4 Istri

4 Istri
Ch 46 Album Foto 2


__ADS_3

“Syarat? Emang kamu minta syarat apa Na?” Tanya Indah penasaran.


“Aku memberi syarat bahwa ia harus mengikuti semua perintah ku.”


“Terus apakah dia terima?”


“Iya dia terima.”


Indah dan Rahma sedikit merenung sejenak mencoba menebak-nebak kisah lama Ana ini. Mungkin kah akan ada cinta pada mereka atau hanya akan hanya sebatas sahabat.


“Na.. apa habis itu kamu jadi dekat dengannya?” Giliran Rahma yang bertanya.


“Awalnya sih gak terlalu begitu dekat. Hanya sesekali aku ke rumahnya untuk menemaninya belajar. Menemaninya mengobrol dan segala macam. Sebenarnya cukup menguntungkan ku. Karena dia kelas sebelas dan aku kelas sepuluh, jadi aku bisa mendapat beberapa bocoran tentang soal-soal yang biasa di ujian kan.


Lama kelamaan semuanya jadi kebiasaan. Aku lebih sering main ke rumahnya bahkan aku pernah beberapa kali menginap di rumahnya. Mereka sudah seperti keluarga kedua ku. Aku sering membantu ibunya memasak, mencuci piring dan menyapu rumah. Keluarganya juga baik padaku. Mereka melengkapi peralatan sekolah ku dan juga memberiku uang jajan. Sampai aku naik ke kelas sebelas.


Di kelas sebelas bisa di bilang aku telah semakin dekat dengan keluarganya Dika. Ibunya Dika juga tampak sangat menyukaiku. Aku sering di ajak belanja bersama di mall, makan di luar bersama di restoran, dan pergi liburan bersama sehari penuh. Namun ada satu hal yang sangat tidak mengenakkan yang terjadi saat aku sudah terlalu dekat dengan Dika.”


Ana berhenti sejenak. Raut wajahnya berubah. Ia tampak kesal mengingat momen itu dan tanpa sadar ia meremas sebuah lembaran album foto sampai remuk.


“Na.. emangnya apa yang terjadi Na?” Tanya Rahma semakin penasaran.

__ADS_1


Ana sedikit menunduk dan lanjut bercerita. “Kejadiannya sore hari ketika hanya ada aku dan Dika di rumahnya. Ibunya pergi ke pasar membeli bahan-bahan masakan. Hari itu hujan juga sangat lebat. Seperti biasa sore itu aku berada di dapurnya untuk mencuci piring. Entah apa yang ada dipikirkan Dika, yang jelas hari itu aku sangat membencinya.


Dika keluar dari kamarnya dan menghampiriku di dapur. Tiba-tiba saja dia langsung memelukku dari belakang. Sontak itu membuatku sangat terkejut dan memberontak melepaskan pelukannya. Namun ia tak berhenti sampai disitu, ia lanjut memegang leherku dan mencium bibirku. Sungguh saat itu aku benar-benar marah. Aku dorong dia lalu aku tampar dia sekeras-kerasnya.” Ucap Ana begitu menggeritih.


“Abis itu Na?”


“Aku tak peduli ia terluka dengan tamparan ku atau tidak yang jelas aku langsung meninggalkan rumahnya walaupun dalam kondisi hujan deras. Dika mencoba mengejar ku dari belakang. Dia tarik tanganku, tapi dengan lantang aku berkata padanya. ‘Jangan pernah temui aku lagi dan aku juga tak akan menemui mu.’


Dua hari setelahnya Dika dan ibunya datang kerumahku untuk meminta maaf. Dika telah mengakui semua kesalahannya pada ibunya. Ia mengaku bahwa hari itu dia khilaf dan hilang kendali. Dan saat itu juga ia berkata bahwa ia sangat mencintaiku. Mendengar ucapannya itu membuatku tertawa geli, karena jika dia benar-benar mencintaiku pasti dia menjaga ku bukan berniat merusak ku.


Namun Dika terus berusaha memberi seribu alasan padaku sampai akhirnya aku terpaksa memaafkannya dan mencoba melupakan kejadian itu. Hari-hari selanjutnya kembali seperti biasa walau lebih sedikit ku tanamkan kewaspadaan terhadap Dika. Aku sungguh tak ingin kejadian itu terulang kembali.” Ana berhenti bercerita.


Dari kisah Ana bisa disimpulkan bahwa keempat istri Bima ini punya masa lalu yang tidak mengenakkan. Kisah Ana ini pun ada sedikit kemiripan dengan kisah Rahma hanya saja kisah Rahma sedikit lebih buruk jika dibanding-bandingkan. Oleh karena itu Rahma bisa mengerti dengan perasaan Ana yang tertimpa momen menjijikkan itu.


“Jujur dari awal aku mengenalnya aku tak pernah menyukainya sedikit pun. Perasaan ku hanya sebatas teman dan setelah semakin dekat aku hanya menganggapnya sebagai saudara ku.


Aku pernah mencoba untuk menyukainya, karena sejatinya dia adalah laki-laki yang baik. Namun tak sekalipun perasaan suka itu timbul dalam hatiku. Tidak ada yang namanya ketertarikan di hatiku padanya. Sampai aku sadar bahwa ternyata aku memang tak akan bisa menyukainya.


Bicara tentang perasaannya, jujur aku tak tau pasti. Mungkin dia masih mencintaiku. Foto ini di ambil ketika momen perpisahannya di kelas dua belas. Dia akan kuliah keluar negeri. Dia bilang padaku bahwa sampai dia tamat kuliah dia ingin aku menunggunya, karena setelah itu dia ingin melamar ku. Orang tuanya Dika ternyata juga sudah bicara banyak sama ibuku tentang perjodohanku dengan Dika. Waktu itu aku tak bisa menolak dan dengan sangat terpaksa aku menerimanya walau aku tau aku tak menyukai putra mereka.”


“Lalu kenapa bisa kamu malah menikah sama bang Bima?”

__ADS_1


“Hahaha.” Ana sedikit tertawa. “Mungkin aku memang tak di takdirkan untuk Dika. Karena ketika di hari kelulusanku ibuku meninggal dunia. Sebelum meninggal ibuku berpesan agar aku tinggal bersama ayahku di selatan atau di kota Gashar. Mau tak mau aku harus menuruti perintah ibuku yang terakhir itu.


Orang tuanya Dika sempat melarang ku. Mereka berjanji akan menguliahkan aku dan membiayai hidupku asalkan aku tinggal bersama mereka sampai kepulangan Dika. Tapi aku bersikeras menolak demi memenuhi permintaan ibuku yang terakhir. Semenjak itulah aku putus kontak dengan mereka hingga saat ini aku tak tau lagi bagaimana kabar mereka.” Ana menutup ceritanya dengan membalikkan album foto tersebut pada halaman terakhir.


“Na.. kamu kan sudah ada disini.. apa kamu tak ingin ketemu mereka lagi?” Tanya Indah ingin tau.


“Untuk apa aku ketemu mereka? Bukannya saat ini aku sudah punya seorang suami yang harus aku rawat?” Jawab Ana tersenyum.


“Hmm iya juga sih.” Pikir Indah yang kemudian melihat sebuah gambar pada halaman album yang terakhir. “Na.. ini gambar apa?” Tanya Indah sambil terus memperhatikan sebuah gambar dengan dua Anak kecil.


“Ooo ini gambar aku dengan seorang pangeran kecil bernama Awan.” Jelas Ana pada Indah.


“Hahaha Awan? Nama yang aneh.” Balas Indah sedikit tertawa.


“Iya aku juga tak tau nama aslinya siapa, karena dia dulu sepertinya tak mau memberitahu ku tentang nama aslinya.”


“Kenapa begitu?”


“Aku juga tak tau Ndah.. yang jelas dia adalah sahabat masa kecil yang membuatku sangat nyaman.. setiap hari aku merindukannya.. jujur aku sangat ingin bertemu lagi dengannya.. tapi anehnya aku merasa sekarang aku telah sangat dekat dengannya.” Jelas Ana terlihat sangat ceria menatap gambar itu.


Ana menutup album foto tersebut dan kembali menyimpannya. Masa lalu bukan untuk di kenang, tapi jadikanlah masa lalu itu sebagai pengalaman dan pelajaran di masa yang akan datang. Yang berlalu biarlah berlalu dan sekarang bersiaplah menyambut apa yang akan datang.

__ADS_1


“Rahma.. Indah.. Ana.. kalian dimana?” Tiba-tiba terdengar suara Nisa memanggil dari kamar sebelah. Dengan bergegas mereka bertiga menuju kamar sebelah khawatir terjadi sesuatu pada Nisa atau pun Bima.


__ADS_2