
Grace dan Chloe sudah tiba di restoran. Suasana masih sangat sepi karena mereka datang sebelum jam buka restoran, hanya ada Lilian dan beberapa anggota junior dari kawanan itu yang hadir untuk menyambut sekaligus mulai mempersiapkan restoran mereka sebelum buka.
"Halo, kak Grace dan Chloe! Barang-barangnya bisa ditaruh di ruang istirahat dulu ya." Lilian menyambut kalian dengan ceria. "Aku bakal jelasin apa yang harus kakak-kakak lakukan setelah ini."
"Oke, mohon bantuannya, Lilian."
"Iya!"
"Di mana tempatnya?" Chloe bertanya karena tidak ada yang mengarahkan mereka letak ruang istirahat.
"Oh, iya. Sebelah sini."
Chloe langsung mengikuti Lilian yang berjalan menuju dapur, letak ruang istirahat berada di sebelahnya, sedangkan Grace melihat-lihat keadaan restoran Lilian yang sudah terlihat berbeda dari saat kawanan mereka datang pertama kali.
"Pasti terlihat berbeda ya?"
Grace menatap seorang cowok yang agak lebih muda darinya menyapa, senyumnya terlihat manis. "Iya, kalian sempat renovasi?"
Dia mengangguk. "Langit-langitnya diganti supaya terlihat lebih cerah, motifnya juga cocok dengan logo kami."
"Sean! Belum apa-apa kamu sudah tebar pesona lagi?"
Grace menatap wajah Sean yang terlihat salah tingkah sambil mengangkat kedua tangannya, seakan sedang menunjukkan kalau dia tidak bersalah. "Aku hanya menjelaskan kalau kita sempat renovasi, Lily."
"Oh, oke." Lilian menatap Grace dan meraih tangannya. "Ayo kak Grace, kamu harus ganti baju dulu sebelum ikut bekerja."
Grace tidak punya pilihan selain mengikuti langkah cewek itu. Di ruang istirahat, Chloe sudah memakai seragam yang sama dengan mereka dan mengikat rambutnya menjadi untaian yang kusut. Barang yang dibawanya diletakkan di sebelah sofa yang pernah kamu tiduri.
"Ah iya, kak Grace mau jadi koki cadangan atau pelayan? Kalau kasir sudah diambil duluan sama kak Chloe."
"Koki saja, aku tidak terlalu sabar melayani orang."
"Masakannya enak kok, tidak usah khawatir." Chloe menambah ucapan Grace saat melihat ekspresi ragu Lilian.
Dia tertawa canggung. "Kelihatan ya, kak? Maaf."
"Tidak apa-apa, kemampuanku selalu diragukan saat pertama kali."
"Begitu?" Lilian menatapmu dengan pandangan yang penuh ekspektasi. Grace mengangguk sambil meraih seragam yang tersedia. "Kalau iya, Sean berarti tidak akan sulit mengajari resep restoran kami."
"Tentu, kamu bisa mengandalkanku."
"Oke! Kak Grace bisa langsung ke dapur ya. Ayo, kak Chloe, kita ke bagian kasir."
Lilian meraih lengan Chloe dan membawanya pergi dengan cepat, sementara Grace mulai memakai seragam dan perlengkapan lain untuk memasak. Barang-barangnya sudah diletakkan berdampingan dengan milik Chloe.
Pindah ke dapur, Sean sudah menyiapkan bahan-bahan dan sebuah kertas yang bertuliskan resep. Grace membaca resep sambil mengikuti arahan yang diberikan laki-laki itu. Hidangan pertama buatannya berakhir dengan sukses dalam sekali coba.
__ADS_1
"Wah, kamu benar-benar jago?"
"Aku sudah pernah memcoba membuat ini di rumah, tapi gagal, ternyata bumbunya sedikit dari perkiraanku."
"Jadi begitu rupanya, pantas saja. Hari ini aku pasti tidak akan kerepotan. Terima kasih karena sudah datang, Grace." Sean tersenyum senang.
Cewek itu hanya mengangguk sambil membalas senyumnya, berharap kalau jumlah pesanan hari ini tidak akan sebanyak saat pertama kali mereka datang. Dengan membayangkannya saja Grace sudah merasa malas.
.
Harapan Grace tidak terkabul. Walaupun tamunya tidak mengular sampai keluar dari halaman restoran, tapi semua meja terisi penuh. Chloe terlihat paling sibuk karena harus bolak-balik mengantar pesanan, semantara dia mulai menggantikan Sean setiap dua pesanan masuk. Ryan yang datang telat mengurus platting dan dressing masakan mereka.
"Apa kamu sudah mulai capek? Ryan bisa menggantikanmu kalau mau."
"Tidak apa-apa, aku masih bisa."
"Oke. Katakan saja supaya kalian bisa gantian nanti."
Grace menggumam sebagai jawaban, masih fokus dalam masakannya.
Waktu berlalu tanpa terasa, para tamu sudah mulai menipis dan sekarang hanya tinggal dua meja sebelum restoran Lilian tutup. Chloe sudah berada di bilik istirahat karena kelelahan. Zee menggantikan tempatnya untuk mengurus pesanan antar.
"Terima kasih sudah datang! Silahkan datang lagi besok." Lilian mengucapkan itu ketika tamu terakhir pulang.
Mereka beristirahat sebentar sambil menyantap makan siang yang terlambat, untung saja masih ada bahan sisa dari stok hari ini sehingga Ryan bisa langsung membuatnya dan membagikannya pada masing-masing dari mereka.
"Kak Chloe pasti capek sekali ya? Maaf, padahal ini baru hari pertama kalian ke sini...."
"Yah, mungkin kami beruntung, restoran kami bisa dibilang selalu ramai." Lilian tersenyum kepadanya dan Grace. "Terima kasih karena sudah membantu kami hari ini."
"Mohon bantuannya juga untuk besok ya, kak." Zee terkekeh saat melihat wajah Chloe yang memucat. "Bercanda."
"Besok giliran kelompok junior yang lain kok, Zee cuma iseng."
Grace dan Chloe diam-diam langsung menghela napas lega. Kalau besok mereka harus seperti ini lagi, terutama untuk bagian Chloe, mereka tidak yakin bisa bertahan selama tiga bulan ke depan.
"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat anggota senior yang bekerja di sini. Apa kalian mengelola restoran ini sendiri?"
Mereka terlihat saling melirik sebelum Lilian menjawab pertanyaan Grace seperti tidak ada yang terjadi. "Ah, tidak. Kami membuat ini bersama anggota senior kok, tapi kalau untuk mereka biasanya mendapat giliran saat akhir pekan, soalnya mereka punya pekerjaan lain di hari biasa."
"Begitu ... kukira kalian yang mengelolanya sendiri."
Ryan tertawa canggung. "Itu tidak mungkin."
"Kami tidak punya modal untuk membuat restoran ini jika hanya mengandalkan anggota junior." Zee menambahkan dengan cuek, tapi dia tidak menatap ke arah Grace saat berbicara.
"Ayo, habiskan makanannya, ini sudah mulai malam."
__ADS_1
Mereka segera menuntaskan makan yang terasa singkat itu sambil mengobrol hal-hal yang remeh lalu merapikan peralatan dapur dan membersihkan meja. Grace dan Chloe akhirnya akan menuju tempat tinggal kawanan kakaknya Lilian.
.
Stefan berdiam di kamarnya. Dia sudah berdiam di sana selama hampir satu jam, memikirkan apakah seharusnya dia kabur dengan alasan ada pekerjaan baru yang baru saja dia ketahui, atau tetap di rumahnya sehingga nanti dia bisa mengakui keberadaannya pada Grace.
Jantungnya sejak tadi tidak bisa berhenti berdebar sangat keras saat melihat keberadaan Grace dari jendela restoran, dan segera berhenti ketika mereka nyaris bertatapan. Stefan merasa seperti seseorang yang baru mengalami puber dan sedang bermain petak umpet dengan pasangannya sendiri.
Walaupun kenyataannya memang seperti itu, dia merasa kalau permainan petak umpet mereka akan terhenti jika Grace sudah bertemu dengannya secara langsung. Laki-laki itu sudah tidak akan bisa menyembunyikan ikatan diantara mereka lagi seperti sekarang.
Seiring dengan keraguannya yang semakin membesar, Stefan dapat merasakan Grace semakin dekat.
.
Grace dan Chloe dapat melihat pintu masuk rumah kawanan itu, sangat berbeda dengan rumah mereka yang terlihat sederhana dan tanpa perlindungan apapun.
Lilian segera berlari untuk memeluk seorang cowok yang menyambut kedatangan mereka, atau lebih tepatnya, menerima serangan mendadak dari cewek itu sehingga dia segera berdiri.
"Ini Bram, aku adalah mate-nya dan dia adalah mate-ku." Cewek itu terlihat bergelayut manja di lengan Bram. "Dia sangat imut kan?"
"Halo." Bram menyapa mereka dengan sopan, sementara anggota junior yang lain mengerjai cowok itu lalu kabur ke dalam dengan cepat. Wajah yang sebelumnya masam itu terlihat merah padam.
"Tolong lepaskan aku ... Lily."
"Oke, Bram." Lilian melepaskan rangkulannya dan menghampiri Grace dan Chloe yang masih menunggu. "Sampai ketemu nanti."
"Maaf, itu terlihat konyol ya? Aku tidak bisa menahan diri karena dia selalu memberikan reaksi yang imut."
Chloe tersenyum untuk pertama kalinya setelah melalui hari ini. Grace melihatnya yang masih menahan rindu untuk mate-nya yang sudah pergi. "Tidak apa-apa, kalian terlihat cocok untuk satu sama lain kok."
"Terima kasih! Ayo akan aku antarkan kalian ke dalam."
Grace mengangguk dan mereka akhirnya melangkah melewati pintu masuk yang sebelumnya tertutup. Dia dan Chloe menatap rumah-rumah yang saling berdampingan dengan lampu yang menyala, tapi tidak ada yang berkeliaran keluar selain mereka.
"Kawanan kami mengatur jam malam yang ketat sehingga tidak ada yang bermain jam segini." Lilian menjelaskan saat kalian terus berjalan. "Besok pagi kami akan menyambut kedatangan kalian, tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, kami juga cukup lelah sekarang."
"Maaf karena itu juga, kak Grace dan Chloe."
Chloe menggeleng. "Kami mengerti, kamu tidak perlu meminta maaf terus."
"Begitukah? Sepertinya aku juga sudah capek."
Mereka tertawa kecil bersama sebelum Lilian mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang berjalan mendekat. Tiba tiba Grace merasakan detak jantungnya bertambah cepat dan perasaan yang sama saat terbangun di restoran cewek itu melingkupinya.
"Kak Stefan! Ternyata kakak datang?"
__ADS_1
"Iya. Aku tentu saja harus menyambut tamu kita kan?" Stefan mengusap rambut Lilian dengan lembut sebelum tersenyum pada Grace dan Chloe. "Halo, senang bertemu dengan kalian, Chloe dan ... Grace."
Wajah Grace mengeras saat menyadari kalau cowok yang berada di hadapannya adalah mate yang sudah dia tunggu selama ini.