
6 Minggu setelah itu.
Keadaan rumah mulai kembali terasa hangat. Mereka mulai terbiasa tanpa tiga orang yang biasanya turut memberi kehangatan rumah besar ini.
Tepat pagi ketika sedang sarapan ada hal aneh yang terjadi pada Nisa. Tubuhnya sedikit melemah dan beberapa kali ia lari ke kamar mandi untuk muntah karena mual.
"Nisa kamu tak apa kah?" tanya Rahma yang mengejarnya.
"Aku gak apa-apa.. cuman lagi gak enak badan aja." jawab Nisa agak sempoyongan.
Bima juga segera mengikuti Bima ke kamar mandi karena khawatir akan keadaan istrinya. "Nisa.. kamu kenapa?" tanya Bima memegangi tubuh Nisa yang sempoyongan.
"Gak tau bang.. tiba-tiba aku mual.. dan aku merasa sangat lelah ingin istirahat." jawab Nisa melangkah meninggalkan kamar mandi.
"Ya udah.. Rahma antar Nisa ke kamarnya.. aku akan panggilkan dokter."
"Baik bang." Dengan hati-hati Rahma menopang tubuh Nisa menuju kamarnya.
"Apakah Nisa hamil? jika benar, maka habis ini adalah giliran ku untuk terus bersama bang Bima." pikir Rahma sambil senyum-senyum sendiri.
Bima segera menyuruh salah seorang anak buahnya untuk memanggil dokter kepercayaannya. Dari belakang Ana yang penasaran datang menghampiri Bima.
"Bang kak Nisa kenapa?" tanya Ana menatap Bima.
__ADS_1
"Gak tau juga Na.. ini aku nyuruh anak buah ku untuk manggil dokter." jawab Bima dengan perasaan sedikit cemas tentang apa yang terjadi pada Nisa. Maklum, sebelumnya di rumah ini belum ada yang pernah sakit mual-mual dan badan lemas.
Hanya dalam 10 menit dokter kepercayaannya Bima datang dan langsung melakukan pengecekkan.
Tebakan Rahma benar. Nisa bukan sakit atau apapun tapi sekarang dia sedang hamil anak pertama dari Bima.
Sungguh berita besar yang membuat Bima gembira. Tak tanggung-tanggung Bima langsung saja membuat pesta yang sangat meriah. Ia mengundang seluruh anggota dari BIM GROUP dan juga beberpa pimpinan anak perusahan yang lain.
Disisi lain Ana juga ikut gembira melihat raut wajah suaminya yang begitu cerah. "Bang selamat.. semoga anak pertama mu bisa lahir dengan selamat nantinya." begitulah Ana memberi ucapan selamat dengan tersenyum manis pada suaminya.
Ribuan orang yang hadir turut memberi selamat atas hamilnya istri pertamanya. Di antara ribuan orang yang hadir ada salah satu orang yang seperti dikenali Ana. Sedikit memastikan.
"Hai.." ucap Ana menyapa orang itu dari belakang.
Orang itu langsung menoleh. "Oh.. nyonya Ana.. hmm saya sedikit ragu, apa ini pesta yang gembira untuk nyonya atau bukan.. yang jelas selamat atas hamilnya istri pertama suami nyonya." ucap orang itu tersenyum kecil.
"Nyonya sungguh istri yang sempurna.. sungguh nyonya pantas mendapat yang lebih baik." balas orang itu sedikit menundukkan pandangannya.
"Saya tidak butuh yang lebih baik.. yang saya butuhkan adalah orang yang bisa merubah saya menjadi lebih baik.. dan suami saya adalah orangnya." balas Ana dengan tegas.
Orang itu tertawa. "Hahaha.. sungguh jawaban yang mencerminkan kesetiaan.. ngomong-ngomong apakah ada hal yang ingin nyonya tanyakan pada saya sampai nyonya datang menghampiri saya." orang Itu sedikit bertanya.
"Ya... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ana balik.
__ADS_1
Orang itu kembali tertawa. "Hahaha.. sepertinya nyonya adalah orang yang pelupa." ucap orang itu sambil mengubah tawanya menjadi senyuman yang khas.
Seketika karena senyuman itu Ana bisa mengingatnya. Ia adalah orang yang ditemuinya di hari perayaan Bim Grup sekaligus orang dicurigai oleh bang Ajis.
"Siapa nama anda?" tanya Ana secara langsung dan spontan.
Laki-laki itu terus tersenyum dan mengambil sesuatu dari saku celananya. "Ini kartu nama saya.. nyonya bisa simpan.. mungkin suatu saat nyonya membutuhkannya."
Ana mengambil kartu nama tersebut dari tangan orang itu. "Taerang Grup?.. jadi dia bukan orang-orang Bim Grup.. tapi untuk apa dia ada disini?" pikir Ana dalam hati. "Jadi anda bukan dari Bim Grup?" Ana langsung mencoba menanyakannya.
Raut wajah orang itu berubah. "Sungguh ada kesalahpahaman.. Taerang Grup sebenarnya pemilik asli saham yang di kelola oleh suami mu itu.
Ana sedikit terkejut beserta bingung. "Maksudnya." tanya Ana sambil mencoba mengartikan kalimat orang itu.
Tiba-tiba dari belakang Indah datang memanggil Ana. "Na kamu harus ikut aku cepat."
"Kemana Ndah?" tanya Ana melihat Indah tampak Khawatir.
"Udah ikuti aku dulu." jawab Indah menarik tangan Ana.
Ana mencoba memperhatikan sekelilingnya. Mencoba melihat dimana posisi Bima sekarang. "Aku tidak melihat bang Bima.. apakah Indah membawaku karena telah terjadi sesuatu lagi bang Bima?." pikir Ana dalam hati.
Indah berjalan sangat cepat. Ia sangat terburu-buru seperti ada hal buruk sedang terjadi. Mereka terus berjalan hingga menuju ruang rahasia bawah tanah.
__ADS_1
"Indah Apa yang terjadi." tanya Ana ketika Indah membuka pintu ruang bawah tanah tersebut.
"Sekertaris bang Bima telah di temukan.. tapi kondisinya sangat kritis." jawab Indah tampak penuh ke khawatiran.