
"Kamu.... bercanda kan?" tanyanya.
Emily masih tidak mempercayai sosok di hadapannya itu. Kaumnya dan kaum mereka selalu berseteru semenjak peristiwa itu terjadi. Bagaimana dia bisa-bisanya, setelah sekian waktu berlalu, mengambil keputusan ini?
"Tidak. Aku akan membantu kalian sebisaku," jawab Will menjelaskan. "Aku sudah lama bersama dengan Whitney, aku tahu apa yang mungkin dia lakukan jika kita tidak segera bertindak."
Emily terdiam, memandang lekat cowok yang berada di hadapannya itu untuk mencari kebohongan yang mungkin saja tersembunyi dibalik wajah ramahnya. Dia tahu, walaupun sosok dihadapannya terlihat seumuran dengannya, tapi dia sudah hidup lebih dari seabad dan jauh lebih kuat darinya dengan tubuh yang terlihat kurus.
Jika ini bukan di rumah sakit dan mereka sedang melawan satu sama lain, cewek itu akan kalah dengan mudah. Aroma tubuhnya yang tidak memuakkan bagi Emily pun menunjukkan bahwa cowok itu memiliki kendali diri yang sangat baik. Keunggulan yang menyebabkan jati dirinya tidak akan diketahui dengan mudah oleh para werewolf lain.
"Apa rencanamu?" tanya Emily pada akhirnya.
Cowok itu tersenyum. "Pertama, kita harus memindahkan Allison dari apartemennya."
"Ke mana?" tanyanya, sorot matanya tiba-tiba menajam ketika dirinya memberi jawaban yang terlintas di benaknya. "Ke rumahmu?"
"Tidak," jawab cowok itu cepat. "Pindahkan dia ke markas kalian."
Emily tampak terkejut mendengar jawaban cowok itu. "Kamu tahu markas kami?"
Dia mengangguk. "Aku sempat menyelidikinya sendiri," ucapnya pelan. "Whitney sama sekali tidak tahu apa yang kutemukan di tengah hutan kecil perbatasan saat aku sedang berburu. Tempat kalian benar-benar terlalu mudah ditebak sehingga tidak ada yang menemukannya."
Emily terdiam. Dia sama sekali tidak mendengarkan ucapan Will kepadanya.
"Apa kamu setuju?"
Terlalu mudah.
Emily masih merasa belum bisa mempercayai vampir yang ada di hadapannya itu. Meskipun tidak terasa niat buruk darinya semenjak kedatangannya hingga sekarang, tapi cerita mengenai masa lalu kelam mereka dan bagaimana mereka harus terus menerus bersembunyi.... Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan teman-temannya mengenai hal ini. Tetapi tawarannya juga terlalu bagus untuk ditolak.
"Kamu bisa bertanya pada salah satu temanmu kalau masih tidak yakin," ucap cowok itu lagi seakan membaca pikirannya. "Hal ini harus kamu dan kawananmu putuskan sekarang karena tidak ada waktu lagi."
Emily mendesah pelan lalu segera membuka ponselnya. Tidak ada salahnya. "Aku tidak menyangka kalau kamu bisa secerewet ini," ucapnya datar sambil menekan nomor Chloe. "Kupikir monster peminum darah menganut paham irit bicara."
Will tersenyum. "Aku juga tidak menyangka kalau monster pemuja bulan sangatlah penurut."
Emily hanya memutar bola matanya, memutuskan untuk mengabaikan balasan dari sindirannya sambil menunggu Chloe menjawab panggilannya.
"Halo?" sapa Chloe mengangkat panggilan. "Ada apa, Em?"
"Hai, Clo. Ada seseorang yang ingin bicara denganmu," ucap Emily dengan cepat menyerahkan ponselnya pada Will.
"Halo, ini Will," jawab cowok itu terdengar santai. "Apa kita bisa bicara?"
Terdengar jeda selama beberapa saat sebelum Will mengembalikan ponselnya ke tangannya. "Dia memutuskan sambungan, mumgkin terlalu kaget mendengarkan suaraku."
__ADS_1
Bulu kuduknya segera berdiri. Emily tidak akan bohong kalau selama beberapa saat tadi dia sempat merasakan hawa dingin menyengat dirinya, yang kemungkinan besar berasal dari Will.
Cowok itu menghela napas. "Baiklah, sebaiknya kau yang akan membicarakan hal itu nanti malam. Sebelum tengah malam nanti aku akan mendengar keputusan akhir darimu."
"Sampai jumpa."
"Ya." Cowok itu tersenyum sekilas lalu berjalan menjauh darinya.
~°~°~°~
Aku terbangun dari tidurku secara tiba-tiba. Pandangan mataku terlihat gelap walaupun merasa sudah membuka mata. Aku mengangkat salah satu tanganku dan mengusapkannya di mata berulangkali, berharap kalau itu hanyalah akibat dari sesuatu yang mungkin saja menghalangi pandangan mataku, tapi tidak ada yang berbeda.
Tanganku bergerak untuk meraba tempat tidurku, mencari sesuatu yang mungkin saja membantuku dari penglihatanku yang tiba-tiba saja menghilang. Aku dapat merasakan lapisan selimut yang menutupi tubuhku dan sebuah meja kecil di samping tempat tidur. Aku meraihnya dan sebisa mungkin berpegangan pada meja itu untuk berdiri, tapi gagal.
Napasku tercekat dan lidahku terpilin saat menghantam lantai dingin rumah sakit, merasakan oksigen yang kuhirup tertarik paksa bersamaan dengan tubuhku yang dijalari rasa panas yang amat sangat.
Berbagai sensasi yang menyerang tubuhku membuatku kebingungan. Di antara sadar dan tidak sadar aku menjerit, merasakan panas di tubuhku seperti menggerakkan rangka dan tulang-tulangku secara paksa, mematahkannya dan membentuknya ulang.
Sakit. Sakit.... SAKIT. SAKIT SEKALI.
"Allison?"
Emily.
Aku hanya bisa menyuarakan nama itu di kepalaku, napasku masih tercekat dan tertahan di tenggorokan. Tidak bisa bersuara dan terus merasakan keretakan-keretakan tulang di dalam tubuhku.
Kali ini aku dapat melihat bayangan samar mendekat ke arahku dan menampakkan wajah Emily yang terlihat sangat khawatir.
Dia menyentuhkan tangannya ke beberapa bagian tubuhku lalu menyerukan sebuah nama yang tidak bisa kudengar secara jelas. Patahan tulang itu sudah terlalu berat untuk kutahan lagi.
"Allison, apa kamu mendengarku?" Sebuah suara lain tiba-tiba terdengar sangat jelas di sebelahku. "Kalau bisa mendengar, tolong remas tanganku." Di antara rasa sakit aku dapat merasakan sebuah tangan menyusup di atas tanganku dan menggenggamnya.
Aku meremasnya sekuat tenaga. Terlalu pelan, tanganku terasa seperti bukan tanganku.
"Bagus," suara itu kembali berucap. Apa dia bisa merasakan gerakan sekecil itu? "Sekarang, dengarkan ucapanku sebaik mungkin."
Aku kembali meremas pelan. Kali ini aku dapat merasakan tangannya menggenggam tanganku lebih erat sebagai balasan.
"Pusatkan seluruh perhatianmu pada tanganku, abaikan rasa sakit di tubuhmu. Lakukan perlahan, tidak perlu terburu-buru."
Aku menurut. Sebisa mungkin aku mengabaikan rasa sakit itu, menyingkirkannya hingga aku tidak merasa keretakan tulang itu mengganggu konsentrasiku. Butuh waktu yang cukup lama sebelum akhirnya aku berhasil, sekarang aku dapat merasakan tanganku dengan lebih baik.
"Remas tanganku jika sudah berhasil."
Aku kembali meremas tangannya lebih keras.
__ADS_1
"Sekarang lepaskan," ucapnya lagi, dia melonggarkan genggamannya pada tanganku. "Biarkan dirimu kembali merasakan rasa sakit itu."
Aku terengah, berniat untuk protes padanya, tapi tidak sanggup. Keretakan-keretakan tulang itu kembali menyerangku ketika tangannya terlepas sepenuhnya dari genggamanku. Aku kembali menjerit, terlalu sakit. Terlalu menyakitkan–aku tidak sanggup menahannya.
Entah sudah berapa lama proses itu berlangsung, aku hanya dapat merasakan tulang-tulang bergerak di dalam tubuhku dengan beringas lalu tiba-tiba saja rasa sakit itu berhenti.
Lenyap.
Aku membuka mataku dan dengan segera menangkap dua sosok yang berdiri di hadapanku. Aku sudah kembali di tempat tidur. Emily segera memelukku sedangkan satu sosok itu tetap berada di tempatnya.
"Kamu berhasil," ucap cowok itu tersenyum. "Selamat, Allison."
Emily juga tersenyum, lebar dengan mata berbinar saat melepaskan pelukannya. "Selamat bergabung, Ally."
Aku memaksakan diri untuk bangun dan menatap tubuhku yang terasa baik-baik saja seakan tidak terjadi apapun sebelumnya. Aku menatap mereka secara bergantian, bingung dan kalut. Kenapa mereka memberiku selamat? Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebelumnya.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku pada mereka dengan pandangan menuntut, mengharapkan jawaban. "Apa ini karena aku digigit Whitney?"
Senyum Emily lenyap dan digantikan dengan tatapan terkejut. "Kamu mengingatnya?"
"Ya, aku mengingatnya," jawabku. "Kamu berbohong, Em."
"Emily memang harus melakukannya demi kebaikanmu," ucap cowok yang tidak kuketahui namanya itu tiba-tiba. "Kami tidak mengira kalau kamu bisa mengingatnya."
Aku menggelengkan kepalaku. "Aku bisa mengingatnya, waktu itu aku sempat terbangun. Aku melihat kalian membawaku ke suatu tempat-entah dimana, membalurkan sesuatu di leherku dan samar-samar aku melihat banyak orang lain yang berkerumun mengelilingiku," jelasku. "Itu memang benar kalian kan?"
Emily dan cowok itu mengangguk, tidak berkata apa-apa.
"Apa yang kalian lakukan padaku saat itu?" tanyaku lagi. "Aku sama sekali tidak mengerti."
"Kami melakukan itu untuk menghentikan racun yang mengaliri pembuluh darahmu saat Whitney menggigitmu, bermaksud untuk menghentikan apapun yang buruk yang bisa saja terjadi," jelas Emily. "Tapi kami tidak tahu kalau racunnya sudah tersebar dan malah mempercepat perubahanmu."
"Perubahanku menjadi apa?" tanyaku nyaris berseru, semua ini membuatku sangat kebingungan dan mereka memperparahnya dengan menjelaskan semua ini secara bertele-tele.
"Menjadi seperti kami, werewolf," jawab cowok itu, menyentuh tanganku. "Kami tahu ini terlalu cepat, tapi kami harus memberitahumu kalau kau mulai saat ini akan menjadi pemimpin kelompok kami. Kami membutuhkanmu untuk memimpin kawanan kami mulai sekarang, Allison. Sebagai seorang alpha."
Aku menyentakkan tanganku menjauh dari sentuhan cowok itu. "Kalian bercanda," ucapku datar. "Tidak ada yang namanya vampir dan werewolf di dunia ini, semua itu hanya ada di dalam novel."
"Ally...."
Aku menggelengkan kepalaku dan menutup kedua telingaku. "Jangan mengatakan apapun, aku tidak akan mendengarnya, tolong keluar dari sini."
Mereka terdiam lalu saling menukar pandangan.
Aku memejamkan mataku.
__ADS_1
Saat membuka mata, mereka sudah tidak ada.