A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
1.8


__ADS_3

Aku sedang membereskan barang-barangku ketika Emily datang. Tidak ada setitik pun perasaan bersalah saat dia berjalan mendekat, tersenyum seperti biasa seakan tidak ada yang terjadi.


"Hai, Ally. Kamu sudah siap?" sapanya.


Aku menatapnya heran atas kedatangannya yang tidak diundang. "Untuk apa ke sini, Em?"


"Menjemputmu, kamu lupa?" jawabnya mengangkat alis. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri."


"Aku bisa pergi sendiri."


Emily menggeleng. "Tidak bisa. Aku harus mengantarkanmu dengan selamat dari rumah sakit ini."


Aku mendengus tertawa melihat raut wajahnya yang sangat serius. "Sejak kapan kamu jadi pemaksa, Em?"


"Sejak sekarang," balasnya tersenyum miring. "Ayo. Aku benar-benar harus mengantarmu pulang."


Aku menatapnya. Raut wajahnya tidak berbohong dan dia menunjukkan semuanya dengan keberadaannya di sini serta keseharian kami selama ini. Perkataannya yang kemarin juga sama, tapi aku tidak dapat menerima semua fakta, yang kuyakini sebagai khayalan, yang dia dan cowok itu berikan padaku. Hal itu terlalu medadak dan tidak masuk akal untuk diterima begitu saja.


"Baiklah, kamu menang," ujarku akhirnya. "Tolong antar aku pulang."


Emily tersenyum lebar lalu menghampiriku untuk membantu memasukkan beberapa barang yang masih tersebar di tempat tidur ke dalam tas. Kami melakukannya dengan cepat sehingga bisa langsung masuk ke dalam mobil.


Selama di perjalanan Emily menceritakan keseharian di kampus selama aku absen. Aku mendengarnya sambil melihat kilasan pemandangan dari jendela mobil. Jalanan yang kami lewati tidak terlalu ramai, terlihat beberapa pepohonan yang berada di deretan jalan raya yang kami lewati. Aku pun menyadari kalau hanya sedikit sekali tanda-tanda adanya mobil atau kendaraan lain yang lewat.


Aku mulai merasa mengantuk, mataku terasa begitu berat sehingga aku menutupnya, merasakan diriku mulai terombang-ambing di ambang mimpi. Emily sudah berhenti bicara dan masih tampak serius menyetir mobilnya di sampingku.


Dengan mata yang masih tertutup dan dalam keadaan setengah sadar, aku merasa semakin lama jalanan yang kami lewati terasa semakin berbatu dan sekilas aku dapat mendengar keresakan daun saat kami melewati jalan, menampar badan mobil. Aku baru benar-benar menyadari keadaan aneh tersebut saat Emily tiba-tiba saja sudah menghentikan mobilnya.


"Kita sudah sampai?" tanyaku membuka mata lalu memandang ke sekeliling. Terlihat banyak pepohonan di belakang mobil, sedangkan di hadapanku berdiri sebuah rumah yang jelas bukan apartemenku.


Aku mendesah pelan ketika akhirnya sadar sepenuhnya. "Kamu berbohong lagi, Em."


Emily menatapku, dia tampak menyesal meskipun tidak dapat menahan cengiran yang tersungging di bibirnya. "Maaf, Ally. Aku terpaksa melakukannya."


Aku mendesah pelan, menatap rumah itu yang dikelilingi tanaman pada pagarnya dan ditata dengan sederhana tanpa hiasan mencolok. Sekilas aku dapat melihat kilauan air yang memancar dari penyemprot yang menyala di tengah tanaman-tanaman tersebut, menyebarkan pelangi kecil yang tidak kasat mata.


"Rumah siapa ini?" tanyaku akhirnya kembali bersuara.


"Rumahku dan teman-teman yang kuceritakan waktu itu."


Aku menatapnya terkejut. "Kalian tinggal bersama-sama?"


Emily mengangguk. "Akhir-akhir ini kami memang tinggal bersama, ada beberapa hal penting yang harus kami bicarakan."


".... Apa itu termasuk aku?"

__ADS_1


Emily kembali mengangguk. "Kami membutuhkanmu untuk berkumpul bersama kami, Ally."


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku masih tidak bisa percaya dengan apa yang kamu dan cowok itu katakan padaku, kalian bercanda kan? Tidak mungkin apa yang kalian katakan memang benar. Itu sangat tidak masuk akal."


"Kami serius, Ally," ucap Emily perlahan, tampak sangat lelah. "Kamu pasti sudah tahu kalau aku berkata yang sebenarnya. Kamu tahu aku bukan tipe orang yang mengatakan hal bodoh pada saat-saat serius seperti itu."


"Tapi—"


Emily tidak membiarkanku menyelesaikan protes. "Aku tahu kalau kamu masih belum bisa mempercayainya, karena itu aku membawamu kemari. Kami akan menjelaskan semuanya padamu di dalam."


"Bagaimana kalau aku tidak mau?"


"Aku akan memaksamu."


Aku terdiam, kembali menatap rumah itu sekilas untuk berpikir. Tanpa berkata apa-apa lagi aku segera melangkah keluar dari mobil dengan Emily yang juga melakukan hal yang sama, mengikutiku dari belakang hingga kami tiba di depan pintu rumah itu.


"Kamu siap?"


Aku mengangguk. Siap atau tidak siap aku memang harus masuk 'kan?


Emily menekan pegangan pintu hingga terbuka lebar, menampakkan isi rumah yang dipenuhi dengan beberapa orang yang tersebar dan sedang sibuk melakukan kegiatan masing-masing; menonton, main game, membaca, bergulat ataupun mengobrol ria.


Aku menatap kumpulan orang tersebut yang tiba-tiba saja berhenti melakukan kegiatan mereka dan kemudian mulai balas menatapku dengan pandangan lekat. Aku dapat merasakan Emily mendorong tubuhku pelan agar masuk sepenuhnya ke dalam rumah tersebut sehingga dia bisa menutup pintu rumah.


Hening.


"Jadi dia orangnya?" celutuk seorang cowok tiba-tiba dengan nada meremehkan yang tidak disembunyikan. "Dia terlihat lemah."


Aku membeku.


Terdengar suara gedebuk pelan dan cowok tadi langsung mengumpat pelan.


"Maaf atas ucapannya," ucap cowok lain yang berdiri tepat di sebelah cowok tadi, kemungkinan besar dialah yang memberi pukulan pada cowok tadi. "Dia agak tolol."


"Kau mengataiku tolol?" tanya cowok sebelumnya, tampak geram. Aku mengerutkan keningku saat melihat kedua tangannya gemetaran di kedua sisi tubuhnya. "Kau—"


"Cukup, Malcolm, tenangkan dirimu," ucap seorang cewek yang tiba-tiba saja sudah berada diantara dua cowok itu dan memberi jarak pada mereka agar sedikit berjauhan, dengan cepat dia kemudian berjinjit untuk memberi ciuman di pipi pada cowok yang tampak marah tadi dan memandangnya dengan senyum penuh arti di wajahnya. "Kau tidak lupa dengan janji yang kita sepakati tadi malam 'kan?"


Entah kenapa aku bergidik saat melihat senyumnya. Malcolm pun hanya mengangguk patuh tanpa berkata apa-apa.


"Jangan membuat orang salah paham, Grace...."


Cewek itu memasang raut wajah kebingungan yang kentara di wajahnya saat beralih untuk menatap cowok satunya. "Apa maksudmu?"


"Tidak usah dipikirkan," jawab cowok lain–bukan Malcolm–tampak enggan menjelaskan. "Bukan apa-apa."

__ADS_1


"Hei! Aku kan—"


"Selamat datang, Allison," ucap seorang cewek yang kelihatan seumuran dengan Grace, dia terlihat mengabaikan pertengkaran kecil diantara 3 orang yang masih berlangsung itu dengan tenang untuk menghampiriku. "Namaku Chloe."


Aku tersenyum kecil membalas sambutannya. "Terima kasih, Chloe."


Seorang cewek lain juga ikut menyusul dan diikuti dengan orang lainnya, mereka bergantian menyambutku dan memperkenalkan diri mereka masing-masing. Suasana canggung yang sebelumnya mendominasi seakan luntur pada saat itu.


Tanpa sadar kami sudah berkumpul di ruang tengah dan saling bertukar cerita. Beberapa orang bolak-balik ke dapur untuk mengambil cukup banyak camilan dan minuman dingin, beberapa lainnya kembali asik melakukan aktivitasnya meskipun masih dalam jarak dekat dan bisa mendengar obrolan kami.


"Apa ada hal lain yang ingin kamu tanyakan pada kami, Allison?" tanya Chloe tiba-tiba berubah serius. "Tentang kejadian yang kamu alami, asal-usulnya atau hal lain yang tidak kamu pahami mengenai kita."


Aku terdiam lalu mengangguk. "Aku memang ingin bertanya."


"Katakan saja," tanya cewek kedua yang maju setelah Chloe untuk memperkenalkan diri. "Kami akan memberitahumu sebisa mungkin."


"Siapa itu Whitney?" tanyaku akhirnya. "Apa yang membuat dirinya bisa mengubahku seperti ini?"


"Whitney adalah pemimpin dari seluruh vampir yang tersisa di daerah ini. Dia tidak mengubahmu menjadi werewolf, hanya mempercepat prosesnya, kamu memang seharusnya berubah seperti kami."


Aku mengerutkan keningku. "Berubah wujud?"


Chloe mengangguk. "Orangtuamu adalah werewolf, Allison. Kamu memang ditakdirkan untuk 'berubah' walaupun dalam waktu yang lebih cepat akibat gigitan itu. Keluargamu sendiri bisa dipastikan sebagai salah satu ras asli kawanan werewolf. Secara turun-temurun salah satu dari keluargamu bertanggung jawab untuk memimpin kelompok."


"Apa aku...." Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku. Pikiranku masih memproses jawaban yang diberikan oleh mereka.


Mereka mengerti dan mengangguk.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku perlahan, menatap mereka satu persatu untuk mencari kebenaran. "Setahuku pemimpin werewolf adalah laki-laki, tapi aku perempuan. Kenapa aku yang terpilih?"


"Karena hanya kau yang tersisa, lemah," jawab seseorang yang langsung kukenali sebagai Malcolm. "Seluruh keluargamu sudah tidak ada lagi, sama seperti yang kami alami."


Terdengar sebuah gedebuk pelan, kali ini Malcolm sampai jatuh berlutut untuk memegangi tulang keringnya yang tertendang oleh cowok yang berada di sebelahnya. Dengan gerakan tergesa kedua cowok itu langsung pergi dari ruangan itu diikuti cewek yang sebelumnya ikut bertengkar.


"Jangan dengarkan Malcolm, dia memang seperti itu akhir-akhir ini termasuk dengan kakaknya dan Chloe."


Aku menggeleng. "Tidak apa-apa, aku ingin mendengar kelanjutannya," ujarku pelan. "Apa maksudnya kalian juga mengalami hal yang sama?"


Chloe mengangguk. "Kelompok kita dibantai saat perseteruan pertama, dua generasi di atas kita. Mungkin saat itu akan lebih cocok jika dibilang pembantaian. Orangtua, kakek, nenek dan beberapa werewolf muda yang nekat melawan, mati dalam pembunuhan besar-besaran tersebut. Tidak ada yang selamat kecuali beberapa werewolf yang sempat melarikan diri ke tempat yang aman."


"Apa tidak ada kelompok lain yang berniat membantu pada saat itu?" tanyaku.


"Tidak ada. Setiap kelompok sudah diberi tugas untuk mengawasi daerahnya masing-masing, tidak ada yang boleh melanggar kecuali dalam keadaan yang begitu mendesak."


"Bukankah kalian sudah terdesak?"

__ADS_1


"Ya, memang benar," jawab Emily tersenyum pahit. "tapi semua ini akibat permasalahan yang dibuat oleh kawanan dan kita, sebagai penerus, memang seharusnya membereskan semuanya dengan tangan sendiri, tidak boleh ada bantuan untuk perseteruan perebutan wilayah."


__ADS_2