A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.1


__ADS_3

Ada lima kegiatan utama yang biasanya di lakukan di kawanan Allison. Kegiatan itu terdiri dari sarapan, kegiatan rumah tangga, latihan, makan siang, waktu bebas dan makan malam. Semua kegiatan itu melibatkan semua anggota kawanan tanpa terkecuali. Jika ada yang tidak melakukan kewajibannya, sesuai perkataan Chloe yang paling tua di antara mereka, anggota kawanan tersebut tidak akan mendapatkan haknya selama jangka waktu tertentu.


Grace awalnya tidak terlalu peduli dengan aturan itu karena dia dapat meminta Dave atau Malcolm menggantikannya atau bahkan anggota lain yang berusia di bawahnya tanpa beresiko ketahuan. Lagipula, secara umur, dia adalah yang tertua kedua di kawanan saat ini.


Tapi semuanya berubah setelah beberapa keuntungannya direbut tanpa bisa dicegah.


Dave sudah sibuk dengan perannya sebagai mate dan tangan kanan Allison, adik keduanya sudah pergi menemui mate-nya sendiri dan kemungkinan besar tidak akan kembali ke kawanan. Dia sudah menduga hal itu ketika Malcolm tidak berpamitan saat pergi seperti yang dilakukan Emily sebelumnya. Untuk anggota lain ... semakin lama dia tidak bisa menyuruh mereka karena Chloe yang mulai meraba jejak kecurangannya. Grace tentu tidak mau mengambil resiko ketahuan lebih lanjut.


Dan alasan terbesar kenapa dia semakin tidak ingin ketahuan adalah ... sosok yang saat ini sedang berjalan menuju ke arahnya, lebih tepatnya, ke sisi jendela yang terbuka yang searah dengannya.


"Kamu pasti haus. Mau minum?" tanya Grace yang baru saja selesai mencuci piring, melihat wajahnya yang pucat bersemu karena cuaca panas lalu tersenyum pada cowok itu.


Hans mengangguk. "Tolong ambilkan untuk yang lain juga."


"Oke!"


Grace mengambil sekerat cola dari kulkas dan membawanya ke halaman belakang. Di sana, dia berusaha menahan pelototan saat para anggota lain mengambil minuman lebih dulu daripada Hans sambil mengulas senyum terbaiknya. Mau bagaimana lagi, saat ini cowok itu sudah berjalan mendekat ke arahnya bersama dengan Wayne dan kakaknya.


"Terima kasih, Grace."


Wayne yang berada di sebelahnya tersenyum dan ikut mengucapkan terima kasih padanya. Emily yang berada di sebelah pasangannya itu hanya mengambil salah satu cola dan meneguknya. Dia terlihat menatap Grace selama beberapa saat.


"Akhir-akhir ini kamu rajin sekali, Grace."


Grace mengangkat alisnya. "Hm, bukannya aku memang selalu seperti ini?"


Cewek itu tersedak minumannya, menahan tawanya yang nyaris tersembur dengan batuk. "Benar-benar...." Emily menatap adiknya yang melihat ke arah lain dan beralih ke tatapan Grace yang seakan ingin menelannya bulat-bulat.

__ADS_1


"Apa?" Grace mengulas senyumnya lebih lebar. Mengancam.


Emily menggeleng. Dia menepuk pundak adiknya yang baru saja selesai minum. "Semangat."


Hans hanya terdiam sedangkan Wayne tersenyum canggung lalu mengikuti langkah pasangan yang berada di sisinya. Di sisi lain, Grace memutar bola matanya lalu membereskan kerat yang sebelumnya dia bawa beserta beberapa kaleng kosong yang ditinggalkan para anggota.


Kalau bukan karena usahanya untuk jaga image, mana mungkin dia mau melakukan semua ini secara cuma-cuma. Dan tentang mate-nya yang belum diketahui keberadaannya juga menambah alasannya untuk semakin mendekati Hans.


Setelah selesai membereskan dia melangkah ke kamarnya untuk berganti pakaian. Latihan bagi para werewolf yang belum mendapat perubahan akan dilaksanakan seusai pekerjaan rumah. Theo dan si kembar juga satu remaja lain. Ada latihan juga untuk semua anggota kawanan, tapi karena cewek itu sudah mendapat giliran mengajar kemarin, sekarang dia diberi kebebasan sampai waktu makan siang.


"Grace."


Sebuah ketukan terdengar dari pintu kamarnya. Dia membuka pintunya dan menemukan Chloe berdiri di sana. "Ada apa?"


"Lagi santai kan?"


Dia segera berusaha menutup pintu, tapi kalah cepat dengan kaki Chloe yang sudah menahan pintu lebih dulu. Cewek yang lebih tua tiga tahun di atasnya itu mengulurkan selembar kertas dan kunci mobil kepadanya.


"Tolong beli yang ada di list. Langsung pulang kalau sudah."


"Kompensasi. Ini pakai uangku kan?"


Chloe terdiam. "Kalau begitu pulang sebelum malam."


"Oke."


Grace membaca apa yang harus dibelinya sebelum menyiapkan dompet dan telepon genggam. Dia menengok ke bawah jendela kamarnya dan dapat melihat Chloe sudah mulai mengajar para remaja itu. Hans berada bersamanya dan terlihat memperhatikan latihan itu dengan seksama.

__ADS_1


Dia tersenyum sekilas lalu segera beranjak ke bawah.


.


Pusat perbelanjaan yang paling dekat dari rumah menghabiskan waktu satu setengah jam perjalanan. Setibanya di sana, Grace segera memarkir mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam. Dia menatap papan keterangan di setiap sesi rak sebelum akhirnya mengambil dua botol karbol, beberapa pasang sarung tangan karet dan satu bot karet untuk menggantikan yang lama.


Dia berjalan melewati stan yang dapat mencoba sampel makanan untuk mencicipi beberapa diantaranya. Sebagian besar tidak menarik perhatiannya, tapi selain itu harganya terlalu mahal untuk dibelinya sekarang. Akan lebih murah kalau dia membuatnya sendiri di rumah, tapi bukan berarti dia akan membuatnya. Itu akan merepotkan.


"Hai!" Seorang cewek seumuran si kembar terlihat menghampirinya dengan senyum cerah, membawa nampan dengan potongan kentang dan irisan daging juga segelas kecil minuman. "Restoran kami akan buka dalam beberapa hari. Silakan mencoba sampel menu kami."


Grace menyantap sampel itu dalam diam. Berbeda dengan tampilannya yang biasa, sampel ini dibuat dengan telaten dan masih terasa hangat, minumannya juga terasa segar walaupun tidak disajikan dingin.


Cewek itu mengulurkan selebaran yang mencantumkan informasi pembukaan restoran dan potongan diskon untuk acara tersebut. "Menu restoran kami bukan hanya ini saja, untuk promo akan dilaksanakan dalam tiga hari dan khusus untuk makan siang ada event 'all you can eat' setiap perorangan maupun kelompok-"


"Lokasinya jauh juga."


Dia baru saja selesai membaca selebaran yang diberikan cewek itu dan dengan sengaja memotong ucapannya. Dia sebenarnya sudah sedikit tertarik, anggota kawanan pasti akan senang kalau mereka bisa pergi kuliner setelah berbagai masalah yang harus mereka hadapi. Tapi kalau melihat lokasinya, berangkat dari sini saja bisa menghabiskan waktu satu jam, dari rumah kawanan bisa dua sampai tiga jam di jalan. Grace tidak yakin yang lain, atau bahkan dirinya sendiri, bisa menahan lapar selama di perjalanan.


"Ah.... benar. Kami bermaksud untuk mempromosikan restoran ini sebagai tempat beristirahat juga, ada beberapa fasilitas lain yang bisa dinikmati selain makan di tempat seperti mesin karaoke dan beberapa tempat bersantai yang dilengkapi dengan televisi, konsol game serta berbagai buku bacaan."


Grace mengangkat alisnya. "Berarti harganya mahal?"


"Tidak." Dia segera menggelengkan kepalanya. "Kami sudah memperhitungkan harga seminimal mungkin karena ini usaha pertama keluarga kami."


"Baiklah." Grace tersenyum puas mendengar kesungguhan dari cewek itu. "Terima kasih sudah menjelaskan."


"Sama-sama, kami akan menunggu kedatangan Anda!"

__ADS_1


__ADS_2