4 Istri

4 Istri
Ch 33 Pohon Mangga


__ADS_3

Ana dan Bima akhirnya sampai di hadapan pohon mangga. Tapi sayang ternyata buahnya cukup tinggi.


"Bang.. gimana ini? buahnya tinggi-tinggi." ucap Ana mendongak ke atas melihat buah mangga.


"Kayaknya harus dipanjat Na." balas Bima menatap Ana.


"Kenapa liatin aku?" tanya Ana ketika Bima menatapnya.


"Tapi aku gak bisa manjat Na." jawab Bima.


"Terus.. apa harus aku yang manjat? aku juga ga bisa bang." balas Ana kembali memperhatikan buah mangga yang di atasnya.


"Terus gimana lagi?" tanya Bima lagi sedikit pusing memikirkan caranya.


"Hm.. lihat buah yang ini bang.. kayaknya gak terlalu tinggi.. coba kamu gendong aku.. mana tau sampai kan." ucap Ana menunjuk salah satu buah yang agak rendah.


"Gendong gimana?" tanya Bima dengan bodohnya.


"Sekarang kamu jongkok.. terus aku duduk di pundak kamu lalu baru kamu angkat aku." jelas Ana pada Bima.


Bima mencoba menuruti ide Ana. Dia langsung jongkok dan Ana duduk dipundaknya. Ketika Ana sudah duduk Bima langsung mencoba berdiri, tapi sungguh ternyata Tubuh Ana sangat berat.


"Kamu kok berat amat Na?" tanya Bima yang mencoba berdiri sekuat tenaga.

__ADS_1


"Jangan banyak tanya.. ayok berdiri yang lurus." balas Ana juga mencoba mengimbangi posisinya.


Bima yang menggendong Ana cukup sulit untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ini beban terberat yang pernah ia pikul. Bagaimana tidak? ternyata berat badan Ana mencapai 55kg, sesuai dengan postur tubuhnya yang cukup tinggi berisi.


"Na udah dapat belum." tanya Bima y huang masih bersusah payah menyeimbangkan diri.


"Bang... jangan banyak goyang-goyang.. kamu kuat gak? awas nanti kalau aku jatuh." balas Ana memegang rambut Bima karena cukup merasa ngeri.


"Na.. jangan tarik rambutku.. sakit tau!!" ucap Bima ketika Ana semakin keras menarik rambutnya.


"Ya.. kamu jangan goyang-goyang." Ana mencoba melunakkan tarikannya pada rambut Bima.


"Na.. kamu pegang kepala ku Aja.. jangan pegang rambutku." perintah Bima yang kemudian Ana menurunkan tangannya dari rambut Bima. "Na.. jangan tutupi mata ku juga.. aku ga bisa liat." sambung Bima ketika tangan Ana justru malah menghalangi penglihatannya.


"Terus aku pegang apa?" tanya Ana yang semakin ketakutan.


Ana mencoba melepas tangannya. "Jangan gerak-gerak ya.. Awas kalau aku jatuh."


"Iya.. iya.. cepat ambil mangga nya!!" perintah Bima yang semakin lelah menahan berat.


"Belum nyampai bang.. kamu geser dikit ke kanan." Tapi Bima malah geser ke kiri. "Kanan bang bukan kiri!! kamu sekolah gak sih?" ucap Ana marah-marah.


"Iya maaf.." Bima bergeser ke kanan. "Udah sampai belum?" tanya Bima mencoba menstabilkan posisi berdirinya.

__ADS_1


Ana berhasil menyentuh buah mangga itu dengan ujung jarinya, tapi masih belum cukup sampai untuk memetiknya. "Bang coba kamu jinjit dikit!!" perintah Ana pada Bima.


Bima mencoba menjinjit agar Ana bisa menjangkau buah mangga itu. Dengan sekuat tenaga Bima menjinjitkan kakinya sambil menyeimbangkan diri.


"Dikit lagi bang.. lebih tinggi lagi." ucap Ana sudah sedikit bisa memegang buah mangga itu. Sekuat tenaga Bima mencoba jinjit lebih tinggi dan Akhirnya Ana dapat meraih buah mangga itu.


Dengan perlahan Bima menjongkok kembali untuk menurunkan Ana dari pundaknya. "Akhirnya." ucap Bima meregangkan bahunya.


Ana langsung tertawa. "Hahaha.. gimana aku berat gak?" tanya Ana juga sedikit merasa lega.


"Iya berat.. lebih berat dari gajah." jawab Bima kesal.


"Ah.. dasar lemah.. hahaha." balas Ana tertawa. "Gimana rasanya kalau istrimu lagi ngidam? nyusahin kan? untung gak keempat sekaligus yang ngidam.. mungkin bisa gila kamu bang hahaha." sambung Ana sambil membayangkannya.


"Ini mah hal kecil.. gak masalah buat aku kok.. santai aja." balas Bima sedikit menyombong. "Na.. kamu kenapa gak kayak Rahma dan Indah yang selalu memaksaku untuk meniduri mereka?" tanya Bima mengubah topik pembicaraan.


Dengan cepat Ana mencium pipi Bima. "Bang aku juga inginkan hal sama dengan mereka.. tapi aku gak mau membuatmu nanti menjadi suami yang gak adil." jawab Ana menatap mata Bima.


Bima tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut Ana.


"Ih.. bang Bima.. sana cepat masuk.. kak Nisa udah nungguin.." ucap Ana kesal.


"Iya.. iya.. kamu juga masuk sana.. awas nanti ketemu setan." balas Bima bercanda dan berlari masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Bang tunggu.." teriak Ana juga ikutan berlari.


Dan Akhirnya dengan tenang Bima menyerahkan mangga muda itu pada Nisa.


__ADS_2