
Tak butuh waktu lama bagi Ana untuk jatuh hati pada Bima. Sikap dan kepribadiannya Bima lah yang membuat setiap orang jatuh hati ketika mereka disisinya. Ia juga tak pernah berprilaku kasar kepada orang yang ia sayang dan itulah yang membuat orang disekitarnya menjadi nyaman.
"Na.. kamu tau kenapa aku membangun rumah ditepi pantai Ini?" tanya Bima ingin memulai sebuah cerita.
"Kenapa?" tanya Ana sambil melepaskan pelukan Bima.
Bima kemudian duduk dipasir pantai diikuti Ana disisinya.
"Di pantai ini lah ayah dan ibuku berkencan pertama kali.. aku tau karena aku menemukan foto mereka di rumah lama ku.. difoto itu juga tertulis 'Kencan pertama setelah menikah'.. sebelum ayahku meninggal aku ingat bahwa ia juga sering menceritakan pantai Ini kepadaku.. Dan ia sangat ingin membangun rumah disini." Bima memandang wajah Ana dengan senyuman manisnya.
"Kayaknya ayahmu orang yang sangat romantis ya.. beda sama kamu." ledek Ana.
"Entah lah Na.. aku hanya lima tahun bersamanya.. sangat sedikit memori ku tentangnya." balas Bima dengan wajah agak sedih.
"Hmmm kalau boleh tau kenapa ayah kamu meninggal.?" tanya Ana penasaran.
"Ayahku dibunuh oleh orang yang menginginkan hartanya." jawab Bima dengan wajah serius.
"Siapa?...apakah dia juga orang terdekat ayah kamu?" tanya Ana semakin penasaran.
"Iya.. dia adalah ibu tiriku. Dia benci ketika ayahku akan mewariskan semua hartanya padaku. Ayahku sangat ingin aku jadi penerus untuk melanjutkan semua usahanya ketika dia meninggal." jawab Bima mulai merasa sedih ketika mengingat masa lalunya.
"Istri macam apakah dia yang tega membunuh suaminya sendiri?" ucap Ana merasa miris mendengarnya.
"Itulah seorang istri yang menikah hanya karena harta.. padahal ayahku sangat menyayanginya." balas Bima sambil menatap wajah Ana.
__ADS_1
"Ya pastinya begitu.. tapi bagaimana kamu bisa selamat?" tanya Ana lagi ingin tau.
"Bang Ajis dan kakaknya Agus lah yang menyelamatkan aku, sedangkan Agus sendiri terpisah dengan kami saat melarikan diri.. sayangnya kakaknya Agus ikut tewas karena mengorbankan dirinya untukku. Aku sempat melakukan persembunyian selama lima minggu beruntung bang Ajis berhasil menemukan Agus yang membawa surat wasiat ayahku.. dengan surat itulah aku berhasil menguasai harta ayahku yang sempat jatuh ke tangan ibu tiriku." jawab Bima panjang lebar.
"Beruntung kamu masih punya orang kepercayaan waktu itu.. sehingga semuanya kembali padamu." balas Ana merasa sedikit lega dengan ending ceritanya.
"Semua belum berakhir Na.. Ibu tiri ku masih belum menyerah.. sampai sekarang dia masih mengklaim harta ini miliknya." ucap Bima sambil berdiri dan berjalan semakin mendekati bibir pantai.
"Benarkah?" Ana merasa tak percaya.
"Ya...Ia bahkan pernah mencoba membunuhku beberapa kali.. salah satunya ketika dihari pertama pertemuanku dengan Nisa. Orang suruhannya berhasil menembak ku, beruntung hanya mengenai bahu ku." Jawab Bima menjelaskan.
Ana berjalan mendekati Bima dan memegang tangannya. "Apakah sekarang kamu takut? tanya Ana sedikit khawatir.
"Iya.. tapi bukan takut karena ia mengancam nyawaku.. tapi aku takut ketika dia mulai mengancam nyawa orang yang aku sayang.. makanya aku tidak pernah mengizinkan kalian keluar rumah tanpa ku." jelas Bima lagi pada Ana.
"Belum Na... aku khawatir mereka akan merasa cemas nantinya." jawab Bima sambil melirik ke arah rumah yang melihat Nisa berdiri sambil membuka jendela kacanya.
"Bang Bima.. Ana.. hari udah hampir gelap... ayo masuk!!!" teriak Nisa dari dalam rumah.
"Iya.. kami kesana sekarang!!" Bima membalas seruan Nisa.
"Tapi kenapa kamu cerita ke aku?" tanya Ana sangat penasaran.
"Besok aja aku ceritain.. ayo masuk ke rumah dulu.. udah gelap." ajak Bima sambil berjalan kearah rumah.
__ADS_1
Ana dan Bima kembali menuju rumah. Sebenarnya Ana masih punya banyak pertanyaan. Tapi belum sempat ia tanyakan karena waktu pertemuan yang terbatas.
Ana kemudian masuk ke kamarnya dan melepas semua pakaiannya hendak mandi. Ketika sendang mengenakan handuknya Bima datang dan langsung mendekap Ana dari belakang.
"Jangan teriak!!" ucap Bima sambil menutup mulut Ana dengan kedua tangannya.
Ana merasa kesal karena kaget dan menggigit tangan Bima.
"Awwww" rengek Bima kesakitan.
"Mau ngapain? otak mesum!" kata Ana membalikan badannya.
Tanpa basa basi Bima langsung menarik tangan Ana menuju kamar mandi. "Aku gerah mau mandi." ucap Bima sambil membuka pintu kamar mandi.
Ana tiba-tiba langsung menurut saja dan ikut masuk kedalam kamar mandi. Dan kemudian Bima melepaskan semua pakaiannya tanpa tersisa sehelai benang pun. Ana merasa malu dan menutup kedua matanya. Baru pertama kali dia menyaksikan laki-laki telanjang dihadapannya.
"Jangan diam saja.. buka handukmu!!" ucap Bima sambil membasahi seluruh tubuhnya.
"Ntar kalau istrimu yang lain tau gimana?" tanya Ana yang masih memalingkan wajahnya.
Dengan cekatan Bima langsung menarik tangan Ana. "Kamu itu juga istriku bukan selingkuhanku.. buat apa mereka marah?"
Tiba-tiba tangan Bima langsung menarik handuk Ana hingga terlepas. Kini tak satu helai benang pun menutupi tubuhnya. Ia sangat merasa malu dan menutupi organ intimnya dengan tangan.
"Gak usah malu.. kita tu suami istri.. dan kita hanya akan mandi ..Aku gak akan menyetuh mu sekarang karena aku belum ingin kamu hamil." kata Bima walaupun sebenarnya adiknya sudah tak tahan lagi melihat tubuh Ana.
__ADS_1
Dengan perlahan Ana melepaskan tangan yang menutupi organ intimnya dan mendekat berdiri di samping Bima.
Ana harap-harap cemas sedangkan Bima sekuat tenaga menahan nafsunya.