
"Whitney, kamu mau ke mana?" tanya seorang anak laki-laki yang berjalan mengikuti anak perempuan di depannya. Wajahnya terlihat khawatir saat anak itu berjalan semakin dalam ke hutan tanpa ragu. "Apa kamu tidak ingat larangan dari ayahmu?"
Anak perempuan itu segera berbalik dan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, matanya membulat dan mulutnya mengeluarkan suara desisan pada anak laki-laki itu, yang mengerutkan keningnya tidak terima. Isyarat untuk diam dan mendengar.
"Jangan berisik, Will," ucap anak perempuan itu. "Aku ingin melihat sesuatu."
"Sesuatu apa?"
Anak perempuan itu hanya tersenyum penuh arti dan memperlihatkan matanya yang berkilat merah jenaka. "Ikuti aku kalau kamu ingin tahu."
"Tapi—"
Whitney kembali mendesis menyuruhnya diam lalu melanjutkan langkahnya memasuki hutan. Will yang berada di belakangnya hanya bisa merengutkan wajahnya sambil terus mengikuti anak perempuan itu, dia tidak punya pilihan karena ayah Whitney sudah memintanya untuk menjaga putrinya dengan baik. Dia tidak ingin mengambil resiko meninggalkannya sendirian tanpa pengawasan.
Di sisi lain, Whitney berjalan semakin dalam memasuki hutan, menyingkirkan dahan dan ranting yang menjulur keluar untuk mempermudahnya lewat sambil mengikuti bebauan samar yang tercetak di pohon-pohon yang dia lewati. Terdapat beberapa bekas goresan pendek dan dangkal yang menghiasi pepohonan tersebut, terlalu dangkal dan tidak terlihat jika tidak diamati dengan sangat baik.
Orang itu benar-benar menepati janjinya.
Anak perempuan itu akhirnya menghentikan langkahnya ketika bebauan samar itu tercium lebih kuat, goresan di pohon yang berdiri di sebelahnya pun kali ini lebih panjang dari sebelumnya sehingga dia tahu kalau ini merupakan tempat perjanjiannya. Kepalanya segera menoleh kesana-kemari untuk melihat apakah ada vampir dewasa yang kemungkinan sedang bertugas mengawasi daerah terlarang tersebut. Dia tidak ingin kalau salah satu vampir dewasa yang menyebalkan mengetahui siapa yang akan dia temui sekarang.
"Kamu kenapa?" tanya Will pelan. Dia masih tidak mengerti alasan Whitney memasuki hutan terlarang bagi anak-anak vampir seperti mereka, walaupun mereka sudah melalui usia awal itu beberapa hari yang lalu.
Whitney menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Matanya melihat ke sekeliling lagi sebelum berucap pelan. "Thomas?"
Mereka menolehkan kepalanya cepat ketika beberapa detik kemudian sesosok anak laki-laki lain seumuran mereka muncul dari balik pepohonan yang berada di depan mereka. Dia terlihat sangat berantakan dengan rambut acak-acakan dan baju penuh goresan, wajahnya tercoreng moreng dengan tanah dan jari kukunya kecoklatan kotor.
Will menatap anak laki-laki itu sangat lekat ketika bau yang memuakkan langsung terhirup oleh hidungnya, bau anjing basah yang tidak dimandikan selama sebulan. Salah satu matanya berkilat kuning sebelum dia berkedip, menunjukkan warna coklat gelap dari sepasang matanya.
"Hai, Whitney," sapa anak laki-laki berambut hitam itu tersenyum dan kemudian mengangguk kearahnya. "Hai juga, Will."
Will merasakan tubuhnya membeku, terkejut. Dia melirikkan matanya ke arah Whitney yang masih tampak santai dan malah memberikan senyum khasnya pada anak laki-laki itu. "Hai, Thomas."
"Kalian...." Will memaksakan dirinya untuk mengucapkan beberapa patah kata ketika melihat dua anak laki-laki dan perempuan itu masih saling bertukar senyum. ".... sejak kapan?"
"Dua bulan yang lalu," jawab Whitney menoleh pada Will dengan senyum cerah di wajahnya. "Ternyata werewolf tidak seburuk yang ayah katakan padaku, Will."
"Vampir juga tidak seburuk dengan cerita turun-temurun dari kawanan kami," tambah anak laki-laki tersebut tersenyum samar, menunjukkan lesung pipit di pipi kirinya.
__ADS_1
Will hanya bisa terdiam mendengar tanggapan teman kecilnya tersebut, terlalu terkejut hingga dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya mengenai hal ini.
"Kalian sudah gila," ujar Will pelan. "Apa kalian tidak tahu dengan resikonya?"
Anak laki-laki itu meringis. "Aku tahu resikonya."
"Aku juga tahu," balas Whitney acuh tak acuh. "Kenapa kita harus mempedulikan hal itu? Aku tidak melihat alasan yang cukup penting untuk mematuhinya."
Will segera menolehkan kepalanya pada anak laki-laki itu. "Kau tidak memberitahunya?"
"Memberitahuku apa?" tanya Whitney sebelum anak laki-laki itu memberi jawaban.
"Dia Thomas Graymark, putera dari John Graymark—alpha saat ini."
Whitney mengerutkan keningnya. "Lalu? Apa ada masalah dengan fakta itu?" tanyanya lagi.
Will menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi, matanya mulai berkilat merah saat dia berusaha mati-matian menahan ucapan yang berada di ujung lidahnya ketika melihat tatapan Whitney yang berubah menjadi mengancam. Secara otomatis dia dibuat tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu, tubuhnya tidak bisa bergerak.
Whitney segera mengalihkan pandangannya setelah itu lalu berkedip beberapa kali sebelum kembali menatapnya lagi. Will yang sudah terbebas menghela napas lega.
".... Tidak apa-apa."
Whitney menghela napas. "Baiklah ... aku sangat tahu dengan maksudmu, Will. Aku tahu kalau ini sangat berbahaya," ujar Whitney mulai terlihat tenang. " Kami juga sudah membicarakan semuanya, berdiskusi diam-diam selama beberapa hari ini, tapi karena kami masih kesulitan, aku juga membawamu ke sini sebagai pendapat tambahan."
"Membicarakan apa?" tanya Will. "Aku tidak mengerti maksudmu."
"Aku ingin mengakhiri segala permusuhan di antara kaum vampir dan werewolf, diantara kita semua," jawab Whitney menoleh ke arah Thomas, memberi sebuah senyum samar. "Thomas juga ingin melakukan hal yang sama."
"Bagaimana caranya?" tanya Will terdengar tidak percaya. "Kaum kita sudah bermusuhan sangat lama, sejak awal kita memang dibuat untuk saling bermusuhan akibat banyak hal yang bertentangan antara satu sama lain. Kalian tahu itu kan?"
"Kami tahu," ucap Whitney tenang. "Karena itu kami berusaha menyatukan segala perbedaan. Aku dan Thomas akan mulai membicarakan hal ini dengan teman kami masing-masing hingga akhirnya sampai ke ayah kami."
Will menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi, kepalanya terasa pening setelah mendengar penjelasan Whitney yang kekanakan dan terlalu mustahil untuk dilakukan. Tidak mungkin kalau vampir dan werewolf lain dapat menerima segala dorongan untuk bersatu dari anak-anak seperti mereka, sekalipun mereka berdua memiliki posisi penting
"Pemikiran kalian terlalu dangkal," ujar Will. "Apa kalian tidak punya cara lain yang lebih meyakinkan?"
Mereka menggeleng. "Kita akan memikirkan cara lain untuk vampir-werewolf dewasa dan juga ayah masing-masing...."
__ADS_1
".... jadi kamu harus membantu kami, Will," tambah Whitney kembali tersenyum cerah.
~▪︎~▪︎~▪︎~
Diskusi mereka berjalan dengan lancar.
Whitney dan Will selalu mencari waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu, juga alasan yang bagus untuk orangtua mereka saat mereka kembali terlambat. Thomas juga mulai tidak muncul mendadak seperti yang dilakukan pada awalnya dan lebih rapi dari sebelumnya.
Mereka mengumpulkan informasi mengenai kemungkinan rujuknya kaum mereka terhadap satu sama lain, tapi tidak terlihat catatan yang bisa mereka jadi rujukan sehingga mereka mengambil contoh dari artikel manusia dan mengaplikasikannya pada kehidupan mereka.
Will menjelaskan kehidupan mereka sebagai vampir, sedangkan Thomas menjelaskan kehidupan sehari-hari para werewolf. Whitney menambahkan detail penjelasan Will dan menyetuskan gagasan setiap dia memikirkan sesuatu. Beberapa kali mereka juga mengobrol biasa untuk refreshing, dengan mengobrol tentang keseharian mereka, sehingga semakin lama mereka bertiga semakin akrab.
Tiga bulan kemudian Whitney dan Thomas tertangkap oleh salah satu vampir dewasa yang sedang berpatroli. Saat itu mereka kembali berdiskusi di tempat yang sama tanpa kehadiran Will, mereka terlalu serius melakukan pembicaraan hingga tidak menyadari sosok vampir yang berdiri di belakang mereka.
Mereka berdua segera dibawa ke hadapan ayah Whitney dalam keadaan berusaha melepaskan diri. Ayah Whitney terlihat sangat murka saat melihat puterinya berdiri berdampingan dengan putera dari musuhnya. Dengan isyarat tangan dia menyuruh puterinya dibawa oleh para pelayan ke dalam kamar sedangkan Thomas dibawa kembali ke perbatasan dengan didampingi 3 vampir dewasa.
Whitney dikurung selama 1 bulan di kamarnya, tidak boleh keluar kecuali mendapat izin dari ayahnya dan didampingi oleh seorang pelayan. Will yang baru kembali dan tidak tahu apa yang terjadi pun tidak boleh berkunjung ke kamarnya sama sekali.
Ayah Whitney segera membuat keputusan untuk memperketat pengawasan wilayah, dia juga membuat kesepakatan untuk pertama kalinya bersama ayah Thomas untuk menghukum siapa saja yang melewati perbatasan tersebut tanpa ampun.
Kesepakatan berjalan dengan lancar, mereka menandai garis perbatasan tersebut di tempat Whitney dan Thomas bertemu. Garis tersebut terbuat dari campuran wolfbane, perak dan besi, melebar dari ujung ke ujung dan dibuat oleh bantuan pelayan manusia serta perempuan keturunan werewolf yang tidak bisa berubah.
Dan secara tiba-tiba sebuah insiden kecil yang berakibat fatal pun terjadi setelah beberapa tahun kesepakatan dibuat.
Adik Thomas, Steven, melanggar kesepakatan karena kecerobohannya dan Lawson, sahabat Steven yang melihat kejadian tersebut, segera kabur dan melapor pada ayah Thomas tanpa memberitahu kesepakatan yang telah dilanggar terlebih dahulu. Ayah Thomas segera gelap mata setelah mendengar kabar pembunuhan anaknya oleh para vampir penjaga perbatasan.
Saat malam tiba, Whitney yang mendengar keributan dari dalam kamarnya segera turun ke bawah dan melihat ayahnya beserta para pelayan laki-laki dan perempuan bertarung dengan banyak serigala yang mengamuk. Gadis itu terlalu terkejut hingga tidak berbuat apa-apa dan mematung, menyaksikan pembantaian para pelayan dan ayahnya yang kewalahan.
Jantungnya serasa diremas kuat ketika beberapa saat kemudian matanya menangkap kelebatan sosok serigala yang tampak familiar menyergap ayahnya dan segera memisahkan kepala ayahnya dari tubuhnya. Dia melihat dengan jelas sosok itu berubah menjadi Thomas, laki-laki itu menuangkan air suci pada tubuh ayahnya yang langsung melepuh dan kemudian membakarnya dengan api.
Whitney merasa tubuhnya ditarik dan diajak berlari keluar melintasi halaman belakang rumahnya oleh Will. Perasaannya hampa saat mereka berhenti berlari dan Will bersaha menyadarkan dirinya dengan mengucapkan serentetan kata lembut serta menenangkan untuk dirinya.
Tapi hal itu sudah tidak berarti apa-apa bagi gadis tersebut. Dia sudah menyimpan semua kejadian itu di hatinya yang perlahan membeku.
Tidak ada lagi persatuan, tidak ada lagi keceriaan dan tidak ada lagi kedamaian untuk kaum werewolf. Dia telah membuat keputusan.
Roda balas dendam berputar.
__ADS_1