4 Istri

4 Istri
Ch 34 Gelap


__ADS_3

Kehamilan Nisa ini cukup membuat Bima sibuk. Hingga Bim Grup sepenuhnya di kuasai istrinya. Dengan kata lain hampir tak pernah lagi Bima menampakkan dirinya dihadapan publik sejak perayaan kehamilan Nisa.


Sedikit teror horor sempat dirasakan Bima pada bulan ke 8 kehamilan Nisa. Suatu hal yang tak pernah ia alami sebelumnya. Seperti mimpi dan munculnya penampakkan aneh di luar rumahnya. Bahkan sesosok yang menyerupai Nyi Ratu Kidul juga pernah ia lihat di pantai belakang rumahnya.


Hingga suatu malam ketika keempat istrinya sedang tertidur pulas, Bima mendengar suara tangisan perempuan dari luar rumah. Suaranya sangat jauh dan begitu kecil.


Luar biasa penasaran Bima mengikuti suara tangisan itu. Jujur saja Bima tak pernah mengenal yang namanya hantu sebelumnya.


Bima sendiri sebenarnya adalah seorang Nyhctopobia atau orang yang takut akan gelap. Ia memiliki trauma masa kecil tentang gelap yang sampai sekarang masih mengganggu physicologinya.


Seorang yang memiliki phobia ini akan sangat ketakutan kalau tak melihat sedikit pun cahaya. Oleh karena itu lampu di rumah Bima tak sekali pun pernah padam. Dan jangan pernah sesekali mencoba memadamkannya jika masih sayang pada nyawamu.


Bima berjalan keluar Rumah dan menghidupkan semua lampu halaman rumah yang sebanyak 120 buah lampu. Tentu ini sangat terang.


Terangnya halaman rumah membuat Bima cukup tenang untuk mulai mencari sumber suara itu. Ia berjalan menuju arah gerbang rumah yang mana suara itu semakin keras ketika ia mendekat ke arah gerbang tersebut.


Sesosok wujud dengan pakaian putih berdiri tegak menatap tajam kearah Bima dari luar pagar Rumah. "Siapa kamu? ada urusan apa malam-malam begini kamu berdiri di depan pagar rumah saya?" tanya Bima pada makhluk itu.


Makhluk itu berhenti bersuara. Dengan perlahan tubuhnya hilang ditelan kegelapan. Dengan sangat berani Bima mencoba menjangkaunya, tapi terlambat makhluk itu telah hilang seutuhnya.


"Apakah itu yang barusan aku lihat? bagaimana mungkin ada orang bisa menghilang seperti itu? apa ini mimpi?" pikir Bima dengan sangat kebingungan.


Bima memutar badan dan hendak kembali ke rumah seraya terus memikirkan hal itu.


"Pergi dari sini...!!!" teriak makhluk itu yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Bisa dilihat dengan jelas betapa mengerikan wajah makhluk itu. Kulitnya berwarna merah, punya dua taring tajam, matanya juga berwarna merah darah dan dari mulutnya mengeluarkan api. Dengan kukunya yang tajam bagaikan kuku elang ia mencengkram kedua bahu Bima lalu mendorongnya hingga terjatuh.


"Huaaaaaaa....!!" sekali lagi makhluk itu berteriak dengan sangat keras. Bima tersungkur dan tubuhnya membatu karena sangat begitu terkejut. Dan tiba-tiba semua lampu halaman rumah padam dan menjadi gelap gulita.


Kondisi ini membuat Bima kembali mengingat masa lalunya yang begitu kelam. Ketika ayahnya dibunuh dengan begitu sadis di depan matanya dan ia berlari bersembunyi di suatu ruangan yang teramat gelap di iringi suara tembakan dengan peluru panas yang tiada henti seperti ingin menembus kedalam tubuhnya.

__ADS_1


Bima berteriak sekuat tenaga. Ia pejamkan kedua matanya dan ia rangkul kedua lututnya. Ia tundukkan kepalanya dan tanpa henti terus berteriak.


Hal ini langsung membangunkan Ana dan ketiga istrinya yang lain. Dengan cekatan Ana mencari sumber teriakan Bima. Ia melihat keluar halaman rumah yang sangat gelap.


"Ya tuhan... apakah bang Bima berada di luar?"


Ana segera mengambil lampu senter dan berlari ke halaman depan rumah. Ia berlari sambil terus menyoroti sekelilingnya. Akhirnya ia berhasil menemukan suaminya yang tertunduk memeluk lututnya bagaikan batu.


Melihat itu Ana langsung memeluk Bima sambil memberikan sedikit pencahayaan. Ia melihat wajah suaminya yang pucat dan tubuhnya yang sangat menggigil. Badannya juga terasa sangat panas.


"Bang.. tenang bang.. ini sekarang udah ada cahaya sedikit." ucap Ana dengan sangat khawatir.


kemudian sebuah cahaya lampu senter terlihat juga keluar dari dalam rumah. Ana yakin itu mungkin ketiga istri suaminya yang lain.


"Kak Rahma.. Indah... cepat hidupkan lampu halaman!!" perintah Ana melihat cahaya lampu senter yang semakin mendekat.


Melihat itu Ana cukup kaget dan tak bisa berkata. Ditambah Ana juga melihat ketiga istri Bima baru saja keluar rumah dan berlari menghampirinya.


"Ana.. kenapa dengan bang Bima." tanya Rahma yang langsung mengecek kondisi tubuh suaminya.


Ana masih terdiam dan tak mampu berkata-kata karena ia juga mendengar bisikan yang berbunyi. "Pergi dari sini secepatnya."


"Ana kenapa diam saja.. jawab aku." tanya Rahma lagi sambil meninggikan nada suaranya.


"Ta..ta. tadi aku melihat lampu senter itu berjalan dengan sendirinya tanpa ada yang memegangnya." jawab Ana dengan terbata-bata dan menunjuk kearah benda yang ia maksud.


Rahma kemudian menoleh dan melihat arah telunjuk Ana. "Lampu senter mana Na?" tanya Rahma tak melihat Apa-apa.


"Iya tidak ada apa-apa Na!" sambung Indah yang berdiri sambil menopang tubuh Nisa yang sedang hamil tua.

__ADS_1


Seketika Ana tersentak seakan mulai tersadar kembali. "Hah.. sekarang kita bawa bang Bima kedalam rumah.. kondisinya sekarang cukup buruk."


Dengan dibantu Rahma, Ana membawa suaminya masuk kembali kedalam rumah. "Kita bawa bang Bima ke ke kamar aku aja dulu.. terlalu bahaya kalau kita menaiki tangga." ucap Ana sambil mengarahkan langkahnya menuju kamarnya.


Mereka kemudian membaringkan tubuh Bima dan langsung menyelimutinya. Indah langsung mengambil air dingin dan handuk kecil lalu mengompres kepala Bima.


"Na ceritakan pada kami apa yang terjadi sebenarnya." tanya Nisa memegang paha Ana yang sedang duduk di samping Bima.


"Aku tak tau kak.. aku hanya mendengar bang Bima berteriak dari luar rumah dengan sangat keras dan halaman depan rumah yang juga sangat gelap.. aku mengambil senter lalu mendapati bang Bima yang sudah dalam kondisi begini." jawab Ana terlihat sangat cemas.


"Ya udah... Indah sekarang coba kamu panggil dokter kepercayaan bang Bima.. mungkin dia bisa membantu." perintah Nisa pada indah.


"Tengah malam begini?" tanya Indah tak begitu yakin kalau dokter itu bakalan datang.


"Coba aja dulu." tegas Nisa pada Indah.


Akhirnya Indah mencoba memanggil dokter kepercayaan Bima dan beruntung karena dokter itu mau datang.


Dalam waktu 15 menit akhirnya dokter itu sampai dan langsung memeriksa tubuh Bima. "Demamnya sangat tinggi.. apa yang sebenarnya terjadi." tanya sang dokter.


"Aku menemukannya membatu di halaman depan rumah yang sangat gelap.. aku juga tak tau apa sebenarnya yang terjadi." jawab Ana pada sang dokter.


"Begitu ya.. okelah.. kalian semua tak usah Khawatir karena suami kalian akan segera sembuh kok." ucap dokter itu sedikit tersenyum.


"Kenapa dok?" tanya Ana penasaran.


"Suami kalian hanya mengalami demam sementara karena terkejut.. tubuhnya akan kembali normal setelah ia tersadar.. suami kalian memang takut gelap tapi dia bukan seorang Nyhctopobia karena ia bukan takut melihat gelap tapi ia takut akan ingatannya ketika melihat gelap." jelas sang dokter pada keempat istri Bima itu.


Mendengar penjelasan dokter pikiran Ana kembali tenang dan seakan telah melupakan momen yang ia alami barusan.

__ADS_1


__ADS_2