4 Istri

4 Istri
Ch 20 Keadaan Bima dan Hadirnya Musuh Baru


__ADS_3

Semakin di siksa sang pelaku semakin menutup mulutnya. Ana mulai merasa kewalahan. Mungkin majikan si pelaku adalah orang yang sangat berharga baginya.


"Bang Ajis.. bawa dia ke tempat paling tersembunyi di kota ini.. kurung dia di sana dan pastikan dia tetap hidup agar terus merasakan penderitaan yang sangat menyakitkan." perintah Ana yang sudah mulai frustasi membuka mulut si pelaku.


"Baik nyonya." balas Bang Ajis dan langsung memberi perintah pasukannya untuk memindahkan si pelaku ke lokasi yang telah ia tentukan.


"Hahaha." sang pelaku tertawa. "Dengar ******.. percayalah suatu saat suamimu akan kehilangan semua hartanya dan kalian juga akan hidup menderita." ucap si pelaku dengan sinis.


"Aku tak peduli jika suamiku kehilangan hartanya.. tapi aku tak akan pernah rela jika ia kehilangan nyawanya.. bagi siapa saja yang merenggut nyawa suami ku makanya nyawanya juga bukan suatu hal yang bisa ia pertahankan dariku." balas Ana menatap tajam wajah si pelaku.


Sang pelaku lalu memalingkan wajahnya karena tatapan mata Ana yang tajam itu sangat lah menakutkan.


Bang Ajis sangat tersentak mendengar ucapan Ana. Bagaimana pun sekarang wanita ini bukan lah wanita biasa. Ia sangat yakin bersama wanita ini Bima akan meraih kejayaan tertinggi.


"Bang Ajis.. antar aku pulang.. aku mau membersihkan diri.. sehabis itu aku ingin kembali ke rumah sakit." ucap Ana sambil melangkah meninggalkan gudang tekstil tersebut.


"Baik nyonya." balas bang Ajis mengikuti langkah Ana.


Wanita ini.. ia memang bayangan Bima yang sempurna.

__ADS_1


Ana pulang dan membersihkan diri. Ia melepas pakaiannya lalu membakarnya karena ia tak akan pernah mengenakan baju dengan kenangan buruk.


Ana tidak berlama-lama di rumah. Setelah mandi berganti pakaian dan berdandan sedikit Ana langsung menuju rumah sakit bersama bang Ajis.


Dengan langkah yang amat terburu-buru Ana ingin segera melihat perkembangan kondisi tubuh suaminya. Ia langsung menghampiri Nisa yang sedang berdiri diluar.


"Kak Nisa.. bagaimana keadaan bang Bima?" tanya Ana masih sedikit cemas.


"Bang Bima udah sedikit membaik.. masuk lah kedalam.. dia ingin bicara sama kamu." jawab Nisa sambil menyuruh Ana masuk.


Ana melangkahkan kakinya dengan pelan. Dengan hembusan nafas panjang ia membuka pintu ruang perawatan dengan perlahan.


"Bang... seharusnya aku yang nanya itu sama kamu." jawab Ana lalu duduk di bangku yang ada didekat Bima. "Bang maafin aku.. karena ulahku kamu terluka." ucap Ana lalu menundukkan kepalanya.


Bima dengan perlahan menggerakkan tangannya lalu mengangkat dagu istrinya itu. "Tidak apa-apa Na.. lagian bagaimana mungkin aku tidak bisa menuruti kemauan istri ku yang secantik ini." balas Bima tersenyum manis.


"Udah sekarat masih aja nge gombal." Ana membalas senyuman Bima.


"Wanita ini.. sungguh ia seperti kucing manja ketika bersama suaminya.. tapi bagaikan singa buas yang kelaparan ketika ada yang mengganggunya dari luar." gumam bang Ajis yang melihat mereka dari luar.

__ADS_1


Bang Ajis dan tiga istri Bima yang lain akhirnya turut masuk bersama.


"Kalian semua pulang lah duluan.. kalian juga butuh istirahat." ucap Bima meminta mereka pulang dan beristirahat.


"Bang.. aku masih ingin disini.. bagaimana aku bisa pulang tanpa mu." balas Nisa memegang tangan suaminya.


"Aku juga." ucap ketiga istrinya yang lain.


"Kalau begitu saya aja yang pulang." kata bang Ajis lalu beranjak meninggalkan ruangan.


Ana langsung mengikuti langkah bang Ajis yang meninggalkan ruangan. "Bang Ajis.. makasih atas bantuannya hari ini." ucap Ana menghentikan langkah bang Ajis.


"Sudah kewajiban saya untuk bertindak ketika ada yang melukai Bima.. kamu jangan khawatir.. saat ini Agus sedang mencari informasi tentang jati diri si pelaku tersebut." balas bang Ajis kemudian meneruskan langkahnya.


Ketika bang Ajis hendak menaiki mobilnya, Agus langsung menghampirinya hendak memberikan informasi.


"Agus.. info apa yang kau dapatkan." tanya bang Ajis pada Agus ditempat parkiran.


"Aku mendapatkan satu info penting tapi aku masih meragukan itu.. pelaku itu dulunya adalah orang terdekat bu Jasmine ibu tirinya Bima." kata Agus dengan sedikit berfikir.

__ADS_1


"Tapi siapakah yang menyuruhnya melakukan itu.. bukankah bu Jasmine sendiri sudah terbunuh 4 tahun yang lalu?" bang Ajis sedikit bertanya-tanya. "Agus.. mulai sekarang kita harus berhati-hati.. mungkin orang ini adalah musuh Bima yang baru." sambung bang Ajis memperingati Agus.


__ADS_2