4 Istri

4 Istri
Ch 28 Polos


__ADS_3

Ana cukup bosan duduk di sofa ruang tengah dan hanya menonton tv. Sudah 2 jam ia menunggu dua orang kekasih yang sedang berbulan madu dadakan itu tapi mereka belum juga menampakkan diri.


Sedangkan Rahma dan Indah sibuk mencari cara untuk mengintip suaminya yang lagi berduaan dengan istri pertamanya. Awalnya mereka mendengar Nisa merintih kesakitan. Tapi beberapa menit setelah itu mereka mulai mendengar Nisah mendesah dari suara pelan-pelan akhirnya bertambah keras. Setelah 30 menit mereka tak mendengar lagi ada desahan walau 10 menit setelah itu mereka mendengarnya kembali.


Merasa frustasi dalam mengintip mereka pun turun ke lantai satu menuju ruang tengah untuk menemui Ana. Terlihat Ana lagi santainya menonton tv.


Indah melangkah menghampiri Ana dan duduk disebelahnya. "Na.. aku penasaran rasanya ciuman sama gituan gimana ya?" tanya Indah kepada Ana.


Ana terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan indah. "Hah?.. serius kamu belum pernah ciuman.. hahaha yang bener aja?" Ana tertawa geli memikirkan itu.


"Ih Na... serius.. dari awal nikah dia hanya pernah menyentuh rambut pipi sama tangan ku aja.. bahkan aku belum pernah melihat itu nya.. hee cuma malam tadi aku melihatnya dan itupun hanya sekilas." jelas Indah kelihatan cemberut.


"Hahaha.. sabar dulu.. kamu pasti dapat giliran kok." ucap Ana memegang bahunya Indah. "Malangnya dirimu.. seharusnya sekarang kau sudah hamil atau pun melahirkan mengingat kau sudah setahun lebih menikah dengan Dia."


Ana merubah pandangannya dan menghadap ke arah Rahma. "Apa kak Rahma juga sama seperti Indah?" tanya Ana kepada Rahma.


"Hah?.. ee kalau aku sih udah hampir pernah melakukan hal suami istri sama bang Bima.. cuma aku larang dia melakukan itu soalnya ia belum menyentuh Nisa." jelas Rahma.


Dari gaya bicara Rahma terlihat jelas bahwa ia sedang berbohong. Ana menebak bahwa situasi yang di alami Rahma sama dengan Indah, masih sama-sama di biarkan polos begitu saja.

__ADS_1


"Hmm kalau begitu kalian tunggu disini dulu aku mau liatin sesuatu." ucap Ana sambil menuju kamarnya. Setelah itu ia kembali membawa ponselnya.


"Na mau liatin apa?" tanya Indah sangat penasaran.


Rahma juga turut penasaran hingga juga ikut duduk merapat disebelah Ana. "Na.. mau liatin apa sih di ponsel kamu?"


"Tunggu ya .. sabar.." ucap Ana sambil membuka situs website yang belum pernah sekalipun di buka oleh Indah dan Rahma.


Baru saja di buka, isi website itu membuat Rahma dan Indah kaget. "Ya ampun Na... jadi kamu mau liatin vidio dewasa?" tanya Indah yang menutup matanya dengan telapak tangannya.


"Iya.. kamu harus tau cara melayani bang Bima di ranjang itu gimana.. karena kalian itu udah tua bukan remaja lagi." ucap Ana sambil menurunkan tangan Indah yang menutup matanya.


Dengan semangat Ana mengklik salah satu vidio pada website itu dan mereka menontonnya. Kelihatan sangat jelas dari ekspresi Rahma dan Indah mereka seperti wanita amatiran.


Tak mau semakin basah dengan vidio itu, Ana mencoba menoleh ke arah Rahma dan Indah. Ia melihat betapa fokusnya mereka berdua menatap layar ponsel.


Ana mencoba menahan tawanya. Tadinya mereka yang kaget sekarang malah sangat menikmati vidio yang ia perlihatkan. Dan dengan iseng Ana mematikan layar ponselnya.


Sungguh lucu ketika Ana melihat ekspresi wajah mereka berdua. Bisa ditebak mereka pasti belum puas, masih pengen, kesal, malu yang pastinya semakin membuat mereka penasaran.

__ADS_1


"Jadi kalian tau kan harus berbuat apa nanti malam?" tanya Ana kepada mereka berdua.


"Apa itu?" tanya Rahma dan Indah serempak.


"Kalian harus minta jatah kalian sebagai istri." ucap Ana dengan sangat semangat.


Rahma dan Indah pun mengangguk.


Tak lama berselang kelihatan bang Ajis datang hendak menaiki tangga dengan buru-buru.


"Eee bang Ajis mau kemana?" tanya Ana yang melihatnya baru menaiki seperempat anak tangga.


"Saya harus menemui Bos.. ada berita penting." jawab bang Ajis.


"Jangan ke kamarnya bang Bima!!" cegah Ana sambil berdiri dan menghampiri bang Ajis.


"Tapi ini sangat penting Nyonya." balas bang Ajis.


"Katakan saja padaku.. biar aku yang menyampaikannya pada bang Bima." ucap Ana.

__ADS_1


"Agus hilang tak ada kabar."


***


__ADS_2