A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.19


__ADS_3

"Bagaimana kamu bisa tahu kalau mereka mate?" tanya Zee yang masih terlihat tidak percaya dengan tebakannya yang benar. "Sejauh ini, kakakmu masih terlihat biasa saja. Kamu tahu sendiri kan, kalau mate yang baru bertemu itu biasanya...."


Lilian tahu apa yang ingin dikatakan oleh Zee. Wajah mereka sama-sama memerah karena sudah mengetahui apa yang terjadi saat mate bertemu untuk pertama kalinya.


Mate, merupakan pasangan yang sudah ditentukan oleh takdir yang mengikat, akan membuat laki-laki dan perempuan dalam ikatan tersebut menjadi mendambakan kehadiran satu sama lain. Belum ada seorang pun yang bisa menyangkal hasrat tersebut untuk kali pertama, tapi hal itu akan berbeda jika keduanya sudah pernah bertemu tanpa sepengetahuan yang lain.


"Mereka sudah pernah bertemu sebelum ini. Kamu juga tahu kan?"


Zee tampak bertanya-tanya sebelum menyadari apa yang dikatakan oleh Lilian. "Ah, benar! Kejadian waktu itu ya? Aku sempat melupakannya karena terlalu sibuk di restoran, tugas rumahku juga masih menumpuk."


"Iya. Makanya jangan menunda mengerjakan tugas, kamu jadi keteteran kan waktu itu?"


Cewek itu mengangguk. "Sudah jangan dibahas lagi, kita kan lagi bahas kakakmu...."


"Iya, hehe. Maaf."


"Jadi.... apa rencanamu sekarang? Mendengar perkataanmu saja sudah terdengar sulit karena pembawaan Grace dan kakakmu yang saling bertolak belakang," ujar Zee terlihat berpikir. "Aku juga mendapat kesan kalau hubungan mereka belum sedekat mate biasanya."


Lilian menjentikan jarinya. "Nah, hal itu adalah sesuatu yang masih harus kita pikirkan."


"Kukira kamu sudah tahu karena mengatakan tujuanmu lebih dulu."


"Itu supaya aku lebih semangat. Kamu juga tertarik untuk membantuku kan?" tanya Lilian retoris.

__ADS_1


Dia juga tahu kalau hubungan Stefan dengan Grace belum cukup baik. Lilian tahu jika beberapa hari lalu kedua orang itu bertemu secara diam-diam, tapi setelah itu belum ada perkembangan lain yang menunjukkan kemesraan mereka.


Rencananya untuk menyatukan mereka di dapur pun mungkin belum membawa perubahan apapun, tapi tidak ada salahnya mencoba walaupun hanya sedikit memberi efek, dari pada tidak ada usaha sama sekali.


"Tentu saja aku akan membantu. Aku juga ingin kawanan kita kembali seperti dulu, tanpa perpecahan atau dua kubu seperti ini," ujar Zee terlihat bertekad, sama seperti dirinya.


"Aku berterima kasih karena kamu mau mendengarkanku, Zee."


Zee tersenyum kecil. "Tidak usah seperti itu. Mau bagaimana pun juga, setiap anggota kawanan adalah keluarga. Hanya mendengarkanmu bercerita dan membantu bukanlah apa-apa."


"Aku harap Grace mau membantu kawanan kita dalam menyelesaikan masalah ini."


Cewek itu tidak berharap kalau apa yang diinginkannya akan berjalan dengan cepat. Dia dan para anggota lain, begitu juga dengan kakaknya, masih dalam tahap beradaptasi dengan restoran dan bagian pekerjaan masing-masing.


Kehadiran Grace dan Chloe merupakan angin segar dalam kawanan mereka, tapi kedua orang itu jelas butuh waktu juga untuk beradaptasi dengan anggota kawanan lain. Tentu saja mereka tidak bisa langsung memaksa keduanya untuk bekerja sama. Berpisah dari kawanan mereka saja pasti sudah sangat sulit.


"Oh ya, siapa saja yang tahu kalau Grace adalah mate kakakmu?" tanya Zee tiba-tiba.


Lilian langsung nenjawab dengan yakin. "Setahuku, hanya kita yang tahu. Kamu orang pertama yang kuberi tahu mengenai hal ini."


"Kamu belum memberitahu Bram?"


Zee kembali terlihat kaget. Jika bukan Stefan yang paling mengetahui kabar terbaru dari Lilian, maka Bram lah yang menjadi urutan berikutnya. Cewek itu selalu membagi kabar lebih dulu kepada salah satu dari mereka sebelum menyebarkannya pada anggota lain.

__ADS_1


"Iya, itu bukan masalah besar kan? Kakakku pasti akan mengumumkannya juga nanti," ujar Lilian tenang. "Lagi pula... Bram akhir-akhir ini lelah karena mendapat giliran jaga malam, aku tidak ingin menganggu waktu istirahatnya."


Cewek itu akhirnya mengerti tentang alasan perilaku Lilian yang tidak biasa itu. "Pantas saja...."


Lilian hanya tersenyum sebagai balasan sementara Zee menggerutu, tidak henti membandingkan ikatan antara Lilian dan Bram yang sudah seperti mate dewasa, dengan cewek itu dan mate-nya sendiri yang masih seperti musuh bebuyutan meski hanya setahun lagi sebelum waktu mereka tiba.


Mereka mengobrol beberapa lama sebelum Zee akhirnya berpamitan. Lilian mengantar kepergian cewek itu sambil menatap ke arah rumah yang berada di hadapannya. Tempat tinggal pamannya. Lampu-lampunya sudah padam seperti biasa, tapi Lilian merasa kalau pamannya masih terbangun di suatu ruangan, membaca buku koleksinya sebelum tidur, sama seperti kegiatan rutin mereka beberapa tahun yang lalu.


"Apa paman akan tetap mengijinkanku membaca setiap malam di sini?" tanya Lilian saat itu, di perpustakaan yang berada di ruangan bawah tanah rumah pamannya.


Tempat yang biasanya lembab dan hanya berisi perabotan tidak terpakai, sudah disulap oleh pamannya menjadi ruangan yang terasa nyaman dengan banyak buku yang tersusun di beberapa rak buku. Terdapat dua kursi malas dengan meja kecil yang digunakan untuk cemilan kering dan meletakkan buku yang sedang dibaca di sana.


Aliran udara pun sudah dibuat dengan baik sehingga perpustakaan itu selalu membuat Lilian betah menghabiskan waktu sepanjang hari, jika sedang tidak ingin bernain dengan anak-anak lain. Sering kali, anak cewek itu akan terlihat tidur setelah menghabiskan satu sampai tiga buku cerita di hari yang sama, tanpa merasa bosan sedikit pun.


Pamannya mengangguk untuk menanggapi pertanyaannya. "Tentu saja boleh. Kamu bisa menggunakan ruangan ini sesukamu, Lilian."


Saat itu Lilian langsung merasa kegirangan dan memeluk pamannya erat. Laki-laki yang masih lebih muda dari masa sekarang itu berpura-pura kesakitan agar keponakannya tertawa, tapi juga membuat anak cewek itu melepaskan pelukan mereka agar bisa menggendongnya di punggung.


Ruangan itu sudah seperti tempat persembunyian dan rahasia bagi mereka berdua. Tidak ada yang mengganggu keduanya jika sedang berada di sana, bahkan Stefan maupun orangtuanya jika ikut mampir ke rumah pamannya.


Sebagai ganti dari ketidakhadirannya dan sang paman, bibinya akan mendampingi anggota keluarganya yang lain dan membuat berbagai kudapan lezat untuk menemani hari mereka ketika berkumpul bersama. Keluarga mereka pun kemudian didatangi oleh anak-anak dari anggota kawanan lain yang tertarik dengan harum roti manis yang baru selesai dipanggang.


Itu adalah salah satu masa paling indah dan menyenangkan bagi Lilian, bahkan hingga sekarang. Dia termenung.

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan itu, Paman?" Lilian bertanya meski tahu jika tidak ada yang akan menjawab.


Cewek itu menghembuskan napas panjang setelah terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya menutup pintu, meninggalkan suasana sepi kawanan di balik pintu rumahnya.


__ADS_2