A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.3


__ADS_3

Entah bagaimana, waktu seminggu berjalan dengan cepat. Berbagai kegiatan yang dilaluinya seakan berlalu dalam sekejap. Mulai dari mencoba resep hidangan yang gagal lalu memodifikasinya beberapa kali, sampai merencanakan upaya-upaya pendekatan baru terhadap Hans.


Dalam seminggu, Grace akhirnya berhasil membuat hidangan yang membuatnya penasaran itu, dengan rasa yang hampir mirip, di percobaan yang kelima, dan menyusun skenario yang pas untuknya dan Hans dalam perjalanan perdana mereka setelah perseteruan kawanan dengan vampir selesai.


Hari ini dia bertekad untuk menghabiskan waktunya dengan terus menempel pada Hans. Cewek itu akan berperan sebagai kakak perempuan yang dapat diandalkan agar lebih sesuai dengan tema rencananya kali ini. Tidak ada rencana yang lebih sempurna selain ini.


Grace sekarang berada di balik kemudi dengan Hans dan si kembar di sampingnya. Anggota kawanan yang lain sudah mengisi setiap ruang kosong yang tersisa di satu-satunya mobil yang mereka miliki. Walaupun cukup besar, kursi yang tersedia tidak bisa menampung semuanya.


Emily dan Wayne terpaksa harus tinggal di rumah karena hal itu, dengan total lima belas anggota, ketiadaan dua orang sudah cukup membantu untuk menjaga hak duduk masing-masinf dan jatah oksigen di mobil. Tentu saja Emily akan menagih makanan yang dibawa pulang saat mereka tiba nanti.


Grace menatap spion tengah untuk melihat ke arah Chloe dan anggota lainnya. "Semua sudah siap?"


"Tidak ada yang ketinggalan kan?" sambung Jean sambil menoleh ke belakang bangku, menghitung jumlah orang yang dilihatnya dengan cepat. "Sepertinya-"


Jena memutus ucapan kembarannya. "Tunggu, di mana Theo?"


Suara ketukan yang terburu-buru terdengar dari samping mobil. Mereka dapat melihat Theo tersenyum lebar sambil menunjukkan kantong besar yang berisi cemilan dan botol coke besar. "Aku tahu kalian pasti lupa ini."


Dave membuka pintu dan langsung menarik telinga cowok itu.


"OW! Aku salah apa?"


"Cepat masuk."


"Iya, iya." Theo masih mengaduh, menyerahkan kantong yang dibawanya itu pada Allison lalu menyelusup ke bagian belakang mobil.


"Sudah siap." Hans berucap setelah Theo duduk dengan tenang di sebelah anak cowok lainnya.


"Ayo, berangkat!"


.

__ADS_1


"Grace, kamu yakin ini restoran yang baru dibuka dua hari lalu?"


Allison bertanya sambil memperhatikan parkiran yang sudah penuh dengan kendaraan lain dan beberapa orang yang terlihat masih mengantri di bagian kasir. Mereka semua nyaris tidak dapat melihat tempat kosong dari keramaian yang terlihat di depan mata.


"Yakin. Kamu sudah memeriksa alamatnya kan, Hans?"


Cowok itu mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia juga sedang sibuk terpana dengan pemandangan di depannya. Setiap hari yang dilaluinya setelah kembali ke keluarganya hanya berputar di rumah. Hans baru pertama kali melihat orang sebanyak ini di restoran secara langsung, biasanya cowok itu harus puas dengan kegiatan kawanan mereka yang dilakukan bersama-sama. Di sebelahnya, si kembar juga terlihat takjub.


Sebuah mobil terlihat keluar dari parkiran yang tidak jauh dari van mereka. Grace segera memarkirnya di sana lalu mengikuti yang lain memasuki restoran.


"Selamat datang di restoran kami! Untuk rombongan ya?" Seorang pramusaji tersenyum saat menatap kami.


Chloe mengangguk. "Ya, apa masih ada tempat untuk kami?"


"Ada. Silakan ikuti Ian untuk ke ruangan khusus," ujarnya menunjuk ke arah seorang cowok seumuran si kembar yang terlihat sopan. "Bagi yang akan memesan, lebih baik untuk mengantri dari sekarang, mohon maaf untuk ketidaknyamanannya."


"Tidak masalah." Grace menoleh ke arah anggota lain yang terlihat tercengang dengan tanggapannya. "Kalian duluan saja, aku akan memesan."


"Aku mau milshake stroberi!"


"Kalau aku cokelat!"


Theo dan si kembar yang cepat sadar langsung berseru tanpa tahu malu. Walaupun sudah mengatakannya kemarin malam, sepertinya mereka masih tidak memercayainya. Ketiga sohib itu bahkan sudah melihatnya repot-repot mencatat minuman yang mereka, juga anggota lain inginkan.


Chloe menghela napas panjang, tidak bisa menghentikan kelakuan ekstra ketiganya. "Baiklah, kami duluan."


Ketiga sohib itu menampilkan senyum khas mereka sembil mengacungkan jempol, lalu mengikuti yang lain.


"Aku akan menemanimu." Grace terkejut saat Hans berjalan mendekatinya. Dia menatap sepasang mata berwarna abu-abu yang sekarang terlihat sedikit berbinar itu. "Ayo."


Cewek itu tersenyum senang dan merangkul tangan Hans saat mengantri. Cowok itu tidak menolaknya.

__ADS_1


Grace dapat melihat lima orang yang mengantri di depan mereka, di sampingnya juga masih ada satu antrian lagi yang sepertinya dikhususkan untuk dibawa pulang. Restoran ini benar-benar ramai. Entah bagaimana cara mereka mengatur semua ini sekaligus.


Dia memperhatikan kasir untuk antrian mereka yang sepertinya berusia tidak jauh dengannya dan beberapa pramusaji yang ditemuinya juga memiliki rentang usia yang tidak jauh dari itu. Kalau mengingat ucapan cewek yang ditemuinya di pusat pembelanjaan, restoran ini dikelola oleh keluarganya, tapi sepertinya ini tidak seperti itu. Yah.... sepertinya dia tidak perlu memikirkan ini lebih jauh.


Grace mengeratkan rangkulannya pada Hans sehingga mereka semakin mendekat. Dia menoleh ke arah cowok itu sambil tersenyum. "Aku senang kamu menemaniku."


Hans mengusap telinganya. "Aku juga."


"Benarkah?"


Cowok itu mengangguk, berbicara sambil melihat sekitarnya dengan tatapan berbinar. "Aku senang bisa berada di sekeliling orang banyak."


Hans bisa melihat berbagai raut bahagia dari semua orang yang berada di restoran ini, bahkan para pramusaji yang melayani tamu restoran tersenyum dengan tulus walaupun terlihat sedikit kelelahan. Suasana yang jauh berbeda dengan kehidupannya yang cukup suram dan dikelilingi beberapa vampir saat di manor maupun ketegangan yang selalu ada di kawanan selama berada di rumah.


"Hm, jadi bukan karena aku?" Grace merasa sedikit kecewa. Cewek itu sempat berpikir kalau rencananya sudah membuat langkah baru untuk mendekati cowok itu. Tapi setelah dipikirkan lagi, dengan usahanya selama ini, kemungkinan hal itu terjadi memang membutuhkan waktu yang lama.


Dia kembali mengusap telinganya dan menatapnya sekilas, salah tingkah. "Terima kasih sudah mengajak kita semua ke sini."


Grace mendesah pelan, tapi tetap mempertahankan senyumnya. Paling tidak cowok itu terlihat benar-benar senang dan masih menerima rangkulannya. "Sama-sama, Hans."


"Oh, kamu datang?"


Grace menoleh ke arah kasir yang terdengar seperti menyapanya. Dia langsung mengenali wajah cewek yang ditemuinya lalu membalas senyumnya. "Tentu saja aku datang."


Cewek itu tersenyum lebar, menatap wajahnya dan Hans bergantian. "Jadi apa yang akan kalian pesan?"


Grace segera menyebutkan pesanannya lalu membayar.


"Kalian bisa menunggu di meja, kami akan mengantar pesanan anda sebentar lagi. Selamat menunggu dan terima kasih sudah datang."


Mereka dapat melihat Ian mengangkat tangannya dari jauh untuk menarik perhatian, lalu mengarahkan mereka ke ruangan. Dari luar mereka dapat mendengar suara musik karaoke yang disetel cukup kencang dan suara si kembar dengan seorang anggota lain yang menyanyi dengan sangat jelas.

__ADS_1


Grace menggelengkan kepalanya dan melangkah masuk. Dia segera disambut tatapan tajam dari adiknya yang merangkul Allison dengan erat. Alpha kawanan mereka terlihat pucat dan menggigil di pelukannya. Cewek itu segera menatap anggota lain yang hanya diam selain anggota kawanan yang tetap menyanyi.


"Ada apa ini?"


__ADS_2