A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.7


__ADS_3

📌 ini chapter yang fix ya 📌


Dia benar-benar habis.


Dave datang menjemputnya, sendirian, menggunakan mobil van mereka yang kosong. Tidak ada anggota lain yang datang bersamanya. Wajahnya tidak mengekspresikan apapun saat menatapnya, tapi berubah sopan ketika pandangannya tertuju pada Lilian yang berada di sampingnya.


"Kamu pasti Dave, kita bertemu lagi."


"Ya, terima kasih sudah menjaga kakakku."


Lilian memberi senyuman yang menenangkan. "Tidak masalah. Kami hanya berharap supaya hal ini tidak terjadi lagi untuk ke depannya."


Adiknya mengangguk. "Tentu saja."


"Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


Grace merasakan pandangan menusuk dari kedua orang itu, dengan alasan yang berbeda, tapi tidak mengatakan apapun untuk menariknya. Dia hanya ingin mengatakan itu dan memastikannya benar-benar terjadi.


"Baiklah. Ini pesanan Theo." Cewek itu menyerahkan bungkusannya pada Dave dan menerima bayaran untuk pesanan itu. Dia menatap mereka, kembali tersenyum. "Terima kasih atas pembeliannya, hati-hati di jalan!"


Selama perjalanan pulang, adiknya itu mendiamkannya. Sudah lebih dari satu jam. Makanan yang dipesan Theo diletakkan di antara mereka, seakan-akan, sebagai pembatas. Cowok itu hanya fokus pada jalanan yang terbentang di hadapan mereka, tidak sekalipun melihat ke arahnya.


Dia sedikit berharap jika Dave memarahinya seperti yang dilakukan Malcolm, cewek itu pasti bisa membalasnya sehingga situasinya tidak sesepi ini, tapi adik pertamanya itu memang berbeda. Dave selalu lebih dewasa dibandingkan mereka bertiga.


"Chloe bilang kalau dia yang akan memberimu hukuman saat di rumah," ujarnya membuka pembicaraan. "Theo sudah menerimanya, jadi siap-siap saja."


Grace menatapnya. "Kamu tidak akan berbicara?"


"Apa yang harus kubicarakan?" tanyanya, balik menatapnya sekilas. "Kamu sudah menyadari tindakan bodohmu saat melihatku tadi."


"Jelas sekali ya."


Dia tidak mengatakan itu sebagai pertanyaan, Dave pun hanya mendengus saat mendengarnya.


Cewek itu mengalihkan pandangan pada jendela, menatap pemandangan lalu lintas yang cukup ramai di sekitar pusat perbelanjaan. Melihat hal ini, dia jadi mengingat Hans yang menyukai tempat ramai, cowok itu pasti akan senang jika mereka bisa berbelanja di sini.


"Emily bilang dia mengatakan sesuatu yang mungkin menjadi penyebabmu pergi."


"Katanya kamu tidak mau bicara?"

__ADS_1


"Jawab saja."


"Tapi, adikku, kamu tidak bertanya," ujarnya dengan nada berlebihan. "Apa yang harus kujawab?"


Dave menghela napas. "Kalau begitu jangan dijawab."


"Aku bercanda." Grace tersenyum melihat dahi cowok itu mengerut sebal. "Bukan salah Emily, tapi perkataannya memang berpengaruh."


"Bagaimana dengan Hans?" Bukannya kamu masih menganggapnya sebagai mate-mu? Dia dapat menduga itulah yang ingin ditanyakan adiknya.


"Bukan dia."


Mereka terdiam selama beberapa saat.


"Yah ... akhirnya Hans bisa terbebas darimu, Grace."


Cewek itu mengangkat alisnya. "Siapa bilang? Aku masih mau bersamanya, paling tidak sebagai rekan dekat atau kakak adik seperti kita. Tidak masalah kan?"


".... terserah. Yang penting jangan buat orang lain khawatir."


"Oh.... Apa adikku tersayang akhirnya menunjukkan kekhawatiran pada kakaknya?" Dia mengedip menggoda.


Dave pura-pura mual.


.


Lilian baru saja pulang seusai shiftnya di restoran bersama Mia dan Zee. Mereka bertiga sedang asik mengobrol soal penyanyi favorit yang belum lama mengeluarkan album baru, ketika cewek itu melihat Bram berjalan di sekitar pepohonan, cukup jauh dari tempat mereka berada dan terlihat mengarah memasuki hutan. Dia tiba-tiba saja memiliki ide untuk mengejutkan cowok itu.


"Aku duluan ya."


Lilian tidak menunggu balasan dan segera mendekat ke arah Bram. Cewek itu berhati-hati agar tidak menarik perhatiannya lalu memilih salah satu pohon untuk dipanjat, memanjatnya secepat mungkin lalu menunggu cowok itu hingga hampir tiba di bawah pohonnya.


Sekarang.


"Lilian!"


Cowok itu terdengar terkejut, tapi posisi tubuhnya bisa langsung menangkapnya dalam posisi yang tepat. Kedua tangannya menahan pundak dan pinggulnya dengan protektif hingga tidak terasa begitu sakit.


Dia tersenyum senang, merangkul kedua tangannya ke leher cowok itu sehingga wajah mereka mendekat. "Kamu tertangkap."

__ADS_1


".... kamu sengaja." Wajah Bram terlihat memerah. Cowok itu segera menurunkannya dan menolak tatapannya, tapi tangan Lilian masih melingkar di pundaknya. "Tolong ... lepaskan."


"Panggil namaku."


"Lily ... tolong lepaskan."


Lilian memperhatikan cowok di hadapannya. Sekarang cewek itu dapat melihat telinga Bram yang ikut memerah, mirip dengan situasi wajahnya yang lebih merah setingkat. Sepertinya dia akan meledak jika dibiarkan lebih lama lagi.


Lilian akhirnya mengalah dan mengurai rangkulannya. Dia dapat mendengar helaan napas lega dari cowok itu. Bram masih menolak untuk menatapnya.


Pfft.


"Kamu tertawa?"


Dia menggeleng. Cowok itu tidak terlihat mempercayainya, terlebih dengan senyum kecil yang masih terukir di bibirnya, tapi tidak bertanya lagi. Dia dapat merasakan pandangan Bram ikut terarah pada pepohonan di sekitar mereka.


"Aku kangen kegiatan musim panas kawanan kita."


Bram mengangguk. "Aku juga."


Lilian menatap pepohonan yang berada di sekitarnya. Musim panas yang terik untuk di sekitar pusat perbelanjaan yang ramai, tapi jika di lingkungan kawanannya, musim panas hanya terasa lebih kering dan tetap sejuk. Dia menyukainya, sekalipun ada banyak nyamuk seperti yang pernah disebut Bram.


Cewek itu memutar ulang kegiatan musim panas mereka, yang selalu melibatkan lari jarak jauh, baik dalam wujud serigala maupun manusia, tarik tambang, dan memanjat pohon tua yang tinggi menjulang. Anggota senior terkadang membuat kolam dadakan untuk para anak kecil agar mereka bisa ikut bermain, tapi mereka juga mengadakan lari jarak pendek dan memanjat pohon yang diawasi oleh orangtua.


Dia selalu payah ketika berlari jarak jauh dan selalu menempati posisi ketiga dari empat orang, untuk tarik tambang, keberuntungannya dalam tim cukup bagus sehingga timnya selalu menang. Tapi ... jika berbicara soal keberuntungan yang sesungguhnya, kemampuannya dalam memanjat pohon adalah yang paling unggul. Tidak sekalipun posisinya tersingkirkan oleh orang lain.


Di sisi lain, Bram meraih posisi yang stabil di setiap kegiatan musim panas itu. Hanya bagian tarik tambang saja yang dia kurang beruntung dan selalu kalah. Zee dan Ryan selalu bersaing untuk lari jarak jauh, sedangkan Mia dan Sean selalu menjadi ketua kelompok untuk tarik tambang. Kakaknya lebih banyak menonton dan membantu agar kegiatan musim panas mereka berjalan lancar.


Mereka semua mempunyai waktu yang menyenangkan pada saat itu, tapi sekarang sudah tidak lagi.


Kegiatan musiman mereka pada akhirnya harus ditiadakan karena memperhitungkan situasi kawanan yang masih tidak baik. Termasuk karena adanya orang itu.


"Kuharap dia menghilang."


Bram tidak mengatakan apapun. Secara perlahan, dia meraih tangan cewek itu dan menggenggamnya, memberinya sedikit ketenangan. Dia tidak menampik keinginan Lilian, tapi cowok itu masih belum percaya diri untuk mengatakannya keras-keras.


"Siapa yang kalian bicarakan?"


Mereka menoleh secara bersamaan, menatap sosok yang menjadi pusat permasalahan mereka dan yang bertanya sebelumnya. Dia terlihat seperti kembaran kakaknya yang jauh lebih tua, keras dan lebih berotot. Seseorang yang masih berbagi garis keturunan dengan Stefan dan Lilian.

__ADS_1


"Paman."


Lilian menyembunyikan kebenciannya dengan senyuman.


__ADS_2