A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.2


__ADS_3

"Semuanya sudah dibereskan?" tanya kakaknya ketika dia mendekati kendaraannya. Motor besar yang sudah dimiliki cowok itu setelah transformasinya menjadi serigala, hadiah dari orangtua mereka.


"Sudah! Kakak sudah menunggu lama?"


Kakaknya itu mengacak rambut pendeknya dengan sayang. "Belum lama, aku baru sampai setelah mengirim pesan itu padamu."


Dia sedikit meringis mendengar ucapan kakaknya. Kalau sesuai perkataannya, dia pasti sudah menunggu lebih dari setengah jam. Cewek itu menyalahkan dirinya yang terlalu sibuk membungkus sampel makanan yang belum disentuh pelanggan tadi dan mencuci peralatan masak yang digunakannya sebelum akhirnya membuka telepon genggam untuk mengecek jam.


"Maaf kak...."


Cowok itu mengangkat alisnya. "Buat apa? Kamu kan adikku. Ayo naik, kamu pasti lelah."


Lilian tersenyum cerah. Dia menerima helm yang diulurkan oleh kakaknya itu sebelum naik ke motor.


Perjalanan dari pusat perbelanjaan ke rumah mereka tidak terlalu lama. Arus lalu lintas yang lancar setelah mereka melewati jalan raya, dapat dilalui dengan mudah oleh kakaknya. Pemandangan yang sebelumnya dipenuhi dengan berbagai gedung, digantikan dengan toko dan perumahan hingga tiba di padang rumput yang luas dengan beberapa pepohonan.


Hutan yang mulai terlihat seakan menyembut mereka dengan hembusan angin. Lilian mengeratkan pelukan pada pinggang kakaknya saat cowok itu berbelok ke sisi hutan dan melaju di permukaan tanah yang tidak rata.


"Bukannya kita ke restoran dulu kak?"


Biasanya mereka mampir ke restoran untuk menyusun peralatan yang sudah mereka siapkan bersama yang lain. Kemarin mereka sudah selesai membersihkan tempat yang tidak pernah digunakan itu dan meletakkan beberapa perabotan yang diperlukan untuk retoran. Harusnya hari ini mereka melanjutkan kegiatan itu lagi agar kurang dari seminggu, restoran mereka akan bisa dibuka dan beroperasi.


"Hari ini tidak usah, yang lain juga akan pulang sebentar lagi. Besok pagi kita baru akan ke sana."


"Persiapannya sudah beres?"


"Tinggal sedikit lagi. Makanya hari ini kita harus istirahat yang cukup supaya restorannya segera siap."


"Oke!"


Sebuah pos penjaga mulai terlihat di jarak pandang mereka. Mereka sudah sampai di rumah.


"Lilian, Stefan, kalian sudah kembali."


"Hai, Bram." Lilian menyapa riang cowok yang menyambutnya dan kakaknya dengan wajah masam yang tidak pernah berubah. "Bagaimana penjagaannya?"


"Membosankan dan banyak nyamuk."


Cewek itu tertawa. Stefan menepuk pundak cowok yang masih terlihat menggerutu itu, menyemangati. "Terima kasih, Bram. Kalau begitu aku akan mulai menempatkanmu untuk tugas pagi di minggu depan, supaya nyamuknya berkurang."


"Pagi-pagi?"

__ADS_1


Kakaknya mengangguk.


Bram segera menghela napas panjang. "Tidak perlu, aku lebih suka bangun siang."


"Baiklah." Cowok itu tersenyum kecil lalu menoleh ke adiknya yang kembali tertawa. "Ayo turun, Lilian. Kamu pulang duluan."


Lilian menghentikan tawanya. "Kakak mau ke mana?"


"Ke restoran, tidak lama kok."


"Oke...."


Kakaknya kembali mengacak rambutnya lalu segera pergi.


Lilian menatap sosok kakaknya yang mulai menjauh dengan muram. Sejak penggantian Alpha di kawanan mereka, beberapa pos penjaga dibangun tepat di empat titik terluar perumahan. Keadaan kawanan mereka tidak terlalu baik. Walaupun kakaknya berkata kalau dia hanya ke restoran, cewek itu tahu kalau Stefan masih harus mengurus hal yang lain mengenai kawanan mereka bersama beberapa anggota yang kompeten.


Kakaknya yang selalu baik hati, dapat diandalkan dan tulang punggung dari kawanannya. Dia merasa bersyukur masih berada bersamanya dan mendapati kasih sayang yang sama besar dengan yang dimiliki kedua orangtuanya. Tapi terkadang dia berharap supaya Stefan juga lebih memperhatikan dirinya sendiri.


"Kamu sudah makan?" tanya Bram memutus lamunannya.


"Belum, aku akan makan sampel dari tadi sore," ujarnya tersenyum. "Bram mau?"


Dia menggeleng. "Ada pai apel di rumah Yosie, dia menyisakan itu untukmu."


"Sama-sama, jangan buru-buru."


"Iyaa."


.


Tidak banyak yang bisa dilihat Grace seusai dari pusat perbelanjaan. Niatnya untuk melanglang buana sampai malam segera pupus setelah mengingat kalau dia sendirian. Cewek itu hanya sempat mampir untuk membeli beberapa kotak ayam dan cola besar lalu kembali ke rumah. Kalau dia mengajak Hans, mungkin saja dia bisa berjalan-jalan lebih jauh lagi.


Yah ... mungkin lain kali.


Theo dan si kembar sudah menunggunya saat dia tiba. Mereka langsung menghampiri mobil dan mengambil belanjaannya yang cukup banyak.


"Woah, ada ayam." Theo menatap barang bawaan Jean yang penuh dengan kotak ayam dengan pandangan lapar.


Jena yang berada di sampingnya terlihat meneguk ludah sambil meraih dua botol cola yang sebelumnya berdampingan dengan kotak ayam. "Pasti enak...."


"Minggir, aku mau lewat!" Jean yang sudah mulai keberatan barang bawaan segera mendorong cowok itu dan kembarannya lalu berderap menuju rumah. Theo dan Jena mengikutinya di belakang sambil mengaduh.

__ADS_1


Hanya beberapa anggota kawanan yang terlihat. Grace tidak melihat Hans maupun Dave, Allison pasti bersama mereka. Akhir-akhir ini, meskipun latihan hanya dilakukan sebelum makan siang, mereka bertiga selalu menghilang sampai waktu makan malam tiba.


Chloe bilang itu adalah latihan khusus agar Allison bisa beradaptasi dengan kehidupannya sebagai werewolf, sekaligus mempelajari posisinya sebagai Alpha. Sedangkan alasan Hans bersama mereka agar transformasinya yang tertunda akibat racun vampir bisa berjalan kembali dengan normal. Adiknya memang luar biasa.


Cewek itu sempat mengintip apa yang ketiga orang itu lakukan sampai bisa menghabiskan waktu selama itu, tapi dia hanya dapat menemukan mereka bermeditasi di bawah sinar matahari. Setelah Dave memergokinya mengintip, Grace tidak lagi berusaha mengikuti mereka supaya bisa mendekati Hans diam-diam. Walaupun tidak ingin mengakuinya, pelototan adiknya yang lebih kalem itu lebih menakutkan daripada amarah Chloe.


"Malam ini siapa yang memasak?"


"Karena ada ayam harusnya gak ada yang perlu dimasak lagi kan?" tanya seseorang.


Emily yang main game bersama Wayne menyahut. "Masih kurang kenyang. Iya kan, Wayne?"


"Hm, iya...."


"Oke, jadi malam ini siapa yang bertugas?" tanya Grace lagi. "Aku mau nyobain resep, kalau gagal aku bakal ngajak kalian semua makan gratis di restoran."


"Serius?"


"Iya. Kalau gak ada yang ngaku, berarti batal."


Dua orang cewek yang bermain bersama Emily dan Wayne segera mengangkat tangannya. Grace menghampiri mereka dan menjabarkan apa yang mau cewek itu buat untuk makan malam.


"Sudah. Aku ganti baju dulu, kalian siapkan bahan-bahannya," ujarnya setelah selesai menjelaskan.


Grace menuju kamarnya untuk berganti baju. Dia kembali mengingat rasa sampel yang dia cicipi dari karyawan restoran yang akan dibuka itu, dengan bahan-bahan yang ada, cewek itu ingin membuat rasa yang mirip. Kalau hasilnya gagal, dia akan mengajak kawanan mereka ke sana di hari pertama pembukaan dan meneraktir mereka semua.


Ketika di bawah, anggota kawanan yang lain sudah mulai bermunculan. Hans belum ada diantara mereka, padahal dia ingin menunjukkan kemampuannya memasak.


Dia menghela napas, tapi akhirnya tetap mengolah bahan-bahan yang sudah disiapkan dua cewek itu. Selain saus, yang akan dibuatnya, dua orang itu akan meniru bumbu kentang goreng yang dicicipinya juga salad ala kawanan mereka.


Theo dan seorang cowok seumurannya menyiapkan piring untuk hidangan dan menata ayam di mangkuk besar. Dalam waktu beberapa menit hidangan yang mereka buat sudah jadi. Cewek itu mencicipi salad, rasanya lumayan, kentang goreng berbumbu, hampir mirip tapi kurang rasa asap-dua cewek itu langsung merapikannya-setelah itu rasanya benar-benar mirip.


Dan ... hidangan utamanya. Gagal.


Cewek itu sepenuhnya menyalahkan ketidakhadiran Hans di sisinya.


"Gagal ya? Tapi enak...." celetuk salah satu cewek yang menemaninya memasak.


Grace mengangguk. "Tentu saja enak. Ayo kita makan."


"Asik minggu depan makan di luar!" Theo berteriak heboh.

__ADS_1


Si kembar langsung menyikutnya keras-keras.


__ADS_2