A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.4


__ADS_3

Persiapan restoran mereka berjalan lancar. Karena ini adalah pertama kalinya mereka membuka restoran, Lilian dan yang lain memastikan semuanya sudah sesuai dengan riset yang mereka kumpulkan dari beberapa bulan yang lalu, berlatih sebaik mungkin sesuai bagian tugas mereka masing-masing dan mempraktekannya dengan para anggota yang lebih senior sebagi tamu mereka.


Promosi yang dilakukan di setiap pusat perbelanjaan dan selebaran yang mereka tempel maupun bagikan ke sekitar berhasil menarik banyak tamu di hari pertama. Mereka bahkan sempat mempertimbangkan untuk meminta bantuan dari kawanan, tapi pada akhirnya mereka berhasil mengatasi kewalahan itu.


Persediaan bahan makanan untuk restoran mereka pada hari itu benar-benar habis tanpa sisa. Sean, Ryan dan Zee yang menangani dapur terlihat setengah tidak bernyawa setelah segala makanan dan minuman yang harus mereka buat dengan cepat. Anggota yang lain juga tidak terlihat terlalu baik. Lilian pada akhirnya harus membuat makan malam untuk mengisi tenaga sebelum mereka menutup restoran.


Dia sangat berterimakasih pada anggota senior yang menyelipkan bahan makanan darurat untuk mereka.


Hari kedua mereka berjalan tidak jauh berbeda dengan hari pertama, tapi kali ini mereka lebih siap dari sebelumnya. Untuk mencegah kelelahan yang cukup fatal seperti kemarin, interval waktu dalam menyiapkan makanan ditambah dan dua anggota yang bertugas melayani tamu dipindahkan menjadi staf dapur.


Sebagai gantinya, Ryan bertugas untuk menyediakan makanan selamat datang untuk para tamu agar bisa sabar menunggu. Lilian dan satu petugas kasir lainnya sesekali akan ikut mengantar makanan untuk menutupi kekurangan staf. Hasilnya berjalan cukup baik.


Lilian dan para anggota lain sekarang sedang sibuk melayani tamu sesuai bagian masing-masing. Ini adalah hari ketiga pembukaan, yang juga berarti, hari terakhir promo 'all you can eat' dan potongan harga untuk semua menu bagi tamu yang datang berkelompok. Menurut perkiraan Sean, setelah hari ini kemungkinan jumlah tamu restoran tidak akan seramai ini lagi.


Saat dia kembali menatap antrian di kasir mereka, cewek itu masih takjub dengan jumlah tamu yang datang. Dia tidak menyangka kalau pembukaan restoran mereka begitu menarik perhatian. Lilian juga dapat melihat beberapa orang yang sebelumnya sudah pernah datang.


"Mungkin harga yang kita pasang terlalu rendah," celutuk Mia di saat mereka menata pesanan.


Dia memikirkan hasil riset kecil-kecilan mereka, dengan menghitung biaya pengeluaran untuk bahan makanan yang mereka beli dan total pengeluaran promosi yang mereka lakukan selama lima hari itu. Sepertinya tidak ada yang salah.


"Tentu saja tidak, ini berkat resep buatanku yang sangat lezat," ujar Zee menyerahkan pesanan yang diselesaikannya pada kami. "Para tamu pasti terkesan dengan rasa makanannya."


"Buatan kita."


Cewek itu mendengus pada Ryan yang menyerahkan makanan pembuka. "Dasarnya dari resep buatanku, tentu saja aku yang berkontribusi lebih besar. Aw!"


"Jangan ribut, cepat kerja lagi."


"Sean...." Mata Ryan terlihat berbinar kagum. Memang hanya Sean yang bisa menghentikan sikap menjengkelkan Zee.


"Kamu juga, Ryan."


"Siap!" Ryan langsung kembali ke bagiannya.


Lilian tersenyum saat melihat Sean mengedip ke arahnya dan Mia lalu mengusap pelan dahi Zee yang sempat disentilnya. Dengan adanya Sean yang bersikap lebih dewasa dibandingkan semua staf dapur, cewek itu bisa tenang jika Zee dan Ryan bertengkar sewaktu-waktu.


"Sean memang yang terbaik," ucap Mia mendesah kagum.


Lilian mengangguk. Mereka sungguh beruntung dapat menemui pawang duo tikus-kucing di kawanan kakaknya itu.


Mereka kembali melayani tamu yang mulai membentuk antrian baru secara perlahan. Pandangan matanya tiba-tiba teruju pada sekelompok orang yang baru saja memasuki restoran, dia dapat merasakan perasaan yang sama saat menemui perempuan yang tampak dewasa di hari pertama promosi restorannya.


Cewek itu benar-benar datang, bahkan membawa banyak orang yang sepertinya adalah teman-temannya. Lilian tersenyum senang.


"Kau kelihatan senang." Mia menyenggolnya sekilas.

__ADS_1


"Dia datang."


"Siapa?"


"Orang pertama yang mencoba sampel makanan restoran kita."


Mia menatapnya selama beberapa saat lalu menggelengkan kepalanya, tangannya dengan gesit menyiapkan makanan dan minuman yang sudah ada di hadapannya. "Kupikir apa."


"Bukannya itu luar biasa?" Lilian terlihat bingung. "Dia juga berjanji akan datang ke restoran dan menepati janjinya itu."


Cewek yang hanya beda setahun dengannya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, tidak menjawab dan hanya kembali melayani pelanggan. Terkadang, dia menganggap Lilian benar-benar polos.


.


Dari jarak yang cukup jauh, Stefan menatap restoran yang dikelola oleh adiknya dan para anggota yang lebih muda darinya itu. Sudah dua hari dia tidak ikut membantu para anggotanya dan sibuk mengurus hal yang lain. Mereka tentu saja memaklumi ketidakhadirannya, dia sadar akan hal itu, tapi tetap saja cowok itu harus menengok keadaan mereka.


Dia memeriksa penampilannya dan mengacak rambutnya untuk mencari adanya daun yang menyelip. Cowok itu berjalan memutari restoran untuk memasuki pintu belakang, dia tidak ingin mengganggu pekerjaan mereka dengan kedatangannya secara langsung, koridor untuk ruangan tamu berkelompok.


Stefan dapat mencium aroma masakan yang lezat dan mendengar suara keramaian obrolan dari para tamu yang datang. Dia juga dapat melihat beberapa anggota yang mengantarkan pesanan pelanggan. Cowok itu menghentikan langkahnya saat sebuah kelompok dengan Ian berjalan menuju ke arahnya.


"Stefan!" Ian menyapanya dengan bersemangat, sesaat lupa dengan sikap tenang dan sopannya untuk melayani pelanggan. Dia terlihat salah tingkah ketika menyadarinya lalu berdeham.


Cowok itu tersenyum, menepuk pundak Ian. "Tidak apa-apa, Ian." Dia menatap wajah para tamu restorannya itu, tatapannya tertuju pada sesosok cewek yang terlihat menahan gemetar saat menatapnya balik. Cowok yang berada di sebelahnya merangkul tubuh cewek itu dengan protektif. "Selamat menikmati hidangan dari restoran kami."


"Terima kasih atas sambutannya ... kami akan menikmatinya." Cewek itu membalas ucapannya dengan tenang.


Ian menatapnya dan cewek itu bergantian lalu mengangguk. Saat melewatinya, Stefan dapat melihat beberapa orang dari kelompok itu terlihat tegang dan sisanya menatapnya balik secara sembunyi-sembunya. Dia memberi senyum kecil untuk mereka sebelum berjalan menuju ke ruang staf.


.


"Aku tidak apa-apa." Allison berusaha berujar dengan tidak gemetar.


Ini adalah pertama kalinya dia berhadapan dengan Alpha lain secara langsung. Auranya sungguh berbeda dengan werewolf yang berada di kawanannya, bahkan jika dibandingkan dengan auranya sendiri yang sesama pemimpin kawanan, perbandingan mereka bagaikan anak kecil yang berhadapan dengan orang dewasa.


"Wilayahnya pasti ada di sekitar sini," ujar Dave, menyelipkan helaian rambut Allison di telinganya, masih mendekapnya dengan erat. "Apa kau tahu tentang hal ini?"


"Aku sungguh tidak tahu."


Grace tidak menemui ataupun merasakan hal yang aneh saat mengantri tadi, yang dia tahu hanyalah bahwa restoran yang mereka datangi hari ini baru dibuka dari tiga hari yang lalu. Tidak sekalipun dia merasakan keberadaan werewolf lain saat berada di sini. Cewek yang secara tidak langsung menjadi perantaranya juga tidak terlihat mencurigakan ataupun terasa seperti salah satu dari mereka.


"Apa kalian tidak berpapasan dengannya?"


Hans hanya diam, menoleh ke arah Grace yang menggelengkan kepalanya. "Kita tidak bertemu dengannya. Tidak ada siapapun kecuali Ian yang memberi arah pada kami."


"Sebenarnya ada yang baru saja kusadari." Chloe terlihat frustrasi. "Staf di restoran ini ... semuanya masih dibawah usia delapan belas tahun dan tidak satupun diantara mereka yang kelihatan memiliki hubungan darah antara satu sama lain. Ini kelihatan sama seperti situasi kita kan?"

__ADS_1


Kawanan mereka juga terdiri dari werewolf yang berada di kelompok usia dua puluhan sampai belasan tahun. Theo, si kembar dan anggota termuda mereka adalah werewolf yang belum melalui perubahannya. Sebelum transformasi terjadi, mereka berempat tidak jauh berbeda dengan manusia biasa yang ada di restoran.


"Bukankah ini berbahaya?"


"Kita berada di wilayah kawanan lain tanpa izin."


Theo langsung menyanggah ucapan si kembar. "Tapi ini tempat umum. Siapa tahu Alpha itu hanya datang untuk membeli makanan, kan?"


"Untuk apa dia lewat pintu belakang yang tidak ada siapa-siapa?"


"Harusnya dia mengikuti kita atau para tamu lain yang masuk dari pintu depan dan mengantri," sambung Jena lagi, membantu kembarannya.


Perdebatan Theo dan si kembar berlanjut. Dua anggota kawanan lain sudah menggantikan si kembar bernyanyi untuk menutupi kebisingan yang disebabkan. Di sisi lain, Allison sekarang sudah terlihat sedikit lebih baik walaupun wajahnya masih agak pucat.


"Kita harus pergi."


"Tapi makanannya?"


Chloe memeloti adiknya tanpa ampun, menyuruhnya diam.


"Benar."


"Maafkan aku, karena aku, kita tidak bisa makan-makan seperti yang direncanakan...." Allison terlihat bersalah.


Dave mendesah. "Bukan salahmu, Allison."


Anggota lain mengangguk menyetujui ucapannya. Bagaimanapun, mereka juga tidak tahu menahu mengenai kawanan lain selama beberapa tahun ini. Entah apa yang terjadi sehingga mereka bisa terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan ini setelah menyelesaikan konflik yang lalu.


Suara ketukan memotong percakapan mereka. Pintu yang dibuka menampilkan Ian dan Lilian yang membawa troli yang penuh dengan makanan pesanan mereka.


"Maaf untuk keterlambatannya," ujar cewek itu sedikit meringis. Dengan tenang dia mulai menata makanan di hadapan mereka bersama Ian yang ikut membantu meletakkan pesanan minuman.


Grace dan yang lain menatapnya sembari sedikit membantunya mengoper makanan dan minuman untuk sampai di setiap anggota. Setelah selesai, cewek itu menatap mereka semua dengan pandangan tidak enak, tatapannya terutama tertuju pada Allison dan dirinya beberapa kali.


"Ada apa?" Grace akhirnya bertanya karena tidak tahan.


"Aku tahu kalau kakakku yang seharusnya menyampaikan hal ini secara langsung," ucapnya membuka kalimat, sedikit terbata. "Tapi dia menitipkan pesan agar kalian tidak perlu khawatir dengan izin yang tanpa sengaja dilanggar, dia akan menganggapnya tidak ada karena kalian hanya datang sebagai tamu dan tidak berniat buruk kepada kawanan kami. Jadi ... selamat menikmati hidangan dari restoran kami dengan nyaman."


"Tunggu, apa benar tidak apa-apa?"


Lilian mengangguk. "Kakakku hanya ingin agar kalian tidak ke wilayah ini tanpa ijin lagi dan menghubungi kami terlebih dahulu. Ada email dan nomor telepon yang bisa kalian hubungi di struk."


"Baiklah...." Allison tersenyum. "Terima kasih."


"Tidak masalah! Selamat makan untuk kalian semua."

__ADS_1


Dia kembali tersenyum sebelum berjalan keluar ruangan. Ian mengikuti cewek itu dengan membawa trolinya.


__ADS_2