
Emily terbangun dalam kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Cewek itu menoleh ke arah tirai jendela yang masih terbuka, menampakkan suasana yang sudah gelap di pekarangan rumahnya.
Dia bangkit dari tempat tidurnya dan meraih handuk kecil, masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka kemudian mengganti piamanya dengan t-shirt dan celana jins-satu-satunya celana bersih yang dia punya saat ini. Entah kenapa dia jadi mudah melupakan kebiasaannya mengerjakan pekerjaan rumah semenjak bertemu dengan Wayne.
Bukannya malas atau apapun alasan remeh lainnya, dia hanya teralihkan oleh banyak hal yang tidak mengenakkan dalam menemukan sahabat kecilnya itu. Emily tidak mengira kalau semuanya akan menjadi rumit dan membuat dirinya terlihat lemah dan menyedihkan. Bukan seperti dirinya sama sekali.
Sialan.
Cewek serigala itu menampar pipinya dan kemudian memakai jaketnya sebelum berjalan keluar dari kamar. Amanda sudah menunggunya dengan kedua lengan yang terlipat, menatapnya curiga.
"Mau kemana kau?"
Emily mengedikkan bahunya tak acuh, tidak terlalu kaget dengan kemunculan cewek vampir itu di pintu kamarnya. "Ke rumah Alex, ada tugas kelompok yang harus kami kerjakan."
"Rumah Alex?" tanya cewek itu mengulang ucapannya karena tidak yakin. "Aku tidak tahu kalau dia bersedia meminjamkan rumahnya hanya untuk tugas kelompok."
"Entahlah." Emily kembali mengedikkan bahunya. "Dia hanya memberitahuku untuk mengerjakan tugas itu di rumahnya, aku hanya mengikuti ucapannya."
Amanda terdiam di tempatnya, menatap Emily selama beberapa saat, terlihat berpikir. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba tubuhnya bergerak untuk menghentikan langkah cewek serigala itu dan menahannya agar tidak pergi, firasatnya buruk, tapi dia sudah seringkali salah dalam menanggapi firasatnya sendiri sehingga akhirnya dia mengangguk dan memberi jalan pada Emily.
"Oke, pergilah. Jangan pulang terlalu malam sehingga ibu memarahiku karena tidak bertanggungjawab dalam menjagamu."
Emily tersenyum miring dan melambaikan tangannya, terkesan mengabaikan. "Tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku dengan lebih baik dibanding Liene."
Cewek vampir itu mendenguskan tawa pelan sebagai jawaban sebelum Emily menutup pintu.
~°~
Rumah Alex terletak tepat di bagian depan pintu masuk hutan, tersembunyi cukup baik akibat pohon yang rimbun di kedua sisinya dan suasana malam yang mendukung.
Emily tidak begitu memperhatikan rumah Alex saat dia sadar dari pingsannya dan berjalan kembali ke rumahnya bersama cowok itu untuk menemui Amanda. Tapi, dari luar saja, rumah cowok itu terlihat terlalu besar untuk dihuni oleh dua orang kakak-beradik vampir yang berbeda kepribadian.
Tanpa rasa ragu, cewek itu melangkah ke arah pintu rumah, hendak membuka pintunya sebelum seseorang dari dalam membuka pintu terlebih dahulu hingga dia nyaris terperosok jatuh.
"Woah, Em, hati-hati," ujar seorang cowok yang ternyata membuka pintu dan menggunakan salah satu lengannya sebagai penahan tubuhnya dari kejatuhan yang memalukan.
"Maaf." Emily tersenyum dan mengedikkan bahunya.
Jordan membalas senyumnya dan menepuk-nepuk bahunya. "Tidak masalah, aku pernah menahan sesuatu yang lebih berat daripada tubuhmu," ujarnya cuek. "Rupanya badanmu cukup ramping ya? tidak terasa berat."
Cewek itu mengangkat alisnya, merasa heran dengan pertanyaan retoris cowok vampir itu. "Maksudmu?"
"Bukan apa-apa." jawab cowok itu langsung, tersenyum miring, membuatnya mirip dengan Alex.
__ADS_1
"Di mana Alex?" tanya Emily nengganti topik yang segera disambut oleh cowok itu.
"Dia ada di bawah, menyiapkan sesuatu untuk rencana kita melawan vampir posesif itu," ujarnya sambil melangkah semakin masuk ke dalam rumah, memberi tanda agar cewek itu mengikutinya. "Dia menyuruhku menjemputmu agar bisa mengantarmu ke bawah."
Emily menganggukkan kepalanya mengerti. Saat ini mereka sudah tiba di depan sebuah pintu yang ketika di buka memperlihatkan tangga batu yang mengarah ke bawah, gelap tanpa lampu, tapi mereka masih dapat melihat keseluruhan ruang itu yang tampak kosong.
"Dia tidak ada di sini," celetuk Emily ketika tiba di bagian akhir tangga.
Cowok itu tetap melangkah di depannya, menoleh sekilas dan tersenyum kecil. "Bukan di sini, Em. Dua tangga lagi ke bawah."
"Oke."
Emily mengikuti langkah Jordan yang cukup cepat. Ruangan yang dilewati mereka terasa sangat luas semakin lama mereka melangkah. Cewek itu bertaruh kalau Chloe menemukan ruangan seperti ini, dia akan segera mempermaknya dan mengisi dengan beberapa perabotan supaya terasa nyaman untuk anggota kawanan. Bukan ditelantarkan seperti ini.
Jordan kembali membuka pintu, menunjukkan ruangan yang lebih kecil dan gelap. Udaranya terasa lebih lembab, mungkin Alex terlalu jarang membuka ruangan ini hingga cewek serigala itu merasa ingin kembali ke atas untuk menghirup udara yang lebih segar.
"Satu tangga lagi," ujar Jordan memberi tahu, mungkin dapat merasakan keinginannya Emily untuk segera kabur dari tempatnya.
Cewek itu mengangguk pelan dan tetap mengikuti langkah cowok itu tanpa berkata-kata hingga tiba di depan pintu ketiga yang terbuat dari besi tanpa noda karat.
Sebenarnya tidak ada ada yang aneh dari pintu itu kecuali pada kenyataan bahwa pintu itu tidak terpengaruh dengan udara ruangan yang terkesan lembab, tapi instingnya mengatakan ada yang tidak beres dari ruangan itu. Sudah lama sekali instingnya bisa muncul tiba-tiba dalam keadaannya yang masih lemah di tempat ini.
"Alex ada di sana?"
Cewek itu berusaha menenangkan dirinya lalu memaksakan dirinya menggeleng. "Tidak apa-apa." Dia hanya harus segera kabur dari sini.
Cowok itu mengangguk mengerti lalu mendorong pintunya membuka-bersamaan dengan Emily yang langsung memutar tubuhnya dan berlari menuju pintu kedua. Bau wolfsbane yang kuat sekilas dapat tercium olehnya, membuat kakinya sedikit melemah, tapi dia memaksakan dirinya terus berlari.
Bodoh sekali dia bisa tertipu oleh cowok vampir sialan itu, harusnya dari siapapun dia paling tahu kalau bekerjasama dengan vampir tua adalah kecerobohan yang sangat fatal dan tidak seharusnya ada dalam pikirannya.
Emily dapat merasakan Jordan berlari mengikutinya, semakin dekat dan dengan cepat menghempaskannya ke dinding, bermaksud membuatnya berhenti dan kalah telak dalam sekali serangan.
Keputusan yang sangat tepat.
Cewek itu tersedak oleh napas yang belum berhasil dihirupnya dan segumpal darah yang muncul akibat efek samping dari wolfsbane yang sempat diciumnya. Kepalanya terasa berat dan berkunang-kunang.
"Nyaris saja." suara helaan napas mengelilingi ruangan.
Emily mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba membuat dirinya tetap sadar dan segera bangun. Dia tidak bisa melawan dengan benar jika bersikap lemah seperti ini.
"Untung saja kau sempat menahannya," ujar suara lain yang baru saja muncul beberapa langkah darinya. Suara Alex. "Kalau dia berhasil kabur, entah apa yang akan terjadi."
Sebuah langkah kaki berjalan mendekatinya. Emily hanya mendapati bayangan kabur dari seseorang yang mengenakan kemeja hitam dengan jins belel sebelum dia mengerjapkan matanya, menatap Alex yang berjongkok di depannya dan terkekeh pelan.
__ADS_1
"Nah, bagaimana keadaanmu, serigala cilik?" tanyanya.
Emily meludah ke arahnya sebagai jawaban dan menyeringai. "Vampir sialan."
Dia mendecakkan lidahnya, sebuah senyum masih bermain di bibirnya. "Bukan salahku kalau kau terjebak dalam tipuanku, kupikir kau akan bertindak lebih cerdas."
Tangan Emily melayang untuk mencakar wajah cowok itu, tapi gerakannya kurang cepat. Tangan Alex sudah menghentikannya lebih dulu dan mencengkram lehernya, mengangkatnya hingga berdiri dan membuatnya sesak napas.
"Le ... pas," ujar Emily menggeram tertahan, kukunya yang sudah memanjang menancap pada lengan cowok itu, tapi Alex sama sekali tidak terganggu dengan darah gelap yang sudah menetesi lantai.
"Lebih baik di apakan dulu ya?" gumamnya pelan.
"Lepaskan dia, Alex." Suara tenang menginterupsi dalam ruangan itu. "Dia urusanku."
Alex mendecakkan lidahnya ketika mendengar suara itu, tapi menurut dan melepaskan tangannya dari leher Emily.
Cewek serigala itu segera menarik napas tertahan, lehernya sudah pasti memar. Matanya mengerjap dan menemukan seorang cewek yang sudah lama tidak dia temui di belakang Alex.
"Hai, Em," sapa Liene dengan senyum terkembang di bibirnya.
"Liene," ujarnya sedikit terkejut. "Apa-"
Cewek vampir itu menunjukkan satu jarinya, membuat Emily menghentikan perkataannya. "Aku ingin membuat kesepakatan denganmu."
"Kesepakatan apa?"
"Tentang Wayne."
Emily mengerjapkan matanya, pemahaman dalam sekejap menyadarkannya ketika menyadari bau harum memuakkan dari ketiga vampir itu yang sama persis di penciumannya. Kenapa dia baru sadar akan hal itu?
"Kau Cara."
Liene mengangkat alisnya dan menatap Alex sekilas sebelum tersenyum penuh arti. "Ya, benar."
"Di mana Wayne?"
"Di rumahku, aman dan tentram, tidak terluka."
"Kau menahannya di sana agar aku tidak bisa mengambilnya," ujar Emily menahan geraman yang nyaris lolos dari mulutnya. "Kenapa kau melakukan itu padaku?"
"Karena aku menyukainya dan ... apa kau pernah dengar istilah 'siapa cepat, dia dapat'? Aku mendapatnya lebih dulu. Aku tidak curang kan?" tanyanya retoris. "Salahmu karena kau tidak menandainya secara keseluruhan."
Emily memejamkan matanya, memutuskan untuk menahan emosinya yang mulai bergolak. "Apa kesepakatannya?"
__ADS_1
"Kau pergi dari sini dan Wayne akan tetap aman tanpa perlu kuikat selamanya atau kau tetap di sini dan Wayne akan kuubah menjadi vampir, sama sepertiku," ujarnya tersenyum. "Nah, jadi, apa pilihanmu sekarang?"