
"Bukankah itu aneh?"
Chloe masih berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit, masih tidak mengerti dengan pikiran Alpha dari wilayah lain itu yang membiarkan mereka pergi begitu saja. Paling tidak, kawanan mereka seharusnya segera diusir dari restoran alih-alih membiarkan mereka menikmati makanan seperti tamu biasanya.
"Tidak usah dipikirkan," ujar Grace sambil lalu, bersiap untuk tidur. "Lagipula mereka juga memperlakukan kita seperti biasa saat kita pulang, kawanan kita hanya perlu mendengarkan larangannya untuk tidak datang lagi."
"Tapi ini aneh. Dia bahkan tidak menyampaikan larangan itu langsung pada kita."
"Seperti ultimatum?" Dengan adanya ultimatum dari seorang Alpha, larangan, aturan atau perintah yang disebutkan akan menjadi hal absolut yang tidak akan bisa dilanggar atau dicabut oleh siapapun.
Cewek itu mengangguk. "Surat perjanjian pun tidak ada. Alpha itu benar-benar tidak perhitungan. Aku harus memberitahu Allison supaya dia tidak seperti itu suatu saat nanti."
"Berarti kita masih bisa ke restoran itu?"
Grace menggeleng. "Tentu saja tidak, kawanan kita tetap harus menghormati ucapan dari perantara si Alpha. Apalagi kita yang membuat kesalahan dari situasi ini."
"Sayang sekali, padahal masakan mereka benar-benar lezat."
Cewek itu menghela napas. "Benar."
Dia sungguh menikmati makanannya, bahkan sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara Theo yang melengking saat meniru penyanyi rock. Anggota lain yang awalnya masih tegang setelah Lilian pergi, pada akhirnya juga merileks setelah menyantap hidangan yang tersaji. Mereka semua benar-benar menikmati makanan restoran itu.
"Haruskah kita meminta resepnya? Pasti akan bagus untuk varian makanan kita."
"Tidurlah, Theo."
Theo kembali menoleh ke arah Grace yang berada di sebelahnya, mengabaikan perkataan kakaknya. "Kamu pasti setuju kan, Grace? Atau kita buat resepnya sesuai dengan apa yang kita coba tadi, seperti yang kamu coba lakukan waktu itu."
"Tidur saja sana."
Cowok itu mendecih pada ucapannya.
"Apa?"
"Iya, aku tidur."
.
Kegiatan mereka berlalu seperti biasa. Selepas membuat sarapan dan makan bersama anggota lain, Grace mengintip Hans yang sedang mengikuti kelas khusus bersama Wayne dan Allison. Sejak mate Emily itu datang, Chloe memutuskan untuk membuat kelas khusus yang akan membahas tentang seluk beluk werewolf dengan mereka sebagai muridnya.
Cewek itu menatap Hans yang mengikuti kelasnya dengan serius, wajahnya ketika sedang berkonsentrasi terlihat dua kali lebih tampan dari biasanya. Dia sangat menyukainya.
"Wajah adikku bisa lenyap kalau kamu menatapnya seintens itu, Grace."
Grace berdeham, menatap sosok yang baru saja datang dan berdiri di sampingnya. "Kenapa kamu di sini? Tidak latihan?"
"Aku ingin menengok Wayne."
__ADS_1
"Mate-mu tidak akan ke mana-mana."
Emily mengangkat alisnya. "Hans juga tidak ke mana-mana, tapi kamu melihatnya setiap jam."
"Aku hanya memberinya perhatian sebagai kakak yang baik."
Cewek itu menatapnya seakan dia sudah tidak waras, tapi tidak mengatakan apapun sebagai balasan.
Mau bagaimana lagi, Grace nyaris tidak bisa membalas ucapan cewek itu. Tindakan Emily masih termasuk wajar karena mereka adalah mate, tapi bagaimana dengannya dan Hans? Bukan siapa-siapa kecuali sesama anggota kawanan.
Dia mengepalkan tangannya, tiba-tiba merasa frustasi. Mate sialan.
"Aku duluan."
Cewek itu segera berbalik pergi tanpa menunggu balasan dari Emily. Jantungnya berdebar dengan keras, mengabaikan tatapan anggota lain yang melihatnya berjalan dengan cepat dan hanya mempedulikan keinginannya untuk melepaskan kesesakan yang dirasakannya.
Grace mulai berlari saat sudah berada di hutan lalu segera berubah wujud dan melarikan ke empat kakinya dengan mulus melewati pohon-pohon yang berada di sekitarnya. Dia merasakan angin berhembus melewati bulu-bulunya yang tebal sehitam malam dan otot tubuhnya yang bergerak bagaikan air yang mengalir.
Jika dalam wujud ini, cewek itu tidak perlu khawatir akan seseorang atau sesuatu menghentikannya. Bagaimanapun juga, keluarganya adalah kandidat terkuat untuk menjadi Alpha setelah keluarga Allison, jadi tentu saja dia termasuk werewolf terkuat selain kedua adiknya dan Chloe. Dia merasa tidak perlu berlatih lagi seperti anggota lain agar bisa mencapai fisik yang prima sebelum maupun sesudah transformasinya.
Kekurangan dari transformasinya hanya satu, insting yang memberi tahu keberadaan mate-nya seakan mati, tidak pernah berfungsi sekalipun selama tiga tahun ini setelah perubahan wujudnya.
Selama setahun pertama, dia hanya berpikir jika calon pasangan sehidup sematinya itu masih belum melalui tahap berubah wujud, tapi satu tahun berlalu seperti hembusan napas dan sampai sekarang dia juga masih belum merasakan ataupun memimpikan keberadaannya sama sekali.
Grace sempat berpikir kalau mate-nya sudah mati, tapi dia tidak pernah merasakan sakit yang hampir mirip dengan kematian seperti yang pernah dialami oleh Chloe beberapa tahun yang lalu. Pikiran mengenai keberadaan sosok misterius itu menghantuinya selama lebih dari dua tahun. Dia tidak bisa tidak memikirkan hal itu ketika melihat anggota yang lain secara perlahan menemukan mate mereka masing-masing.
Selama hal itu berlangsung, dia terlihat bagaikan mayat hidup di pagi hari karena memikirkannya setiap malam. Kedua adiknya yang selalu cuek bahkan memberi perhatian untuk menghiburnya, mengalihkan perhatiannya dengan berduel saat waktu latihan dan memberinya banyak pekerjaan agar dia cepat lelah.
Chloe menatapnya yang sibuk menjemur pakaian anggota kawanan yang baru saja dicucinya. Seharian itu Grace hampir melakukan semua pekerjaan rumah dan tetap berduel dengan anggota lain, tapi cewek itu sama sekali tidak terlihat lelah.
"Tidak."
Sejujurnya saat itu dia merasa sangat segar sehingga tidak keberatan melakukan apapun, bahkan jika harus membersihkan seluruh rumah, tapi Chloe menghentikannya dan menyuruhnya menyelesaikan cucian. Setelah itu mereka pada akhirnya tidak pernah menghentikannya lagi dan membiarkannya melakukan apapun yang dia mau asal tidak membawa aura muram di kawanan.
Kesehariannya berubah semenjak kedatangan Hans, ketika melihat dan mendengar situasi adik Emily yang tak terduga, keputusasaannya secara ajaib mereda. Cewek itu berpikir kalau mungkin saja cowok itu adalah calon mate-nya yang tidak pernah terasa keberadaannya.
Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu?
Hans tiga tahun lebih muda darinya, racun vampir menghalangi koneksi dan perubahannya menjadi werewolf selama dia menghilang dan yang lebih penting dari dua hal itu ... cowok itu juga tidak dapat merasakan keberadaan mate-nya seperti dirinya. Kebenaran mengenai sosok mate-nya yang misterius akan terbukti saat Hans bersih dari racun vampir dan mulai merasakan keberadaan mate-nya yang mungkin saja dia.
"Jangan terlalu berharap, Grace." Chloe memperingatkannya saat cewek itu menceritakan dugaannya. "Kalau bukan dia, kamu pasti akan hancur."
"Aku yakin. Memang siapa lagi selain dia, Clo? Tidak ada yang lain."
"Bagaimana dengan werewolf dari kawanan lain?"
"Siapa? Kita bahkan tidak pernah bertemu kawanan lain setelah mengurung diri."
__ADS_1
"Malcolm?" Cewek itu mengingatkan situasi adiknya. "Mate-nya berada di kawanan lain."
Grace mengacak rambutnya. "Apa kamu lupa? Aku tidak bisa merasakan keberadaan mate-ku, sama sekali tidak bisa. Dia masih bisa."
Chloe menghela napas, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk cewek itu agar tidak berbuat nekat. Mereka sedang membicarakan seseorang yang bahkan belum lama kembali dan mulai beradaptasi untuk tinggal di kawanan. Hal ini cukup beresiko baik untuk cowok itu maupun Grace.
"Baiklah kalau begitu. Tolong jangan berlebihan, dia masih lebih muda darimu."
"Aku tahu."
Semenjak pembicaraan itu, dia mulai mendekati Hans secara perlahan, hingga sekarang.
Dia meyakini usahanya pasti akan menghasilkan hal yang baik, tapi begitu mendengar ucapan Emily, dia tiba-tiba saja merasakan usahanya memang menjadi hal yang sia-sia. Sudah hampir empat bulan. Grace tahu kalau racun vampir sudah tidak ada lagi pada Hans, transformasi cowok itu pun sudah dekat, seharusnya dia mulai membalas gesturnya atau nenunjukkan bahwa mereka mate satu sama lain.
Kenyataannya tidak begitu.
Hans sudah tahu. Grace juga sudah tahu kalau cowok itu bukan lah mate-nya.
Usahanya sia-sia.
.
"Mau ke restoran?"
Bram yang sedang bertugas jaga bertanya pada Stefan yang baru saja melewati pos keamanan.
Cowok itu mengangguk. "Mau nitip sesuatu? Pai daging? Hamburger?"
"Pai daging."
"Oke. Potong dari uang saku bulan depan atau bayar sekarang?"
"Bayar sekarang." Dia merogoh kantung celananya untuk membayar. "Es kopi gratis kan?"
Stefan menggeleng, tersenyum kecil sambil mengulurkan tangannya lagi. Cowok penggerutu di hadapannya terlihat tidak senang, tapi pada akhirnya tetap menyerahkan uangnya.
"Kembalian untuk tip restoran. Tidak masalah kan?"
Bram mengangguk, memang pilihan apa lagi yang bisa dia lakukan terhadap ucapan pemimpin kawanannya sendiri. "Terima kasih."
"Sama-sama." Stefan tiba-tiba kembali menoleh saat lupa mengatakan sesuatu. "Lilian yang akan mengantarkannya padamu, Bram!"
Cowok itu dapat melihat wajah yang merah padam dari jauh. Mate adiknya itu sangat lucu. Walaupun mukanya selalu masam di hadapan orang lain, tapi begitu berhadapan dengan 'Lilian' wajah cowok itu akan lebih lembut atau memerah seperti yang dia lihat.
Lilian tidak menyadari perubahan itu, tapi adiknya terkadang juga bersikap lebih lembut dan sedikit lebih ceria pada cowok itu sehingga hal itu tidak mengundang godaan dari satu arah. Beberapa anggota kawanan terkadang menggoda mereka saat terlihat di tempat yang sama sehingga membuat keduanya salah tingkah. Yah, dia bersyukur karena dia mengenal mate adiknya.
Stefan sudah hampir sampai di restoran saat dirinya merasakan sesuatu yang sangat cepat menghampirinya. Kedua matanya terfokus pada satu sosok gelap yang semakin lama terlihat seperti serigala hitam pekat yang seketika langsung menabraknya tanpa bisa dihindari.
__ADS_1
"Apa-"
Ucapannya terhenti. Dia memandang sesosok tubuh serigala yang menimpanya secara perlahan berubah menjadi manusia. Cowok itu terpaku, lidahnya terasa kelu saat jantungnya mulai berdebar sama kerasnya dengan cewek yang terbaring di atas tubuhnya.