A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
2.14


__ADS_3

"Namamu Wayne, ya? Aku Cara." Cewek vampir itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya pada cowok itu yang kemudian segera menyambut tangannya. "Senang berkenalan denganmu."


"Senang berkenalan denganmu juga," balasnya tersenyum.


"Jadi," tanyanya menyambung. "Sedang apa kau di sini?"


Wayne mengedikkan kepalanya ke arah bola basket yang berada di tengah lapangan. "Bermain basket. Di rumah sangat membosankan."


"Lauren terlalu mengekangmu ya?"


"Tidak juga." Anak cowok itu segera menggelengkan kepalanya. "Dia hanya terlalu protektif."


Cara mengangkat alisnya geli. "Bukannya itu sama saja?"


"Ah, benar juga."


Mereka saling berbagi tawa selama beberapa saat sebelum cewek itu bangun dari posisi duduknya dan menepuk roknya pelan. "Sebaiknya aku pergi, maaf sudah mengganggumu dari beristirahat."


"Tidak masalah," ujarnya tersenyum sambil mengangkat bahunya. "Sampai ketemu lagi."


"Sampai ketemu lagi," balasnya tersenyum dan meninggalkan cowok itu.


...|•|...


Bagi Cara, Wayne adalah sosok yang sangat menawan, secara fisik dan psikis. Dengan rahang nyaris persegi dan lesung pipit di dekat matanya serta sifatnya yang sangat ramah dan fleksibel.


Cewek vampir itu sudah hidup satu abad lebih lama dibanding para anak vampir yang masih dalam tahap transisi. Dengan pengalaman dan keliaran yang sangat berbeda dari para vampir di daerah itu—bahkan yang paling tua atau seumutan dengannya.


Dia di jauhi.


Tidak secara terang-terangan memang, tapi kadang mereka hanya menyapa sekali untuk berkenalan dengannya kemudian tidak pernah sekalipun mereka mengajaknya masuk ke lingkaran pertemanan.


Alex di sisi lain lebih mudah beradaptasi dan berbaur dengan anak-anak cowok maupun cewek di sekitarnya. Mereka tertarik dengan kesan yang ditampilkannya, yang sangat mirip dengan para anak vampir tersebut. Cara kadang berpikir untuk menampilkan kesan yang sama, tapi setelah dipikir ulang, ide itu tidak terlalu cocok dengannya.


"Kau sendirian lagi?" tanya seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


Cara tersenyum simpul setelah mengenal suara orang itu. Kepedulian yang diberikan cowok manusia itu terhadapnya secara cuma-cuma, membuatnya menyukai Wayne lebih dari pada siapapun. "Kau bisa lihat sendiri kan?"


Dia terkekeh pelan sebagai balasan dan menyerahkan sebuah gelas berisi kopi hangat. "Untukmu."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Mereka terdiam selama beberapa saat, menikmati angin dingin yang berhembus ke arah mereka.


"Dari mana kau tahu aku akan ada di sini?" tanyanya memecah keheningan.

__ADS_1


"Menebaknya."


Cara mengangkat alisnya tidak mengerti.


"Kau selalu terlihat sendiri," ujarnya mengalihkan pandangan, sedikit salah tingkah. "Aku kadang melihatmu di sini saat sedang berjalan ke kafetaria."


Cewek vampir itu tersenyum miring. "Perhatian sekali. Apa kau suka padaku?"


Wayne menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Entahlah."


"Jangan jadi malu begitu," ujar cewek vampir itu dengan senyum yang berubah jadi cengiran.


"Kau menggodaku," balasnya dengan nada menuduh sekaligus menolak untuk menatap cewek vampir itu.


Cara tertawa sebagai balasan.


~°~


Berteman dengan cowok manusia itu membawa pengaruh yang baik untuknya. Tiga tahun sudah berlalu dan akhirnya dia mempunyai lingkaran teman, walaupun masing-masing mempunyai kesibukan sendiri, tapi paling tidak Cara sudah punya teman semeja saat istirahat. Terkadang, Alex dan Wayne ikut berkumpul disela kesibukan mereka menjadi tim basket dan redaksi koran sekolah.


Selain membawa pengaruh baik, Wayne memunculkan perasaan baru baginya. Dia tidak pernah merasa setegang dan sekhawatir ini sebelumnya di dekat siapapun, perasaan hangat yang aneh melumurinya ketika cowok itu tersenyum atau menggenggam tangannya. Juga perasaan takut jika sewaktu- waktu cowok itu meninggalkannya tanpa pemberitahuan bersama cewek lain.


Cara ingin memonopoli Wayne tanpa berniat untuk berbagi pada siapapun.


"Aku mencintaimu, Wayne," ujarnya, menatap penuh harap pada cowok itu sewaktu sekolah sudah lama berakhir.


"Apa kau tidak mempunyai perasaan yang sama untukku setelah sekian lama?"


Cowok itu menggeleng pelan, pandangan cewek itu terlihat menuntut hingga membuatnya pusing. "Cara, aku...."


"Kau mempunyai seseorang yang kau sukai ya?" tanyanya kembali tanpa mempedulikan ucapan Wayne.


Mereka saling bertukar pandang. Satu menuntut dan satu lagi tampak kelelahan dengan sangat cepat. Cowok manusia itu sudah hampir ambruk ketika Cara merangkul lehernya dan menciumnya paksa, menumpahkan perasaan kesal dan sedih saat cowok itu bahkan tidak sanggup menatapnya lagi.


Apa dia terlalu mengerikan untuk mendapat seorang pasangan di hidupnya?


Tubuhnya tiba-tiba tersentak ketika sesuatu yang keras menyentak jantungnya yang sudah lama mati.


Cewek vampir itu menarik diri dan menatap Wayne dengan pandangan mata yang tidak bisa diartikan. Dia pernah merasakan itu sebelumnya, ketika tanpa sengaja mencium seorang perempuan di bar akibat mabuk darah–yang tercampur terlalu banyak nikotin dan alkohol.


Perempuan itu mate dari seorang alpha di daerah itu. Dan dalam beberapa menit setelah kejadian itu, alpha yang bersangkutan datang dan nyaris membunuhnya jika Alex tidak segera membawanya kabur.


Tapi Wayne?


Cara mencengkram bahunya dan menatap Wayne hingga cowok itu terdesak di batang pohon. "Siapa kau? Kau manusia kan?"


"Tentu saja aku manusia," jawabnya sedikit tersendat. "Ada apa dengan dirimu?"

__ADS_1


Cewek vampir itu kembali mengabaikan pertanyaannya dan malah balik bertanya. "Jelaskan padaku, kenapa kau mempunyai tanda mate pada dirimu?"


"Mate?"


"Pasangan dari manusia serigala," ucapnya singkat, melonggarkan cengkramannya ketika cowok itu sudah terlalu terdesak. "Apa kau tahu?"


"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu."


Cara melepaskan cowok itu, tampak tidak percaya akan kenyataan yang dihadapinya. Mate dari klan manusia serigala yang langka.


"Sebaiknya aku pergi." Wayne berujar pelan dan langsung pergi dari hadapannya. Cara sudah tidak memperhatikan sekelilingnya lagi, dia masih fokus pada pikirannya yang terasa kacau dan sedang berusaha memperbaikinya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Alex tiba-tiba muncul di hadapannya dengan wajah penasaran.


"Alex." Cewek vampir itu mendongak, masih dengan ekspresi berpikir. "Tolong hapus ingatan Wayne untukku."


"Hari ini?"


Cara mengangguk.


"Ya ampun," ujarnya mendesah keras. "Kau menyuruhku untuk mencium cowok lagi?"


"Aku tidak ingin dia mengingatku sebagai cewek vampir yang aneh."


Dia mengangkat alisnya. "Kenapa tidak kau saja?"


"Kemampuanmu lebih sempurna dalam hal ini dibanding kemampuanku," ucapnya. "Lagipula, aku sudah dua kali melihatmu di cium Jordan tanpa keberatan sama sekali."


"Itu hanya untuk bersenang-senang."


Cewek vampir itu tidak membalasnya lagi.


Alex menghela napas dan menggelengkan kepalanya sebelum pergi. "Kuharap ini adalah terakhir kalinya aku membantumu dalam masalah cowok manusiamu itu."


...|•|...


Cara tetap mendekati Wayne seperti biasanya setelah kejadian itu. Lebih protektif dan membiarkan pandangan sebal dari penggemar Wayne yang terang-terangan.


Cowok itu, untungnya, tidak merasa keberatan. Redaksi sekolah sedang dipegang orang lain dan latihan tim basket pun masih di tahap ringan akibat persiapan penerimaan murid baru, kebanyakan kakak kelas yang memegang kendali. Cara bebas membawanya kemanapun asal mereka tetap bisa mengikuti pelajaran dan cowok itu bisa menemui teman-temannya.


Cewek itu tentu senang dengan perkembangan itu. Walaupun tahu kalau dia sudah ditolak, tapi paling tidak dia dapat terus bersama Wayne kapanpun dia mau, bahkan di rumah cowok itu. Lauten yang terang-terang menolak kedatangannya bukanlah masalah saat orangtua lnya menerimanya dengan baik.


Sebulan dan dua bulan berjalan dengan lancar. Cara tidak menemukan tanda mengancam apapun dari para anak vampir di sekitarnya. Angkatan baru ini malah terlihat lebih santai dan tidak masalah saat berada di sekitarnya.


Pengawasannya pada Wayne pun juga berkurang, semenjak Lauren menggantikannya mengikuti cowok manusia itu, dia pada akhirnya hanya akan melihat dari jauh sambil berkumpul bersama Alex, Jordan, Gary dan Kat. Menikmati obrolan duo Alex-Jordan serta gaya pacaran Garry dan Kat yang seperti anjing dan kucing (Garry yang tenang dan ramah sedangkan Kat yang ketus dan datar).


Cewek vampir itu mulai menikmati rutinitasnya yang bisa dibilang cukup menyenangkan, tidak ada masalah dan sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


Tapi semua berubah pada minggu berikutnya. Bulan yang tenang ternyata membawa badai di akhirnya. Cara dapat mencium bau anjing basah tepat saat seorang perempuan berambut hitam sepundak melangkah melewati pintu, berjalan di belakang Amanda dan Mrs. Rowan, kepala sekolah.


__ADS_2