
Ana terbangun dan mendapati hanya dirinya seorang diri di kamar Bima. Ia regangkan kembali seluruh tubuhnya lalu beranjak keluar dari kamar Bima.
Ketika sedang menuruni anak tangga, Ana mencium bau masakan yang amat enak. Belum pernah ia cium bau masakan seperti biasanya.
"Tumben bau masakannya kak Nisa seenak ini.. apa karena aku lagi lapar ya." gumam Ana dalam hati.
Karena penasaran akhirnya Ana mengikuti bau masakan itu. Rasa laparnya membuatnya ingin segera mencicipi masakan dengan bau seenak itu.
Cukup membuat Ana kaget ketika melihat bukan Nisa yang ada di dapur melainkan suaminya.
"Jadi bang Bima yang masak?.. kak Nisa mana?" tanya Ana melihat ke sekeliling dapur.
"Mungkin mereka masih tidur di kamarnya." jawab Bima dengan tetap fokus pada masakannya.
"Masih tidur? tapi tidur dimana? bukannya mereka juga tertidur di kamar bang Bima sama dengan ku." pikir Ana dalam hati.
"Oh ya bang.. luka di punggung mu sudah sehat kah?" tanya Ana sedikit khawatir melihat Bima yang sudah beraktivitas walaupun sedang sakit.
"Udah gak sakit lagi.. cuma kadang agak terasa ngilu." ucap Bima memandang Ana lalu tersenyum. "Selamat ya.. aku udah dengar tentang semua keberhasilan mu kemarin.. kamu memang istriku yang sempurna." sambung Bima.
__ADS_1
Mendengar pujian Bima cukup membuat Ana cukup tersipu malu. Nada suara Bima yang lembut memang terasa enak didengar.
"Makasih bang." ucap Ana sambil membungkukkan badan. "Aku mau ke kamar dulu.. belum mandi soalnya" balas Ana sambil meninggalkan dapur.
Ana berjalan masuk ke kamarnya. Ia membuka jendela kacanya untuk menghirup udara segar. Kemudian dia kembali berjalan dan berhenti di depan cermin alat-alat make-up nya.
"Sempurna.. apakah aku memang sempurna seperti ucapannya." gumam Ana sambil terus berpose di depan cermin.
Usai mandi Ana langsung menuju meja makan untuk sarapan. Terlihat ketiga istri Bima yang lain juga sudah duduk di meja makan itu.
Mereka kembali menyantap sarapan seperti biasa.
"Bang.. abang kan masih belum sembuh bang." balas Indah mencoba melarang.
"Iya bang.. Aku mohon untuk tetap di rumah aja.. maaf karena kata-kata ku kemarin?" sambung Ana merasa sedikit bersalah.
"Udah nggak apa-apa kok.. aku cuma mau rapat aja sambil melakukan pengecekan." balas Bima sedikit menjelaskan.
"Apa ga bisa di tunda bang?" tanya Nisa ikut bicara.
__ADS_1
"Gak bisa.. karena kalau terus di akan makin tambah banyak masalah yang akan terjadi di sana." balas Bima dengan sangat serius.
"Ya udah aku ikut.." ucap Ana dengan nada sedikit tegas.
"Ga usah Na.. kamu di rumah aja.. karena kemarin kamu sudah banyak beraktivitas di luar rumah." tolak Bima ingin agar Ana tidak pergi kemana-mana.
"Maaf bang.. tapi kayaknya kami semua gak izinin kamu pergi." balas Ana sambil berdiri bersama dengan Indah.
Dengan segera Ana dan Indah memegangi tangan Bima. "Kak Nisa bantuin sini.. kita kurung dia di kamar." kata Ana meminta bantuan Nisa dan Rahma.
Bima mencoba memberontak tapi ia tak bisa karena takut nantinya akan menyakiti istrinya. Jadi Bima hanya bisa memohon dengan kata-kata.
"Kalian semua aku mohon.. aku cuma sebentar.. please!!" pinta Bima kepada semua istrinya yang kembali membawanya ke kamar.
"Maaf bang untuk kali ini aku egois.. karena aku tidak akan membiarkan abang yang belum sembuh pergi kemana-mana." balas Nisa yang kemudian membuka pintu kamar.
"Bang aku juga minta maaf karena kali kini aku juga egois.. karena aku tidak akan membiarkan tubuh mu yang sangat aku cintai ini terluka lagi." sambung Indah yang sebenarnya hampir tak pernah bicara seperti itu sebelumnya.
Akhirnya ke empat istri itu berhasil mengurung Bima di kamar. Bima yang tak terima langsung memasang wajah cemberut.
__ADS_1
"Bang jika kamu sayang kami semua.. maka tetap lah di rumah."