A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.15


__ADS_3

Jalanan terlewat dengan cepat selama Stefan berkendara, dia masih berusaha mengabaikan debaran jantungnya, sementara Grace sepertinya tetap saja tenang meski situasi mereka yang seperti ini. Laki-laki itu bahkan tidak bisa mendengar debaran jantung Grace meski jarak mereka sangat dekat.


Jika melihat dari pengalaman anggota kelompoknya, khususnya ketika mereka masih di tahap awal pertemuan sebagai mate, tiada hari tanpa debaran atau rasa yang menggelora di antara pasangan tersebut. Kadang mereka bahkan langsung menyalurkannya secara terang-terangan, tapi tentu saja tetap melihat keberadaan anak kecil atau orang tua yang berada di kelompok, kalau tidak mau di sidang oleh anggota kelompok lain.


Kasus mereka mungkin tidak seperti biasanya karena perbuatannya sendiri.


Stefan menghela napas dan kembali memfokuskan pandangan pada jalanan di depannya. Pembicaraan mereka nanti akan jauh lebih penting dari situasi yang sedang dihadapinya sekarang.


"Kita sudah sampai."


Grace melepaskan tangannya dari pinggang Stefan dan melangkah turun. Laki-laki itu berusaha menampakkan senyum ketika pasangannya terlihat serius.


"Kita mau ke mana?"


Stefan bertanya setelah Grace tidak juga berjalan menuju pusat perbelanjaan dari tempat parkir. Hari biasa di pagi menjelang siang hari begini, tempat yang mereka kunjungi tidak akan sepenuh biasanya, tapi pulang nanti mereka mungkin saja harus menghadapi lautan orang yang baru datang untuk beristirahat atau berbelanja setelah beberapa lama bekerja.


Perempuan itu akhirnya menjawab setelah lama berpikir. "Kafe saja."


"Oke."


Grace berjalan lebih dulu sementara Stefan menyusulnya di belakang. Perempuan itu sama sekali tidak berniat untuk membiarkannya berjalan berdampingan dengannya, tapi juga tidak melangkah terlalu cepat sehingga meninggalkannya. Stefan diam-diam tersenyum karena menerima perhatian kecil itu dari pasangannya.


Mereka mengambil tempat yang dekat dengan etalase kue-kue yang terlihat menggiurkan, harumnya seperti akan membuat Theo meneguk ludahnya, tapi karena hanya ada Grace, Stefan hanya bisa melihatnya dari pikiran cewek itu.


"Apa kamu tidak bisa menghentikan tingkahmu yang mengintip pikiranku? Aku mulai merasa tidak nyaman."


Stefan segera menundukkan kepala dan meremas kedua tangannya, merasa bersalah karena tidak bisa mengendalikan keingintahuannya. "Maaf, aku merasa tertarik karena bayanganmu mengenai Theo terlihat jelas."


"Yah … aku tidak menyalahkanmu." Grace menatap kue-kue yang berada di sebelah tempat duduk mereka. "Kafe ini rekomendasinya, jadi aku tiba-tiba memikirkannya karena sudah beberapa kali dia membahas berbagai menu yang ada di sini."


"Kamu merindukan mereka?"

__ADS_1


Grace menatapnya sebelum mengalihkan pandangannya kembali. "Tidak, aku baru beberapa hari saja tidak bersama mereka. Kenapa aku harus merindukan bocah-bocah itu?"


"Begitu…."


Stefan tahu kalau Grace berbohong, tapi tidak mengatakan apapun untuk membenarkannya. Dia tahu kalau perasaan perempuan itu saat ini tidak akan bisa dibayangkan olehnya, karena laki-laki itu belum mengalami saat-saat di mana dia terpisah oleh kawanan secara langsung seperti yang dialami Grace.


Pesanan mereka akhirnya datang dan Stefan masih bertanya beberapa hal mengenai kawanan Grace. Laki-laki itu masih ingin mengenal mengenai pasangannya itu walaupun hanya sebagiannya saja, tapi perempuan itu seperti menyadari niatnya dan memutus sesi tanya jawabnya yang sudah berlangsung beberapa lama.


"Jadi, apa yang ingin kamu jelaskan padaku di sini, Stefan?"


Stefan merasa kembali berdebar ketika Grace tiba-tiba memanggil namanya. Ini adalah pertama kalinya perempuan itu memanggilnya, tapi dia langsung mengendalikan ekspresinya. "Aku akan memberitahumu alasan kenapa aku menyembunyikan identitasku selama ini dan ... sesuatu yang sedang dialami oleh kawanan kami."


"Oke. Aku memang ingin tahu mengenai alasanmu yang menyembunyikan identitasmu, tapi kenapa aku harus mengetahui masalah yang sedang dihadapi kawananmu juga?"


Laki-laki itu tersenyum sedih. "Kamu akan menjadi bagian dari kawanan kami selama beberapa bulan, jadi tentu saja harus mengetahui apa yang sedang terjadi pada kawanan kami."


Grace tampak tidak puas dengan jawabannya, tapi juga tidak melayangkan protes. Dia terlihat menyantap donat yang dipesannya sebelum berbicara. "Apa alasanmu menyembunyikan identitasmu selama ini?"


"Apa hubungannya identitasmu dengan masalah kawanan kalian?" tanya Grace terlihat tidak mengerti. Dia mengira kalau dua hal itu adalah bahasan yang berbeda.


"Ada, kondisi kawanan kami sekarang sedang terbagi menjadi dua kubu. Aku adalah ketua dari salah satu kubu, sementara pamanku adalah ketua kubu yang lain."


Ekspresi wajah Grace terlihat langsung paham mengenai apa yang sedang terjadi dalam kawanan mereka. "Masalah pemimpin kawanan ya."


"Benar. Aku memang sudah menjadi pemimpin saat ini, tapi karena pamanku yang masih hidup, beberapa anggota senior masih berpegang pada kepemimpinan pamanku."


"Kamu sudah membicarakan ini pada anggotamu yang bermasalah?"


Stefan menggeleng. "Aku sudah mencari cara, tapi mereka terus saja menolaknya karena menganggapku tidak layak. Mereka merasa kalau pamanku yang seharusnya menjadi pemimpin saat ini."


"Tapi suara terbanyak tetap dipegang olehmu kan? Karena itu kamu masih menjadi pemimpin kawanan."

__ADS_1


"Itu benar, aku menang karena lebih banyak anggota yang mendukungku, tapi kebanyakan anggota inti dari kepemimpinan ayahku sudah beralih pada pamanku."


Laki-laki itu memikirkan beberapa anggota senior yang sebelumnya pernah dekat dengannya, tapi beralih pada pamannya karena merasa ide dari anggota tertua kawanan tersebut merupakan solusi terbaik dari masalah lain yang menyebabkan anggota di pihaknya mencari pekerjaan untuk menghidupi mereka serta membuka restoran.


Stefan juga tahu kalau ide pamannya sangat menguntungkan, tapi dia juga melanggar aturan lama yang menjadi nilai luhur mereka sebagai werewolf, terutama terhadap masa depan kawanan mereka yang sudah ternoda tanpa disadari oleh para anak-anak.


Memikirkannya lagi, Stefan merasa sudah tidak berguna sebagai pimpinan kawanannya, terutama sebagai kakak Lilian, yang selalu menunjukkan kebenciannya pada paman mereka, karena gagal mencari cara untuk membereskan masalah yang sudah berlangsung lama itu.


Saat kembali menatap Grace, Stefan bertatapan dengan perempuan itu yang tidak mengalihkan pandangan seperti sebelumnya. "Sepertinya masalah kawananmu lebih rumit dari apa yang kamu jelaskan padaku sekarang."


"Itu ... benar."


Stefan tidak bisa menyangkalnya karena itulah yang sedang terjadi pada kawanannya. Dia berusaha menahan sebaik mungkin, tapi begitu berada bersama Grace, tanpa sadar laki-laki itu mulai membocorkan apa yang dirasakannya.


Grace mengacak rambutnya, jelas menerima perasaan Stefan dwngan sangat jelas. "Apa kamu menggunakan hukumanku sebagai cara untuk memanfaatkan kami?"


"Kami tidak punya pilihan karena harus memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, kebetulan, kamu ternyata adalah salah satu kesempatan kami mengubah keadaan."


Perempuan itu kembali terdiam dan mengacak rambutnya lalu menegak minumannya dalam beberapa teguk. Seorang pelayan datang untuk mengambil minuman baru untuknya, sebelum Grace kembali berbicara. "Kamu seharusnya menjelaskan ini pada Chloe. Dia lebih mengetahui bagaimana cara mengatasi hal seperti ini jika dibandingkan denganku."


"Aku tahu." Grace tiba-tiba menatapnya ketika Stefan mengatakan hal itu, tapi tidak bisa mengartikan arti tatapannya. "Karena itu Lilian yang menjelaskan pada Chloe di rumah."


Grace mengangguk. "Jadi apa yang kamu butuhkan?"


"Kamu tidak bertanya hal lain lagi?" tanya Stefan. Dia diam-diam merasa bersyukur karena perempuan itu bersikap setenang ini dalam menanggapi ceritanya, tapi merasa ragu karena Grace seharusnya lebih menentangnya karena baru menjelaskannya sekarang, bukan sebelum mereka tiba di kawanannya.


"Anggap saja ini bayaran karena sudah memberitahu. Aku lebih suka kalau kamu mengatakannya seperti ini," ujar Grace memotong pikirannya.


"Terima kasih, Grace."


Stefan berusaha meraih tangan Grace, tapi perempuan itu segera menepisnya. "Tidak usah seperti itu, lagipula, aku belum membantumu sama sekali."

__ADS_1


Laki-laki itu dapat melihat tangan Grace yang mengetuk-ngetuk meja dengan gugup, sementara dia tersenyum tipis. Jantung mereka berdebar bersamaan karena ikatan yang mulai terbentuk setelah sekian lama.


__ADS_2