
Wayne mendapati Emily yang limbung, secara otomatis tubuhnya bergerak untuk menangkap cewek itu dan memeluknya. Bobot tubuhnya membuatnya terengah, tapi tubuhnya terasa sangat pas dalam pelukannya, napasnya terdengar teratur seperti sedang tertidur. Pandangan mata laki-laki itu langsung terfokus pada Cara yang terlihat tidak senang di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Membuatnya tertidur sekalian menjadikanmu milikku, tentu saja. Memang apa lagi?" jawab Cara dengan pertanyaan retoris. Dia mengalihkan pandangannya pada Jordan dan mengedikkan dagunya ke arah mereka. "Ikat dia dengan erat. Lalu kamu," Dia menunjuk sembarang vampir. "Bantu Jordan."
Jordan tidak membantah dan segera mendekati Wayne. Dia terlihat memeluk Emily seerat mungkin, tidak mau melepaskannya. Vampir itu menghela napas. "Jangan buat menjadi sulit, lepaskan dia lalu kembali lah ke rumah."
"Tidak bisa."
"Kenapa? Apa kamu merasakan tanggung jawab untuk melindunginya?"
Wayne tidak menjawab, dia sedang berpikir. Fisiknya manusia, tapi dia dapat merasakan kekuatan cewek pengubah wujud itu mengalir di dalam tubuhnya. Jika berlari dengan membawa bobot dua orang sekaligus, meskipun dengan kekuatan tambahan, dia tidak yakin dengan rencananya untuk menembus sekumpulan vampir yang ada di sekeliling mereka sekaligus. Mereka terlalu banyak.
"Wayne, kemarilah."
Dia menolak untuk menatap perempuan itu, dari nada suaranya dan hawa sekelilingnya, dia dapat merasakan kekuatan pengendali Cara sedang mencari celah untuk menguasainya juga. Tentu saja dia tidak dapat membiarkan itu. Tanpa berpikir lagi, dia akhirnya memutar tubuhnya bersama Emily di dekapannya dan berlari secepat mungkin menerobos para vampir.
Tidak ada yang menghentikannya ketika dia tetap berlari tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia hanya berlari mengikuti insting dan ingatannya yang samar saat melewati hutan, masuk kembali ke daerah perumahan dan terus berlari hingga mencapai wilayah perbatasan.
Wayne berhenti sesaat untuk mengatur napasnya yang masih memburu. Wilayah netral itu kosong, dia tidak melihat atau merasakan keberadaan vampir lain di sekelilingnya seperti biasanya. Seharusnya aman jika berhenti di sini sesaat, dia cukup lelah dan terkejut karena bisa melewati sekawanan vampir itu dengan cepat.
Dugaannya salah.
"Emily!"
Wayne serta merta berbalik dan menatap seorang perempuan yang lebih muda, darinya dan Emily, mendekati mereka. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan mengikutinya dari belakang. Kelima orang itu memiliki kesan yang sama seperti Emily, tapi perempuan yang mendekati mereka pertama kali serta laki-laki yang lebih jangkung memiliki kesan yang jauh lebih kuat.
"Siapa kalian?"
Perempuan berambut merah mengabaikan pertanyaannya. "Apa yang terjadi padanya?"
"Kami teman Emily," jawab perempuan yang pertama mendekatinya menenangkan dengan senyuman. "Aku Allison, ini Dave dan adiknya Emily, Hans. Lalu yang bertanya—"
"Aku Chloe, dia Grace." Potong perempuan berambut merah itu. "Bagaimana keadaannya? Kita harus memeriksanya."
"Dia tidur, seorang vampir menyuruhnya."
__ADS_1
"Lalu kamu tidak menghentikannya?" Chloe menatapnya dengan pandangan menusuk yang terlihat menakutkan.
Allison menyentuh pundak perempuan itu. "Tenanglah, Chloe. Dia manusia." Dia menoleh ke arah Wayne. "Apa kau mate-nya?"
"Ya."
"Bagus—"
Allison memutus ucapannya dan menatap ke belakangnya. Wayne merasakan dirinya ditarik ke depan secara tiba-tiba, si cowok jangkung dan seorang cewek yang belum mengucapkan apa-apa sedari tadi segera membuat posisi untuk menghalangi mereka dari pandangan para pendatang.
"Wah, wah, ada apa ini? Kita kedatangan tamu yang menarik."
Wayne dapat merasakan ketegangan yang mengalir dari orang-orang yang ada di sekitarnya, tapi Allison, yang pertama kali berbicara dengannya, terlihat lebih tenang. Dia dapat merasakan ketegasan samar dari suaranya.
"Kami datang untuk menjemput anggota kami," ujarnya.
"Tentu, silahkan." Jordan menjawab tanpa ragu. "Kami tidak peduli dengan makhluk bulu itu, tapi manusia itu tidak boleh ikut. Benar kan, Cara?"
"Benar. Dia sudah seperti keluarga bagi kami."
Seseorang mendengus tertawa mendengar ucapan itu. Wayne menatap bahu perempuan yang belum berbicara itu bergerak seperti menahan tawa, sebaliknya, laki-laki yang berada di sampingnya terlihat menghela napas lelah.
"Grace ... jangan."
Grace, cewek itu, menghentikan tawanya dengan terbatuk lalu tersenyum. "Tentu saja ada, lucu sekali malah. Apakah 'keluarga' kalian selalu main kejar-kejaran dengan vampir sebanyak ini?" Dia membuat gerakan yang menunjukkan sekumpulan vampir yang dikendalikan di belakang Cara dan Jordan. "Dan mata mereka, ya ampun, apa kalian tidak bisa lebih jelas lagi?"
"Yah ... mata mereka memang terlalu kentara." Jordan menatap vampir-vampir lain yang berada di sekitarnya lalu mengedipkan sebelah matanya pada Grace. "Aku suka kejujuranmu."
Perempuan itu mendengus, tersenyum miring mendengar tanggapan Jordan. "Terima kasih."
"Wayne sudah menjadi anggota kelompok kami, jadi dia ikut," ujar Allison mengembalikan pembicaraan utama mereka. "Kuharap kalian bisa membiarkan kami pergi karena sudah berada di wilayah netral."
"Tidak bisa. Emily memasuki wilayah ini tanpa ijin dan membuat kekacauan, apa menurutmu kami dapat membiarkan hal itu?" tanya Cara retoris.
Allison terdiam. Chloe yang sebelumnya terlihat percaya diri juga tidak melakukan apapun. Mereka seperti terjebak karena ketidaksiapan mereka mengenai hal ini.
"Tidak bisa menjawab kan?" Cara tersenyum meremehkan. "Serang mereka! Jangan biarkan manusia itu terluka."
__ADS_1
Para vampir itu segera bergerak sesuai komando.
"Ikuti aku."
Wayne tersentak merasakan sentuhan di pundaknya, tapi ketika menoleh, seekor serigala berbulu keabu-abuan menyambut pandangannya. Serigala itu membuat gestur agar dia segera naik, laki-laki itu menurut dan segera menaikinya bersama Emily.
Serigala itu berlari dengan cepat, kembali ke wilayah vampir. Bepegangan di bulu serigala itu cukup sulit, ditambah dia juga harus menahan Emily agar tidak terjatuh dengan tubuhnya, tapi serigala ini kelihatan berlari dengan memperhitungkan ranting atau sesemakan yang berada di jalur mereka sehingga dia tidak mengalami tambahan kesulitan.
Serigala itu berhenti di bagian dalam hutan. Wayne segera turun dan melihat sosok itu mewujud kembali menjadi sosok yang terlihat tidak asing.
"Harusnya dia sudah bangun, kita sudah cukup jauh dari vampir itu."
"Sepertinya begitu ... tapi dia cukup kelelahan."
Hans menatapnya. Dilihat dari dekat, laki-laki itu semakin mirip dengan kakaknya. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak ingat pasti, tapi mereka sudah mengganggunya akhir-akhir ini. Karena aku."
Hans menatapnya lalu kepada kakaknya dan menggelengkan kepala. "Bukan salahmu, kakakku memamg keras kepala dan dia berniat melindungimu tanpa mempedulikan dirinya, tentu saja dia lelah."
Wayne mengusap rambut hitam Emily yang tetap rapi di pangkuannya. "Aku benar-benar lemah."
"Tidak terlalu." Hans mengulurkan tangannya pada Wayne. "Kemarikan tanganmu dan posisikan kepala Emily agar sedikit tegak, biarkan mulutnya terbuka."
Laki-laki itu melakukan apa yang harus dilakukan dan mengulurkan salah satu tangannya. Hans dengan cepat menggores kecil pergelangan tangannya lalu menempelkannya pada mulut Emily yang terbuka.
Awalnya tidak ada tanggapan, tapi kemudian mulutnya mulai bergerak selama beberapa saat dan jilatan terakhir menyusul. Emily membuka matanya, menatap Hans yang meraih salah satu tangan kakaknya itu dan menggenggamnya dengan erat, lalu mengalihkan pandangannya pada Wayne. "Kenapa lama sekali?"
"Dia tidak tahu. Harusnya kamu memberitahunya sebelum 'tertidur'."
"Aku tidak sempat. Bayangkan jika kau terkepung satu kota vampir? Panik? Ya. Apalagi aku hanya sendiri dan saat itu Wayne belum sadar." Perempuan itu berusaha bangkit untuk duduk lalu sedikit mengerang karena sisa wolfsbane di paru-parunya. Ekspresinya menunjukkan ketidaknyamanan dengan jelas.
"Tidak usah menatapku begitu, aku tidak apa-apa," ujarnya sedikit tersenyum lalu meraih wajahnya dengan salah satu tangannya. "Aku tidak menyalahkanmu atas apa yang terjadi, oke? Tujuanku memang untuk merebutmu kembali."
Wayne terdiam melihat senyuman di wajah Emily lalu terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba saja mendarat di bibirnya, mulutnya terasa kaku karena masih kaget sehingga Emily harus membujuknya. Darah segera terkecap di lidahnya ketika mulutnya membuka dan kemudian ciuman itu berakhir.
"Mate-ku." Senyum Emily terlihat sempurna di wajahnya. "Akhirnya."
__ADS_1
Laki-laki itu memberinya kecupan balasan, ikut tersenyum menatap pasangan sehidup-sematinya. "Aku kembali, Em."