4 Istri

4 Istri
Ch 27 Empat Istri Dalam Satu Kamar


__ADS_3

Kita tau apa yang di lakukan suami istri ketika lagi berduaan di kamar. Tapi bagaimana dengan seorang suami dengan empat istrinya di dalam satu ruangan.


Empat orang istri dengan rasa penasaran dalam diri mereka. Penasaran dengan kenormalan suami mereka yang belum pernah menyentuh mereka sama sekali.


Ana yang sudah tak tahan lagi mencoba mencari akal untuk mengusir ketiga istri suaminya ini.


"Kak Nisa, kak Rahma dan Indah.. saya lihat kalian sangat lelah.. istirahat saja.. biar aku yang jaga bang Bima disini." ucap Ana menyuruh ketiga istri Bima yang lain untuk keluar.


"Hah? nggak kok.. aku masih seger kok.. kalian aja yang istirahat.. biar aku yang jaga bang Bima." balas Nisa menolak ucapan Ana.


"Biar aku aja yang jaga bang Bima.. kak Nisa kan harus masak buat ntar malam.. Ana kamu juga harus urus Bim Grup kan.. dan Kak Rahma sesekali lah bantuin kak Nisa." sambung Indah dengan niat yang sama dengan Ana.


"Indah ada benarnya juga.. tapi aku gak bisa bantuin Nisa.. kamu aja yang bantuin Nisa Ndah.. biar aku yang jaga bang Bima disini." balas Rahma menolak untuk keluar dari kamar.


"Gak perlu dijagain.. aku gak akan kemana-mana.. aku gak akan kabur." ucap Bima yang berbaring di kasurnya.


"Sial.. inikah derita punya suami dengan banyak istri.. pengen berduaan saja susah.. lagian kenapa bang Bima tidak pisahkan rumah istri-istrinya sih." umpat Ana dalam hati.


Nisa memandangi Ana yang sedang melirik wajah Bima "Emang kamu mau ngapain sama bang Bima? hingga nyuruh kami pergi." tanya Nisa pada Ana.


"Hah... gak ngapa-ngapain kok kak.. cu..cu..ma jagain aja!!" jawab Ana sedikit gagap.


"Udah lah Na.. aku tau.. kita semua punya rasa yang sama kan sama bang Bima.. jadi kita lakuin aja berempat." ucap Ana memberi solusi.


Mendengar itu langsung membuat Bima berpikir apa yang akan dilakukan oleh istri-istrinya kepadanya. "Eh.. kalian mau ngapain?" tanya Bima yang langsung berdiri dari kasurnya.

__ADS_1


"Na sekarang kamu cari tali untuk ikat dia." perintah Nisa.


"Emangnya gak apa-apa kah kak?" tanya Ana memandang Nisa.


"Tak apa lah.. kita semua kan istrinya."


Dengan segera Ana mengambil 4 buah gesper yang tergantung di dinding. Rahma dan Indah dengan segera memegangi Bima. Tak butuh waktu lama untuk membaringkan Bima di atas kasur. Keempat istri Bima benar-benar menggila. Setelah posisi Bima terbaring sempurna mereka kemudian mengikat kaki dan tangan Bima tersebut pada ujung ranjang.


"Nisa lepasin... aku kan lagi sakit." pinta Bima merengek.


"Halah... tadi mau pergi kuat.. sekarang sakit." balas Nisa sambil mengeratkan ikatannya.


Bima sekarang berhasil dilumpuhkan. Ana tertawa melihat hal seperti ini benar-benar terjadi. Seorang suami tak berdaya di depan keempat istrinya.


"Mau kita apakan dia kak?" tanya Ana kepada Nisa.


"Rias? yang benar saja.. aku kira dia punya pikiran yang sama denganku." gumam Ana dalam hatim


"Rahma.. ambil alat make up kamu sekarang." perintah Nisa kepada Rahma.


"Ok tunggu sini." jawab Rahma langsung mengambil semua alat make up di kamarnya. Tanpa pilih-pilih Rahma mengangkut semua alat kosmetik yang ada di dalam kamarnya. Setelah itu ia kembali ke kamar Bima.


Bagaikan kelinci percobaan wajah Bima di rias hingga terlihat seperti wanita. "Cantik ya suami kita." ucap Rahma sambil terus tertawa.


Ana tertawa terbahak-bahak melihat wajah suaminya. Tapi tawanya terhenti ketika memegangi tubuh kekar Bima. Ini seperti rangsangan yang ia rasakan waktu di kamar mandi.

__ADS_1


"Bagaiman pun aku harus buat bang Bima menyentuh Kak Nisa dahulu.. agar nantinya bang Bima juga akan menyentuhku."


"Bang Bima aku boleh ngelakuin sesuatu." tanya Ana memandang Bima.


"Apa lagi Na.. " tanya Bima yang terlihat kesal.


Tanpa tanya lagi Ana menurunkan resleting pakaian yang ia gunakan lalu mencium bibir Bima. Seperti tak terkendali lagi Ana sangat brutal dalam mencium bibir Bima. ketiga istri Bima yang lain tak bisa marah atau mencegahnya bagaimanapun Ana mempunyai hak untuk itu. Tapi tetap Ana selalu berani untuk melakukan apa yang tak berani dilakukan oleh istri Bima yang lain.


Kemudian Ana mengambil gunting dan menggunting pakaian suaminya tersebut. Bahkan balutan perban yang melilit tubuh suaminya tersebut juga ia gunting. Lagi pula luka suaminya itu berada di punggung bukan dadanya.


Sebenarnya waktu SMP Ana cukup nakal. Ia pernah bersama teman-temannya menonton vidio dewasa. Jadi dia tau apa yang harus ia lakukan agar suaminya senang.


Ketiga istri bima yang masih polos hanya bisa terdiam bagaikan hanya penonton menyaksikan aktraksi Ana. Lama kelamaan akhirnya mereka ikut terbawa suasana yang dimulai Ana.


Kemudian Ana melepaskan pakaian termaksud bra yang ia gunakan. Bima benar-benar tak sanggup lagi menahan nafsunya menyaksikan tubuh Ana yang setengah telanjang duduk di atas perutnya. Dua buah tonjolan dengan puncak merah mudanya sangat lah menggoda Bima.


Ana memajukan tubuhnya menjangkau gesper yang mengikat tangan Bima. Bayangkan saja bagaimana perasaan Bima menyaksikan gunung segar bergantungan segar di atas kepalanya.


Ketiga istri Bima yang lain juga ingin melakukan apa yang Ana lakukan. Tapi mereka tak tahu harus melakukan apa dan bagaimana cara melayani suami mereka. Yang mereka tau hanya bercanda-canda bagaikan anak kecil.


Sekarang dalam genggaman Ana Bima seakan-akan lupa pada Kata-katanya. Ia juga sudah sangat tak tahan lagi menahan nafsunya selama 4 tahun. Dan sekarang Ana akan membuatnya melupakan ke khawatirannya.


Ana kembali mencium bibir Bima tapi kali ini Bima langsung membalasnya. Merasa suaminya sudah sangat bergairah ia langsung melepaskan ciumanya. Ana berdiri dan dan menghampiri nisa kemudian melepaskan pakaiannya seakan memberi isyarat untuk Nisa agar melanjutkan apa yang ia lakukan.


Kemudian Ana mendorong Nisa hingga jatuh pada pelukan Bima. Jantung Nisa berdebar kencang ketika wajahnya hanya berjarak 1 meter dari wajah Bima.

__ADS_1


Melihat itu, Ana mengenakan kembali pakaiannya. "Kak Rahma.. Indah.. ayo keluar.. biarkan kak Nisa disini bersama bang Bima."


Dalam hatinya Ana masih ingin melakukan banyak hal bersama Bima tapi karena dia tau bahwa Nisa lah seharusnya jadi yang pertama disentuh Bima. Itu membuatnya harus merelakan momen tersebut.


__ADS_2