
Situasi di dalam kamar mandi menjadi semakin tegang. Ana juga sangat merasa terangsang dikarenakan kulit bahunya bersentuhan dengan kulit lengannya Bima.
Bima tak tahan akan situasi tersebut dan akhirnya hilang kendali. Dia memutar badannya menghadap ke arah Ana dan juga memutar tubuh bahu Ana menghadap ke Arahnya.
Tanpa pikir panjang Bima langsung mencium bibir Ana. Ana tak membalas karena dia memang tak tau caranya berciuman. Dengan sedikit paksaan Bima membuka bibir Ana dengan lidahnya.
Sekarang Ana juga ikut hilang kendali. Ketika tubuh Bima menempel secara penuh ditubuhnya. Ia juga merasakan betapa keras adiknya Bima menempel diperutnya. Pada akhirnya Ana ikut membalas bagaimana Bima ******* bibirnya.
"Aku mandi di kamarku Aja.. disini gerah!!" ucap Bima sambil melepaskan ciumannya.
"Hah? disini dingin kok!" balas Ana spontan.
Bima pun membalas kata-kata Ana dengan tertawa. Ia sadar betapa istrinya sudah larut dalam situasi tersebut. Tapi dia ingat bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk dia menyetubuhi istrinya.
Bima memegang kepala Ana dengan kedua tangannya dan mencium keningnya. Sebenarnya ia sangat ingin berduaan dengan Ana dalam waktu yang lama. Namun masalah terberat dalam hidupnya masih menghalangi keinginannya.
Ana hanya bisa terdiam melihat Bima kembali mengenakan pakaiannya. Lalu pergi tanpa kata. Ana merasa sangat kesal. Kenapa Bima melakukan itu dan meninggalkannya ketika sudah larut dalam kehangatan tersebut.
Tepat jam 8 malam, keluarga Bima berkumpul untuk makan malam. Dalam situasi tersebut Ana masih terus membayangkan kejadian yang dia alami sekitar 2 jam yang lalu. Bahkan dia merasa sangat malu menatap wajah Bima.
Bukan hanya di meja makan tapi hampir di setiap saat dia terus membayangkan wajah Bima. Apa lagi ketika ia masuk ke kamar mandi. Ia terus melihat bayangan memori antar dia dan Bima di kamar mandi.
"Tuhan.. kenapa dia muncul terus dalam otakku.. beginikah rasanya dimadu?.. ah sungguh sial.. hidupku!!!" ucap Ana dalam hati.
Malam itu ia tidur dengan bayangan Bima yang masih terus membekas.
__ADS_1
***
Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang terang menembus kain gorden jendela kamar Ana. Kicauan burung menjadi Alarm untuk membuka matanya.
Dia bangun dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Kali ini sedikit berbeda dari hari kemarin. Terlihat hanya Nisa yang berada seorang diri di dapur.
"Ngapain kak?" tanya Ana.
"Loh Ana... bangun tidur itu kalau malas mandi paling kurang cuci muka.. ini masih kayak orang kesurupan aja." ucap Nisa melihat penampilan Ana yang amburadul.
"Biarin.. tapi tetap cantik kan?" balas Ana membanggakan diri.
"Ih.. jangan dekat-dekat.. bau.. sana mandi dulu!!!" ucap Nisa ketika Ana mendekat kearahnya.
Setelah 30 menit berlalu, Ana kembali ke dapur dengan dandanan yang rapi. Terlihat betapa cantiknya dia pagi ini.
"Indah dan kak Rahma kemana kak? bang Bima juga gak kelihatan." tanya Ana sambil melihat ke setiap sisi rumah.
"Mereka lagi joging diluar." jawab Nisa sambil menyiapkan sarapan.
"Kak Nisa gak ikut?" tanya Ana lagi.
"Enggak Na.. bi Asih kan gak ada jadi aku yang nyiapin sarapan pagi ini." jawab Nisa yang mulai menghidangkan masakannya ke atas piring.
"Sini kak biar aku bantu!!" ucap Ana sambil menyambut piring dari tangan Nisa.
__ADS_1
"Hmm kayaknya persediaan makanan kita udah hampir habis Na.. habis sarapan kamu mau membeli persediaan makanan kepasar.. soalnya aku belum pernah sekalipun kepasar Na.." kata Nisa ketika melihat isi dalam kulkas.
"Ok kak.. nanti kak Nisa catat aja apa yang kita perlukan biar aku yang beli." jawab Ana sambil menyusun piring di atas meja makan.
Ketika sarapan sudah Bima dan kedua istrinya yang lain sudah kembali dari joging. Mereka masuk dengan keringat membasahi tubuh mereka.
Ana menjadi salah tingkah ketika melihat tubuh Bima yang kekar tercetak jelas dari kaosnya yang ketat. Keringat yang membasahi wajahnya seakan menambah pesonanya. Ia tundukkan kepalanya karena tak sanggup menyaksikannya.
"Kalian sana mandi dulu.. habis itu baru sarapan.." perintah Nisa sambil mendorong mereka.
20 menit kemudian mereka kembali dan mulai menyantap sarapan bersama.
"Bang Bima.. tadi aku dan Kak Nisa lihat persediaan makanan kita di kulkas udah hampir habis.. jadi abis ini aku boleh ijin ke pasar?" tanya Ana yang habis menelan makanannya.
"Ga usah.. biar bang Ajis aja yang ke pasar!!!" jawab Bima.
"Emang bang Ajis bisa memilih misalnya sayur-sayuran yang bagus gitu?" tanya Ana lagi dengan maksud memaksa Bima mengizinkannya.
"Ok... tapi aku yang temenin." balas Bima.
"Yakin?" tanya Ana lagi memastikan.
"Yakin lah!!" jawab Bima percaya diri.
"Wah.. momen yang pas ini untuk aku kerjain.. sambil memberi dia pelajaran atas apa yang dia lakukan semalam." Gumam Ana dalam hati sambil tertawa.
__ADS_1