A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
1.16


__ADS_3

Jasad Whitney dan Will dibakar setelah itu. Aku dan yang lain menyaksikan tubuh mereka terlalap oleh api secara perlahan dalam api yang berkobar, berbaring bersisian dengan tangan saling menyentuh di atas tumpukan kayu.


Setelah habis terbakar abu yang bertumpuk dikumpulkan menjadi satu ke dalam sebuah toples berwarna putih tulang. Chloe menyimpan toples itu sementara di dalam lemari kaca ruang berkumpul sehingga dapat diawasi dengan baik oleh anggota lain yang mulai beraktivitas seperti biasa.


"Kita harus segera melacak keberadaan anggota Whitney yang lain, Allison."


Aku berbalik dari kegiatan melamunku dan mengerutkan kening ke arah Dave yang sudah berdiri di belakangku. "Untuk apa?"


"Berdamai," ujar Dave singkat sebelum duduk di sebelahku dan melanjutkan kata-katanya. "Kita juga harus menyerahkan abu itu pada mereka."


Aku terdiam mendengar perkataannya lalu menundukkan kepalaku, tidak tahu harus menjawab apa dan masih berkutat akan pikiran lain yang terus menggangguku.


Itu bukan salahmu, ujar Dave dalam sekejap menggema dalam pikiranku.


.... Itu salahku.


Dia melakukannya sesuai dengan kemauannya sendiri.


Aku menggeleng. Kalau aku tidak setuju dengan rencana itu mungkin saja dia dan Whitney masih hidup. Mungkin saja kita mempunyai rencana yang lebih baik untuk dilaksanakan tanpa mengorbankan mereka.


Dave menghela napas pelan dan mengarahkan tatapannya padaku, tatapan tajamnya terasa menembus tubuhku walaupun aku tidak bisa melihatnya. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak memedulikannya dan tetap menundukkan kepalaku sembari membentuk gambar khayalan dengan jariku.


"Ayo pergi."


Aku kembali menoleh lalu menatapnya yang sekarang tampak membungkuk untuk meraih kakinya, mulai melepas kaos kaki dan sepatunya.


"Ke mana?" tanyaku melihatnya yang sekarang sudah beralih melepaskan jaket beserta kausnya.


Dia menatapku sekilas lalu menjawab. "Hutan."


.


Aku berlari kencang melewati pepohonan dan semak-semak belukar yang berkelebatan di sekelilingku, beberapa ranting dan duri sempat menggores tubuhku yang sekarang diselimuti bulu cukup tebal sewarna rambutku. Angin sejuk menerpa tubuhku dan kemudian mengalir lembut melewatinya.


Disisi lain Dave ikut berlari di sampingku dan mengikuti irama lariku dengan sangat baik hingga aku hampir tidak bisa membedakan langkahnya dengan langkahku sendiri, tidak berbicara sedikitpun dalam perjalanan.


Mau sampai mana?


Dave melirikkan matanya sekilas ke arahku lalu menggeram pelan tanpa menyuarakan balasan pertanyaanku. Nikmati saja, ujarnya datar sebagai penggantinya.


Aku akhirnya terdiam lalu memilih untuk berkonsentrasi dengan langkah kakiku yang tetap lancar tanpa hambatan yang berarti. Tubuhku seakan tahu arah mana yang harus kuambil sehingga tidak menabrak apapun bahkan dengan mata yang—


Hati-hati.


—tertutup sekalipun. Aku tersandung.


Aku mengerang pelan sesaat setelah sebuah dengusan menahan tawa terdengar di kepalaku, sebuah langkah kaki yang terdengar lembut juga ikut terdengar dan berakhir dengan hembusan hangat di atas kepalaku.


Tidak apa-apa?


Aku menghela napas pelan lalu memejam mataku, bagian daguku terasa berdenyut perih untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan. Aku tidak apa-apa.


Terdengar sebuah dengusan lagi sebelum aku merasakan Dave ikut membaringkan tubuhnya di sebelahku dengan memberikan sedikit jarak tersisa. Aku sedikit membuka mataku dan melihatnya sedang menatapku balik.


Kau lucu, ucapnya tiba-tiba.


Apanya?


Dave kembali mendengus mendengar ucapanku. Polos.


Maksudmu apa? tanyaku mulai mengangkat kepala dan menatapnya dengan kening berkerut tidak mengerti.


Kenapa kau bisa menjadi alpha?

__ADS_1


Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa dan memilih untuk tetap menatap matanya yang masih tidak terbaca olehku.


Manis.


—kau mabuk?


Dia kembali mendengus untuk kesekian kalinya. Mungkin.


Aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapanmu, Dave.


Dia terlihat seakan sedang tersenyum sebagai balasannya ke arahku, aku tahu.


Aku mendesah pelan. Kenapa kau selalu menjawab singkat setiap aku serius?


Entahlah, jawabnya langsung, tampak heran dengan pertanyaanku yang melenceng dari sebelumnya. Kenapa?


Kau malah bertanya balik.


Dave terdiam lalu mengalihkan pandangannya dariku. Itu tidak penting untuk dibahas. Kau sudah lebih baik?


Kurasa ... iya.


Dave mengangguk lalu bangkit dari posisi sebelumnya tanpa menoleh ke arahku. Bagus, ayo kita kembali.


~°~°~°~


"Siapa yang akan pergi?" tanya Chloe menatap satu persatu anggota yang berkumpul di satu ruangan.


"Aku pergi," ucap Malcolm lalu menyenggol cowok yang berada di sebelahnya. "Kau juga 'kan, Dave?"


"Hm, ya."


Grace yang berada diantara mereka tampak mengerutkan wajahnya tidak suka tapi dia akhirnya tidak berkata apa-apa setelah melihat tatapan tajam Chloe yang tidak ingin dibantah.


"Kalau Hans ikut, aku ikut," ucap Emily menyambung dengan tenang.


Chloe mengerutkan keningnya lalu beralih menatap cewek yang saat ini berdiri di samping Hans. "Kau yakin tidak apa-apa, Emily?"


Emily mengangguk.


Chloe menghela napas. "Kalau begitu sebaiknya kalian berangkat sekarang juga, Dave dan Allison yang akan memimpin."


Aku mengangguk mengerti lalu menerima sebuah gulungan dan guci dari Chloe, Theo yang berada di sebelahnya memberiku cengiran khasnya sembari memberi kata-kata semangat hingga kakak ceweknya menyikut pinggangnya karena terlalu berisik.


Dave dan Malcolm berjalan duluan memasuki mobil dengan Emily, Hans dan aku menyusul di belakang mereka. Aku mendudukkan diriku diantara dua kakak adik yang baru bertemu tersebut bersamaan dengan Dave melajukan mobilnya.


"Kalian bertengkar?" bisik Emily tiba-tiba menunduk ke arahku.


Aku menggeleng sebagai jawaban, aku dan Dave tidak sedang bertengkar.


"Sungguh?" tanya Emily lagi terdengar tidak yakin. "Hawa diantara kalian terasa dingin bagiku, kau juga merasakannya kan, Hans?"


Hans menatapku selama beberapa saat lalu mengangguk menyetujui ucapan Emily.


Aku hanya bisa menghela napas dan kembali terfokus untuk menatap kaca depan yang menyajikan pemandangan jalan yang tampak lenggang dengan beberapa mobil lain. Kami menuju pusat kota di mana anggota Whitney paling sering terlihat dan berbaur dengan manusia lain.


Gedung-gedung tinggi mulai terlihat menggantikan lahan kosong yang kami lewati sebelumnya, orang-orang terlihat berjalan terburu-buru menuju tujuannya masing-masing dan beberapa lainnya sibuk dengan ponsel mereka.


"Belok kanan, Dave," kata Emily tiba-tiba.


Dave menurut dan segera berbelok tanpa berkata apa-apa. Malcolm yang berada di sebelahnya juga tampak diam dan masih terus memandang jendela yang berada di sampingnya.


"Lampu merah nanti, kita belok ke kiri."

__ADS_1


"Hmm."


Dave kembali berbelok dan melajukan mobilnya dengan lebih cepat, jalanan disini tidak terlalu ramai dan mulai sepi dengan orang-orang, hanya terdapat beberapa gedung dengan ukuran sedang dan beberapa toko biasa.


Cowok itu menghentikan laju mobilnya ketika sampai di depan sebuah toko roti. Kami turun dari mobil lalu berjalan memasuki toko yang dipenuhi dengan beberapa meja dan counter berisi berbagai macam roti yang berbau khas.


"Selamat datang di toko kami," ucap seseorang tiba-tiba dengan nada mengalun. "Ada yang bisa aku bantu?"


Aku menoleh ke arah sumber suara tersebut dan melihat seorang cewek dengan apron menutupi terusan biru airnya menatap ke arahku dengan senyum kecil terukir di bibirnya. "Apa kami bisa bertemu dengan pemilik toko ini?"


Dia sedikit meringis lalu menatap kami satu persatu. "Aku pemiliknya, ada perlu apa?"


"Ini tentang pemimpinmu, lintah."


Senyum cewek itu perlahan pudar lalu mengerutkan keningnya ke arah kami. "Whitney?" tanyanya memastikan. "Kalian werewolf?"


Kami mengangguk.


"Ah... sudah waktunya ya?" tanyanya retoris lalu menatap kami lagi. "Silahkan duduk dan ambil beberapa roti yang kalian inginkan, aku akan panggil yang lainnya."


"Tunggu."


Cewek itu menghentikan langkahnya lalu kembali menatap kami. "Ya?"


"Boleh kami ikut ke sana?" tanyaku langsung dan buru-buru menyambung. "Supaya cepat selesai dan kami tidak mengganggu aktivitas tokomu."


Dia tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah, ikuti aku."


Aku dan yang lainnya segera mengikuti cewek itu yang berjalan masuk melewati salah satu pintu dapur, sepi dan tidak terlihat satu orang pun. Dia menuntun kami untuk keluar dari sana dan memasuki pintu lain menuju sebuah rumah yang tampak sederhana.


"Joan?"


"Gilbert," balas cewek itu menatap seorang cowok yang kini sedang menatap kami bingung. "Kita kedatangan tamu, mana yang lain?"


Cowok itu terdiam selama beberapa saat untuk menatap cewek itu, melirik singkat kepada kami lalu menatap cewek itu lagi. "Mereka baru saja berangkat untuk berburu."


Joan menghela napas pelan. "Baiklah, berarti hanya kita berdua disini," dia menoleh ke arah kami. "Apa tidak masalah?"


Aku mengangguk. "Tidak apa-apa," ujar Dave.


"Duduklah, kalian ingin minum?" tanyanya ramah sembari membuka apronnya.


"Tidak usah, langsung saja."


Terdengar suara erangan dari Malcolm setelah dia disikut oleh Emily yang duduk di sebelahnya. Joan tertawa melihat hal itu lalu berjalan mendekat untuk mendudukkan dirinya di sebelah Gilbert, tampak menutup mulutnya walaupun tidak dapat menyembunyikan senyumnya.


"Maaf, baru kali ini aku melihat hal seperti itu. Apa kalian masih baru?"


Aku menoleh ke arah Emily dan melihatnya meringis sembari menganggukkan kepalanya. "Kami termasuk anggota yang paling muda, kalian sendiri?"


"Gilbert dan aku-termasuk yang lain-merupakan anggota lama, tidak ada yang baru disini," ujarnya pelan tersenyum sedih. "Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan?"


"Kami ingin berdamai dengan kaum kalian dan mengakhiri kesalah pahaman yang terjadi dulu," ucapku pelan lalu mengeluarkan gulungan beserta guci dari tasku. "Ini surat dan abu pembakaran mereka."


Joan mengangguk paham dan menerima kedua benda itu. Dia memangku guci tersebut dengan hati-hati lalu membuka gulungan untuk mulai membacanya bersama Gilbert.


"Kalian punya pulpen?"


Aku mengangguk lalu segera menyerahkan pulpen itu kepadanya. Dia dan Gilbert segera membubuhkan tanda tangan di atas gulungan tersebut lalu menggigit salah satu jari mereka untuk menempelkan sedikit darah sebagai bukti perjanjian.


Aku kembali membuka tasku untuk meraih gulungan yang sama persis lalu melakukan hal yang sama seperti mereka, Dave berpindah ke sebelahku dan mengikutinya.


Joan mengulurkan tangannya ke arahku setelah itu, mengukir sebuah senyum kecil di bibirnya. "Damai?"

__ADS_1


"Damai," aku membalas jabatannya dan ikut tersenyum.


__ADS_2