4 Istri

4 Istri
Ch 43 Lingkungan Baru


__ADS_3

“Tuk..tuk..tuk.” Suara ketukan kaca mobil mengagetkan Ana dan dengan segera ia menghapus air matanya. Ana kemudian membuka kaca jendela mobil dan melihat Indah telah berdiri sambil menatapnya.


“Ada apa Ndah?” Tanya Ana sambil menormalkan nada suaranya.


“Kalau menangis jangan keras-keras.. aku bisa dengar.” Jawab Indah yang mengerti dengan kesedihan Ana karena ia juga merasakan hal yang sama.


Ana keluar dari mobil dan memeluk Indah dengan erat. “Apa yang salah dengan hidup kita? Kenapa kebahagiaan itu selalu begitu singkat?” Tanya Ana dengan rintihan tangisnya.


“Na.. aku tau yang kamu rasakan.. karena posisi kita adalah sama.. aku akan coba bersabar dan aku harap kamu juga begitu.. sekarang ada baiknya kita beristirahat.” Jawab Indah menenangkan Ana.


Setelah memarkirkan mobil dengan baik, mereka berdua kembali masuk ke rumah. Ana berbaring di sofa tua sambil menutup matanya berharap semua yang ia alami hanyalah mimpi.


Ana terbangun cukup telat. Matahari sudah tampak tinggi. Di sekitar rumah Ana, para tetangga tampak sedang memantau menunggu seseorang keluar dari rumah tersebut.


Rahma dan Indah yang sudah bangun terlebih dahulu tampak sangat kebingungan. Bagaimana tidak, tak setetes air pun ada di rumah tersebut. Hingga akhirnya Rahma memutuskan keluar untuk mencari air dengan tampangnya yang kusut.


Baru saja Rahma membuka pintu puluhan pasang mata langsung meliriknya. Tua muda laki perempuan bahkan anak kecil sekalipun merasa sangat penasaran dengan wanita yang sangat asing bagi mereka ini. Rahma menjadi salah tingkah dan mencoba tersenyum menyapa para tetangga barunya ini.


“Pagi pak.. buk..” begitulah ucap Rahma sambil kembali masuk kedalam rumah.


Rahma langsung berjalan menghampiri Ana yang masih berbaring di sofa. Rahma mengguncang tubuh Ana agar segera bangkit dari tidurnya.


“Na.. Ana bangun.” Sahut Rahma menarik tangan Ana.


“Ada apa kak?” Tanya Ana dengan sangat lemas.


“Na ada air gak? Aku mau mandi.. aku sangat gerah.. kamu tau kan aku udah beberapa hari belum mandi.” Jelas Rahma pada Ana.


Ana bangkit lalu berjalan menuju luar rumah. “Ikut aku.” Ajak Ana sambil terus berjalan.


“Jangan keluar.. diluar banyak orang-orang ngeliatin kita.” Ucap Rahma merasa sedikit malu.


“Udah lah gak apa-apa kok.. biar aku yang urus mereka.” Balas Ana dengan santai.

__ADS_1


“Kalian mau kemana?” Sahut Indah yang baru balik dari menggeledah dapur.


“Aku dan kak Rahma mau mandi.. apa kamu mau ikut?” Jelas Ana sambil mengajaknya.


“Iya aku ikut.”


Ana melangkahkan kakinya keluar dari pintu dan menampakkan wajahnya kepada puluhan pasang mata yang dari tadi memperhatikan rumahnya. Seorang wanita tua berdiri dan langsung menghampiri Ana.


“Kamu Ana kan? Ya ampun tambah cantik saja.” Ucap wanita tua itu memegangi pipi Ana.


“Iya nek.. aku Ana.. maaf lama tak berkunjung kesini.” Balas Ana sambil tersenyum.


“Iya gak apa-apa.. nenek kangen sama kamu.. soalnya kamu selalu bisa menghidupkan suasana di kompleks ini.. dan asal kamu tau.. setelah kamu pergi dari sini nenek merasa sangat kesepian.” Jelas sang nenek kepada Ana.


Ana membalas ucapan sang nenek dengan senyuman lalu mencium tangannya. “Untuk sementara Ana akan tinggal disini kok nek.. jadi nenek gak usah khawatir.”


Melihat wajah Ana membuat para ibu-ibu tetangga berdatangan dan menyapa Ana, karena dulunya Ana memang merupakan anak emas di kompleks itu. Selain paras cantik, Ana sangat sering membantu para tetangga membuat para tetangga sangat merasa nyaman dengannya.


“Wanita cantik yang dua ini apa teman kamu Na?” Tanya si nenek sambil melirik ke arah Rahma dan Indah.


“Hah? Maksud kamu gimana?” Si nenek sangat terkejut mendengar jawaban Ana dan merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Iya mereka berdua juga istri suami saya nek.” Jelas Ana sekali lagi.


“Oh jadi mereka pelakor? Sini nenek kasih pelajaran.” Balas nenek merasa marah.


“Bukan begitu nek.. aku lah yang jadi istri terakhirnya.. biar aku perkenalkan mereka satu persatu pada nenek.” Jelas Ana dan langsung menarik tangan Rahma. “Nek.. yang ini namanya Rahma.. dia istri kedua suami aku.” Ana kemudian lanjut menarik tangan Indah. “Dan yang ini namanya Indah istri ketiga dan ada satu lagi masih beristirahat didalam.. namanya Nisa istri pertama.. sedangkan suami aku namanya Bima.. dia lagi sakit.”


“Hah? Kamu serius Na? Terus kalian akan tinggal serumah? Apa suami kalian kuat? Emang dia pake obat apa bisa menghadapi empat wanita sekaligus?” Tanya si nenek masih merasa tak percaya.


“Hahaha nenek ada-ada aja.. Emang dari awal pernikahan kami tinggal serumah nek.. ya udah nek kamu pergi mandi kebelakang dulu.” Balas Ana tertawa dan berjalan meninggalkan si nenek.


Mereka bertiga lanjut berjalan di sebuah jalan kecil di antara rumah-rumah warga. Sebelum lanjut Ana berhenti di sebuah warung menjelang tempat pemandian yang ia tuju.

__ADS_1


“Ana!!!” Sahut wanita penghuni warung yang langsung memeluk Ana. Wajah wanita itu tampak sangat senang ketika melihat wajah Ana. Wanita itu adalah sahabat dekat Ana dari SD sampai tamat SMA, jadi bagaimana tidak senang ketika baru bersua kembali setelah beberapa tahun.


“Fitri.. astaga kamu kok jadi agak gendutan ya?” Ledek Ana pada postur tubuh sahabatnya itu.


“Hahaha ya iyalah aku kan udah jadi seorang ibu sekarang.” Balas Fitri pada Ana. “Kamu sendiri udah nikah belum?” Sambungnya bertanya pada Ana.


“Udah kok.. tapi aku masih belum punya anak.” Jawab Ana tersenyum.


“Oh kamu yang sabar.. gak bakal lama lagi kamu pasti juga punya dedek bayi.. asal kamu sama suami kamu rajin buatnya.. hahaha.” Ucap Fitri sambil tertawa. “Oh ya.. dua wanita yang di belakang kamu ini siapa?” Tanya Fitri penasaran.


“Oh mereka berdua juga istri suami aku.. nama mereka kak Rahma dan Indah.” Jawab Ana sambil memperkenalkan mereka berdua.


“Hah? Na aku gak salah dengarkan?” Tanya Fitri sangat terkejut mendengar penjelasan Ana.


“Nggak kok Fit.. kamu gak salah dengar.. mereka berdua juga istri suami aku.” Ana memperjelas ucapannya.


Fitri langsung menarik tangan Ana menuju belakang warung. “Na kamu jangan bercanda.. itu bagaimana ceritanya dua wanita itu jadi istri suami kamu? Emang suami kamu punya berapa istri sih?” Tanya Fitri masih terheran dan merasa tak percaya.


“Ya aku gak bercanda Fit.. mereka memang istri-istri suami aku.. suami aku punya empat istri termaksud aku.” Jawab Ana pada Fitri.


“Na kenapa bisa begitu? Kamu itu cantik dan baik.. idaman banyak lelaki.. tapi kok bisa-bisanya dapat suami hidung belang.”


“Iiisss Fitri.. jangan asal ngomong.. suami aku bukan pria hidung belang.. suami aku itu seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab.. walau istrinya empat ia selalu bisa mengasihi, menyayangi dan berlaku adil pada istri-istrinya.”


“Tapi apakah kamu tidak sakit atau cemburu ketika ia membagi cinta dengan yang lainnya?”


“Awalnya sakit sih.. tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa dan mengerti ternyata untuk mencintainya itu sangat sederhana.. andai kamu di posisiku kamu juga akan merasakan bagaimana kehangatannya.”


Fitri masih merasa bingung dan hatinya terus bertanya-tanya. Tapi dari cara Ana memberi jawaban tergambar jelas bahwa Ana sangat menyayangi suaminya dan nyaman dengan posisinya sebagai istri keempat.


“Na.. terus kalian disini ngapain Na? Apa kalian semua serumah?” Tanya Fitri lagi masih sangat penasaran.


“Ihhh Fitri jangan banyak tanya.. aku mau pergi mandi nih.. ambilkan aku sabun mandi sama sampo.. tiga buah gundar gigi sama pasta gigi.. nanti aku bayar soalnya uang aku ketinggalan di rumah.” Jawab Ana tak ingin terlalu berlama-lama.

__ADS_1


Fitri kembali masuk ke warung dan mengambil semua yang dibutuhkan Ana. Dengan sebuah kantong plastik Fitri menaruh semua perlengkapan mandi itu dan menyodorkan pada Ana. Dalam hatinya, Fitri masih bingung dan penasaran tentang apa yang terjadi pada Ana sebenarnya. Ana pun sepertinya masih belum mau untuk menceritakan semua pada Fitri, tak tau karena alasan apa yang jelas setelah Ana mengambil kantong plastik itu ia langsung lanjut menuju tempat pemandian.


__ADS_2