A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
1.9


__ADS_3

"Perebutan ... wilayah?" Aku mengepalkan tanganku. "Sebenarnya apa yang terjadi hingga bisa seperti itu?"


"Kami tidak mengetahuinya secara jelas," jawab dua orang cewek yang tampak mirip satu sama lain, bergantian berbicara. "Kami hanya pernah membacanya di buku harian tetua yang kami temukan di rumah ini, tidak ada informasi lain selain itu dan beberapa potongan informasi yang kurang jelas."


Aku menatap mereka heran. "Kalian benar-benar tidak tahu?"


Mereka menggeleng. "Peristiwa itu sudah lama berlalu. Tim, yang paling tua diantara kami, sudah meninggal sebelum kami sempat bertanya tentang hal itu."


"Bagaimana dengan Whitney?" tanyaku memutus pikiran. "Sebelumnya Chloe bilang kalau dia adalah pemimpin vampir yang tersisa. Apa dia juga mengalami hal yang sama?"


Chloe mengangguk. "Mereka juga mengalami hal yang sama, mungkin lebih parah dari kita."


"Lebih parah?"


"Anggota kami yang tersisa lebih sedikit daripada kalian," jawab seseorang tiba-tiba dengan suara yang tidak asing. "Itu maksud perkataannya, kurang lebih."


Aku beserta Chloe dan yang lain segera menoleh ke sumber suara asing tersebut, menemukan pintu rumah sudah terbuka lebar dengan seorang cowok berpakaian kasual berdiri di sana.


"Will?"


Cowok itu tersenyum simpul mendengar sapaan dariku. "Hai, Allison. Kita bertemu lagi," ujarnya. "Maaf sudah mencuri dengar pembicaraan kalian."


Aku menatapnya heran, tidak mengerti kenapa seseorang yang baru beberapa kali bertemu secara tiba-tiba bisa kembali bertemu di saat seperti ini. "Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya...." Aku menoleh ke orang-orang yang berada di sekitarku, yang tiba-tiba saja terlihat waspada. "Ada apa dengan kalian?"


Mereka seperti tidak mendengarkan pertanyaanku, setiap pasang mata mereka terpancang lekat pada cowok itu seakan-akan melihat seorang musuh yang berbahaya bagi keselamatan mereka.


"Bagaimana kanu bisa ke sini?" tanya Chloe yang berdiri paling dekat denganku. Suaranya terdengar begitu tenang meskipun lengannya mulai bergetar mengancam. "Dari mana kamu tahu tempat kami?"


Will mengangkat kedua tangannya seakan tertangkap basah melakukan hal yang salah. "Aku minta maaf karena datang tanpa ijin," ucapnya entah kenapa memberikan pandangan penuh arti ke arah Emily yang terlihat lebih tertarik pada lantai di kakinya. "Ada yang ingin kusampaikan pada kalian, beberapa hal yang sangat penting bagi kawanan kalian, lebih tepatnya."


"Apa maksudmu?"


"Aku datang untuk membantu kalian seperti yang sudah pernah kukatakan padamu dan Emily."


"Padaku?" tanya Chloe tampak heran. "Kapan kita berbicara?"


"Kamu memutuskan teleponnya sebelum Will selesai bicara, Chloe," ucap Emily mengambil alih. "Dan, ngomong-ngomong, aku yang mengijinkan dia untuk datang ke pertemuan kita."


Chloe segera menoleh ke arah Emily dengan pandangan tidak percaya. "Kamu mengijinkannya datang tanpa persetujuan kami?"


"Aku lupa memberitahu kalian, ini sama sekali tidak disengaja," jawab Emily sambil mengedarkan pandangan meyakinkan pada yang lain. "Will juga berkata kalau dia memang ingin membantu. Aku yang akan menjadi penjaminnya."


"Apa buktinya?" tanya seseorang yang suaranya tidak kukenali.

__ADS_1


Aku kembali menoleh dan melihat seorang cowok berjalan mendekat pada kami dengan langkah pelan. Aku langsung mengenalinya sebagai kakak dari Malcolm karena melihat fitur wajah mereka yang hampir mirip, bahkan sekarang semakin lebih mirip karena ekspresi yang terpasang di wajahnya persis dengan wajah Malcolm saat menatapku tajam.


"Dave—"


"Aku membutuhkan bukti yang terpercaya untuk bisa memercayainya," ucapnya memotong ucapan Emily. "Aku tidak bisa percaya padanya begitu saja."


Emily menutup mulutnya setelah itu.


"Aku bisa memberimu bukti," ucap Will dengan tenang. "Tapi kamu harus mendekat padaku kalau ingin melihatnya lebih jelas, atau kamu juga bisa mengijinkan yang lain untuk melihatnya sendiri menggantikanmu. Aku menyerahkan keputusannya padamu."


"Aku saja," ucapku tanpa sadar.


Mereka semua langsung menoleh ke arahku dan memberikan tatapan lekat yang membuatku kembali risih.


"Apa ada yang salah?"


Cowok itu mengalihkan pandangannya padaku, sorot matanya entah kenapa menyatakan keberatan, tapi tidak mengatakan apapun mengenai tindakanku. Sedangkan yang lain saling menatap satu sama lain lalu mengalihkan tatapan mereka pada Emily, yang kembali lebih tertarik pada lantai yang ada di bawah kakinya. Entah kenapa aku merasa kesal dengan tingkah laku mereka.


"Baiklah, tidak apa-apa," ujar cowok itu pada akhirnya.


"Ya. Kami akan menemanimu," jawab dua orang cewek kembar yang sebelumnya sempat menjawab pertanyaanku tadi.


Yang lain hanya mengangguk setuju dan segera memberikan jalan untuk si kembar agar bisa mendekat ke arahku dan menggaetkan lengan mereka ke lenganku. Kami berjalan ke arah Will dan akhirnya menghentikan langkah setelah menyisakan jarak sejauh satu meter dengannya.


Will tidak berkata apa-apa sebagai jawaban. Tangannya segera bergerak untuk membuka dua kancing kemejanya sehingga menampilkan seluruh leher pucat dan sebagian kecil kaos hitamnya.


"Apa kalian bisa menemukan sesuatu?" tanya Will akhirnya menatap kami.


Aku mengerutkan keningku, menyapukan pandanganku pada wajahnya dan kemudian merambat pada leher pucatnya yang menampakkan beberapa nadi samar yang terlihat membiru. Hal itu terlihat lumayan kontras dengan kulitnya, yang entah kenapa terlihat rapuh, sehingga aku merasa itulah yang dia maksud.


"Kau belum minum?" jawab Jean datar dengan kening berkerut heran. "Lehermu tampak mengerikan."


"Kau tampak lebih pucat dari biasanya," jawab Jena hampir bersamaan. "Kau dan pasanganmu tidak ... melakukan itu?


Will tersenyum kecil mendengar jawaban mereka. "Benar."


"Sudah berapa lama?" tanya Dave, tetap berdiri di tempatnya.


"Seminggu atau sepuluh hari, mungkin."


"Bukankah itu tidak baik bagimu dan pasanganmu?" tanya seorang cewek yang berdiri di samping Dave, Grace. "Aku dengar kalau setiap pasangan kalian akan bertukar darah setiap seminggu sekali demi kelangsungan hidup."


"Memang," jawab Will singkat tanpa penjelasan apapun lagi. "Apakah ini sudah jadi bukti yang cukup?"

__ADS_1


Dave tampak terdiam sebelum mengangguk kaku. Dia jelas-jelas masih tidak mempercayai bukti yang diberikan vampir itu.


"Kamu boleh masuk, Will," ujar Chloe mengambil alih.


"Terima kasih," jawab Will kembali mengancingkan kemejanya dan melangkahkan kakinya memasuki rumah.


"Tunggu." Aku menghalangi jalannya dengan tanganku lalu menatapnya lekat. "Siapa kamu sebenarnya?"


Will membalas tatapanku dengan pandangan tidak terbaca. "Kamu tidak bisa merasakan hal yang familiar dari diriku?"


Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Selama beberapa saat aku merasa Will tampak lebih tua saat kami saling bertatapan, matanya terlihat menyimpan berbagai macam kenangan yang sudah lama berlalu sehingga membuatku sedikit bergidik. Samar-samar aku juga dapat mencium bau tubuhnya yang mulai terasa memualkan sama seperti Whitney.


"Kamu ... vampir?"


Dia mengangguk.


"Tapi saat di rumah sakit aku tidak merasakan apa-apa darimu, tidak seperti yang kualami dengan Whitney. Kenapa bisa?"


"Karena saat itu kamu belum tahu dan sebelumnya kamu masih menganggapku sebagai manusia biasa, tidak seperti Whitney, sehingga aku lebih mudah memanipulasi indra penciumanmu."


Aku terdiam mendengar jawabannya, ada yang masih belum kupahami. Tanpa sadar aku juga melepas peganganku dari pintu sehingga Will bisa melangkah masuk.


Jean dan Jenna yang berada di sebelahku akhirnya bergerak dari depan pintu mengikuti Will, yang sekarang ikut berkumpul dengan yang lain, membawaku yang masih kebingungan dalam gandengan lengan mereka.


Beberapa menit kemudian Chloe masuk ke dalam ruang berkumpul dan menyerahkan segelas penuh cairan berwana merah gelap pada Will.


"Terima kasih."


Chloe hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Jadi apa yang akan kamu sampaikan pada kami?" tanya Emily yang sekarang duduk di samping Will.


Kami yang berada disekitarnya pun turut memperhatikannya. Dave dan Grace juga bergabung dan mengambil tempat di dekat pintu masuk menuju ruang makan, bersandar di kedua sisi dengan wajah tanpa ekspresi.


"Whitney akan segera bertindak tujuh hari lagi. Saat ini dia sedang mencari keberadaan markas kalian dan bersiap untuk menyerang," ujar Will. "Dia tidak akan main-main lagi kali ini."


"Apa ini gara-gara kau?"


Will meringis pelan. "Sebagian, tapi sebagiannya lagi karena Allison," matanya tiba-tiba saja mengarah padaku. "Dia berencana untuk membalaskan dendamnya padamu, Allison."


"Kenapa aku?" tanyaku, tidak mengerti. Aku baru saja bergabung dengan dunia yang terasa seperti film fantasi yang lumayan sering kutonton, apa salahku sehingga mengalami semua hal ini?


"Ini melibatkan kakekmu dan Whitney. Merekalah yang menjadi penyebab awal semua kejadian ini, Allison."

__ADS_1


__ADS_2