
Suasana indahnya pemandangan pantai dipagi hari membangunkan Ana. Tak seperti biasanya yang ketika ia bangun tidur hanya menatap tembok kosong dengan cat yang memudar. Kali ini ia bangun dengan langsung melihat laut biru karena semalam ia juga lupa menutup gorden jendela kacanya.
Ketiga istri Bima yang lain ternyata juga sudah bangun. Mereka sibuk menyiapkan sarapan yang juga dibantu bi Asih.
"Indah... tolong bangunin Ana.. bilang bahwa sarapannya sudah siap." perintah Bima yang selalu menjadi koki sarapan.
"Ok bang.." balas Indah yang sedang menyiapkan air minum.
"Eh tunggu... kamu gantiin abang bentar disini.. biar abang yang manggil Ana." sahut Bima kepada Indah yang hendak pergi.
Indah pun lanjut menggantikan Bima dan Bima sendiri yang pergi membangunkan Ana
Langkah kaki Bima sungguh tak terdengar. Awalnya Bima berniat mengetok pintu kamar Ana terlebih dahulu, tapi Bima memilih membuka pintu tersebut secara langsung karena beranggapan bahwa Ana masih tidur.
"Haaaaaaaaaaaaaaa." Ana berteriak sekuat hati ketika pintu terbuka.
Mendengar teriakan super dahsyat tersebut para penghuni rumah pun berdatangan. dengan segera Bima menutup pintu tersebut kembali.
"Ada apa bos?.. perasaan dari tadi malam main teriak-teriak mulu." tanya bang Ajis dengan senyuman otak mesumnya.
"Ada apa bang?.. Ana kenapa? tanya Nisa penasaran.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa... kalian semua balik!! kerjakan kerjaan kalian masing-masing." perintah Bima dengan tegas walau sedikit panik.
Bima benar-benar melihat dengan jelas bagaimana Ana baru akan memasang bra miliknya. Kulit putih bersih yang indah sangat memanjakan mata. Tak ada salahnya bagi Bima ketika melihat itu semua, tapi ia benar-benar terkejut ketika Ana berteriak dengan keras.
"Hei... kamu udah selesai belum." teriak Bima dari balik pintu.
"Mau ngapain?.. kalau mau masuk silahkan aku udah selesai kok." balas Ana yang sedang berdandan.
"Tadi ngapain teriak?" tanya Bima sedikit kesal.
"Tadi ngapain ngintip?" Ana balik bertanya.
"Oh ya.. silahkan keluar.. nanti aku ke sana." balas Ana lagi dengan sangat juteknya. "Otak mesum." sambung Ana dalam hati.
Bima bisa sangat mengetahui ekspresi wajah Ana yang sedang mengejeknya. "Ah tak ada salahnya juga jika aku mengerjainya sesekali." gumam Bima dalam hati.
Dengan gerakan yang sangat hot Bima melepas pakaiannya dan memperlihatkan tubuh kekarnya yang seksi. Bidang dadanya yang mengembang ditambah bagian perut enam kotaknya sangat lah luar biasa.
"Sekarang aku akan lihat bagaimana ekspresi gairah mu." kata Bima dalam hati.
Ana terus mengabaikan Bima walau bagaimana pun Bima bertingkah. Ia hanya fokus pada pada alat makeupnya.
__ADS_1
"Cckk...ni cewek normal apa enggak sih?" decak Bima dalam hati.
"Dia ngapain sih?.. sampai kapanpun dia kayak gitu gak bakal ada pengaruhnya sama aku.. tapi cara ngusirnya gimana ya.. sekarangkan udah gak malam." Ana mulai memikirkan cara mengusir Bima dari kamarnya.
Ana menemukan satu ide gila dan dia melakukannya. Ana mulai membuka kembali resleting baju gamisnya dan menurunkan lengan gamisnya perlahan. Ia terus menurunkan sampai belahan dadanya terlihat. Bima mulai berkeringat dan adiknya mulai bereaksi. Bima sangat ingin menyentuh belahan tersebut tapi ada sesuatu yang menghalangi syahwatnya.
"Eeeee.. masakan aku mua hangus kayaknya... aku duluan ya." kata Bima dengan segera meninggalkan kamar Ana.
"Astaga abang ngapain buka baju?" tanya Rahma yang muncul didepan pintu.
"Oh.. disini sedikit gerah jadi abang buka baju." jawab Bima mencari alasan.
"Nyonya,, tuan,, itu masakannya udah siap." kata bi Asih yang sedang menghampiri.
"Tuan ngapain buka baju?" tanya bi Asih sambil melirik kearah Ana yang sedang menaikan resletingnya. "Ooo.. tuan gituan kok pagi-pagi sih?" sambung bi Asih sambil tertawa nyengir.
"Gituan? maksud bi Asih apaan sih?" tanya Rahma dengan cemberut.
"Ga usah pikirin... ayo sarapan!" perintah Bima.
Ana tak kuasa menahan tawanya melihat Bima yang menjadi salah tingkah melihat aksinya tadi. Cukup menghibur Ana dari harinya yang kemarin.
__ADS_1