A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
2.13


__ADS_3

"Apa yang ingin kau lakukan?"


Cewek vampir itu tersenyum kecil menanggapi pertanyaan tersebut. "Membunuh seperti yang kita lakukan dulu, Alex," ujarnya. "Apa kau sudah mulai melupakan kesenangan liar itu?"


Dia mendesah frustasi. "Mereka hanya anak-anak."


"Anak-anak jika keras kepala dan sudah menganggap suatu hal benar, maka mereka bisa melakukan sesuatu di luar bayangan kita," ujarnya dingin. "Kau tahu itu dengan lebih baik."


Alex terdiam mendengar perkataannya. Cewek vampir itu benar, tapi mereka melakukan semua itu setengah abad yang lalu, tanpa ada peraturan dan di daerah yang sangat terpencil hingga tidak pernah ada yang pernah mengetahuinya.


Setelah berpindah ke sini, membunuh untuk bersenang-senang rasanya sangat tidak masuk akal. Mereka hidup berkecukupan di sini dan memiliki stok darah yang cukup banyak dari para penjahat yang hendak dihukum mati—walaupun rasanya terlalu lengket dan berminyak.


Dan cewek vampir itu menyamakan keadaan dulu dengan keadaan sekarang karena alasan yang begitu sepele dibalik keputusannya. Dia tidak bisa membiarkannya.


"Apa kau ingin kabur?" tanya cewek vampir itu tiba-tiba. Wajahnya terlihat datar, tapi dia tahu kalau cewek itu sangat membenci keadaan ini. Terlebih karena mereka berselisih jalan.


Alex merapatkan mulutnya. "Aku berusaha menghentikanmu dari tindakan yang bodoh."


"Dengan apa?" Cewek vampir itu tiba-tiba terlihat geli. "Kemampuanmu hanya membuat sesuatu yang nyata menjadi tidak nyata, apa yang bisa kau lakukan dengan itu?"


Cowok vampir itu tidak menjawab, dia hanya berjalan mendekat dan dengan cepat menciumnya. Tersenyum miring hingga tubuhnya perlahan terlihat berubah menjadi partikel-partikel kecil di hadapan cewek vampir itu.


"Oh, sialan. Alex."


Cewek vampir itu tampak terperangah menatapnya, menyadari apa yang telah dilakukan Alex terhadapnya seiring dengan lenyapnya tubuh cowok itu.


"Jangan pernah lengah, kau tahu itu dengan lebih baik." Dia mengulang ucapan cewek itu sebelum benar-benar menghilang.


...|•|...


Bagi Alex, cewek vampir itu adalah seseorang yang sudah dianggapnya seperti saudaranya sendiri. Walaupun umur mereka terpaut 50 tahun dan memiliki latar belakang yang berbeda. Sebelumnya cewek vampir itu merasakan hal yang sama untuknya, tapi semenjak kemunculan manusia itu, dia menjauh darinya dan semakin mendekati cowok itu dengan terang-terangan.

__ADS_1


Bukan berarti cowok vampir itu cemburu. Mereka berdua sudah hidup berdampingan selama 1 setengah abad dan sangat mengetahui kelebihan dan kelemahan satu sama lain serta saling menjaga untuk satu sama lain juga.


Tapi waktu berlalu dan semua pada akhirnya akan berubah. Bahkan dengan kebersamaan yang sangat nyata itu.


~°~


"Apa yang kau lakukan pada Amanda?" tanya Emily terkejut ketika melihat dia diangkat dari lantai dan di pindahlan ke atas tempat tidur.


Alex nyengir. "Membuatnya tertidur, tentu saja."


Emily menatap cowok itu hingga cengiran di wajahnya lenyap.


"Oke, baiklah. Aku akan mengurangi kadar ketidakseriusanku." Dia berucap sambil tersenyum paksa dan mengangkat bahunya tak acuh.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sekali lagi.


"Membuat sesuatu yang nyata menjadi tidak nyata."


"Aku membuatnya melupakanku atau lebih tepatnya membuat diriku tidak nyata di hadapannya." Alex memalingkan wajahnya dan mengelus dahi Amanda lembut. "Saat dia terbangun nanti, dia tidak akan melihatku secara harafiah."


"Maksudmu ... seperti hantu?"


Dia mengangguk. "Kurang lebih begitu."


"Kau juga berhasil melakukan hal itu pada si cewek vampir." Emily kembali berkata tanpa tedeng aling-aling.


"Yah," ujarnya dengan tampang yang nyaris patah hati. "Kau berhasil menebaknya dengan benar."


Emily hanya menggelengkan kepalanya. "Meskipun begitu, aku tetap tidak mengerti kenapa cewek vampir itu bisa terkena kemampuanmu. Seharusnya dia sangat waspada kan?"


"Tidak juga, ada saat-saat tertentu di mana dia menurunkan kewaspadaannya dan selain itu, kami sudah saling mengenal sejak lama sehingga dia mempercayaiku dibanding siapapun," ujarnya.

__ADS_1


"Dan kau mengkhianatinya pada saat itu juga."


Alex mengangkat alisnya. "Kau mengatakannya seolah aku orang jahatnya di sini."


Emily mengangkat bahunya, dia hanya berusaha menilai vampir yang akan membantunya ini. Bagaimanapun dia tidak bisa memercayai seseorang, terutama vampir mantan kaki tangan musuhnya, dengan begitu mudahnya.


"Bagaimana dengan Amanda?"


Alex meringis pelan dan kembali nyengir. "Itu untuk alasan pribadi secara keseluruhan, tapi dengan kondisinya yang sekarang, kita bisa menjatuhkan cewek vampir itu tanpa gangguan dan hanya dengan kemampuan kita jika disatukan."


"Kau yakin?"


"Hm, sebenarnya tidak juga." Alex mengerutkan keningnya. "Ada seseorang lagi yang bisa membantu kita."


Emily memutar bola matanya. "Kau ingin membuatku terus bertanya?"


Cowok vampir itu nyengir. "Jordan."


"Jordan?" Emily mengerutkan keningnya. "Aku merasa pernah menyebut namanya sebelum ini, meskipun lupa kapan tepatnya." Dia menatap Alex. "Perbuatanmu."


"Benar sekali." Dia menjentikkan jarinya. "Tapi itu tidak penting untuk sekarang. Sebaiknya kau beristirahat dan membiarkanku menonton drama picisan di rumah sebelum nanti malam. Aku ingin bersantai setelah memakai kemampuanku dua kali."


"Drama picisan." Emily mengulanginya dengan nada tidak percaya, nyaris jijik.


Alex mengangkat bahunya sambil kembali nyengir. "Jangan salahkan aku, drama itu seringkali menarik dengan cara yang aneh. Terutama tangisan dan sikap jahat yang berlebihan dari tokohnya juga hal lain yang tidak bisa dikatakan."


"Aku tidak menyangka selera tontonanmu buruk." Dia menggelengkan kepalanya. "Lupakan, jangan balas ucapanku. Aku ingin tidur."


Alex mengubah cengirannya menjadi senyum normal. "Beristirahatlah dalam damai, Em."


Emily memutar bola matanya, bersungut-sungut, sebelum memasuki kamarnya yang berada di sebelah kamar Amanda. "Aku belum mati, Alex."

__ADS_1


__ADS_2