4 Istri

4 Istri
Ch 32 Persoalan Baru Bima


__ADS_3

Indah membuka pintu ruang bawah tanah dan menuju ke tempat Agus dirawat. Di sana Bima dan yang lainnya juga sudah hadir. Nisa sebagai alumni mahasiswa kedokteran ikut membantu mengobati Agus.


"Apa yang terjadi padanya kak?" tanya Ana kepada Nisa melihat kondisi Agus yang benar-benar terluka sangat parah.


"Belum bisa dipastikan apa yang terjadi padanya karena dia masih belum sadarkan diri.. yang jelas ia terkena hantaman benda tumpul dan beberapa luka karena benda tajam." jelas Nisa pada Ana


"Apakah pelakunya adalah orang di jaringan yang sama dengan orang yang menyerang bang Bima." pikir Ana dalam hati.


Wajah Bima tampak sangat khawatir. Mungkinkah ini salah satu bahaya yang katakan bang Ajis? entah lah tak ada yang tau. Yang jelas Bima semakin merasa was-was mulai dari sekarang demi menjaga Istri-istrinya dan juga calon anaknya yang di kandung Istri pertamanya.


"Kita harus merahasiakan ini pada semua orang sampai semua masalah terkuak." ucap Bima kepada semua orang yang berada di ruang itu. "Dan besok aku akan ke gedung ku melakukan rapat darurat dengan anggota Bim Grup." sambung Bima kepada semuanya.


"Jangan!!" cegah Ana spontan. "Mungkin orang yang menyerang Agus juga orang yang mengincar mu.. ada baiknya kamu tetap di rumah saja.. biar aku yang menggantikan mu." pinta Ana pada Bima.


Bukan satu hal mudah bagi Bima mengiyakan permintaan istri keempatnya ini. Terlebih setelah penyerangan terhadap sekretarisnya bisa saja juga akan ada penyerangan terhadap istri keempatnya ini.


"Bang.. ga usah khawatir.. aku bisa jaga diri.. karena sebelumnya bang Ajis sudah mengajarkan banyak hal pada ku." sambung Ana tersenyum.


"Apa kamu benar-benar yakin dengan ini?" tanya Bima memastikan ucapan Ana.


"Aku sangt yakin sekali.. " jawab Ana percaya diri.


"Tapi kenapa kau lakukan ini semua? apa kau tidak tau? dengan menjadi pengganti ku berarti dirimu juga akan ada dalam bahaya." tanya Bima sekali lagi.


"Ku lakukan ini senua karena aku mulai menyayangi mu." jawab Ana menundukkan kepalanya den tersenyum.


Bima berjalan menghampiri Ana dan memeluknya dengan erat. Kemudian ia menatap Ana lalu mengangguk, bukan berarti ia setuju-setuju saja. Ia memberikan Ana penjagaan dengan mengutus tiga perempat pasukannya untuk selalu menjaga Ana saat di luar rumah.


Ana juga di ajari cara menggunakan senjata api dan ilmu bela diri. Kenapa begitu? karena meskipun bersama pasukan yang banyak bukan berarti dia akan aman selalu. Akan ada banyak ancaman seperti pengalaman Bima selama memimpin Bim Grup.


Sekarang Ana bukan lagi seorang istri yang biasa. Dia sekarang adalah kaki tangan suaminya. Dengan bakatnya Bim Grup menjadi sangat patuh padanya.


Terbukti dengan satu bulan kemudian Bim Grup di bawah kepemimpinan Ana berhasil merebut banyak saham perusahaan, termaksud beberapa saham yang sebelumnya bergabung dengan Roy Grup yang merupakan Grup perusahaan nomor tiga di negri ini.

__ADS_1


Nama Ana semakin di kenal. Tapi bukan sebagai istri Bima. Ia lebih dikenal sebagai Gashar kedua, karena dia sangat disiplin dan tegas dalam mengatur seluruh perusahaan yang ada dibawah kekuasaannya.


Bima salut dengan pencapaian istri keempatnya. Tapi Bima juga mulai cemas dengan monster-monster yang akan segera menganggap istri keempatnya ini sebagai musuh mereka.


Balik ke permasalahan Bima. Sekarang ia menjadi sangat pusing. Bagaimana tidak? ketiga istrinya yang lain mulai berulah. Persoalan baru mulai ia hadapi. Bukan tentang bahaya dari luar tapi tekanan dari ketiga istrinya yang lain dan hanya Ana yang masih mengerti tentang Bima.


Rahma dan Indah menjadi sangat agresif. Setiap malam mereka meminta Bima untuk menemaninya di kamar. Tapi Bima terus menolaknya dan itu membuat mereka berdua sakit hati. Tak jarang sekarang sering terjadi pertengkaran antara Bima dan kedua istrinya itu.


Bahkan Rahma mulai lancang mendebat Bima. "Bang.. aku juga istrimu.. aku punya hak untuk meminta ini padamu.. kenapa hanya Nisa yang kau perlakukan sebagai istrimu sedangkan aku tak pernah kau anggap sebagai istri mu." kata Rahma dengan sangat cemberut.


Bima terus mejelaskan. "Rahma.. Nisa sekarang sedang hamil.. bisa kah kau bersabar sebentar saja.. lihat lah Ana.. dia tak pernah memaksaku seperti ini."


"Ooo jadi sekarang kamu mulai membandingkan aku dengan istri baru mu itu.. jangan mentang-mentang ia banyak membantu mu sekarang kau tak membutuhkan ku lagi.. ok lah.. aku tak mau melihatmu lagi!!" balas Rahma masuk ke kamarnya dengan sangat jutek.


Sepertinya Bima lupa. Jangan pernah sesekali membanding-bandingkan istrimu jika tak ingin membuat istrimu marah. Dan baru sekarang lah ia sadar tak mudah mengurus banyak istri.


Bukan itu saja persoalan Bima sekarang. Nisa yang hamil di trimester ke dua mulai banyak meminta hal yang Aneh-aneh. Apa lagi pas tengah malam disaat Bima tidur nyenyak, Nisa membangunkannya. "Bang.. bang Bima bangun.. cari kan aku mangga muda bang." rengek Nisa menggoyangkan tubuh Bima.


"Nisa.. besok aja ya.. aku masih ngantuk." balas Bima menarik selimutnya.


Melihat itu Bima menjadi tak tega. Ia keluar dari kamarnya berniat menuju pohon mangga halaman depan rumahnya.


Baru saja ia keluar indah sudah berdiri di depan pintu kamarnya menggunakan piyama transparan. "Bang.. aku gak bisa tidur.. apa kak Nisa ada didalam.. ke kamar aku aja yuk!" bujuk indah menarik tangan Bima.


"Indah.. aku gak bisa sekarang.. aku harus cari kan Nisa mangga muda.. karena dia udah nangis di dalam." Ucap Bima menolak.


"Ayo lah bang.. kamu mau cari kan mangga muda dimana.. sekarang udah tengah malam.. besok aja lah bang." balas Indah merengek terus membujuk Bima dengan manja.


"Jangan gitu Ndah.. kamu ngertiin aku dikit bisa ga?" ucap Bima sedikit meninggikan nadanya.


Mendengar itu Indah langsung tertunduk dan menangis. Ia kembali berjalan menuju kamarnya dengan meneteskan air mata.


Melihat itu Bima menjadi sangat tak tega. "Apa aku harus menemaninya sampai tidur dulu ya?.. ah.. sial!!" umpat Bima dalam hati lalu mengejar Indah ke kamarnya.

__ADS_1


Indah langsung senang ketika Bima akhirnya mengikutinya. Sakin senangnya Indah lupa menutup pintu dan langsung melepaskan piyamanya. Kemudian ia merangkul leher Bima dan mencium bibirnya. Dengan perlahan Indah menjatuhkan tubuhnya ke ranjang serta turut menarik Bima yang masih melekatkan ciumannya.


Semakin tenggelam dalam nafsu birahinya, Indah langsung membuka baju kaos yang dikenakan Bima.


Baru beberapa menit mereka melakukan itu seseorang berdiri dihadapan pintu. "Ooo jadi disini kamu cari mangga mudanya."


Bima langsung melepas ciumannya dan memutar kepalanya. "Nisa... ooo..ee.. eee.. kamu salah paham.. aku.. aaku cuma."


"Cuma apa?.. cuma ingin bersenang-senang? dasar laki-laki otak mesum." ucap Nisa memotong kata-kata suaminya dan langsung lari ke kamarnya dengan menangis.


Tentu Bima langsung mengejarnya. Baru saja berdiri, Indah dengan cepat memegang tangannya kembali. "Bang.. udah biarin aja.. besok dia baikan sendiri kok."


Bima tak membalas kata-kata indah. Ia terus mengejar Nisa yang berlari ke kamarnya.


"Jangan masuk!!" teriak Nisa dari dalam kamar ketika Bima baru saja membuka pintu kamarnya. "Sana sama istri imut nan manis mu itu.. ngapain kamu kesini?" sambung Nisa yang masih menangis.


Mendengar keributan itu Rahma juga ikutan terbangun dan mengintip dari selah pintunya yang dibuka kecil. Ana yang di lantai bawah pun juga terbangun dan langsung menuju lantai atas karena penasaran.


"Ada apa bang?" tanya Ana yang baru saja tiba di di lantai atas.


"Ada sedikit masalah Na." jawab Bima dengan wajah gelisah.


Dari dalam kamar Nisa kembali berteriak. "Bang Bima.. aku gak bakal maafin kamu sebelum kamu dapatin apa yang aku minta."


Ana tertawa kecil. "Hahaha.. ooo gitu.. emang kak Nisa minta apa bang?" tanya Ana ingin tau.


"Mangga muda Na." jawab Bima sambil menghembuskan nafas.


"Ooo yaudah biar aku cariin.. tadi aku liat pohon mangga depan rumah ada buahnya kok.. aku ambilkan ya." ucap Ana ingin membantu.


"Ga usah Na.. biar aku saja yang ambilkan.. kamu balik tidur saja." balas Bima.


"Ga pa pa kok bang.. aku iklhas bantuin kok."

__ADS_1


"Hmmm ya udah lah."


Dengan langkah beriringan mereka menuju pohon mangga di halaman depan Rumah.


__ADS_2