
Sudah tiga hari kami habiskan untuk memeriksa barang-barang yang dibawa aku dan Dave dari rumah lama. Perbandingan jumlah kertas yang sudah selesai dibaca dan belum dibaca semakin berkurang, meskipun masih sedikit informasi yang kami dapat dari berkas dan beberapa kotak tersebut.
Emily dan si kembar masih sibuk mengurus isi dari beberapa kotak, sehingga aku, Theo, Dave dan Grace yang harus mengorbankan diri untuk membaca tulisan miring serta berukuran kecil di ruang berkumpul.
Aku mengusap mataku yang terasa lelah lalu berusaha memfokuskan diri untuk membaca tulisan tersebut dan meresapnya. Grace yang duduk di sebelahku tampak mengerutkan keningnya selama membaca kertas yang ada di tangannya, Dave yang berada di seberangku tampak sangat serius dengan bacaannya sedangkan Theo yang berada di sampingnya sudah mulai terlihat bosan dan beberapa kali memejamkan matanya.
Hari ini Chloe mengajak anggota kawanan selain kami berjalan-jalan, kegiatan dua sampai tiga bulan sekali yang sudah menjadi tradisi semenjak lima tahun yang lalu. Keadaan rumah yang biasanya selalu ramai oleh obrolan, untuk sekarang terasa sepi seperti keadaan rumah sakit pada waktu malam.
Aku menghela napas pelan lalu menatap mereka. "Apa ada yang mau minum?"
"Aku limun," ucap Theo mendongak ke arahku sambil menampilkan senyum lebarnya.
Dave menjawab singkat. "Sama."
"Aku ikut," jawab Grace langsung berdiri dan mengikutiku berjalan menuju dapur.
Grace berjalan mendahuluiku lalu membuka kulkas untuk meraih kardus susu sisa sarapan paginya dan meneguknya sampai habis. Dia mendesah lega sebelum akhirnya mengambil beberapa buah lemon dari sana lalu meletakkannya di atas meja.
Dia menatapku sekilas sebelum menunjuk laci bawah yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri. "Alat peras dan pisaunya ada di sana."
Aku mengangguk paham lalu membuka laci bawah untuk mengambil alat peras jeruk dan pisau dapur sesuai arahannya. Aku meletakkan dua alat itu di meja dan mulai memperhatikan Grace yang membelah lemon menjadi dua lalu segera menerima potongan buah itu darinya, meremas semua potongan buah itu secara bergantian lalu menuang sarinya ke dalam teko kaca bening yang ditadahi penyaring agar bijinya tidak ikut masuk.
Grace kembali berjalan ke kulkas untuk mengambil cetakan es batu dan menuangkan isinya ke dalam teko setelah menambahkan gula dan sedikit garam. Tangannya bergerak untuk mengaduk semua itu menggunakan sendok panjang dan ramping lalu membiarkanku memasukkan 2 irisan lemon sebagai tambahan.
"Bagaimana keadaan kalian?"
"Apanya?" tanyaku menoleh ke arah Grace, bingung.
Dia tidak membalas pandanganku tapi mengangkat alisnya beberapa kali dan kembali bertanya. "Kalian berdua tidak membicarakan apapun waktu ke rumah lama?"
"Maksudmu ... Dave?"
Dia mengangguk.
"Hanya tentang kalian yang tidak boleh masuk ke rumah lama dan hanya boleh menghapal denah rumah oleh tetua," jawabku. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa, lupakan saja kalau begitu," ujarnya tersenyum singkat lalu menunjuk ke arah nampan yang berada di sebelah tanganku. "Tolong berikan itu padaku."
Aku menyerahkannya tanpa berkata apa-apa dan melihatnya menyusun teko dan beberapa gelas di atasnya, mengikuti langkahnya kembali ke ruang berkumpul lalu membantunya menuangkan limun ke masing-masing gelas kami.
"Tidak ada cemilan?" tanya Theo menatap kecewa pada nampan yang sekarang mulai dibasahi bintik-bintik samar air es yang mengalir dari teko. Tidak ada keberadaan cemilan yang diharapkannya di sana.
Grace mengangkat bahunya. "Coba cari saja sendiri. Aku tidak tahu kalau masih ada cemilan atau tidak."
"Serius?"
__ADS_1
"Ada keripik kentang di kamar kalau kamu mau," jawab Dave tiba-tiba masih membaca kertasnya.
Theo segera menoleh ke Dave dan bertanya dengan nada bersemangat. "Di mana?"
"Sebelah kamar Yohanna, tempat tidur dekat pintu, di atas meja."
Theo langsung bangkit dari posisi duduknya lalu beranjak menuju lorong kamar tanpa basa-basi lagi. Aku menangkap kertas yang dia tinggalkan begitu saja lalu meletakkannya ke tumpukkan kertas yang sedang dibacanya.
Grace mendesah keras di sampingku lalu beranjak menuju ke Dave, membaringkan tubuhnya di pangkuan cowok itu dan menutup matanya tidak lama kemudian. Aku dapat melihat napasnya keluar masuk dengan lancar melalui gerakan samar perutnya yang ditutupi blus hitam.
Theo kembali dengan sangat cepat di ruang berkumpul, membawa dua bungkus besar keripik kentang di pelukan lengannya dan tangannya yang lain menggenggam sekaleng bir yang menarik perhatian Dave.
"Itu birku?"
Theo nyengir. "Iya, tidak apa-apa kan? Di dalam petimu masih ada banyak."
Dave berdecak mendengar penuturan cowok berambut ikal tersebut lalu kembali melanjutkan bacaan yang berada di tangannya. "Bayar lima puluh dollar padaku nanti," gumamnya pelan pada akhirnya.
"Iya, iya," Theo masih nyengir ketika berbalik menghadapku dan menawarkan keripik kentangnya. "Kamu mau, Allison?"
Aku mengangguk lalu membalas senyumnya. "Terima kasih."
Aku mengambil beberapa sekaligus lalu mulai memakannya. Theo juga menawarkannya pada Dave lalu membuka kaleng bir yang dibawanya tadi, menuangkannya ke gelas berisi setengah limunnya dan meneguknya dalam sekali telan.
Aku meraih kertas yang sebelumnya kupegang lalu mulai membacanya kembali sambil menghabiskan limun yang berada di gelasku. Tulisannya sekarang terasa lebih jelas dari sebelumnya.
Aku memandang Grace bingung lalu beralih menatap Dave yang tiba-tiba saja menegang dan Theo yang tampak berpikir keras.
"Ada apa?"
Grace menoleh ke arahku lalu mengerutkan keningnya. "Apa kamu sudah punya rencana, Allison? untuk menghadapi Whitney?"
Aku terdiam sangat lama lalu menggeleng pelan.
"Apa kamu tahu arti menjadi seorang Alpha di kelompok kami?" tanya Grace lagi tampak serius.
"Memimpin kalian...?" jawabku lebih terdengar seperti pertanyaan. Aku terdengar tidak yakin bahkan untuk diriku sendiri
Grace menggelengkan kepalanya sambil mendesah pelan, kepalanya menoleh ke arah Dave yang sekarang tampak menunduk menatap lantai lalu kembali menghela napas. "Aku harus pergi."
Dia berdiri dari tempatnya lalu berjalan cepat menuju pintu keluar sambil membuka ikatan tali pada blusnya. Theo juga ikut berdiri, memanggil nama perempuan itu lalu segera mengikuti Grace yang sudah menghilang keluar rumah, meninggalkan blusnya tergeletak di dekat pintu yang terbuka lebar.
Aku hanya bisa terdiam di tempatku, merasa bingung dan kalut menatap kepergian Grace dan Theo.
"Dave," gumamku tanpa sadar setelah beberapa saat. "Apa aku melakukan kesalahan?"
__ADS_1
Dave menggelengkan kepalanya, ekspresi wajahnya terlihat tidak terbaca saat menatap kedua tangannya yang terkepal erat. "Tidak, bukan salahmu."
Aku tidak menjawab.
Selama beberapa saat kami terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Aku hanya bisa menatap kosong lembaran kertas yang kupegang sedangkan pikiranku berkelana ke tempat lain.
"Ucapan Grace benar, Malcolm juga." gumamku pelan mengepalkan tanganku hingga terasa sakit. "Dari awal, aku sepertinya memang terlalu lemah untuk menjadi seorang Alpha dari kelompok kalian. Kamu ... pasti juga berpikir seperti itu kan?" tanyaku menatapnya, mencari kebenaran dari pandangan matanya.
"Tidak, aku tidak pernah berpikir seperti itu." Dave membalas pertanyaanku dengan tegas. "Kamu pantas menjadi Alpha kelompok kami, Allison."
Aku tersedak antara tangis dan tawa, seratus persen meragukan ucapannya. "Bohong. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini sebagai seorang Alpha."
"Kamu tahu, tapi memang bukan sekarang."
"Apa maksudmu?"
Dave meraih tanganku dan menggenggamnya lembut. Reaksi awalku yang ingin menepis pegangan tangannya lenyap, sebagai gantinya, suasana tenang dan nyaman meliputi diriku dan membasuhku dari segala kegelisahan yang sebelumnya kupikirkan.
Aku mendongakkan kepalaku untuk kembali menatap Dave, yang kini membalas tatapanku. "Kamu bisa merasakannya?" tanyanya padaku.
"Ya...." Aku menatap tangan kami yang saling bertaut, masih tetap merasakan suasana yang hangat itu di seluruh tubuhku. "Apa ini?"
"Ini adalah ikatan yang ada diantara kita, kaum kita menyebutnya Mate. Ikatan yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup dan sudah ditentukan sejak awal kita dilahirkan."
"Kita adalah ... Mate?"
Dave mengangguk, menatapku sungguh-sungguh. "Dengan ini, kamu tidak perlu khawatir mengenai tanggung jawabmu sendirian ... karena aku ada di sini dan akan berada di sisimu setiap saat."
Aku mengerjapkan mata.
Dia terlihat sedikit malu. "Tentu saja anggota kita juga akan membantu, karena kita adalah satu kesatuan. Kamu mengerti maksudku kan?"
Secara perlahan aku mengangguk, mengalihkan pandanganku kembali pada tangan kami yang masih saling bertaut. Bersyukur dengan rasa aman yang diberikannya melalui tindakan dan ucapannya. "Terima kasih, Dave."
~°~°~°~
Aku masih merasa di alam mimpi saat mataku membuka dan langit-langit kamar segera menyambut pandangan mataku yang terasa begitu cerah. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk menyesuaikan diri sebelum membuka selimutku dan melangkah keluar dari kamar.
Kakiku melangkah sepelan mungkin menyusuri lorong kamar menuju pintu rumah, tidak terlihat tanda-tanda orang yang terbangun untuk memperhatikan apa yang sedang kulakukan saat ini sehingga tanganku segera bergerak untuk meraih pegangan pintu dan kemudian menurunkannya secara perlahan.
Udara malam segera menerpaku ketika melangkah melewati pintu dan menutupnya kembali, kepalaku sedikit mendongak untuk menatap bulan purnama yang bersinar terang diatasku, terdiam selama beberapa saat untuk menatap kosong sebelum mengalihkan pandangan dan melangkah maju untuk memasuki hutan.
Tanganku kembali bergerak secara otomatis untuk menyingkirkan ranting-ranting dan menghindar dari beberapa ranting yang tak bisa kusingkirkan. Hutan yang sebelumnya tampak rapat sekarang melebar dan memberiku celah untuk lewat dengan lebih mudah.
Aku menghentikan langkahku setelah sampai tepat di depan laki-laki yang berdiri disebelah mobil jeep, wajahnya masih terlihat datar saat melihat kedatanganku, sama seperti waktu dia mengantarku pertama kali.
__ADS_1
"Hans."