A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.14


__ADS_3

Sesuai janjinya, Stefan memperkenalkan Grace dan Chloe sebagai anggota sementara dalam kawanan mereka. Para anggota yang lebih tua tidak banyak berkomentar kecuali menatap mereka, beberapa dengan dengan pandangan  menyelidik dan menghakimi, sedangkan yang lebih junior terlihat bersemangat, termasuk rekan yang bekerja di restoran kawanan kemarin.


"Selamat datang, Kak Grace dan Kak Chloe!"


"Semoga betah."


Lilian menyenggol Bram. "Masa kamu hanya berbicara itu saja? Yang lain dong."


"Uh ... Kalau butuh bantuan panggil saja aku atau Lilian."


"Kami juga bisa membantu." Sean menyusul ucapan Bram yang terdengar malu-malu. Mia yang berada di sampingnya mengangguk menyetujui.


Ada beberapa anggota junior lain yang berbicara, tapi Grace belum mengenal mereka semua. Dia merasa cukup senang karena kedatangan mereka disambut dengan baik, kecuali beberapa anggota paling senior, yang semakin terlihat tidak tertarik dan cenderung mengabaikan seruan para anak muda.


Kesenjangan dalam kelompok usia mereka juga terlihat sangat jelas, hanya yang paling tua dan paling muda–kecuali Stefan. Mereka tidak melihat Iris maupun anggota lain yang memiliki rentang usia seperti perempuan itu, sehingga Grace bisa menyadari kalau ada yang aneh dari hal tersebut, begitu juga dengan Chloe, tapi mereka tidak saling berbicara dan hanya menukar pandangan diam-diam.


Lagi pula, Stefan juga terlihat santai dan tidak mengatakan apapun mengenai kekurangan anggota dalam kawanan mereka.


"Baiklah, sekali lagi, selamat datang ke dalam kawanan kami, Chloe dan Grace. Kami sangat menghargai kedatangan kalian."


"Terima kasih, Stefan."


"Mohon bimbingannya."


Senyum laki-laki itu terlihat goyah, tidak melewatkan nada setengah hati darimu, sebelum berkata. "Sama-sama. Ayo, kita makan dulu."


Acara perkenalan mereka berlanjut pada makan bersama. Beberapa orang yang ikut menjaga restoran, seperti Mia dan Lilian, sudah siap mengatur piring berisi makanan. Sedangkan Sean dengan beberapa anggota cowok, mempersiapkan gelas berisi minuman. Kalian membantu membagikan makanan ke setiap anggota.


Grace membagikan makanan ke anggota senior, yang tetap menerima piring makanan darinya dengan baik, sebelum dihentikan oleh seseorang yang terlihat tidak asing.


"Apa kamu yang namanya Grace?"


"Iya, aku Grace."


Laki-laki itu segera tersenyum tipis. "Aku Greg, Paman dari Stefan dan Lilian. Maaf aku tidak langsung menyambut kalian kemarin."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku dan Chloe juga datang terlalu malam, jadi kami bisa mengerti kalau tidak semua datang menyambut seperti sekarang."


Sebenarnya dia juga tidak terlalu memikirkannya karena semalam terlalu lelah, apalagi dengan Stefan yang belum memberitahunya soal penyembunyian identitasnya sebagai pasangan perempuan itu selama bertahun-tahun.


Laki-laki yang hampir menyentuh usia paruh baya itu mengangguk. "Begitu kah? Bagaimana hari pertama kalian? Anggota muda kami tentu memberi kalian pengarahan sebelumnya."


"Itu benar. Tidak ada masalah yang berarti, kami hanya belum terbiasa dengan keseharian di restoran."


"Baiklah, bagus. Aku sepertinya sudah menahanmu lumayan lama." Dia terlihat puas dengan jawaban Grace sehingga menepuk pundaknya dengan ramah. "Selamat bergabung untukmu dan kawanmu, Grace."


"Terima kasih, Greg."


Beberapa anggota yang mendengarkan pembicaraan mereka langsung mengalihkan pandangan, sementara Grace dapat merasakan jantungnya berdebar keras dengan tiba-tiba. Pandangannya langsung terarah pada satu sosok yang kemungkinan besar menjadi penyebab, tapi Stefan sudah terlihat berjalan pergi lebih dulu, meninggalkan piring makanannya yang masih penuh.


.


Setelah acara makan-makan selesai, para anggota kawanan memulai aktivitas masing-masing. Grace dan Chloe tentunya menuju ke restoran untuk bertugas, kembali membantu para anggota muda kawanan Stefan yang sudah membuka restoran lebih dulu.


"Apa kalian baik-baik saja di sana?" Sean menghampiri Grace saat dia dan Chloe selesai berganti pakaian. "Maaf kami harus meninggalkan kalian saat jamuan makannya belum selesai."


"Ah, mereka memang begitu. Apa keadaan seperti itu sangat berbeda dengan keadaan kawanan kalian?"


"Tidak juga. Sejak awal anggota kami yang tersisa memang lebih banyak perempuan, jadi tidak terlalu berbeda dengan di sini." Grace memakai masker khusus untuk memasak sebelum menatap laki-laki itu. "Aku tidak salah menangkap pertanyaanmu kan?"


"Tidak, memang itu yang kutanyakan."


"Baguslah."


Ryan menatap mereka berdua bergantian. "Sejak kapan kalian akrab?"


"Dasar bodoh, Sean kan memang ahli soal bersosialisasi."


"Zee...."


Seorang anak perempuan yang lebih muda dari si kembar menghela napas keras. "Iya, iya, aku sudah menutup mulut. Jangan menjewerku lagi, tolong."

__ADS_1


"Aku tidak akan menjewer kalau kamu tidak membuat keributan, Zee." Laki-laki itu beralih pada Ryan. "Ryan, kamu juga tidak usah mengatakan itu keras-keras, kita memang harus akrab."


"Kalau Lilian yang mendengar, pasti kamu sudah habis di tangannya." Mia menyelutuk sambil menggelengkan kepala. Lilian tidak ada di tempat karena sudah digantikan oleh Mia.


Ryan hanya bisa tertunduk sambil bergumam maaf dengan lirih. Sean menenangkan anak laki-laki berbadan bongsor itu, sementara Zee kembali ke rumah karena sudah digantikan oleh Grace. Dia sama sekali tidak merasa bersalah karena membuat Ryan seperti itu dan malah berpamitan dengan riang ke mereka semua.


Grace jadi sedikit kangen dengan si kembar dan Theo, Hans, juga para anggota lain di kawanan, tapi tentu saja dia tidak berniat untuk kabur dari tanggung jawab. Mungkin meminta mereka ke sini kapan-kapan akan menjadi ide yang bagus, walaupun nantinya Chloe akan menentangnya karena dia sudah tidak waras.


Cewek itu mempertimbangkan untuk memanfaatkan Stefan agar memberi mereka kelonggaran lagi, tapi pikirannya terhenti saat Mia mulai mengajak mengobrol dia dan Chloe.


"Ngomong-ngomong, mohon bantuannya, Chloe dan Grace. Hari pertama aku belum bertemu kalian kan?"


Mereka melayani pelanggan diselingi mengobrol. Mia adalah yang tertua diantara para anggota muda, masa perubahannya juga sudah dekat sehingga lebih dewasa dibandingkan semuanya, walaupun masih lebih santai dari Sean yang lebih muda setahun. Bisa dibilang, cewek itu adalah campuran yang tepat antara Sean dan Zee, walaupun mereka tidak berasal dari orangtua yang sama.


Pelanggan restoran kembali bertambah dalam hitungan jam, aktivitas pelayanan restoran pada akhirnya menjadi fokus utama mereka sebelum Grace berpamitan lebih dulu untuk bertemu Alpha dari kawanan mereka.


.


Stefan sudah menunggu di samping restoran dengan membawa motor kesayangannya. Laki-laki itu menunggu Grace yang sudah sepakat untuk ikut dengannya untuk membicarakan soal masalah mereka dan hal penting lainnya yang menyebabkan Stefan merasa ragu untuk menceritakan.


"Kamu hanya punya kendaraan yang seperti ini?"


Dia nyaris terlonjak saat mendengar suara Grace yang begitu tiba-tiba. Raut wajah perempuan itu terlihat begitu keberatan karena motornya yang memiliki jok lebih tinggi dan bodi yang besar. Dia tidak tahu harus menjawab apa sehingga hanya bisa menggeleng.


"Hah ... mau bagaimana lagi. Aku akan berpegangan pada pundakmu, tolong jangan membuatku jatuh."


"Iya."


Grace naik dan memakai helm yang diberikannya tanpa banyak berbicara, kedua tangannya sudah melingkar di pinggangnya saat laki-laki itu menyalakan mesin motor.


"Jangan salah paham, aku berpegangan karena takut terjatuh dari motor setinggi ini."


"Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskannya padaku."


Grace hanya mendengus pelan mendengar nada bicara laki-laki itu yang terdengar tenang, sementara Stefan berusaha menahan debaran jantungnya yang terlalu keras karena bisa berada sedekat ini lagi dengan pasangannya.

__ADS_1


__ADS_2