4 Istri

4 Istri
Ch 16 Pantai


__ADS_3

Entah mengapa tiba-tiba perasaan Ana menjadi sangat lega. Tak ada lagi beban didalam pikirannya. Hati yang tadinya gelap kini telah disinari sedikit cahaya.


"Karena semua sudah selesai.. aku pergi dulu.. ada bisnis yang belum selesai." kata Bima sambil berpamitan.


"Tunggu.. aku belum sempat minta maaf karena sudah marah-marah padamu." kata Ana sambil tertunduk.


"Udah.. gak apa-apa juga kok.. aku senang kamu marah." balas Bima sambil tersenyum.


"Kenapa?" tanya Ana bingung.


"Karena marah kamu cantik." jawab Bima sambil tersenyum.


"Bang... istrimu empat loh... apa mau kamu gombalin satu-satu?" kata Nisa dengan kesal.


"Bang.. hati-hati.. jaga diri.. awas kalau pulang sampai kenapa-napa!!!" ucap Indah sambil mencium punggung tangan Bima.


Setelah Bima berpamitan dengan keempat istrinya, Bima langsung menaiki mobil jipnya yang dikendarai bang Ajis.


"Na.. kamu hebat dan berani.. sedangkan aku yang sudah 4 tahun bersamanya tak pernah sekalipun aku marah-marah padanya." puji Nisa sekaligus merendah.


"Kak.. kita sebagai wanita harus kuat kak.. jangan sampai kita ditindas sama laki-laki walaupun dia suami kita." balas Ana menasehati.


"Hahaha kamu aja yang melawannya Na.. aku gak bakalan bisa.. karena terlalu sayang." balas Rahma sambil tersenyum.


"Heleh... makan tuh sayang." ledek Ana. "Oh ya kak.. bi Asih sekarang pulang kampung.. jadi yang beres-beres meja makan siapa kak?" sambung Ana bertanya.


"Hmmm karena kamu yang paling kecil maka kamu yang bersihin semuanya.. ok." jawab Nisa sambil menepuk-nepuk punggung Ana dan pergi.


"Ehp.. Indah kita seumuran.. jadi kamu bantuin aku ya." kata Ana sambil menarik tangan Indah yang juga hendak pergi. Kemudian Ana menoleh kearah Rahma. "Kak Rahma.. aku minta maaf jika aku ada salah.. aku harap kak Rahma mau maafin aku." ucap Ana sambil menunduk.


Secara tiba-tiba kemudian Rahma langsung memeluk Ana. "Na.. ga usah minta maaf.. akunya aja yang terlalu cemburuan dan aku yang seharusnya minta maaf." balas Rahma yang sudah melepaskan pelukannya.


Pertengkaran dalam rumah tangga bukan suatu hal yang langka dan itu sudah biasa terjadi. Tapi, akrab dan dekatnya wanita dengan suami yang sama adalah hal yang luar biasa. Bayangkan mereka tetap bisa dekat dan bersahabat meski harus berbagi cinta suami mereka satu sama lain.


"Indah aku mau tanya!" kata Ana sambil membersihkan meja makan.


"Tanya apa Na?" balas Indah yang juga sedang merapikan meja makan.


"Bang Bima pernah ngajakin kamu jalan-jalan atau sekedar pergi makan aja gitu?" Tanya Ana seraya menatap Indah.

__ADS_1


"Sering Na.. kalau dia ada waktu pasti selalu ngajakin kita jalan-jalan.." jawab Indah tersenyum.


"Jadi, dia ngajakin jalan kalian semua sekaligus?" tanya Ana lagi sedikit tak percaya.


"Iya tapi gak selalu Na.. Terkadang aku pergi berduaan saja dengannya." jawab Indah yang kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Ana "Walau sejujurnya aku sangat gak suka ketika bang Bima jalan berduaan dengan istrinya yang lain." sambung Indah berbisik.


"Hahaha kamu cemburuan juga ya?" balas Ana tertawa.


"Namanya juga sayang Na... eh tapi kok tumben kamu nanya itu?" Indah balik bertanya.


"Aku cuman penasaran aja.. soalnya kata orang-orang kalian itu disiksa disini!!!" jawab Ana dengan santai.


"Hah?... hahahaha..?" Indah tertawa saat mendengar jawaban Ana.


"Ih.. jangan ketawa!! ini tu aku dengar dari orang-orang diluar sana!!" balas Ana kesal dengan tawa Indah.


***


Jarum jam terus berputar dan sudah menunjuk pukul setengah 6 sore. Ana yang duduk di kamarnya termenung menyaksikan keindahan pantai. Langkah dengan hati yang tentram menuntunnya menuju pantai.


"Andaikan laki-laki itu tak punya banyak Istri.. pastinya aku sudah menjadi ratu sekarang" gumam Ana dalam hati.


Bima mengundur niatnya untuk berenang dan berjalan menghampiri Ana.


"Ngapain disini?" tanya Bima dari belakang Ana.


"Lagi liat laut." jawab Ana jutek.


"Lah.. dari rumah kan bisa!" balas Bima.


"Kalau liat dari rumah sama rasanya kayak liat pantai dari tv atau hp gak dapat feel pantainya, makanya aku jalan kesini biar bisa merasakan keindahannya langsung." jawab Ana menjelaskan. "Lah kamu nya yang ngapain disini?" Ana balik bertanya.


"Ya mau temani kamu lah." jawab Bima sambil tersenyum kecil.


"Ih jangan!!! ingat istrimu itu ada empat.. ntar kalau mereka cemburu lihat kita disini gimana?" kata Ana sambil melihat ke arah rumah.


"Iya juga sih... tapi mau gimana lagi kan?" balas Bima tak terlalu memperdulikan.


"Makanya belajar ilmu belah diri!!" ucap Indah memberi saran.

__ADS_1


"Untuk apa? aku udah bisa bela diri kok.. aku bisa menembak aku bisa memanah aku juga bisa main pedang!" balas Bima dengan penuh percaya diri.


tiba-tiba Ana langsung menendang kaki Bima.


"A..awww!!!" rengek Bima kesakitan.


"Bukan bela diri tapi belah diri." kata Ana dengan kesal.


"Belah diri?" Bima penasaran.


"Iya agar bisa kamu temani istrimu satu-satu." jawab Ana menjelaskan.


"Iya juga ya!! kalau aku bisa jadi tujuh, maka aku juga bisa punya tujuh istri.." balas Bima bercanda.


"Otak mesum.." kata Ana dengan kesal sambil menendang kaki Bima.


"Ih Na.. sakit.." rengek Bima lagi.


"Kamu enak punya empat orang yang kamu sayang.. sedangkan aku cuma punya satu tapi dibagi empat." ucap Indah merasa tak adil.


"Jadi.. kamu sayang aku?" tanya Bima dengan tersenyum bahagia.


"Bodo lah." jawab Ana jutek.


Tiba-tiba Bima langsung memeluk Ana dari belakang. Ana sangat terkejut dan jantungnya pun berdebar-debar. Walau dia merasa sedikit malu tapi pelukan Bima sangatlah hangat.


"Eh... Kamu ngapain?" tanya Ana sambil melepaskan pelukan Bima.


"Jika saatnya tiba.. kamu akan mendapatkan juga orang yang kamu sayang selain aku." ucap Bima di telinga Ana.


"Hah?.. emang kamu mau aku nikah lagi?" tanya Ana dengan bodohnya.


"Ya nggak lah... kamu akan kedatangan seseorang dari sini." jawab Bima sambil menunjuk perut Ana.


"Ih.. apaan sih.." Ana menjadi sangat malu dan wajahnya memerah.


"Kamu lupa aku itu istri kamu yang terakhir.. sebelum istri-istri mu yang lain punya anak aku juga tidak akan punya anak mengerti." sambung Ana menjelaskan.


"Iya.. iya bawel ah.." balas Bima sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2