
Ana merasa lega karena ia berhasil membujuk sebanyak 7 orang untuk memberikan sahamnya kepada Bima. Ini sangat menguntungkan karena dari tiap-tiap perusahaan mereka akan mendapatkan keuntungan sebesar 40%.
Para pimpinan perusahaan yang telah bergabung akhirnya keluar dari ruangan tersebut. Tampak jelas dari raut wajah mereka bahwa mereka sangat terima dengan hal ini. Tapi mau gimana lagi perusahaan dan kekuatan Bima adalah yang tertinggi di negri ini.
"Nyonya selamat!! kamu hebat.. pelajaran yang kuberikan hanya ketika di dalam perjalanan kemari benar-benar bisa kamu kembangkan dengan baik." bang Ajis tersenyum melihat keberhasilan Ana. "Sekali lagi selamat." ucap bang Ajis mengacungkan tangan untuk bersalaman.
"Terima kasih bang.. tapi saya tidak menyentuh tangan laki-laki kecuali tangan suami saya." balas Ana hanya menunduk sambil memberikan senyuman.
"Oh maaf." jawab bang Ajis menurunkan tangannya. "Habis ini Nyonya jangan pulang dulu.. orang-orang pentingnya Bima sudah hadir disini.. mereka akan memberikan selamat atas semakin melebarnya sayap Bim Grup.. dan sekaligus mereka ingin mengenal nyonya sebagai pimpinan kedua Bim Grup." sambung bang Ajis menjelaskan.
"Aku pimpinan kedua?.. bukannya aku hanya pengganti sementara?.. apakah sekarang aku wakil pemimpin?" ucap Ana bertanya-tanya.
"Nyonya adalah pemimpin kedua.. bukan wakil pimpinan atau pimpinan sementara.. tapi Bima menunjuk Nyonya sebagai pimpinan Bim Grup yang kedua.. artinya Nyonya punya kekuasaan penuh seperti Bima.. baik Bima hadir ataupun tidak." jelas bang Ajis lagi kepada Ana.
"Tapi kenapa? kenapa bang Bima memberikan ini semua padaku?" tanya Ana lagi sangat penasaran.
"Aku tak tau." jawab Bang Ajis singkat walau sangat terlihat bagaimana ekspresi wajah bang Ajis seperti menyembunyikan sesuatu. "Nyonya.. sebaiknya kita segera bergerak ke Aula gedung.. mungkin sudah banyak orang menanti di sana.. ini juga saya berikan sebuah pidato.. silahkan kalau Nyonya mau menghafal atau membacanya nanti ketika berpidato." sambung bang Ajis mulai melangkah ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Dalam pikiran Ana masih berkecamuk banyak pertanyaan. Bagaimana tidak? bayangkan saja ketiga istri suaminya yang lain tidak boleh bekerja sama sekali, sedangkan dia malah dikasih sebuah tanggung jawab besar atas perusaan besar milik suaminya tersebut.
Didalam aula gedung sudah banyak orang yang menunggu kedatangan Ana sebagai pimpinan yang kedua. Ketika Ana masuk semua orang langsung menundukkan kepalanya. Ana merasa sedikit canggung karena baru kali ia diberi hormat oleh orang banyak.
Ana langsung menuju sebuah mimbar yang biasa di pakai oleh Bima sesuai dengan perintah Bang Ajis. Di sana menyampaikan pidatonya yang berisikan kebijakan-kebijakan baru dari Bim Grup. Isi kebijakan adalah tentang sistim penggajian anggota lama dan baru sesuai prestasi dan juga bonus penambahan bonus persenan tiap tahun jika laba perusahaan terus meningkat.
Setelah usai berpidato. Semua orang sedikit melakukan pesta kecil merayakan keberhasilan Bim Grup hari ini dalam melebarkan sayapnya.
Ana turun dari mimbar dan banyak orang menghampirinya dan memberi ucapan selamat. Meski di tengah keramaian Ana cukup merasa kesepian karena otaknya terus memikirkan suaminya.
"Nyonya selamat ya.. wah tampaknya Gashar sangat beruntung memiliki kamu.. udah cantik, manis hebat pula.. jika kamu bosan dengannya kamu bisa menghubungiku." ucap seorang pria yang baru saja datang menghampiri.
"Maaf." ucap pria itu lalu berpaling menjauhi mereka.
Ana melihat bang Ajis terus memperhatikan pria itu. "Kenapa? apa ada yang Aneh dengan pria itu." tanya Ana.
"Aku tak kenal siapa dia? dia bukan anggota perusahaan ini." ucap bang Ajis dengan ekspresi berubah menjadi tegang. Kemudian dia memberi isyarat salah satu anggotanya untuk mendekat. "Cepat ikuti pria itu.. cari tau siapa dia." perintah bang Ajis.
__ADS_1
"Baik ketua." jawab anak buahnya itu.
"Ketua? jadi dia bukan hanya supir pribadi Bima." pikir Ana dalam hati.
"Bang Aku mau pulang!!" ucap Ana pada bang Ajis karena sangat rindu pada suaminya.
"Tapi nyonya.. pestanya masih belum selesai." balas bang Ajis.
"Aku ingin pulang!!" Ana menegaskan permintaanya.
"Baik Nyonya." balas bang Ajis menuruti.
Bersama bang Ajis Ana meninggalkan gedung. Ia sangat ingin bertemu dengan suaminya dan melihat kondisinya.
Sesampai di rumah Ana segera masuk dan naik ke lantai dua menuju kamarnya Bima. Ia membuka pintu dengan perlahan untuk melihat apa yang sedang dilakukan suaminya.
Hati Ana terasa seperti tertusuk sembilu ketika melihat suaminya sedang asik bersenda gurau dengan ketiga istrinya yang lain dikamar. Ia merasa sangat cemburu dan marah melihat hal itu.
__ADS_1
"Kenapa mesti aku yang berada di luar sana menggantikan mu?.. sedangkan ketiga istrimu ini bisa asik menemanimu.. engkau jahat.. apakah aku tak lebih pantas untuk selalu ada disisi mu dari pada istrimu yang cantik-cantik itu? aku tak akan mau lagi menggantikan mu!!" gumam Ana dalam hati yang sangat tertekan.
Dengan keras Ana menghempaskan pintu kamar Bima dan berlari menuju kamarnya. Hal ini mengagetkan Bima dan ketiga istrinya. Bima mencoba bangkit untuk mengejar Ana tapi tertahan oleh sakitnya luka tusukan di punggungnya.