mengganggap dirinya hanya sebatas pelayan.
Bima sesekali keluar rumah mencari teman untuk bermain. Tak kala ia bertemu teman sebayanya yang sedang bermain sepak bola. Ia berjalan mendekat menghampiri gerombolan anak-anak itu. Baru beberapa langkah mendekat orang tua dari anak-anak itu langsung menghampiri anak-anak mereka.
"Maaf tuan muda.. jika anak-anak kami mengganggu tuan muda." Begitulah ucapan mereka yang sangat takut pada Bima.
Hal yang ditanamkan orang tua mereka semakin mempengaruhi anak-anak mereka. Tak ada yang berani berteman dengan Bima karena sangat takut dengan sang penguasa kota tersebut. Ya orang tua mana yang berani membiarkan anaknya bermain dengan seorang yang memegang 85% saham tanah di kota ini.
Di tengah kesepian dan kesendiriannya Bima ia berjalan melewati segerombolan bocah perempuan sedang asik bermain lompat tali. Melihat Bima para bocah itu berlari meninggal tempat itu.
Tersisa seorang bocah perempuan berusia tujuh tahun yang tampak kebingungan kenapa semua anak lari begitu saja.
__ADS_1
"Hai.. kamu mau main dengan ku?" Ucap bocah perempuan itu yang melihat Bima berjalan dengan menunduk.
Bima menoleh dan melihat bocah itu tersenyum padanya. "Hah? kamu mau main dengan ku?" Tanya Bima merasa tak percaya.
"Iya.. siapa juga yang mau bermain sendiri." Ucap bocah perempuan itu.
Itulah pertama kali Bima mempunyai seorang teman. Mereka sering bermain bersama walau Bima selalu mencoba menyembunyikan identitasnya pada gadis kecil itu.
"Siapa namamu?" Tanya Bima ketika mereka sedang bermain buaian di bawah pohon yang rindang.
"Nama ku adalah Anisa.. tapi kamu bisa panggil aku dengan nama Ana.. kalau nama kamu siapa?" Jawab gadis kecil itu sembari balik bertanya.
"Nama aku.. ee nama aku.." terlihat jelas bagaimana Bima takut untuk memberitahu Namanya. Bima kemudian menengadah menatap melihat awan di tengah langit biru yang cerah. "Namaku adalah Awan." Jawab Bima berbohong.
"Hahaha namamu aneh.. tapi jika benar namamu adalah Awan maka aku ingin namaku juga berubah menjadi Langit." Balas Ana tertawa.
"Kenapa Langit?" Tanya Bima penasaran.
"Karena Langit akan selalu ada untuk memberi ruang pada Awan." Jawab Ana kecil memberi senyuman manis pada Bima kecil.
"Tapi bukannya suatu ketika awan akan menghilang dari langit dan suatu ketika awan akan menutupi seluruh langit.. bagaiman perasaan langit saat itu?" Tanya Bima serius memandang Ana.
"Iya langit tak akan khawatir.. karena walaupun awan menghilang di pasti akan kembali.. dan awan yang menutupi langit adalah untuk memberi berkah pada yang dibawahnya." Balas Ana kecil lagi yang membuat Bima kecil bahagia.
"Ana.. ketika dewasa nanti apakah kamu mau menjadi teman hidupku?" Tanya Bima pada Ana.
"Hahaha tentu.. karena aku ini adalah langit mu." Balas Ana kecil dengan senyum manisnya.
Mungkin saat itulah Bima merasakan yang namanya cinta pada gadis kecil yang sebenarnya belum tau apa-apa. Namun setelah hari itu Ana menghilang entah kemana.
__ADS_1
Itulah yang membuat Bima terpesona pertama ketika bertemu Ana kembali di pasar. Jantungnya sudah berdebar-debar merasakan bahwa perempuan itu benar-benar Ana kecilnya.
Tapi sekarang apakah awan akan kembali pada langit di tengah ambang kematiannya.