A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
2.17


__ADS_3

Emily beruntung karena kekuatannya cepat pulih akibat ramuan itu. Dia dapat menggendong Wayne yang notabene lebih tinggi daripadanya itu tanpa kesulitan yang berarti, melewati pepohonan yang berkelebat di sekitarnya menuju tempat yang aman untuk mereka berdua.


Waktunya hanya sedikit dan dia tidak tahu seberapa jauh tempat yang bisa dicapainya sebelum kembali berhadapan dengan vampir gila itu. Dia berharap Amanda yang terjebak dengan para vampir itu bisa menyelamatkan diri tanpa perlu dipengaruhi oleh kemampuan cewek vampir itu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi nantinya, tapi dia tetap berharap jika vampir berwajah datar itu tidak mendapat masalah lain setelah masalah ini berakhir.


Larinya melambat dan tatapannya menyapu ke sekitar, menyadari pohon-pohon ramping di sekelilingnya terlihat merapat antara satu sama lain dan langit yang awalnya terlihat di atasnya semakin menggelap. Gumpalan asap berwarna putih terlihat tipis di sekitar pohon-pohon itu, tapi tentu saja dia tahu jika kemampuan salah satu vampir pengganggu itu akan segera terkumpul.


Lauren. Mereka benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat.


Lambat. Aku tidak menyangka jika mengejar shapesifter akan terasa semudah ini.


"Benarkah?" tanya Emily terdengar mengejek. "Kau seharusnya tidak berkata begitu saat dirimu belum terkumpul semua, Lauren. Serpihanmu masih berceceran di sepanjang jalan."


Itu bukan serpihan.


"Lalu apa? Remahan? Seperti remahan biskuit yang dimakan Jordan."


Tidak ada jawaban dari vampir itu kecuali perasaan tidak enak yang tiba-tiba melingkupi dirinya. Emily segera menurunkan Wayne dengan lembut dari punggungnya lalu membuka pakaiannya yang dapat menghambat gerakannya nanti, menyisakan celana jins yang dipakainya dan tanktop. Kemejanya dia sampirkan di pundak Wayne yang masih tidak sadarkan diri. "Bertahanlah, Wayne. Aku tidak akan lama."


Sangat percaya diri untuk seseorang yang tidak punya kemampuan khusus sepertimu.


"Jangan terlalu banyak bicara dan cepatlah tunjukkan dirimu. Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi sekarang."


Sombong sekali, ujar suara itu lagi. Gumpalan asap putih yang berada di sekitar pohon semakin menebal dan akhirnya menunjukkan wujudnya. Emily tidak menunggu untuk berlari maju dan secara bersamaan mengubah tangan dan kakinya menjadi cakar serigala ketika melancarkan serangannya.


Lauren segera lenyap dari posisinya sebelum memukulnya mundur seperti terakhir kali. Napasnya tersentak saat menghantam keras tanah. Cederanya serta merta sembuh saat dia kembali bangun dan menyerang vampir itu lagi.


Emily mengarahkan cakar dan arah serangannya tanpa banyak berpikir, sepenuhnya mempercayai insting serigalanya hingga membuat cewek vampir itu berkonsentrasi pada setiap serangannya. Napasnya sedikit memburu ketika dia menemukan celah, dengan menambah kekuatan serangannya dia membuat Lauren untuk pertama kalinya terhempas ke bawah.

__ADS_1


Tubuh vampir itu memadat sepenuhnya. Cewek serigala itu menyadari bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini sebelum semuanya terlambat. Dia akan memulainya dari vampir pengganggu ini.


Terlambat.


Emily menghentikan gerakannya saat beberapa sosok vampir muncul di antara mereka. Dia menghindar secepat mungkin ketika salah seorang vampir nyaris mencakar wajahnya dan vampir lainnya berniat untuk memerangkapnya dalam pitingan lengannya.


Dia berhenti tepat di depan Wayne dan segera meraih cowok itu ke punggungnya sebelum kembali berlari. Dengan lincah melewati sekumpulan vampir yang berkerumun beberapa meter di depannya. Beberapa dikenalnya dari sekolah dan ada juga para vampir yang dikenalnya dari kawasan tempat tinggalnya di sini. Mike dan Mrs. Rowan. Wajah mereka terlihat kosong, pucat dan warna mata mereka mulai menghitam secara perlahan. Penanda pengendalian besar-besaran dari Cara akan segera berlangsung.


"Argh...."


Suara erangan tertahan dari punggungnya menyadarkannya pada Wayne yang masih belum sembuh. Luka-lukanya masih bertahan akibat cedera yang didapatkannya dari ikatan mereka.


Cewek itu berpikir cepat dan kembali berlari ke arah lain dengan sangat cepat, berhenti di sebuah pohon yang terlihat besar dan kokoh lalu memanjatinya secepat mungkin. Dia menyandarkan Wayne dengan selembut mungkin sebelum meraih pisau kecil yang sempat dicurinya dari rumah Alex.


Dengan satu gerakan cepat, Emily menggoreskan pisau ke pergelangan tangannya sendiri lalu menghisap darah tanpa menelannya. Cewek itu memperhatikan napas Wayne yang terlihat memburu dan wajahnya yang berkilat akibat keringat. Tangannya meraih wajah cowok itu dan kemudian memaksa mulutnya membuka untuk memindahkan darahnya sebagai penyembuh.


Emily mengulurkan tangannya, menelusuri wajah Wayne yang sudah segar sepenuhnya, tidak ada tanda-tanda kesakitan yang sempat dirasakannya sehingga dia dapat tersenyum lembut. Mate-nya. Miliknya. Akhirnya bisa kembali padanya.


"Emily dan Wayne ... sedang berada di pohon ... ber-ci-u-man...." ujar seseorang yang dikenalnya dengan nada bernyanyi.


"Wah, wah, wah. Kelihatannya menyenangkan ya," celutuk satu vampir lain yang selalu bersamanya.


Cewek serigala itu menoleh ke bawah untuk membalas pandangan yang diberikan Alex dan Jordan padanya. Mereka bersama sekumpulan vampir yang ditemuinya sebelumnya, dengan Amanda sebagai tambahan. Wajah vampir cewek itu tidak menunjukkan ekspresi sama sekali dengan kedua matanya hitam sepenuhnya, tanda pengendalian penuh seperti mata para vampir lain. Hanya Alex dan Jordan yang terlihat seperti biasa seakan mereka tidak sedang melakukan hal apapun secara khusus. Cara tidak terlihat di manapun.


"Hai, Em. Sudah selesai istirahat?" tanya Jordan yang terlihat penuh senyum. "Ayo turun dan bersenang-senang."


"Di mana Cara?"

__ADS_1


Alex tersenyum mengejek mendengar perkataanya. "Kalau kuberitahu jawabannya, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Kembali lari dengan menggendong manusia itu? Pengecut."


Emily membuka mulutnya untuk menjawab sebelum sosok kabur seseorang tertangkap matanya sehingga dia segera melompat ke bawah dengan membawa Wayne dalam pelukannya.


"Ups."


Tatapannya terarah pada sosok ramping yang berdiri di atas pohon yang kemudian melompat dengan anggun untuk berdiri di hadapannya. Emily tidak sekalipun menatap mata Cara yang berjalan menghampirinya dan hanya memberi sedikit jarak yang menyebabkan dirinya tidak bisa pergi.


"Takut untuk melihat mataku, Em? Apa kau tidak ingin mencari tahu apa efeknya akan berlaku sama terhadapmu atau malah sebaliknya?" tanya cewek vampir itu menantangnya. "Sudah lama aku tidak menggunakan kekuatan ini sepuasnya. Apa kau tidak penasaran?"


Emily menahan ucapan yang sangat ingin dia keluarkan dari mulutnya dan hanya mendekap Wayne lebih erat. Dia tahu kalau kali ini dia tidak bisa berbuat ceroboh sekecil apapun itu yang bisa menyebabkan kerugian bagi dirinya dan Wayne.


"Pengendalian diri yang cukup hebat. Rupanya kau belajar sangat cepat dari kesalahanmu sebelumnya ya?"


"Benar. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama."


"Benarkah? Bagaimana caramu melakukannya?"


Emily tersenyum. "Entahlah. Mungkin kau bisa mendekat untuk mencari tahu?"


"Kau pikir aku sebodoh itu?"


"Kurasa ya," ujarnya sambil mengulurkan barang yang sedari tadi dia genggam ke arah wajah Cara yang hanya berjarak beberapa senti darinya.


Sial.


Emily merasakan tangannya melemas ketika pengaruh kekuatan cewek vampir itu melingkupinya dan mengungkungnya. Hal terakhir yang diingatnya adalah kedua mata Wayne yang terbuka menatapnya dan kendali tubuhnya diambil alih oleh Cara yang tersenyum puas saat menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2