4 Istri

4 Istri
Ch 35 Hari kelahiran Putra Bima


__ADS_3

Bukan peristiwa baik yang hadir menjelang hari melahirkan Nisa. Berat badan Bima menurun drastis. Semenjak hamilnya Nisa ia seperti banyak mengalami perubahan. Apalagi setelah momen mengerikan yang ia alami pada malam ini.


Pagi ini terbangun Ana terbangun dari lantai kamarnya. Ia berdiri dan melihat Bima dan Nisa tertidur pulas di ranjangnya. Sedangkan Rahma dan Indah sudah tak ada lagi dikamarnya.


Ana duduk di atas ranjang lalu mulai mengusap rambut Bima. Ia melihat wajah suaminya yang masih kelihatan pucat. "Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu? rahasia apa yang disembunyikan oleh keluargamu? kenapa setelah istri pertamamu hamil engkau malah banyak berubah?"


Ana kemudian meletakkan punggung tangannya ke kepala Bima mencoba mengecek apakah demam Bima sudah menurun. "Syukurlah sekarang sudah tak apa.. sebaiknya sekarang aku menyiapkan sarapan."


Ana melangkahkan kakinya ke dapur dan membuka pintu kulkas mencari beberapa bahan masakan. Ia mulai memasak untuk sarapan suaminya.


"Ngapain Na?" tanya seseorang mengagetkan Ana.


"Indah!!! bikin kaget saja." ucap Ana dengan cemberut. "Aku lagi masak untuk suami aku." sambungnya sambil kembali tersenyum.


"Oh.. oke.. kamu yang masak aku yg nyuapin dia ya!" balas Indah sambil tertawa kecil.


"Wah.. sekarang kamu udah jadi bucin ya!" Ledek Ana sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


"Hahaha." Indah sedikit tertawa tapi seketika ekspresi wajahnya berubah. "Na.. apa kamu senang dengan keadaan ini?" tanya Indah dengan wajah yang sangat serius.


"Maksud mu?" Ana balik bertanya merasa bingung dengan pertanyaan Indah.


"Jujur Na.. terkadang aku merasa sangat tidak senang dengan posisiku sekarang ini." Jawab Indah memandang Ana untuk melihatkan betapa ia telah memendam sebuah perasaan yang menyakitkan.


"Jadi apakah kamu sekarang tidak senang dengan keberadaan aku? atau kamu juga merasakan kecemburuan?" Ana kembali mencoba mengajukan banyak pertanyaan.


"Bukan begitu Na!!" Indah sedikit menghirup nafas panjang. "Hmm sebelum kamu datang ke rumah ini, aku tak pernah merasa aku ini sebagai seorang istri dan bang Bima sebagai suami ku.. aku lebih merasa seperti hanya seorang sahabat untuk bang Bima.. menemaninya, menghiburnya, atau sekedar bercanda dengannya.


Setelah kamu datang.. kamu langsung membawa perubahan.. kamu menyadarkan ku bahwa aku ini adalah seorang istri bagi bang Bima.. tapi apakah benar aku ini sudah menjadi seorang istri baginya.. sementara tak ada hal berguna sedikitpun yang telah aku lakukan untuknya.. sedangkan dia dari mulai aku disini sampai sekarang selalu melengkapi kebutuhanku.. apakah aku masih pantas untuknya?" jelas Indah melihatkan betapa menyedihkan dirinya.

__ADS_1


Ana terdiam tak mampu berkata apa-apa. Ia bukan lah Bima yang bisa memberikan jawabannya. Dan ia juga merasakan apa yang dirasakan Indah.


"Istriku tetap istriku." ucap Bima mengagetkan dari belakang. "Aku menikahi mu bukan untuk meminta mu melakukan sesuatu untukku ataupun untuk menjadikanmu suruhan ku.. dan sudah menjadi tanggung jawabku memenuhi segala kebutuhanmu."


Bima mendekat dan memegang pipi Indah dengan kedua tangannya. "Walaupun kamu tak melakukan apapun untukku kamu tetap istriku dan aku tetap menyayangimu." ucap Bima sambil perlahan mencium kening Indah.


"Ekhm.. aku dengar Istri orang yang namanya Bima gak cuma satu." ucap Ana memberi kode keras.


Bima kemudian perlahan meletakkan kepalanya keatas kepala Ana lalu mengusap rambutnya. "Hari ini kamu gak usah kemana-mana di rumah saja temani aku oke." balas Bima sambil tersenyum manis.


Ana melepaskan tangan Bima dari kepalanya dan balik meletakan punggung tangannya ke kening Bima mencoba merasakan kondisi tubuh Bima. "Panasnya masih terasa bang.. apa kamu udah minum obat?" tanya Ana setelah mengecek suhu tubuh Bima.


"Aku udah gak apa-apa Na... bentar lagi panasnya akan turun sendiri." jawab Bima yang juga langsung mencium kening Ana.


Ini lah yang membuat Ana tak bisa meninggalkan Bima. Kasih sayang dan kelembutan Bima membuatnya sangat nyaman. Walau terkadang memang Ana juga merasa sangat cemburu kepada suaminya itu.


Bima sangat bersemangat menantikan hari ini. Sudah sangat lama rasanya ia menantikan hari kelahiran anaknya ini. Ia sudah menelfon beberapa dokter untuk datang kerumahnya, tapi tidak ada yang bisa datang hingga akhirnya Bima langsung membawa Nisa ke rumah sakit bersalin.


Bima masih belum tau banyak tentang proses melahirkan. Di hitung dari waktu pertama Nisa masuk ruang bersalin ia telah menghabiskan waktu 10 jam di sana. Ia terus mondar mandir ke sana kemari merasa sangat gelisah.


"Bang Bima.. tenang.. duduk lah." bujuk Indah agar Bima menjadi rileks.


"Indah.. apakah proses melahirkan selama ini?" tanya Bima yang masih gelisah.


"Biasanya gitu bang.. proses melahirkan ibu normal itu antara 12-14 jam bang.. ada yang lebih dari itu bang.. bisa sampai 20 jam." jelas Indah kepada Bima.


Bima mencoba untuk tenang dan menunggu beberapa jam lagi. Matanya masih tetap fokus terjaga menantikan bayi pertamanya.


Tak berapa lama setelah itu seorang anak buah Bima datang seperti membawa pesan penting kepadanya. "Bos.. sekertaris bos.. Agus sudah bisa kembali berbicara.. ada berita penting yang ingin ia sampaikan kepada mu." ucap anak buah Bima.

__ADS_1


"Baiklah aku akan ke sana." balas Bima sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Bang Bima jangan.. biar aku saja.. kamu tetap disini menunggu bayi pertamamu." ucap Ana mencegah Bima untuk pergi.


"Ya udah kamu hati-hati.. secepatnya abis itu kamu kembali kesini ya."


Ana dan anak buah Bima segera meninggalkan rumah sakit untuk kembali kerumahnya untuk mendengar pesan yang ingin disampaikan Agus.


Ana membuka pintu ruang bawah tanah tempat Agus di rawat. Ia berjalan menuruni tangga dan langsung menghampiri Agus.


"Mana Bima?" tanya Agus melihat hanya ada Ana yang datang.


"Dia masih di rumah sakit.. karena kak Nisa akan segera melahirkan." jawab Indah yang telah berdiri di hadapan Agus.


"Hah? mustahil... apakah istrinya itu sudah hamil? berapa lama aku disini? ini tidak bisa dibiarkan.. cepat suruh Bima dan istrinya itu lari dari rumah sakit." ucap Agus tiba-tiba menjadi sangat panik.


Agus langsung berdiri dengan sangat sempoyongan dan melepaskan selang infus yang melekat di tangannya. Tapi Ana dengan sigap menahannya.


"Ada apa sebenarnya? ceritakan padaku." tanya Ana masih bingung.


Tiba-tiba segerombolan orang-orang bersenjata datang dan menodongkan senjata ke arah mereka. Dari segerombolan orang itu muncul sosok seorang laki-laki yang pernah dilihat Ana beberapa kali.


"Aku telah menantikan momen ini sangat lama.. dan aku tak ingin kalian menjadi pengganggu momen indah ini." ucap laki-laki itu tersenyum dengan sangat menjijikkan.


"Kamu... apa mau mu pada keluarga ku dan suami ku." tanya Ana dengan sangat marah.


"Tidak ada.. Aku hanya menunggu bayi pertama suamimu dan memberinya ucapan selamat.. hahaha." jawabnya sambil tertawa kegirangan. "Kalian berdua jaga mereka disini jangan sampai kabur.. aku ingin memberi kado spesial untuk saudara tiri ku itu." ucap laki-laki itu sambil meminta dua anak buahnya berjaga-jaga dengan senjata laras panjangnya.


Ana menjadi sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi pada suaminya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2