A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.8


__ADS_3

Grace berusaha terlihat tenang saat duduk menghadap Chloe. Cewek di hapannya itu terasa mengintimidasi, bahkan dengan adanya Allison di sampingnya. Alpha kawanan mereka terlihat ingin menyemangatinya, tapi karena tatapan Chloe, cewek itu malah menghindari tatapannya.


Kegiatan sehari-hari mereka untuk sementara dihentikan. Anggota lain sekarang berada di sekeliling mereka untuk ikut mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh cewek itu. Dave duduk di sampingnya untuk mendampinginya. Mereka terlihat seperti sepasang orangtua dan anak dihadapan kepala sekolah dan wali kelas.


"Kalian semua sudah tahu bagaimana hukuman bagi pelanggaran di batas wilayah 'kan?"


Mereka semua mengangguk.


Perbatasan wilayah adalah hal sensitif yang secara tidak langsung menunjukkan identitas kawanan werewolf yang menjadi penjaganya. Walaupun begitu, hukum yang pasti untuk setiap perbatasan wilayah adalah larangan bagi kawanan lain untuk masuk ke dalam wilayah kawanan lainnya tanpa ijin. Jika melanggar, kawanan tersebut diharuskan untuk membayar perbuatan mereka kepada kawanan yang dimaksud.


Sudah dua kali kawanan mereka melanggar. Pertama kali saat mereka datang ke restoran itu dan yang kedua adalah Grace yang ditemukan tidak sadarkan diri di restoran yang sama. Keduanya dilakukan tanpa ijin, ditambah, Chloe mengetahui cewek itu berlari tanpa tujuan dan malah berakhir di tempat yang seharusnya dihindarinya.


Hal itu adalah pelanggaran yang akan terdengar merendahkan bagi anggota kawanan, terutama untuk pemimpin kawanan. Chloe tidak percaya bahwa adik dari pemimpin kawanan itu bisa membiarkan apa yang dikatakan Grace begitu saja. Bagaimanapun caranya, mereka harus membayar perbuatan mereka yang tidak bertanggungjawab.


"Grace...."


Cewek itu sedikit menegang begitu namanya disebut.


"Aku dan kamu akan menjadi wakil dari kawanan kita."


Beberapa anggota kawanan terlihat terkejut, cewek itu juga, mereka mengira jika hanya Grace yang akan bertanggungjawab dalam kejadian ini. Di sisi lain, Allison dan Dave tidak terlihat terkejut, sepertinya mereka bertiga sempat membicarakan ini sebelum dia dijemput.


"Tidak adil jika hanya Grace yang menanggung semuanya, karena itu aku akan ikut bersamanya," ujarnya lagi. "Aku juga bersalah karena tidak mengetahui lokasi kawanan lain dan mencegah kejadian ini terjadi."


"Aku dan Dave yang akan bertanggung jawab di sini untuk menggantikan Chloe. Tidak akan ada penggantian kegiatan, sehingga kita akan melakukan aktivitas seperti biasa."


"Aku ingin ikut."


Grace menoleh ke arah suara yang tidak asing. Hans menatapnya sesaat sebelum kembali berbicara. "Aku juga ingin bertanggung jawab dalam hal ini."


Sepertinya dia sudah mengetahui apa yang dikatakan Emily sebelumnya pada cewek itu. Dia merasa tersentuh dan sedikit sedih, seseorang yang akan menjadi mate cowok itu akan sangat beruntung.


"Ugh. Aku juga." Emily berbicara. "Aku akan bertanggungjawab terhadap perbuatanku yang menyebabkan kejadian hari ini."


Cewek itu dapat melihat Wayne yang tampak sedih di sebelah Emily. Jika kakak dari Hans itu ikut, mereka harus terpisah sementara karena cowok itu bukan werewolf.


"Siapa bilang itu perbuatanmu?" Grace menatap Emily yang membalas tatapannya, dia tersenyum mengejek. "Aku tidak pernah bilang kejadian ini karena perbuatanmu."


Chloe langsung memotong sebelum cewek itu bisa membalas ucapannya. "Benar, itu bukan kesalahanmu, Emily." Cewek itu beralih pada Hans. "Hans, kamu juga tidak melakukan kesalahan apapun sehingga harus ikut dengan kami."


"Tapi-"


"Kamu harus tetap berlatih bersamaku dan Allison, Hans. Waktu untuk transformasimu sudah dekat."


Grace ikut menatap Hans seperti yang dilakukan adiknya. "Dave benar. Aku dan Chloe tidak bisa mengajarimu. Adikku ini termasuk pelatih terbaik, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan hal lain dan fokus saja pada transformasimu."


Chloe mengangguk, menyetujui ucapannya. Dia menyebut dua orang yang akan menggantikannya mengajar para calon werewolf lalu membubarkan pertemuan mereka.

__ADS_1


Setelah ini, mereka akan menghubungi Lilian dan, jika hasilnya berjalan dengan lancar, mereka akan menemui wakil dari kawanan itu untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut.


.


"Hm, kalian membicarakan aku?"


Bram terasa kaku di sebelahnya, dari dulu cowok itu memang tidak bisa berpura-pura di hadapan siapapun. Lilian tidak bisa menyalahkannya sehingga dia segera menggeleng dan berbicara.


"Bukan, Paman. Aku tadi berharap supaya musim panas segera berakhir sehingga para nyamuk bisa menghilang." Dia menunjukkan lengannya yang menampilkan beberapa bintik merah di permukaan kulitnya. "Lihat, mereka sering sekali mengginggitku."


"Ya ampun, banyak sekali. Kamu tidak punya salep?"


Cewek itu kembali menggeleng. "Masih ada di rumah, lupa kubawa."


Pamannya itu segera merogoh kantung celananya dan mengulurkan sebuah tabung tipis kepadanya. "Pakailah."


"Terima kasih, Paman!"


Pamannya tersenyum. Dia melihat ke sekelilingnya sebelum kembali berbicara. "Di mana kakakmu? Aku tidak melihatnya akhir-akhir ini."


"Ah. Dia pergi ke suatu tempat, aku juga tidak tahu di mana ... kakak tidak memberitahuku."


"Begitu ... baiklah." Dia menepuk pundaknya mengerti sebelum menatap Bram sekilas, tersenyum jahil. "Aku sebaiknya pergi supaya kalian bisa kembali bersenang-senang."


"Paman, bukan begituu!"


Tawa pamannya terdengar, dia terlihat kembali berjalan menuju perumahan kawanan mereka.


"Maaf...."


Lilian meraih tangan Bram lalu menggenggamnya, tangannya yang satu lagi menepuk lembut tangan mereka yang terjalin. "Tidak apa-apa, Bram. Aku bisa melakukan ini karena bersamamu."


Dia tersenyum menatap cowok yang masih merasa bersalah itu, warna terlihat kembali pada wajahnya secara perlahan.


"Kamu tidak apa-apa?"


Cewek itu mengangguk.


Awalnya memang sulit ketika melihat sikap pamannya yang tetap seperti biasa walaupun dia sudah melihat pamannya itu melakukan hal yang tidak bisa dibayangkannya. Pamannya yang sangat baik dan menyenangkan ternyata hanyalah topeng dari sesuatu yang busuk. Lilian tidak bisa menahan kebeciannya, tapi sekarang, dia sudah bisa beradaptasi dan mengikuti cara pamannya itu dengan cukup baik.


Ponselnya terasa bergetar di sakunya. Ada pesan.


Lilian membaca pesan itu sebelum menghubungi kakaknya. "Kakak di mana? Kita harus bertemu."


.


Restoran sudah terlihat sepi, langit juga sudah menggelap, tamu mereka sudah pergi dari beberapa menit yang lalu sehingga yang tersisa adalah beberapa staf yang mendapat piket siang. Lilian dan Bram memasuki tempat bekerja kawanan mereka itu untuk menemui kakaknya.

__ADS_1


"Lilian!" Seseorang menyapanya dengan pelukan hangat. "Sudah lama sekali tidak bertemu dengan adik kesayanganku yang manis."


"Turunkan adikku."


"Jangan sentuh, Lily."


Dua orang cowok segera memprotes tindakan seseorang yang memeluknya itu.


"Finn." Cewek itu terkekeh pelan, membalas pelukannya. Pelukan orang ini selalu terasa nyaman sehingga dia sama sekali tidak keberatan, berbeda dengan apa yang diminta oleh kakaknya dan Bram.


"Kenapa? Kalian iri?" tanya cowok dengan tubuh yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan mereka berdua. "Makanya kalian sebaiknya mengurangi latihan otot agar terasa lebih empuk sepertiku. Benar 'kan, Lilian?"


Lilian mengangguk. "Finn sangat empuk."


Cowok itu tertawa. "Dengarkan adikmu, Stefan. Kamu juga, Bram. Ohok!"


"Sudah main-mainnya, Finn."


Seorang cewek yang terlihat dingin dan cantik terlihat menghampiri mereka. Raut wajahnya berubah lebih lembut ketika bertatapan dengan Lilian. "Halo, Lily."


"Halo, Iris." Dia tersenyum, menerima pelukan dari mate Finn yang terlihat seratus delapan puluh derajat berbeda dengan pasangannya. Walaupun begitu, kesan hangat dari pelukan mereka berdua tidak jauh berbeda.


"Hah! Lihat itu, kamu hanya ingin memanfaatkan situasi."


Iris berdeham. "Aku hanya ingin memberinya pelukan kangen."


Beberapa anggota senior yang sudah beberapa hari tidak terlihat juga ikut menyapanya dan Bram. Mereka sibuk bekerja di beberapa tempat lain selama anggota muda mengurus restoran, mulai dari pekerjaan kantor sampai pekerjaan berat, besok mereka sudah harus kembali pergi sehingga waktu mereka bertemu tidak lama.


"Ada pesan apa?"


Kakaknya bertanya setelah mereka selesai membereskan seluruh peralatan dan bebersih. Saat ini mereka berkumpul di ruang istirahat staf dapur dengan beberapa cemilan dan minuman.


"Oh, ya. Pesan apa itu?"


Mereka semua menatapnya penasaran. Lilian mengambil napas. "Kawanan itu ... mereka ingin bertanggungjawab atas pelanggaran perbatasan wilayah."


"Bukannya kita sepakat kalau hal itu dilupakan saja? Mereka hanya harus tidak mengungunjungi wilayah kita lagi."


Cewek itu menggeleng. "Mereka bersikeras untuk melakukan pertanggungjawaban."


"Keras kepala sekali."


Lilian mengangguk. Dia juga tidak mengerti alasan kawanan itu bersikap seperti ini, seharusnya mereka bersyukur dengan solusi paling mudah dan tidak merugikan bagi kedua belah pihak tersebut.


"Mereka meminta untuk bertemu untuk membicarakan hal ini besok. Sebaiknya bagaimana, kak?"


"Siapa nama wakil mereka?"

__ADS_1


"Chloe dan Kak Grace."


Stefan menghela napas panjang ketika mendengar nama seseorang yang harus dia hindari itu.


__ADS_2