
Emily meringis pelan, seluruh tubuhnya terasa remuk, dia bahkan tidak bisa merasakan kakinya yang patah. Vampir itu benar. Penyembuhan cepatnya berkurang dengan drastis di tempat ini, dia baru saja menyadari jika tempat ini memang harus dijauhi oleh kaumnya.
Cewek itu memberi geraman peringatan, dia dapat merasakan keberadaan cewek vampir itu yang terasa sangat samar di dekatnya walaupun tidak dapat melihatnya langsung. Sekumpulan uap putih membayangi sekitarnya, menambah kesan horor dari hutan yang terasa merapat untuk menonton pertunjukkan yang sangat jarang terjadi.
Dia sangat membenci vampir dengan kemampuan khusus.
Napasnya terengah saat dirinya berusaha untuk mengangkat tubuhnya bangkit. Dia berhasil bangkit dalam tiga puluh detik dan kemudian oleng kesamping tanpa bisa dicegah. Kemampuan penyembuhannya benar-benar lenyap sekarang, mungkin pada akhirnya dia akan kembali ke bentuk manusianya tanpa perlawanan.
Sial.
Emily membuka dan menutup matanya selama beberapa saat lalu terkejut ketika mendapati sesosok laki-laki tiba-tiba saja sudah berdiri membelakanginya. Sebuah sweter panjang terlempar ke arahnya dan segera menutupi tubuhnya yang ternyata sudah kembali seperti semula, penuh luka dan tidak berbulu.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?" tanya Emily pelan.
Dia tidak bisa merasakan apapun lagi saat otot di beberapa bagian tubuhnya mulai terasa sangat kaku dan tidak bisa digerakkan seperti biasa.
Cowok itu tidak menjawab pertanyaannya. "Cepat pakailah sweter itu."
"Aku tidak bisa bergerak."
Tubuh cowok itu mendadak kaku. Entah kenapa Emily merasa cowok itu kemungkinan besar sedang menahan dirinya untuk tidak menoleh dan merasa salah tingkah terhadap dirinya. Konyol sekali.
Tetapi dugaannya benar salah. Dia mengeratkan sweter pemberian cowok itu pada tubuhnya sebisa mungkin dan menatap ke sekeliling, keberadaan cewek vampir itu mulai menguat, cowok itu dapat merasakannya juga. Lebih cepat dibanding dirinya.
"Kau tahu waktunya?" tanya Emily tiba-tiba.
Cowok itu mengangguk pelan, entah kenapa dia dapat mengetahui maksud dari perkataan cewek serigala itu kepadanya. "Sembilan menit lagi."
Emily berpikir dengan cepat, pandangan matanya menyapu pada bayangan putih itu lagi selama beberapa saat dan berakhir menatap punggung cowok itu yang tampak waspada. Kalau saja dia bisa bergerak, mungkin dia sudah memeluk erat Wayne seperti saat mereka masih kecil, pikiran yang konyol, lagi, tapi dia tidak bisa menahan diri saat sosok yang dia cari begitu dekat dan bisa disentuh dalam sekejap mata.
"Kenapa kau memandang punggungku terus?" tanya Wayne tiba-tiba. "Perasaanku jadi tidak enak."
Emily mendengus pelan, menahan tawa mendengar ucapan jujur dari cowok yang bahkan tidak punya kemampuan untuk mempertahankan diri. "Maaf, berapa lama waktu yang kita punya?"
"Sekitar tujuh menit," jawabnya. "Apa kau tidak punya rencana untuk mempertahankan diri? maksudku, aku hanya manusia biasa di sini, kalau kau tiba-tiba melupakannya."
"Kenapa kau mau menolongku?"
Cowok itu terdiam dengan jeda yang cukup panjang lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu alasannya."
__ADS_1
Apa dia bisa mengingat rasanya walaupun sedikit? Cewek itu memandang Wayne lagi yang mulai berkeringat.
Waktu mereka jelas menipis dengan segala pertanyaan remeh dan pemikirannya yang baru menemukan solusi setelah sekian lama. Mungkin ini bisa dilakukan. "Mendekatlah, Wayne. Cepat."
"Apa?"
"Jangan bertanya, ada yang ingin aku coba denganmu," ujarnya lagi dengan nada yang lebih mendesak.
Wayne berbalik dan berjalan mendekat dengan ragu, pandangan matanya terfokus hanya pada wajah cewek itu sehingga tidak memandang hal lain yang sebelumnya sedikit mengganggunya.
"Pegang tanganku."
Cowok itu memandangnya dengan mata terbelalak. Emily bertanya-tanya apa yang dilakukan vampir pengendali pikiran itu hingga seorang cowok bisa terlihat dan berperilaku begitu polos seperti bayi di depan cewek yang nyaris naked di depan matanya.
"Cepat." Emily memberi tekanan pada satu kata itu.
Dengan terburu-buru cowok itu meraih tangannya dan menggenggamnya pelan, mengalirkan sebuah energi yang tidak kentara pada tubuhnya yang masih lemas.
"Apa ... yang terjadi?" Wayne jelas dapat merasakannya juga.
"Kau membagi kekuatanmu padaku," ucap Emily perlahan, masih menikmati aliran kekuatan yang merambat dari tangannya. "Tapi ini belum cukup untuk melawan cewek itu, aku butuh lebih."
Sebuah pancaran energi seperti yang diduganya. Emily membiarkan dirinya terlarut dalam ciuman itu dan memagut lembut bibir itu untuk terakhir kalinya dan menarik diri, merasakan seluruh energinya terkumpul dan menyembuhkan luka yang sebelumnya dia derita.
"Terima kasih."
Tidak ada jawaban.
Emily segera berbalik, menyapukan pandangannya ke sekitar dan melihat sebuah sosok kembali terbentuk beberapa meter di depannya, berwajah lebih pucat dengan mata berwarna hitam seluruhnya, sepenuhnya terkendali dan memiliki kekuatan penuh.
Milikku. Vampir itu berseru dengan suara yang lebih mirip geraman.
Cewek itu balas menggeram dan mengubah dirinya kembali menjadi serigala. Dengan wujudnya yang seperti ini dia memiliki kemampuan sepuluh kali lebih akurat dibanding saat dirinya dalam kondisi normal dan membaui sesuatu yang salah.
Wayne-
Cowok itu sudah menjauh dari sisinya dan beranjak mendekati vampir yang lebih mirip monster salju di depan matanya. Emily tidak percaya saat cowok itu tanpa ragu menyambut tangan monster vampir itu dan masuk ke dalam rengkuhannya.
Musim dingin yang secara mendadak terbentuk di sekelilingnya segera berhenti, menyisakan berkas-berkas salju dan keheningan di antara mereka bertiga. Wayne menghadap ke arahnya, tatapannya kosong, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat Emily merasakan sesuatu menghantam dadanya telak.
__ADS_1
"Aku bukanlah kepunyaanmu lagi-kami sudah bertukar darah. Sekarang kau bisa menciumnya kan?" tanya cowok itu retoris. "Sekali lagi aku minum darahnya, aku akan berubah dan tidak akan pernah bisa kembali lagi kepadamu."
Emily tidak sanggup mengatakan apapun sebagai tanggapan, tubuhnya terlalu lemas. Dia shok, tapi mati-matian mempertahankan pandangan matanya pada sosok Wayne yang masih menatapnya kosong dan tanpa makna dalam pelukan vampir monster itu.
Aku bisa mengingatmu sekarang, Em.
Kedua matanya terbelalak saat telepati singkat itu berpegang lemah pada benaknya sebelum menghilang. Bersamaan dengan kedua sosok lain yang berada di depannya beberapa saat yang lalu.
"Wayne...."
....
"Menyerang secara terang-terangan dan membuka segel yang berakhir menjadi pedang bermata ganda. Bagus sekali, Em. Sungguh," ujar Amanda dengan penuh nada sarkastik.
Emily tidak memberi tanggapan, dia hanya berbaring telentang dan menutup matanya dengan salah satu lengannya. Berpikir, lagi.
Fakta bahwa vampir itu mengendalikan Wayne dengan memanfaatkan tradisi klannya menyatakan bahwa vampir itu bukanlah vampir sembarangan, tipe manipulasi yang sangat jarang, dia mengakui.
Bagaimanapun itu, vampir yang sangat cerdas pasti punya sesuatu yang menjadi titik kelemahannya. Dia harus mencarinya dan segera menghancurkan atau menghabisinya supaya vampir itu mau membersihkan hasil pencucian otak Wayne. Tapi, apa?
Cewek itu mengangkat lengannya dan mendapati Amanda yang masih berada di dalam kamarnya dan bersandar pada dinding, balas menatapnya. "Kau pasti tahu."
"Apa?"
"Kelemahan vampir itu," ujar Emily pelan. "Kau pasti tahu."
"Hanya menebak." Amanda mengucapkannya dengan mengalihkan pandangan. "Tapi aku sudah memberi tahumu kalau aku tidak bisa melakukannya kan? walaupun aku ingin."
Emily mengangkat alisnya heran, dia berbohong atau sedang menunjukkan rasa simpatinya padaku?
Keheningan meliputi mereka selama beberapa menit.
"Di hutan, aku mengubur sesuatu di bawah satu-satunya pohon mati di sana," ucap cewek itu akhirnya. "Itu kelemahannya, tapi kuharap, kau tidak menggunakannya untuk membunuh."
"Kenapa?"
Amanda menatapnya datar, tapi terdengar kesedihan pada ucapannya yang selanjutnya. "Di sini kami adalah keluarga, tidak ada status sosial walaupun ada beberapa dewan pengawas. Mengatakan kelemahan vampir lain pada werewolf sepertimu jelas-jelas hal terlarang bagi kami, kau mengerti?"
"Dia sebenarnya vampir yang baik, tapi saat seseorang sudah dianggap sebagai miliknya, maka itu miliknya." Dia menambahkan sebelum beranjak dari kamar Emily. "Kuharap kau mengerti dan tidak melakukan hal bodoh yang lain."
__ADS_1