
Impian setiap wanita tentunya adalah hidup bahagia dengan laki-laki yang ia cintai. Tapi apa pendapat kalian dengan apa yang terjadi dengan empat wanita ini?. Tak hanya berbagi cinta suami mereka dengan wanita lainnya, tapi sekarang kehidupan mereka juga terancam oleh bahaya yang sebelumnya tak pernah mereka pikirkan.
Banyak yang bertanya apakah kesetiaan itu sebuah cinta sejati atau sebuah kebodohan?. Apa mungkin yang setia itu bodoh atau yang bodoh itu setia?. Jangan salah paham dulu. Kebanyakan manusia salah mengartikan cinta. Sebenarnya cinta itu persis seperti kehidupan. Tak di setiap hari itu indah dan tak di setiap hari itu kelam. Hari terus berlalu dengan momen yang terus berganti. Jadi jika dirimu setia dengan kehidupan kenapa tidak dengan cinta?.
Begitulah dengan empat wanita ini, yang merelakan diri mereka dalam bahaya demi menjaga kesetiaan pada yang namanya cinta. Sebenarnya mereka bisa saja meninggalkan laki-laki yang sudah tak berdaya ini. Namun hati kecil mereka berkata. “Jika aku sanggup setia dengan kehidupan, lalu kenapa tidak dengan cinta ini.”
***
Hari itu cukup kelabu. Bukan ide yang baik bagi mereka jika tetap bertahan di dalam kota itu. Langkah yang dipilih oleh Ana sangat tepat. Ia mengambil sebuah kursi roda milik rumah sakit lalu menerobos masuk kedalam ruang UGD dimana dokter baru saja akan membalut luka suaminya.
“Dokter maaf.. saya harus membawa suami saya pergi dari sini sekarang!!!” Ucap Ana sambil mencoba mengangkat tubuh suaminya untuk duduk di atas kursi roda tersebut.
“Maaf nyonya.. pasien baru saja selesai operasi.. paling tidak tunggu sampai besok pagi baru nyonya bisa membawanya pulang.” Cegah sang dokter menarik tangan Ana untuk melepaskan Bima.
Ana menghentakkan tangannya untuk melepaskan tangan dokter tersebut. Melihat Ana yang seperti tak bisa di cegah, sang dokter terpaksa membiarkan Ana untuk membawa Bima pergi. Dengan segera Ana membawa Bima keluar dari ruangan itu.
“Kak Rahma, Indah .. cepat jemput kak Nisa.. aku akan tunggu di mobil.” Perintah Ana pada Mereka berdua yang menunggu di depan pintu ruang UGD tersebut.
Mereka pun langsung menuruti perintah Ana untuk menjemput Nisa yang sedang beristirahat di ruang perawatan. Sedangkan Ana langsung keluar menuju tempat ia memarkirkan mobilnya. Setelah sampai di mobil Ana langsung mendudukkan suaminya di bangku belakang mobil dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Tak lama berselang terlihat Rahma dan Indah yang bersusah payah menopang tubuh Nisa sambil berlari. Mereka tak sendirian, seorang petugas rumah sakit tampak sedang mengejar mereka untuk meminta biaya tagihan rumah sakit. Beruntung Rahma dan Indah cukup cepat sehingga sang petugas tak berhasil menangkap mereka. Setelah mereka masuk kedalam mobil Ana langsung tancap gas meninggalkan rumah sakit.
Sang petugas rumah sakit tidak tinggal diam. Ia mengeluarkan ponsel di sakunya lalu menelefon polisi untuk melaporkan ada pasien yang kabur tanpa membayar tagihan rumah sakit. Suatu keberuntungan bagi Bima dan istri-istrinya karena pihak polisi tidak terlalu menghiraukan panggilan itu, mereka lebih sibuk menggeledah sekitaran kota mencari keberadaan Bima dan keluarganya.
__ADS_1
Memang hari keberuntungan bagi Bima dan keluarganya. Bagaimana tidak? Seperti sudah di perhitungkan Ana dengan sangat matang, mereka keluar dari kota melewati jalan utama semenit sebelum para polisi memblok jalan tersebut.
“Na.. ini mobil siapa?” Tanya Rahma yang sedikit penasaran dengan mobil yang ia naiki.
“Ceritanya panjang kak.. gak ada waktu buat aku cerita.. sekarang kita harus pergi sejauh mungkin.” Jawab Ana tetap fokus melihat jalan.
“Lalu kemana kita akan pergi?” Tanya Rahma lagi.
“Ke utara.. tempat aku menghabiskan masa kecilku dari aku umur tujuh tahun sampai aku tamat SMA.. disana cukup aman.. karena daerah disana diluar dari kekuasaan para mafia-mafia.” Jawab Ana tanpa menoleh dan terus fokus menyetir.
“Apa ada tempat untuk kita tinggal disana?”
“Disana ada rumah ibuku yang sudah lama kosong sejak ibu aku meninggal.”
Pada tengah malam setelah dua hari melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai di kota masa kecil Ana. Kota kecil tanpa mafia-mafia kejam yang mengatur kehidupan masyarakat disana. Walaupun hanya sebuah kota kecil tapi perkembangan kota ini cukup pesat dari beberapa tahun Ana meninggalkannya.
“Na.. apakah pemuda itu bupati kota ini?” Tanya Indah menunjuk seorang pemuda tampan di spanduk pinggiran kota.
“Enggak tau juga Ndah.” Jawab Ana singkat.
“Hmm aku sih liat ya tadi ada tulisan Salam Dari Bupati.. jadi aku pikir dia seorang bupati.” Jelas Indah pada Ana.
“Kalau dia memang bupati gimana?” Tanya Ana menatap Indah yang sedang menyetir.
__ADS_1
“Ya gak apa-apa.. hebat aja menurut aku.. masih muda tapi udah jadi bupati.” Jawab Indah tak mau memperpanjang obrolan tentang itu. “Na.. habis ini kita kemana? Rumah almarhum mama kamu dimana?” Sambung Indah bertanya melihat persimpangan di depannya.
“Belok kiri.. abis itu lurus sampai aku kasih instruksi kamu untuk belok lagi.” Jawab Ana sambil bersantai bersandar di bangkunya.
Tak berapa jauh dari persimpangan Ana kemudian memberi perintah untuk Indah membelokkan mobilnya masuk ke gang perumahan di sebelah kiri. Sekitar dua ratus meter dari gang depan mereka pun berhenti di sebuah rumah kecil yang terangi lampu tetangga. Ana dan Indah langsung turun berjalan ke rumah tersebut.
“Na.. ini rumah almarhum mama kamu? Kamu masih megang kuncinya kah?” Tanya Indah sambil melihat-lihat keseliling.
“Iya.. kuncinya ada tapi ketinggalan di tempat papa aku.. kita dobrak saja lah.”
Dalam beberapa kali dobrak pintu pun terbuka. Ana dan Indah langsung kembali ke mobil untuk mengajak Rahma dan Nisa masuk sekaligus membawa Bima untuk ikutan masuk juga.
Ana menggendong Bima masuk ke kamar almarhum mamanya dan membaringkannya disana. Cukup gelap karena tak ada pencahayaan lampu membuat Ana tak bisa membersihkan kamar tersebut terlebih dahulu.
“Sekarang kita istirahat terlebih dahulu.. besok baru kita bersih-bersih.” Ucap Ana sambil meninggalkan kamar.
“Kamu mau kemana Na?” Tanya Indah yang sedang duduk di ranjang.
“Aku mau perbaiki parkir mobil agar tidak terlalu menutupi jalan.” Jelas Ana sambil terus meninggalkan kamar.
Memperbaiki parkir bukan lah alasan sesungguhnya. Ana sedang membutuhkan ruang sepi untung meluapkan tangisannya. Ia tutup jendela kaca mobil lalu menangis sejadi-jadinya. Sungguh berat rasa hatinya menjalani cobaan yang belum siap ia hadapi ini.
Bisakah mereka bertahan atau mungkinkah semuanya akan segera berakhir dan hancur? Semua persoalan mungkin akan segera mereka jawab.
__ADS_1