4 Istri

4 Istri
Ch 21 Ana Sebagai Pengganti Bima


__ADS_3

Semalam penuh ke empat istri Bima berjaga di rumah sakit. Terlebih Ana yang secara langsung menyaksikan bagaimana suaminya ditikam oleh seseorang yang masih misterius.


Ana menatap wajah suaminya yang sedang tertidur pulas. "Bang berapa banyak kah musuh yang kau punya?.. apakah lebih banyak dari istri-istri mu?.. bagaimana pun kau harus bertahan karena kau telah berbuat dua kesalahan padaku.. pertama kau telah menikahiku dengan paksa.. kedua kau telah membuatku jatuh hati padamu." gumam Ana Dengan penuh perasaan khawatir.


Pagi setelah semua penghuni rumah sakit sudah terbangun. Seorang dokter akan melakukan pengecekan terhadap perkembangan tubuh Bima. Keempat istri Bima pun menunggu diluar ruangan.


Setelah 10 menit dokter tersebut keluar dari ruangan tersebut. "Keadaan suami kalian sudah mulai membaik.. kalian sudah bisa merawatnya di rumah.. tapi jika kalian masih ingin ia dirawat di rumah sakit juga tak apa." kata sang Dokter menjelaskan.


"Kami akan membawanya pulang.. terima kasih banyak dok" balas Nisa sambil menunduk berterima kasih.


"Baiklah.. sebelum pulang silahkan selesaikan pembayaran di ruang administrasi." ucap dokter itu lalu pergi.


Setelah itu Ana langsung menelfon bang Ajis untuk menjemput mereka ke rumah sakit serta menyelesaikan pembayaran dan mengambil beberapa sisa obat-obatan yang diperlukan Bima.


Ana senang akhirnya bisa kembali ke rumah setelah satu hari di rumah sakit. Ia papah tubuh suaminya bersama ketiga istri suaminya yang lain dan langsung membawanya ke kamar.


"Kak.. hari ini biar aku aja yang masak.. kalian istirahat aja dulu." ucap Ana setelah membaringkan tubuh suaminya di kasur.

__ADS_1


"Na.. biar aku bantu ya." Indah memegang tangan Ana.


"Ga usah Ndah.. kamu istirahat saja." balas Ana sambil melepaskan tangan Indah dengan pelan.


"Na.. kita semua yang akan masak.. kita akan buat makanan paling spesial untuk bang Bima." sambung Nisa merangkul bahu Ana, Rahma dan Indah.


"Emang kalian bisa masak?" tanya Bima meledek sambil tertawa.


"Kak.. mukul orang sakit dosa gak?" balas Ana bertanya pada Nisa karena jengkel terhadap suaminya.


"Na.. kamu mau pukul suami aku?" sambung Rahma melihat ke arah Ana.


"Ya udah kita sekarang ke dapur saja." perintah Nisa sambil mendorong Indah dan Rahma keluar kamar Bima.


"Awas.. jangan sampai ke asinan." ledek Bima lagi.


Sebelum menuju dapur, terlebih dahulu keempat istri Bima membersihkan badan mereka. Setelah itu mereka langsung menuju dapur. Dengan canda tawa bagaikan sahabat dekat mereka saling bantu dalam meracik masakan. Itu lah hebatnya Bima yang mampu menyatukan keempat istrinya dalam satu rumah.

__ADS_1


Dapur sekarang seperti taman bermain bagi para bidadari. Bagi yang melihat itu pasti akan iri pada Bima. Karena selain cantik mereka juga sangat baik hati terhadap suami mereka.


Terlihat bang Ajis dari ruang tengah mencoba memanggil Ana. Ana meninggalkan pekerjaannya di dapur dan berjalan menghampiri bang Ajis.


"Ada apa bang?" tanya Ana penasaran.


"Sebenarnya saat ini Bima akan ada pertemuan langsung dengan beberapa pimpinan perusahaan yang akan bergabung bersamanya.. aku sudah bicara sama Bima dan dia memintamu untuk datang menggantikannya." kata bang Ajis menjelaskan.


"Tapi kenapa harus aku." tanya Ana sedikit bingung.


"Karena kamu punya bakat seperti Bima." jawab bang Ajis.


"Bakat apa?.. aku belum pernah sekalipun melakukan rapat apa lagi dengan pimpinan perusahaan yang merupakan orang-orang besar." tanya Ana dengan ekspresi bingung kenapa Bima menunjuknya sebagai penggantinya.


"Tadi Agus telah menyiapkan ini semua untuk kamu." ucap bang Ajis mengangkat sebuah amplop coklat di tangannya. "Kamu bisa menghafal ini semua.. semua pertanyaan yang akan di lontarkan para pimpinan perusahaan bisa kamu jawab melalui itu."


Ana mengambil amplop itu dan membukanya. "Bim Group?" Ana membaca tulisan tersebut yang belum ia ketahui artinya.

__ADS_1


"Iya.. Sudah lama Bima merencanakan itu.. Bima bukan lagi ingin menjadi penguasa kota.. tapi dia ingin menjadi penguasa negri.. karena itulah dia ingin mendirikan sebuah group dengan nama tersebut.. kita tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini.. Bima sedang sakit maka kamu harus bisa menggantikannya.. kami sangat percaya padamu Na.." ucap bang Ajis sambil menundukkan kepalanya seperti memohon.


Ana belum yakin dengan semua ini tapi apa boleh buat karena suaminya sampai terluka juga karena ulahnya.


__ADS_2