
Emily melangkahkan kakinya menuju dengan tempat tunggu para perawat. Dia dapat melihat beberapa perawat sedang berjaga di sana, tampak serius dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Halo, pasien di kamar no. 257 sudah sadar," ujarnya pada salah satu perawat. "Bisa tolong cek keadaannya?"
Perawat itu mendongak ke arahnya lalu segera mengecek komputernya. "Allison Cartwraight, ya?" tanya perawat itu terlihat memastikan.
"Ya."
Perawat itu menekan kursor komputernya beberapa kali lalu mengangguk sambil mengulas senyum ramah. "Dokternya sudah kami hubungi, tunggu kedatangannya sekitar 10 menit ya."
"Terima kasih."
Emily segera beranjak dari sana lalu melangkah cepat menuju lantai bawah, beberapa temannya sudah menunggu di kafe di luar rumah sakit sejak dari tadi.
"Emily!" Dia dapat mendengar suara seseorang memanggilnya ketika dia sudah sampai di dalam kafe tersebut. Nuansanya terlihat jauh berbeda dengan kesan muram dari lorong rumah sakit. Dia merasa lebih lega di sini
Emily mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu menemukan seorang perempuan berambut ikal coklat kemerahan melambai ke arahnya dengan bersemangat. Chloe.
Emily segera mendekat dan menghempaskan dirinya di salah satu bangku yang tersedia. Menghembuskan napasnya keras-keras setelah punggungnya dapat bersandar pada kursi empuk dan mencium harum aroma kafe yang sarat dengan kopi dan roti yang dipanggang.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Chloe sambil meminum cappucino float yang berada di gelasnya.
"Dia baik-baik saja," jawab Emily memejamkan matanya. "Saat dia sadar, aku tidak melihat keanehan darinya."
Chloe menganggukkan kepalanya paham. "Semoga tidak ada hal yang aneh."
Emily mengangguk. Dia juga mengharapkan hal yang sama, apalagi hal ini mengenai sahabatnya yang memiliki posisi penting baginya dan teman-temannya yang lain. Dengan posisinya yang sekarang lebih mudah dijangkau daripada saat di panti asuhan, seharusnya mereka bisa lebih mudah mengawasinya, tapi ternyata dugaannya salah.
Seharusnya ada yang mengawasinya. Tapi siapa? Kelompok mereka masih kecil dan akan terlalu mencolok jika ada orang asing yang mengikuti Allison terus menerus. Apalagi dia juga cukup sering bersama Allison. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyembunyikan diri.
Tangannya bergerak untuk meraih gelas yang berisikan milkshake strawberry, yang sudah dipesan oleh Chloe untuknya, lalu meminumnya dalam beberapa tegukan besar. "Di mana yang lain?" tanyanya ketika menyadari bangku lain di sekitar meja mereka tidak ditempati oleh siapapun. "Mereka belum datang?"
Chloe mengangguk. "Malcolm menolak untuk datang, kamu tahu sendiri bagaimana dia, Dave akhirnya harus turun tangan untuk membujuknya ikut. Yang lain juga lebih memilih untuk datang bersama Dave daripada bersamaku."
"Kamu datang sendiri?" tanya Emily lagi.
"Tidak," Chloe menggelengkan kepalanya. "Si kembar bersamaku, mereka di toilet."
Emily menganggukkan kepalanya paham, lalu mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Aku harus ke atas sebentar," ujar Emily ketika melihat waktu yang tertera disana. "Telepon aku kalau semuanya sudah sampai, Clo."
__ADS_1
"Ya."
Emily segera menghabiskan minumannya lalu beranjak dari sana, memasuki lift yang kemudian menuju lantai tempat di mana Allison dirawat.
"Dokternya sudah datang?" tanya Emily ketika memasuki kamar sahabatnya.
Allison mengangguk. "Dia bilang besok pagi aku sudah boleh pergi."
"Baiklah... kamu ingin aku mengambil baju gantimu?" tanya Emily mengangkat sebelah alisnya pada sahabatnya itu. "Kamu bau."
Allison segera melemparkan bantalnya ke arah Emily dan langsung dia tangkap dengan tawa yang keras.
"Sialan," ucap Allison kesal, meski ikut tertawa lepas bersamanya.
"Tapi benar 'kan?" tanya Emily disela tawanya yang mulai mereda. "Aku jarang salah mengenai sesuatu."
Allison menggelengkan kepala, masih tertawa. "Terserah, Em."
Tiba-tiba terdengar sebuah ketukan yang membuat mereka segera meredakan tawa dan Emily pun segera beranjak dari tempat yang sebelumnya untuk membukakan pintu. Seorang cowok berambut pirang pasir tampak melongokkan kepalanya sambil tersenyum ramah.
"Hai," ucapnya menatap pada Emily dan Allison secara bergantian. "Boleh aku masuk?"
"Kamu–" ucap Allison tidak yakin, menatapnya dengan pandangan lekat. "–cowok di perpustakaan?"
"Kamu tahu namaku?" tanya Allison lagi, terkejut.
Dia mengangguk. "Kita sekelas di pelajaran aljabar. Namaku Will."
"Untuk apa ke sini?" tanya Emily tiba-tiba menggantikan sahabatnya yang sebelumnya ingin menanyakan hal yang sama. "Apa kami mengenalmu?"
Dia mengernyitkan keningnya. "Uhm... sebenarnya tidak juga, aku hanya datang untuk menjenguk. Apa tidak boleh?"
Tidak. Kata itu tertahan di lidah Emily, dia tidak mungkin mengatakannya segamblang itu. "Boleh saja," kata Emily akhirnya. Dia membukakan pintu lebih lebar tanda bahwa cowok itu boleh masuk. "Silakan."
"T'rims."
Cowok itu melangkah memasuki kamar lalu menyodorkan sebuket bunga ke arah Allison. "Untukmu."
Allison menerimanya dengan senyum ragu. "Terima kasih."
Cowok itu mengangguk. Emily kembali menutup pintu kamar Allison lalu melangkah mendekati mereka berdua, menyeret sebuah kursi lain untuk bisa duduk bersama. Dia mengawasi obrolan Will dan Allison yang secara perlahan mulai mengalir dengan lancar.
__ADS_1
"Kamu hanya datang untuk berkunjung?" tanya Emily menghentikan obrolan mereka berdua.
Cowok itu mengangguk. "Ya, kebetulan aku dan Allison satu kelompok di kelas aljabar. Aku hanya ingin memberitahu apa yang harus dikerjakan olehnya."
Emily mengangguk paham. Dia merasakan saku jaketnya bergetar sehingga dia merogoh ke dalamnya untuk mengambil ponselnya yang menyala.
"Halo?" Ucap Emily seraya bangkit dari tempat duduknya untuk menjauh dari Will dan Allison. Telepon dari Chloe.
Dia melangkah mendekati pintu kamar tersebut lalu membukanya untuk melangkah keluar dan kembali menutup pintunya dengan rapat.
"Kami sudah siap, apa kami bisa ke atas sekarang?" tanya Chloe. Terdengar gumaman lain dibaliknya yang menandakan bahwa hampir semua temannya sudah berkumpul.
"Sebaiknya jangan," jawab Emily menggelengkan kepalanya meskipun Chloe sama sekali tidak bisa melihatnya. "Dia ada di sini."
"Siapa?" tanya Chloe terdengar heran, dia juga ikut memelankan suaranya sama seperti yang Emily lakukan, beranjak dari kursi yang dia duduki dan masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
Emily mendesah pelan sebelum menjawab. "Tunangan Whitney. William."
"Apa?" Chloe terdengar mendesiskan kata itu kearahnya dengan cepat, berusaha mati-matian agar tidak menimbulkan suara keras yang menarik perhatian siapapun yang mungkin saja berada di dalam toilet. "Kamu pasti bercanda, untuk apa dia mengunjungi Allison? Mereka tidak saling mengenal kan?"
"Entahlah, sepertinya mereka sempat bertemu." Emily mengingat saat Allison meminjam buku lebih lama di perpustakaan. "Dia hanya menjenguk dan menyampaikan tugas kelompok yang harus mereka lakukan."
Tidak terdengar tanggapan dari Chloe selama beberapa saat. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Tidak tahu," ujar Emily pelan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan orang itu sehingga berani menunjukkan dirinya yang selalu bersembunyi. "Aku tidak bisa memikirkan apapun."
Terdengar decakan samar dari Chloe setelah beberapa saat sebelum terdiam dalam waktu yang cukup lama. "Sepertinya aku dan yang lain harus kembali sekarang. Cowok itu baru datang 'kan?"
"Ya." Emily meringis prihatin. "Maaf, Clo."
Chloe mendesah. "Tidak apa-apa. Jaga Allison untuk kami, Em."
"Iya."
Chloe memutus sambungan teleponnya. Emily menutup layar ponselnya dan memasukkannya ke saku jaketnya kembali. Dia berbalik dari tempatnya bersandar, berniat kembali ke kamar Allison.
"Apa yang tadi kalian bicarakan?" Sebuah suara yang tidak terlalu asing terdengar di telinganya, membuatnya terpaku di tempat.
"Kamu...." ucap Emily tersendat. ".... sudah berapa lama?"
Dia tersenyum. "Sejak beberapa menit setelah kamu keluar kamar."
__ADS_1
Sial. Emily menatap sosok di hadapannya dengan waspada. Apa lagi ini?
"Aku ada di pihak kalian." Will mengulang ucapannya kembali. "Aku tidak ingin perseteruan ini terulang kembali."