4 Istri

4 Istri
Ch 25 Pelukan


__ADS_3

Pelukan hangat dari Ana cukup membuat Bima bahagia. Bima sadar bahwa betapa sekarang istri keempatnya ini juga sangat menyayanginya.


"Bang maafin Ana.. Ana udah durhaka.. jangan kutuk Ana jadi batu ya." ucap Ana yang menempelkan pipinya pada dada Bima.


"Hahaha.. untuk apa aku mengutuk mu jadi batu.. aku kan bisa buatkan langsung patung mu." balas Bima sambil tertawa.


"Eh jangan... ntar patung ku jadi berhala."


Berada di pelukan Bima sangat membuat Ana nyaman. Amarahnya yang tadinya setinggi gunung akhirnya runtuh seketika.


"Eekhm.. ekhm." Rahma mencoba memberi kode agar Bima tidak mengabaikannya.


"Rahma, Indah sini!!!" panggil Bima kepada dua istrinya itu yang dari tadi hanya berdiri melihatnya. Rahma dan Indah mendekat lalu ikut memeluk Bima. "Nisa.. kamu juga." panggil Bima lagi yang melihat Nisa berdiri di pintu. Dengan perlahan Nisa juga mendekat dan tidur di pahanya Bima.


"Bang bisa gak kita berdua saja untuk kali ini?" tanya Ana dengan maksud bercanda.


"Kami bertiga udah punya buku nikah masing-masing.. emang kamu udah punya?" balas Rahma meledek.


"Hmmm buat apa sih buku nikah.. aku kan udah punya cincin nikah." balas Ana memperagakan cincin di jari manisnya.


"Lah itu kita semua juga punya." ucap Rahma sambil ikut memperagakan jari manisnya.

__ADS_1


Sedikit Ana melirik ke jari manis Bima. Ia tak melihat Bima memakai satupun cincin pernikahan. "Bang.. cincin nikah kami dimana?" tanya Ana menarik jari manisnya Bima


"Ada aku simpan.. karena ada 4 jadi aku simpan aja dulu." jawab Bima menjelaskan.


"Ok dah.. bang di antara kita berempat siapa yang paling cantik?" tanya Ana bermaksud ingin membuat kehebohan.


"Iya bang.. aku juga mau nanya itu.. menurut abang siapa yang paling cantik?" ucap Indah setuju dengan pertanyaan Ana.


"Ih kalian apa gak ada pertanyaan lain?" balas Nisa mencoba membatalkan pertanyaan Ana dan Indah.


"Bilang aja kak Nisa takut!!" ucap Ana sambil ketawa kecil.


"Ih siapa takut.. ya udah bang jawab.. siapa dari kita yang paling cantik." tanya Nisa menatap wajah.


"Pilih salah satu." ucap keempat istri Bima bersamaan.


Bima mulai panik dan tak tau mau jawab. Karena kalau di jawab pasti ada tiga di antara mereka yang bakal ngambek.


Melihat ekspresi Bima yang berubah panik membuat keempat istrinya tertawa. Mereka tau bahwa suami mereka tak akan mampu menjawabnya.


"Hahaha.. makanya punya istri jangan banyak-banyak terus satu rumah lagi.. panik kan jika lagi ngumpul di tanya begini." ucap Ana kembali menyenderkan kepalanya ke dada Bima.

__ADS_1


"Bang.. abang beneran janji kan gak bakalan nikah lagi?" sambung Indah yang juga ikut bersender pada bahu Bima.


"Iya aku janji pada kalian." jawab Bima percaya diri.


"Coba saja ingkar janji.. maka akan aku patahkan ini!!!" balas Ana memegang bagian vital Bima.


"Ana ya ampun.. enak ya pegang-pegang." ucap Nisa yang memperhatikan tangan Ana.


Bima cukup kaget dan adiknya tersebut bereaksi. Karena hanya memakai bokser atau celana pendek. Adik Bima terlihat sangat menonjol. Keempat istrinya tertawa dan sedikit malu-malu.


"Bang buka.. aku pengen liat." ucap Rahma melirik ke arah adiknya Bima.


"Rahma jangan aneh-aneh lah.. gak mungkin kalian lagi berempat disini." tolak Bima karena malu.


"Kan kita semua istri bang Bima.. jadi kenapa gak mau?" balas Rahma.


"Ih Rahma.. otak mesumnya keluar." ucap Nisa meledek Rahma walau sebenarnya hormonnya juga sudah mulai meledak.


Dengan sangat jahil Ana yang melihat bima sedang lengah langsung menarik celana bokser Bima hingga adiknya pun keluar. Sontak itu membuat Bima dan ketiga istrinya yang lain kaget. Mulut ketiga istri Bima berteriak namun mata mereka tetap melirik ke arah benda itu.


Dengan segera Bima langsung menarik kembali celananya dan keempat istrinya pun tertawa.

__ADS_1


Malam itu mereka habiskan dengan candaan. Hingga akhirnya mereka tidur bersama. Cuma tidur jadi jangan mikir aneh-aneh :)


__ADS_2